
Silau, entah di mana Juliet berada. Semuanya berubah putih seperti kabut tebal. Juliet tidak bisa melihat apa pun di sana. Sendirian tak ada siapa pun yang menemani.
“Ibu?” seru Juliet. Hening tak ada suara yang di tangkap oleh indra pendengarnya. “Paman Antonio? Kakek?” kakinya mulai melangkah perlahan. “Di mana kalian?” tambahnya, Juliet mulai merasa ketakutan. “Ini... sebenarnya tempat apa?”
Selang beberapa menit Juliet mendengar suara seseorang seperti sedang bertengkar. Suaranya jauh, tak begitu jelas tapi Juliet tahu mereka sedang beradu mulut. “Halo siapa di sana? Apa aku sedang bermimpi? Kenapa semuanya terlihat putih?”
Juliet mendekati sumber suara itu berasal dan suara mereka semakin jelas terdengar, tapi anehnya entah apa yang mereka bicarakan Juliet sama sekali tidak mengerti. Bahasa aneh yang mereka pakai untuk berdebat tak pernah di dengar oleh Juliet sebelumnya.
Semakin penasaran Juliet berlari untuk segera memastikan, tapi sejauh dia berlari sampai kehabisan nafas Juliet belum juga menemukan keberadaan mereka. Pada akhirnya ketika ujung matanya menangkap kilatan cahaya yang terpantul dari sebuah benda Juliet segera menghampiri mendekat memastikan apa yang dia lihat, karena pada saat itu memang benar-benar tidak ada apa pun kecuali dirinya.
Langkahnya terhenti tepat di samping benda itu. “Eh... ini bukannya kalung yang ada di dalam kotak itu?” Juliet mengambilnya dan sesaat ingatan ketika dia berada di dalam kamar ibunya pun terlintas. Karena tak ingin kalung itu hilang Juliet kemudian memakainya. Tepat ketika bandul kalung berwarna hijau botol itu bersentuhan dengan tubuhnya, kabut tebal putih di sekitarnya perlahan menghilang. “Eh!! Apa yang terjadi dengan kabutnya?”
Semua menghilang perlahan, awan gelap mulai muncul dari balik kabut yang menipis. Juliet mulai bisa melihat sekitar. “Di... di mana ini?” Kini Juliet berada di sebuah hutan yang dipenuhi dengan pohon pinus tua berumur sekitar ratusan tahun. Sangat tinggi membuat keadaan di sekitarnya menjadi gelap dan sangat lembab. Tak ada tanda petunjuk arah atau apa pun yang bisa membantu Juliet keluar dari tempat itu.
Sampai pada akhirnya Juliet melihat samar-samar cahaya dari sela-sela pohon. Juliet mulai melangkah mendekati cahaya itu. Ukuran pohon yang terbilang tak masuk akal, sangat besar bak pohon raksasa postur Juliet seperti seekor kelinci kecil yang tersesat di tengah-tengah hutan jika di bandingkan dengan satu pohon di sana.
__ADS_1
Sebuah cahaya yang sempat dilihatnya membawa Juliet ke sebuah tempat asing berbeda dengan hutan gelap yang baru saja dia lewati, saat Juliet menoleh ke belakang hutan itu berubah menjadi padang rumput. Meskipun tak segelap saat berada di hutan, bagi Juliet tempat di mana dia berada saat ini masih lumayan gelap. Minim cahaya bahkan langit pun ikut menggelap. Suasana semakin mencekam layaknya berada di dalam film horor.
PRANK!!!
Mendengar suara pecahan kaca Juliet menoleh cepat, matanya membulat syok kala melihat sesuatu yang sangat besar terhempas keluar dari sebuah rumah tua bersamaan pecahan kaca yang terbang di udara. Juliet tidak tahu benda apa yang terhempas begitu kuat seperti di dorong dengan kekuatan besar hingga terpental jauh tepat di depan Juliet yang posisinya mungkin sekitar 100 meter dari rumah tua.
Brugh!!
Itu bukan sebuah benda, melainkan tubuh seseorang. Juliet terpaku melihat sosok itu begitu besar dan sangat tinggi saat dia berdiri. Anehnya saat Juliet melihat caranya berdiri tanpa harus bersusah payah mengangkat tubuh dengan kedua kakinya, orang itu seakan bergerak cepat seperti memiliki keahlian dalam meringankan tubuh sehingga tiba-tiba saja dia sudah berdiri. Dia sangat tinggi Juliet harus mendongak untuk melihat wajahnya. Ukuran yang tidak normal untuk seorang manusia. Tetapi jika dilihat lebih teliti lagi, orang itu memakai pakaian yang sedikit berbeda dengan Juliet. Dia memakai jas dengan model lawas kerah berdiri dan semua serba hitam tampak menyeramkan.
