
Selama hampir 7 tahun lebih Barack hidup bagaikan di neraka.
"Kamu berfikir dalang di balik semua ini adalah Adrian?" Klara mencoba menebak pemikiran Barack.
"Aku berharap demikian, , tapi aku tidak bisa membuktikan kalau memang dia pelakunya" Barack meraih secangkir kopi di atas meja, menyesapnya kemudian.
"Lalu?, , apa rencanamu sekarang?"
Barack memijat pelan keningnya seakan laki laki itu sedang berfikir keras.
"Aku tidak tahu, , aku tidak ingin tergesa gesa. Bagiku sekarang yang terpenting adalah, , aku ingin melihat Putraku. Dan aku juga ingin semuanya berjalan mengalir seperti air" pandangan mata Barack terlihat kosong, perlahan dia menarik punggungnya ke arah belakang dan menghela nafas panjang.
♡♡♡
Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Luna telah menyelesaikan desainnya.
Perempuan itu melirik ke arah pintu, dia berharap Barack akan datang karena dia harus memberikan desain barunya itu.
Dan pastinya agar urusannya cepat selesai. Dia juga ingin segera pulang.
Luna melirik ke arah jam di tangannya. Menghela nafas panjang untuk menetralkan pikirannya yang sempat stres karena harus bekerja keras untuk memenuhi keinginan Barack.
Luna menyandarkan tubuhnya di sofa, berharap rasa lelahnya akan hilang setelah beristirahat sejenak sambil menunggu Barack.
Namun yang ada perempuan itu malah tertidur di sana.
♡♡♡
Barack melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Matanya langsung tertuju ke arah Luna yang tengah tertidur di sofa.
Dia berjalan perlahan mendekati Luna. Laki laki itu Berdiri di samping sofa, sementara matanya menatap lembut wajah perempuan itu. Wajah yang selama ini ingin dilihatnya. Rasa rindu yang menggebu gebu seakan meronta di dalam dadanya. Meminta untuk segera memeluk tubuh perempuan itu. Namun Barack bisa mengontrol dirinya dengan baik.
Kini Barack duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke sofa di mana Luna berada di sana.
Tangannya bergerak meraih selembar kertas di atas meja dan menatap desain Luna yang baru saja di selesaikannya.
Barack menghela nafas kemudian, laki laki itu memalingkan wajahnya ke arah Luna. Menatap wajah perempuan yang sudah lama tak dilihatnya dalam keadaan tertidur seperti ini.
Dia tersenyum, merasa sangat senang bisa melihat Perempuan yang masih menduduki tahta paling tertinggi di hatinya.
__ADS_1
Kerinduan selama beberapa tahun ini terobati ketika hanya melihat wajahnya saja.
Tangannya bergerak merapihkan rambut yang menutupi kening Luna.
Barack berusaha melakukannya dengan perlahan, agar tak mengganggu tidurnya. Namun, Luna merasakan gerakan seseorang di sana. Perempuan itu membuka mata, menatap ke depan dan melihat wajah Barack tepat di depannya.
Mata Luna membulat, dia terkejut hingga langsung mengubah posisinya menjadi duduk di atas sofa.
"Apa yang kamu lakukan!!" Luna seolah tahu Barack sengaja duduk di sana agar bisa mendekatinya.
"Ini" Barack memaku tangannya di udara dengan memegang selembar kertas.
"Aku cuma ingin melihat ini" Barack beranjak dari lantai, dia menjauh dari Luna dan duduk di sofa tunggal.
Luna merasa canggung, dia merapihkan kemejanya. Menunduk, menyimpan wajahnya karena merasa malu ketika laki laki itu harus melihatnya tertidur di ruang kerjanya.
"Aku harap desain itu bisa memuaskanmu!" ucapan Luna terdengar santai, namun entah kenapa lebih terkesan mengejek bagi Barack.
"Kalau aku bilang, aku tidak menyukainya. Apa kamu akan masih bertahan di sini dan membuat desain lagi!! untuk memuaskanku?" ujung matanya bergerak melihat Luna.
Luna memalingkan wajahnya ke arah Barack. Dia menghela nafas kasar.
"Aku menginginkanmu!!" ucap Barack seketika.
