
Barack sengaja meninggalkan bekas ciumannya di belakang pundak luna.
Luna berusaha dengan keras mengarahkan pundaknya maju sedikit agar memudahkan dirinya melihat ke arah pundaknya sendiri untuk memastikan apa yang sebenarnya di lakukan oleh barack.
Sampai sampai terasa sedikit perih seperti di gigit kecil oleh giginya.
Luna seperti melihat seberkas bercak berwarna merah padam seperti warna tali yang dengan kokoh melekat di kulit pundaknya itu.
"Pundakku kenapa bisa memerah seperti ini???, , di apain hayo?" wajahnya kebingungan, luna termasuk awam dalam hal semacam itu.
Kalau untuk ciuman, mungkin dia sedikit mengerti karena sudah beberapa kali barack mengajarinya.
Namun ketika mencium sampai meninggalkan bekas merah seperti di pundaknya, dia belum mengerti dan kalau dilihat dari ekspresi wajahnya sepertinya dia memang tidak ingin mengerti.
Barack menghadapkan tubuhnya ke arah luna, menyangga kepalanya dengan malas di salah satu tangannya, karena satu tangannya lagi berusaha memeluk perut luna yang kini sudah merubah posisi tubuhnya menghadap ke atap.
"Kamu tidak tahu apa itu?" barack berusaha memastikan luna, apakah benar benar dia tidak tahu apa yang sedang di lakukannya.
"Mmm" luna menggelangkan kepalanya dengan pelan sambil melihat ke arah barack.
"Kiss mark" jawab barack dengan tegas.
"Kiss mark???" luna mengucapkan kembali kata yang di ucapkan oleh barack, namun dari nada bicaranya terdengar seperti sedang bertanya apa maksutnya itu.
Dia memang sedang tidak berpura pura.
Mungkin selama ini dia juga tidak pernah melihatnya di film, atau jangan jangan memang luna tidak pernah melihat film untuk orang dewasa sehingga dia tidak tahu menahu masalah seperti itu..
Terlihat wajah barack sangat bahagia mengetahui bahwa luna benar benar awam akan hal itu, sepertinya dia semakin tidak sabar untuk menggoda luna.
"Kamu tidak tahu bagai mana caranya membuat tanda merah seperti yang barusan aku lakukan di pundakmu?" barack berucap seakan akan dia ingin menawarkan kepada luna bagaimana caranya bisa sampai membuat bekas ciuman agar bisa sampai memerah.
"Kamu ingin belajar?" tambahnya.
Suara barack terdengar melemah di telinga luna.
Dia tidak menjawab pertanyaan barack. Wajah luna terlihat tersipu malu, mendengar tawaran dari barack itu.
Berbeda dengan barack, raut wajahnya terlihat sangar seperti se ekor serigala sedang mengawasi mangsa yang di incarnya agar jatuh ke perangkap yang sengaja sudah di persiapkan untuknya.
"Aku akan mengajarimu".
Luna tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh barack selanjutnya, yang pasti kini jari jarinya *** dan menggengam erat kaos yang menutupi dadanya.
Barack hanya tersenyum melihat ketegangan menyelimuti wajah luna.
Sedikit saja barack menyentuhnya maka, luna akan berulah sehingga membuat barack semakin gemas melihatnya.
Luna merasa jantungan, dadanya terus berdebar dia merasa malu jika barack bisa mendengar debaran jantungnya itu.
Barack menggerakkan tangannya yang sempat memeluk perut luna, meraih tangan luna yang masih dengan erat *** kaosnya itu, menuntun tangannya untuk pergi dan tidak menutupi dadanya itu.
Dengan tenang luna mengikuti keinginan barack.
Terlihat dadanya naik turun dengan pelan karena mencoba mengatur nafas yang mulai bekejar kejaran dengan detak jantungnya.
Perlahan barak meraih bibir kaos di bagian leher luna yang sudah dengan sengaja memperlihatkan sedikit bagian bawah lehernya itu.
Karena memang kaos luna model kaos yang tipis dan terlihat kedodoran di tubuhnya. Sehingga tanpa di buka paksa pun bagian pundaknya sudah bisa terlihat dengan sendirinya.
Wajah barack masih menahan senyum dengan menggigit bagian bibir bawahnya.
Entah kegilaan apa lagi yang akan di rasakannya ketika dia semakin berani menggoda luna.