Juliet merasa berada di alam mimpi apa lagi setelah melihat luka sayatan di lengan orang tersebut seketika menghilang perlahan dan menutup seperti semula. ‘Wooooww it’s amazing!’ Juliet kagum, dia yakin hal itu biasa terjadi di mimpi.
Juliet baru sadar kalau suasana saat itu sangat tidak asing setelah mendengar jelas bahasa yang mereka gunakan. Ini seperti di mimpinya yang sudah hampir dua tahun belakangan ini menghantui setiap Juliet terlelap. Tetapi itu terlalu nyata untuk dibilang mimpi.
Tubuh Juliet bergerak ke belakang saat sosok besar di depannya menoleh, sinar matanya merah gelap seperti darah. “Are you oke?” ucap Juliet, bibirnya bergetar ketakutan.
__ADS_1
“₩×¥? ko#¥×*? lqn¥$*$... K@₩$& ÷¥÷£ k°₩÷^^!!” orang besar itu bertanya kepada Juliet dengan suara berat. Kemudian melirik kalung yang menggantung di lehernya. “Kau makhluk keci? Kalung itu... berikan padaku, aku membutuhkannya!!”
“He??” Juliet tidak mengerti apa yang dia ucapkan. “Ka.kau bicara apa? Aku tidak mengerti!” Juliet semakin ketakutan saat melihat tangannya yang besar, kukunya panjang nan tajam berwarna gelap, sangat pucat nyaris seperti tak memiliki darah. Tangan itu hampir meraih kalung milik Juliet, akhirnya dia paham apa yang di inginkan oleh makhluk besar itu. “Tidak! Ini milik ibuku!” Juliet menggenggam bandul kalungnya.
Orang itu seolah tahu kalau Juliet menolak untuk memberikan kalungnya. Raut wajahnya berubah mengerikan aura di sekitarnya semakin menggelap. Juliet menatap matanya yang mulai berubah, semula berwarna merah kini menjadi hitam pekat bahkan di seluruh bola matanya.
“#&×*×*×* K@*#£ ₩×*×!!!!!!” dia menggeram marah, suara beratnya menggelegar membuat penghuni pohon berhamburan terbang melarikan diri.
Juliet semakin ketakutan tapi dia tak bisa lari, tubuhnya terasa sangat berat begitu juga kakinya kaku seolah tak dapat digerakkan. ‘Tenang ini hanya mimpi! Tenang Juliet sebentar lagi kau pasti juga terbangun dari tidurmu!’ gumamnya dalam hati mencoba menangkan diri.
“#₩/&_@)÷¥×&!!!!” geramnya lagi. “BERIKAN PADAKU!!!!”
Tubuh Juliet tersentak kemudian jatuh duduk, orang besar itu masih tak melepaskan dirinya. Lagi tangannya yang besar dan mengerikan itu kembali berusaha meraih kalungnya. “Tidak!” gumam Juliet melihat kukunya yang hitam telah berhasil menyentuh rantai kalung di lehernya.
Tepat saat makhluk besar itu berhasil menggenggam kalung milik Juliet, sekelebatan angin dengan kekuatan besar datang dan menyambar tubuh orang itu. Nyaris tak tertangkap oleh kedua mata Juliet karena terjadi begitu cepat sepersekian detik. Dan detik berikutnya saat Juliet sadar orang besar itu sudah terkapar dengan sosok orang lain yang juga memiliki postur sama tengah mencekik lehernya.
__ADS_1
Juliet tidak bisa melihat wajahnya karena orang itu tengah membungkuk fokus dengan targetnya. Apa yang terjadi saat itu tepat di depan mata membuat Juliet nyaris tak bisa bernafas. Orang yang berhasil merebut kalung milik Juliet tubuhnya hancur seketika menjadi serpihan api yang beterbangan di udara di sertai asap. Seketika awan gelap yang menyelimuti tempat itu perlahan menghilang. Suasana berubah cerah dan hangat.
Tetapi Juliet masih dikuasai rasa ketakutan yang semakin menjadi. Nafasnya berat dan tak beraturan. Juliet hendak beranjak pergi tapi tubuhnya masih tak dapat digerakkan. Kini hanya ada mereka berdua, sosok yang sempat memunggungi Juliet beranjak berdiri. Tak jauh dari sosok yang telah hancur, postur tubuh orang di depannya juga memiliki tubuh besar dan tinggi. Tetapi saat dia memutar tubuhnya, Juliet bisa melihat jelas wajahnya karena saat itu cahaya mulai bermunculan dari segala arah.