Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
43 S3: Love's Romance Aroma kopi


__ADS_3

Setelah terbatuk batuk yang sengaja di buat Bunga berdehem mentralkan perasaannya. Die tak pernah sekali pun mengarahkan pandangannya ke pada Davien. selalu tertunduk dan menghindari tatapan matanya.


"Maaf saya kesini mengantar minuman Nona Keiko" Bunga menundukkan kepalanya, memberi hormat sebelum keluar dari ruangan itu.


"Permisi!"


"Tunggu!" pertintah Davien setelah Bunga berhasil memutar tubuhnya.


Perempuan itu terpaku terdiam di sana. Menelan ludahnya dengan susah payah ketika mendengar Davien berucap. Tak lama Bunga kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke Davien.


"Saya Pres Dir"


"Aku belum menyuruhmu keluar, masih ada yang harus aku bicarakan denganmu!" suaranya terdengar tenanang, tetapi tersirat sebuah perintah yang tak terbantahkan.


Bunga menipiskan bibir menggit bagian bawahnya menahan gugub.


"Keiko habiskan kopimu aku akan meminta James untuk mengantarmu ke bawah setelah ini" ucap Davien sembari memencat tombol intercom di atas meja yang menghubungkan langsung ke James.


"James keruanganku sekarang" ucapnya kemudian.


"Davien kamu mengusirku???" Keiko masih merengek seperti anak kecil di samping Davien. Kemudian mengarahakn pandangan matanya ke arah Bunga dengan tatapan jengkel.


Bersamaan dengan itu Bunga pun menatap ke arahnya hingga akhirnya tatapan mata nereka bertemu. Bunga terkejut kemudian memilih menunduk mengalihkan pandangannya.


"Apa benar semua karena perempuan ini!!"


Keiko kemudian mengalihkan pandangannya ke Davien dengan ekspresi wajah tak terbaca.


Davien menoleh menengadah menatap Keiko.


"Kita lanjutkan nanti malam Keiko, aku hari ini masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


Tok tok tok!!!


James sengaja mendorong pintunya dari arah luar. Laki laki itu berjalan dengan penuh wibawa melangkah masuk ke dalam.


"Pres Dir?" dia menundukkan kepalanya, setelah itu mengarahkan pandangan matanya kembali ke Davien.


Davien tak berucap dia hanya memberi isyarat kepada James untuk membawa Keiko keluar dari ruang kerjanya.


James yang langsung mengerti dengan perintahnya langsung bergerak.


"Nona Keiko silahkan" James menggerakkan tangannya, meminta Keiko untuk pergi ikut bersamanya.

__ADS_1


"Davien kamu benar ingin mengusirku!!" Keiko masih bersikuku mencoba untuk bertahan di sana.


"Keiko, jika pekerjaanku hari ini tidak selesai aku tidak bisa menemanimu kencan!" ucapnya dengan tegas. Ingin segera Keiko pergi dari ruangannya.


Bunga yang mendengar hanya terdiam memamerkan ekspresi wajah datar.


"Baiklah aku akan pergi!" tak lama setelah Keiko berjalan beberapa langkah menjauh dari Davien, seketika Bunga berucap dengan nada lembut.


"Nona minumanmu"


Langkahnya terhenti tepat tak jauh dari meja, Keiko terdiam menatap wajah Bunga. Seakan dia merasa telah kalah dengannya, Keiko yang tidak bisa mengendalikan diri pun sedikit memutar tubuhnya untuk meraih secangkir kopi yang telah di persiapkan kusus unyuk dari atas meja dan menyiramkannya ke wajah Bunga hingga kopi itu membasahi wajah dan sebagian kemejanya.


Bunga yabg terhentak kaget langsung melangkah mundur sembari memejamkan matanya karena takut air itu akan masuk ke dalam matanya.


James yang berdiri tak jauh darinya pun langsung meraih pundak Bunga, sengaja menjaga penuh waspada jika saja setelah ini Keiko akan berbuat lebih jauh lagi.


Davien yang melihat kejadian tepat berada di depan matanya pun langsung beranjak berdiri menghampiri Keiko.


"Keiko apa yang kamu lakukan!!!" Davien berucap dengan tenang namun tersirat sebuah ancaman, jika Keiko berani bertindak lebih jauh lagi maka Davien tidak segan menyeretnya keluar secara paksa. Davien mencengkeram tangan Keiko dan mengambil alih cangkir dari tangannya. Meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja dengan sedikit amarah tertahan hingga tanpa sadar Davien hampir membanting cangkir itu di sana.


"Semua ini karena dia kan!!" ucapnya merujuk kepada Bunga.


"Kemarin kamu sengaja meninggalkanku di rumahmu sendirian juga untuk mengejarnya kan!" tuduhnya kepada Davien.


Davien terdiam karena Keiko menebaknya dengan sangat benar. Bukan merasa bersalah tapi lebih tepatnya karena Davien tak enak hati hingga dia lebih memilih diam dan tak menjawab pertanyaan dari Keiko. Kini dia lebih memilih fokus dengan kedua tangan James yang bertahan di pundak Bunga.


"James Antar Keiko kebawah!" perintahnya lagi, kini di selipi sebuah ancaman di dalamnya. Sengaja agar Keiko yang mendengarnya pun takut dan memilih untuk pergi.


"Nona!"


Keiko menekuk wajahnya, dengan jengkel kemudian dia berucap.