Barak menarik pelan kaos luna agar bagian bawah lehernya sedikit terbuka.
Sedikit demi sedikit dada atas luna sedikit terlihat.
Namun sejenak barack menghentikan gerakan tangannya ketika melihat dada luna bergerak naik turun dengan cepat, kerena tengah mengatur nafasnya kembali.
"Kamu kenapa?, , seperti sedang lari maraton?" guraunya kepada luna.
Luna benar benar merasa sangat malu, makanya dia langsung membalikkan tubuhnya dan kembali memunggungi barack.
Dengan cepat barack langsung mengembalikkan tubuh luna agar kembali ke posisi semula.
Namun kali ini barack mengunci tubuh luna agar dia tidak bisa menghindarinya lagi.
Barack menekuk ke dua lututnya, mengunci kaki luna dengan menyimpnnya di sela sela kakinya.
Menggunakan ke dua tangannya untuk menopang tubuhnya sendiri dan memberi jarack antara tubuh luna dengan tubuhnya.
Nampak luna menggunakan ke dua tangannya untuk menutupi wajahnya karena malu ketika harus melihat wajah barack tepat di depan matanya.
"Buka!" nada bicara barack seperti terdengar sedang mengancamnya.
"Tidak mau" suara luna terdengar kurang jelas karena dia memutup wajahnya dengat erat, berharap barack tidak bisa membukanya secara paksa.
Tapi dia sadar kalau kekuatan tangannya tidak ada apa apanya di banding tangan barack yang sedikit berotot itu.
"Buka!, , atau aku akan membukanya dengan paksa" barack berucap lagi dengan penuh penekanan, untuk memaksa agar luna dengan suka rela membuka ke dua tangannya.
Mendengar nada suara barack yang sedikit galak membuat luna memaksa dirinya untuk memperlihatkan kembali wajahnya yang masih terlihat tersipu malu.
Barack sempat tersenyum ketika sedikit demi sedikit luna membuka tangannya yang menutupi wajah manisnya itu.
Namun senyumnya kembali menghilang ketika dia melihat luna memjamkan ke dua matanya dengan erat sehingga terlihat kerutan kasar hampir di setiap sudut wajahnya.
Barack langsung mendaratkan bibirnya ke arah dada luna yang masih terbungkus kaos itu.
__ADS_1
Dia sengaja melakukan itu agar luna membuka ke dua matanya.
Seperti dugaannya mata luna langsung terbelalak, dia meraih ke kepala barack dan mencoba mendorongnya agar menjauh dari dadanya.
"Barack!!!" teriaknya.
"Kamu yang memaksaku untuk melakukan ini" jawab barack dengan nada santai.
Jantung luna serasa mau meledak, detakannya meningkat sampai terasa sakit di sekitar dadanya.
"Jangan lakukan itu lagi!" kata luna sambil memalingkan wajahnya untuk menghindari mata barack yang terus melakat ke arahnya.
"Kenapa??, , tidak suka?" barack berucap seperti sedang menantang luna.
"Iya!!! aku tidak suka!" jawabnya. dengan nada ketus.
Wajah barack nampak memaku setelah mendengar pernyataan luna.
Memang di hatinya ada rasa sedikit kekecewaan, bagaimana pun juga dia tetap menghargai keputusan luna.
Barack mendaratkan ciumannya di kening luna, setelah itu menggeser tubuhnya perlahan ke arah samping, dia merubah posisi tubuhnya manjadi menghadap ke atap.
Luna melirik ke arah barack yang sedang menikmati rasa kekecewaannya sendiri.
Dia melihat barack menutup matanya dengan menggunakan salah satu lengannya.
Luna merasa bersalah ketika harus menolak barack malam itu.
Namun dia berjanji kepada dirinya sendiri kalau dia pasti akan menerima barack dengan senang hati ketika seluruh jiwa dan raga seutuhnya sudah menjadi milik barack.
Bagaimana pun juga, barack adalah laki laki normal.
Tak bisa di pungkiri ketika berada di dekat luna, hasrat untuk memiliki tubuh luna begitu besar.
Namun penolakan luna malam ini membuatnya sadar, bahwa sebuah hubungan tidak hanya sekedar menikmati tubuh pasangannya.
"Aku minta maaf" barack berucap seperti tersirat rasa penyesalan yang mendalam.
Dengan masih menutup ke dua mata menggunakan lengannya.