Dada Luna berdetak semakin cepat ketika mendengar ucapan laki laki itu.
Tak bisa di pungkiri, jauh di libuk hatinya nama Barack masih tersimpan baik di sana. Pipi Luna bersemu. Entah karena malu atau marah saat itu.
"Ee, , maksudku, aku membutuhkanmu untuk membuat desain yang lain lagi!" Barack memperjelas ucapannya.
"Kamu masuk ke Grub Dirga juga untuk mendesain bukan?? lalu kenapa ketika aku memintamu membuatkan desain gaun untukku kamu menolaknya!!"
Luna menghela nafas, seolah merasa Barack sedang menyerang dirinya secara personal.
"Apa kamu pikir aku menolaknya, , lalu untuk apa aku dari tadi disini menghabiskan waktuku untuk mendesain semua ini!!" Luna beranjak dari sofa, dia bermasksud untuk pergi, namun Barack menarik tangannya. Laki laki itu masih bertahan duduk di sofa.
"Maaf!!, , ini pertama kali setelah beberapa tahun kita tidak saling menyapa satu sama lain. Bisakah luangkan waktumu sebentar. Untuk mendengarkanku?" Barack berucap dengan nada menuntut.
"Apa yang harus aku dengarkan darimu? kalau kamu ingin menjelaskan tentang waktu itu, , maaf aku tidak punya waktu!"
__ADS_1
"Ini tentang Putra kita" Barack berhenti berucap, seolah memberi waktu kepada Luna untuk mencerna ucapannya.
"Bisakah aku menemuinya?" tambahnya.
Perempuan itu tak bergeming, dia hanya diam membisu. Hatinya seakan di sayat sayat mendengar permintaan Barack, dia juga merasa sudah terlalu lama membuat laki laki itu menderita.
Barack menghela nafas panjang, seakan dia tahu jawabannya ketika melihat Luna hanya diam saja.
"Maaf!!, , kalau kamu tudak mengijinkannya untuk nertemu denganku, , aku tidak akan memaksa" Barack bisa saja menuntut Luna di pengadilan. Tapi baginya membawa pulang mereka kembali kepelukannya itu jauh labih penting.
Barack beranjak dari sofa.
"Tidak bisakah kita kembali seperti dulu?" suara Barack terdengar berat. Dia masih menahan tangan Luna di sana.
Luna memaku tubuhnya, dia masih berdiri membelakangi laki laki itu.
"Aku tidak bisa!, , bagiku, luka yang kamu berikan waktu itu sampai hari ini masih terus berbekas!"
"Itu sudah bertahun tahun Luna. Tidak bisakah sekarang kamu mendengarkan penjelasanku?" Barack melangkah mendekati Luna, dia memeluk perempuan itu dari arah belakang.
Mendekapnya dengan erat, menikmati aroma wangi tubuh Luna yang menyeruak ke dalam hidung, menghirupnya hingga ke bagian terdalam dadanya.
Luna terkejut, tangannya berusaha melepas tangan Barack yang melingkar di pinggangnya.
"Barack!, , jangan seperti ini!" Luna mencoba mendorong tubuh Barack dengan kedua sikunya.
Nafasnya terdengar kasar dan memburu ketika dia berusaha keras melepaskan diri dari Barack, tetapi laki laki itu semakin menguatkan pelukannya.
Akhirnya Luna pun terdiam, seolah usahanya untuk melepaskan diri percuma saja.
"Bagiku semuanya sudah berlalu. Maka dari itu, , , aku berharap kita hidup di jalan kita masing masing!"
Mendengar ucapan Luna, lengan Barack yang sempat melingkar di pinggang perempuan itu dengan erat kini mulai melemah. Barack menarik kembali tangannya.
"Itukah yang kamu inginkan? bahkan tak ada kesempatan untukku lagi!" ucapnya dengan nada lirih.
"Ya!!!, , aku harap hubungan kita sebatas rekan kerja. Dan tidak lebih!!" Luna berucap dengan penuh kepastian.
Luna melangkah keluar meninggalkan Barack sendiri di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Baiklah, , aku akan turuti keinginanmu! kita lihat saja, siapa yang akan bertahan!. Aku, , atau kamu?"