"Kamu masih berhutang penjelasan kepadaku!" Keiko akhirnya melangkah mengikuti perintah Davien, namun ketika berjalan melewati Bunga dia sengaja menabrakkan pundaknya hingga membuat Bunga hampir terjatuh.


Davien bergerak cepat merah lengan Bunga hingga akhirnya perempuan itu bisa mengendalikan diri dengan baik hingga tak terjatuh.


Setelah Keiko keluar dan James menutup pintunya saat itu juga Bunga langsung mengeluarkan semua amarahnya yang tertahan sejak tadi.


"Kamu sengaja melakukannya!!, , sengaja membuat Keiko marah dan membenciku??"


Davien diam membisu tak bergeming sama sekali. dia malah melangkah mubdur mendekati meja, setalah itu tangannya bergerak merah remot yang ada di sana. Jarinya menekan salah satu tombol hingga akhirnya semua gorden bergerak menutup secara bersamaan tembok kaca yang mengelilingi tempat itu.


Sengaja agar orang yang melewati ruang kerjanya tak bisa melihat ke arah dalam.

__ADS_1


Bunga terkejut seketika mengalihkan pandangannya ke sana ke mari, ketika gorden mulai menutup seluruh ruangan itu. Dan setelah tertutup rapat, Bunga kembali mengalihkan pandangannya ke Davien.


Laki laki itu kembali berjalan mendekatinya, mendorong kepala ke arah wajah Bunga. Mengendus menghirup aroma kopi dari wajahnya.


"Aku tidak menyukai aroma kopi ini!" ucapnya sembari memaksa Bunga melepaskan nampan yang sedari tadi di peluknya ke bagian dada. Setelah itu meletakkan nampannya ke atas meja kerja.


Bunga terlihat sangat gugub ketika Davien menggerakkan tangannya merapihkan anak rambut yang basah karena terkena minuman yang melekat di kening dan wajahnya.


Tak lama dia kembali mendekatkan kepalanya, ke salah satu sisi telinga Bunga kemudian berbisik.


"Aku lebih menyukai aroma wangi tubuhmu ketimbang aroma kopinya"


Bunga segera menarik kepalanya mundur menjauh ketika merasakan detak jantungnya semakin cepat.


"Ikutlah denganku!" Davien meraih tangannya menuntun perempuan itu melangkah masuk kedalam kamar mandi yang telah di bukanya terlebih dulu. Kamar mandi yang sengaja di buat mirip dengan yang ada di rumahnya. Karena Davien terkadang menghabiskan waktunya di dalam ruang kerjanya.


Bunga mengikuti langkahnya, nampak sedikit tertahan karena dia merasa ragu ketika ingin melangkah.


Tetapi akhirnya mereka sampai di dalam ruangan yang cukup terbilang sangat lebar untuk sebuah kamar mandi. Dengan tembok kaca tembus pandang membuat tempat itu semakin terlihat luas.


Davien melepaskan tangannya, kemudian bergerak meraih handuk kecil berwarna putih dari tempat yang sudah tersedia di sana. Mendekati wastafel, menyalakan keran dan membasahi handuk dengan air yang magalir.


Davien sempat menatap ke kaca, melihat bayangan Bunga yang terlihat berdiam diri di belakangnya. Sementara tangannya memeras handuk yang basah karena air.


Davien memutar tubuhnya perlahan menghadap ke Bunga.


"Kemarilah" perintahnya dengan nada lembut. Davien meraih tangannya meminta Bunga menghadap dan mendekat.


Davien mulai membantu Bunga membersihkan sisa kopi yang kini sudah mengering dan terasa lengket di wajah Bunga.


Perempuan itu tak berani menatap Davien yang berdiri tepat di depan matanya. Dia selalu mengarahkan pandangannya ke bawah.


Davien mulai membersihkan permukaan wajahnya, perlahan dan lembut dia melakukannya. Setelah itu tangannya mulai bergerak menuruni ke pipi.


"Maaf karena Keiko telah berbuat di luar dugaanku" Davien mencoba memulai percakapan di antara mereka. Tetapi tak di respon dengan baik oleh Bunga. Karena perempuan itu masih saja terdiam memaku bibirnya.


Merasa kedua sisi pipinya telah terlahit bersih, Davien mengerakan tangannya mulai menurun. Hingga saat handuk yang di pegang olehnya menempel di bagian leher Bunga, seketika Davien memaku tangannya.


Menelan ludahnya dengan susah payah ketika tangannya segaja menyingkirkan kerah kemeja yang dikenakan Bunga hingga memperlihatkan bagian lehernya yang putih bersih. Sisi lain dari leher yang terdapat tanda merah di sana.


"Aku bisa melakukannya sendiri" ucap Bunga sembari meraih tangan Davien, meminta laki laki itu memberikan handuknya.


"Kamu cukup diam Bunga! aku yang akan membersihkan tubuhmu!" Davien berucap dengan lembut. Laki laki itu meletakkan handuk de atas bibir wastafel. Setelahnya kembali fokus dengan Bunga yang sudah semakin terlihat gugub.

__ADS_1


Perempuan itu tak berani menatap mata Davien ketika mereka berdua sedang berhadapan seperti sekarang ini.


Bunga kembali dikejutkan, entah untuk yang keberapakalinnya saat tangan Davien bergerak membuka kancing kemeja yang di kenakan oleh Bunga.


__ADS_2