Luna bergerak mendekati tubuh barack, dia meraih tangan barack dan menjadikannya sebagai sandaran kepalanya.
Membenamkan wajahnya di dada barack yang bidang itu, sambil melingkarkan tangannya ke tubuh barack.
Barack membuka matanya dan mengalihkan pandangannya ke arah kepala luna.
Dia meraih kepala luna mengusapnya dengan pelan dan melayangkan sebuah ciuman lembut di kepalanya.
Barack membalas pelukan luna dengan kembali memeluk tubuhnya dengan erat.
Paginya luna terbangun dari tidurnya, dia mendapati barack telah pergi dari sampinya.
Diliriknya jam weker yang ada di atas meja.
Luna hanya berfikir sepagi ini barack sudah pergi ke kantornya.
dreeett, , dreeettt, , ponsel luna yang ada di atas meja dekat tempat tidur barack bergetar.
Terlihat di layar ponselnya, barack memanggil.
Luna langsung mengangkat telepon dari barack.
"Halo?"
"Kamu sudah bangun?" terdengar suara barack dari ujung ponsel luna.
"Iya" jawab luna dengan lirih.
"Kamu berangkat kerja sepagi ini?" tambahnya.
Sejenak barack terdiam.
"Leo menelponku, katanya, , , klara sudah bisa pulang, dan mengikuti tarapi syarafnya dengan rawat jalan, hari ini dia memintaku untuk menjemputnya" jawab barack dengan nada berat.
Tidak ada sahutan dari luna ketika barack menjelaskan kenapa dia pergi pagi pagi sekali.
Barack menyadari kalau sepertinya luna agak sedikit kecewa.
"Apa seharusnya aku tidak menjemputnya saja?" kata barack.
"Jangan jangan!!! , kamu harus menjemputnya, , kalau begitu aku akan pergi mandi, dan berangkat kuliah setelah ini" kata luna mencoba menenangkan perasaan barack.
"Baiklah" barack langsung mematikan teleponnya.
Nampak wajah luna terlihat murung, hatinya mulai sedikit goyah, apa lagi ketika semalam dia mencoba menolak barack.
Otaknya mulai berfikir yang aneh aneh ketika mengetahui barack sedang menghampiri klara.
Rasa takutnya membuat dia menjadi tidak bisa berfikir dengan jernih, kali ini dia tidak bisa mengontrol emosinya.
Luna segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dan bersiap siap pergi menemui barack dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke kampus.
Barack sedang membantu klara menata baju bajunya untuk di masukkan ke dalam tas.
Sedangkan klara masih terduduk sambil terus mengamati barack dari ke jauhan.
"Kenapa kamu cemberut seperti itu?"tanyanya, memastikan keadaan barack.
"Siapa?" barack kembali bertanya ke pada klara.
"Kamu!, , aku perhatikan dari tadi sejak kamu datang wajahmu sudah cemberut terus" kata klara.
__ADS_1
Ingin sekali rasanya barack mangatakan bahwa sebenarnya dia telah bertunangan dengn luna, agar dia tidak terus bergantung kepadanya.
Namun dia mengingat kembali perkataan dari leo, kalau dia tidak boleh memancing emosi klara secara sengaja.
"Mungkin karena aku capek" jawabnya singkat.
Terlihat leo membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.
Klara melihat ke arah leo yang baru saja datang dengan tatapan dingin.
"Siapa yang menyuruhmu untuk datang ke sini!" nada bicara klara terdengar galak.
"Dia datang bersamaku" suara luna terdengar lantang sambil berjalan ke arah masuk ruangan klara.
Barack memaku wajahnya ketika melihat luna berada di depan matanya.
"Aku sengaja mengajaknya untuk membantu barack membereskan barang barangmu" kata luna sambil berjalan mendekat ke arah klara yang sedang duduk.
Nampak wajah leo sedikit merasa khawatir saat itu.
"Bagaimana ke adaan mu? kamu sudah baikan?" luna berusaha menenangkan dirinya, dia sengaja datang untuk memastikan barack tidak berbuat berlebihan saat di dekat klara.
Bisa di bilang kalau dia sekarang merasa cemburu.
Melihat keadaan klara yang sudah membaik dia tidak bisa lagi menahan rasa cemburunya itu.
"Mm, , aku baik baik saja, terima kasih sudah menjengukku" kata klara sambil mempersilakan luna untuk duduk di sampingnya.
Seorang perawat masuk ke dalam untuk menemui klara sambil membawa nampan, terlihat ada sebuah mangkok berisi bubur dan bermacam macam obat yang sudah di pisah pisahkan ke dalam plastik yang masing masing plastiknya sudah di beri tulisan kapan klara harus meminumnya.
"Sebelum meninggalkan rumah sakit, kamu harus menghabiskan bubur ini" kata perawat itu sambil memperlihatkan senyumnya.
"Iya, letakkan saja di atas meja nanti aku akan menghabiskannya" kata klara.
Perawat pun segera pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kamu ingin memakannya sekarang?" aku akan mengambilkannya untukmu" kata luna berusaha membantu klara untuk mengambil bubur dari atas meja.
"Terima kasih, tapi aku ingin agar barack yang menyuapiku" kata klara sambil membuang pandangannya ke arah barack yang masih berdiri sambil bersandar di tembok.
Luna bangkit dari tempat duduk untuk mempersilakan barack mengambil alih tempat duduknya.
Dia berjalan mendekat ke arah leo yang sedang duduk sambil memberskan baju baju klara.
Sesekali luna melirik ke arah leo yang sedang melihat ke arahnya.
Luna hanya mengangguk dengan pelan untuk memastikan kepada leo kalau dirinya baik baik saja.
Perlahan barack berjalan mendekat ke arah klara, di ambilnya mangkuk berisi bubur itu.
Dia duduk di sebelah klara namun sedikit agak menjauh darinya.
"Kenapa jauh jauh begitu, kesini, lebih dekat dengan ku, agar kamu bisa lebih mudah menyuapiku" kata klara sambil menarik lengan baju barack.
Dengan berat hati, barack menuruti ke inginan klara.
Sesekali dia melirik dengan gerakan cepat untuk mencuri curi pandang dengan luna.
Barack seperti merasa sedang di awasi oleh luna, dirasanya pandangn mata luna tidak pernah lepas dari dirinya.
Barack segera menyuapi klara, setiap suapan di penuhi dengan bubur di sendoknya, berharap kalau dia menyuapi klara dengan banyak di setiap suapannya maka barack akan menyelesaikan tugasnya itu dengan cepat.
"Jangan banyak banyak dong, aku masih merasa kesusahan ketika harus menelannya" kata klara berharap barack mengurangi porsi di setiap suapannya.
"Mmm, , maaf" jawab barack pendek dengan ekspresi wajah yang kaku.
"Pulang dari sini boleh tidak, kalau aku tinggal di apartementmu" klara berbicara dengan nada penuh harap ke pada barack.
Wajah barack memaku, ketika mendengar permintaan klara yang semakin membuatnya terpojok, apa lagi dia mengatakannya ketika luna berada di satu ruangan dengannya.
Barack menghela nafas dengan pelan.
Sedangkan luna masih belum percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
Nafas luna terdengar kasar di telinga leo yang masih duduk di sampingnya.
Leo melihat ke arah luna dengan perasaan penuh rasa bersalah.
Luna pun segera memalingkan wajahnya ke arah leo.
"Aku baik baik saja" katanya tiba tiba seperti bisa membaca pikiran leo.
Namun leo tahu kalau hati luna terasa seperti sedang di bakar.
Dadanya terasa panas, itulah yang sedang di rasakan oleh luna saat itu.
Barack tidak menjawab permintaan klara.
Dia terus memaku bibirnya sambil menyiapkan kata kata apa yang akan di lontarkannya ke pada klara.
"Kamu boleh pindah ke apartemntnya, aku selaku sepupu barack mewakilinya untuk membantumu pindah kesana" luna berbicara dengan lantang ke arah klara.
Terlihat wajah klara begitu bahagia mendengar luna mengatakan hal itu.
Namun sebaliknya, barack tidak habis pikir bagaimana luna bisa menjerumuskan dirinya lebih dalam lagi ke pusaran lubang yang sedang di hindari oleh barack.
Aura di sekitar luna dan barack terasa memanas, terlihat kalau mereka terlibat saling perang tatapan mata di ruangan itu.
***
Maaf, author tidak janji untuk Up 2 atau 3 kali bab seharinya.
__ADS_1
Namun author selalu berusaha untuk Up 1 bab sehari. 🙏🙏🙏