
Cici mendorong tubuh Aryo, dia tersipu malu setelah laki laki itu berhasil mencuri ciuaman darinya.
"Katakan, apa yang membuatmu datang ke sini?" ucap Aryo, pandangan matanya kini melembut ke arah Cici.
"Rosa bilang padaku kalau kamu demam, makanya aku datang karena ingin memastikan keadaanmu"
"Lalu? apa lagi?" Aryo berucap, seakan dia ingin mendengar lebih dari mulut Cici.
"Hanya itu??" ucapan yang keluar dari mulut Cici membuat Aryo sedikit merasa kecewa.
"Kalau hanya untuk itu tidak perlu datang kemari. Karena aku bisa mengurus diriku sendiri"
Tubuh Cici menegang, ada sedikit rasa jengkel di dalam hatinya, ya memang semua karena ulahnya sendiri. Rasa ego di dalam hatinya masih sangat tinggi. Perempuan itu terlalu takut untuk mengakui bahwa dirinya sudah mulai menyukai Aryo. Namun dia belum berani mengambil keputusan.
"Apa makasud ucapanmu!!" sejenak Cici berhenti bicara untuk mencerna ucapan Aryo.
"Apa kamu sedang mengusirku?" tambahnya.
Aryo menghela nafas panjang.
"Siapa bilang? aku tidak nermaksud mengusirmu!" laki laki itu kini merebahkan tubuhnya di atas sofa dan mengangkat ke dua kakinya ke atas pangkuan Cici.
Cici merasa terkejut dan langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah Aryo.
Laki laki itu menutup matanya.
"Pijat kakiku!!" perintahnya.
Cici mendesah kesal, tangannya mulai bergerak memijat kaki Aryo.
"Hadduuuuhhh!! kenceng dikit dong! belum makan ya? lembek amat pijatannya!" ujung mata Aryo melirik ke arah Cici yang tengah sibuk memijat kakinya.
Cici nampak kesal ketika Aryo terus menyuruhnya, namun dia lebih memilih diam dan menuruti peemintaan laki laki itu.
Dreeeeet!! dreeettt!!
Cici mengambil ponselnya dari dalam tas. Matanya melihat ke arah layar ponsel untuk memastikan siapa yang menghubunginya.
"Tante??"
Cici melirik ke arah Aryo yang sedang berpura pura tidak mau tahu ketika Cici mendapat panggilang dari seseorang.
"Hallo?"
Aryo melempar pandangannya ke arah lain namun dia memusatkan seluruh tenaga di tubuhnya ke telinga untuk mendengar percakapan Cici.
"Mm, iya, , iya tante. Hati hati di jalan"
Ada sedikit guratan kelegaan di wajah dan senyum tipis menghiasi bibirnya tipis ketika tahu bahwa Tantenya Cici yang sedang menghubunginya.
"Siapa yang menelponmu?" Aryo bersedekap, menahan ke dua tangannya di atas dada.
"Tante"
"Mau pergi kemana dia?" ucap Aryo setelah mendengar percakapan Cici.
__ADS_1
"E, dia akan pergi keluar kota"
"Kalau begitu kamu di rumah sendiri dong nanti malam??" celetuknya.
Cici hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Aryo.
Laki laki itu kini mengubah posisinya, Aryo kembali duduk di atas sofa. Menyeret tubuhnya mendekat ke arah tubuh Cici hingga wajah mereka saling berdekatan.
Perempuan itu nampak gugub, jantungnya berdebar lagi.
"E, , apa kamu sudah makan? aku lapar" Cici beranjak dari sofa dan berjalan ke arah dapur berusaha menghindar dari Aryo.
Laki laki itu hanya tersenyum, bola matanya bergerak mengikuti gerakan tubuh Cici yang semakin menjauh darinya.
Dia memutuskan untuk menhikuti Cici. Aryo bangkit dari sofa dan melangkah menuju ke dapur.
Matanya terus tertuju ke pada perempuan yang tengah sibuk mencari sesuatu yang ada di dalam kulkas.
Tubuh Cici terperanjat ketika Aryo berdiri tepat di belakangnya. Ke dua tangan laki laki itu meraih kulkas dan mengepung tubuh Cici di sana.
Cici hanya berdiam diri berusaha mengontrol perasaan karena Aryo selalu berhasil menggodanya.
"Sepertinya tidak ada bahan yang bisa di masak di sini, aku akan keluar sebentar untuk membeli bahan bahan masakan"
"Tidak perlu" Aryo meraih pundak perempuan itu dan membalikkan tubuhnya.
Laki laki itu menatap lekat ke arah mata Cici.
"Kita makan di luar?"
"Aku bisa minum obat nanti" Aryo masih menatap mata Cici, laki laki itu tidak pernah mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.
"Kenapa? ada yang aneh dengan wajahku?" ucap Cici.
Aryo menggeleng pelan.
"Kapan kamu akan menikahiku?" ucapnya kemudian.
Bibir Cici terpaku, dia tidak mengira Aryo akan menanyakan hal itu.
♡♡♡
Luna meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. Dia tersenyum tipis ketika membaca sebuah pesan.
"Pesan dari siapa?" Barack berucap ketika melihat ekspresi wajah Luna.
Perempuan itu menghela nafas dan melangkah duduk di tepi ranjang di sebelah Suaminya.
"Adrian, besok dia memintaku menjamu tamunya di restoran X karena dia harus pergi ke luar kota"
"Aku akan mengantarmu sebelum berangkat kerja" Ucap Barack, dia mengusap rambut Istrinya dengan lembut.
Mata Luna menyelidik ke arah wajah Barack, hingga membuat laki laki itu mengerutkan dahinya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Kamu tidak cemburu kan?"
Barack terkekeh.
"Kamu bilang dia akan ke luar kota, jadi dia tidak akan menemani kamu menemui tamunya kan"
Perempuan itu hanya tersenyum.
♡♡♡
Siang itu Luna berada di sebuah restoran, dia duduk dengan seoarang laki laki yang berdiri di belakangnya seolah sedang menjaga perempuan itu.
"Kamu tidak ikut atasanmu pergi ke luar kota?" ucap Luna kepada laki lakinitu.
"Tidak. Pak Adrian menyuruh saya menemani Anda di sini?" ucap laki laki itu.
Kedua alis Luna terangkat, dia merasa heran ketika Adrian lebih memilih pergi sendiri tanpa skretarisnya.
Selesai menemani tamu, sekretaris Adrian bermaksud untuk mengantar Luna. Namun perempuan itu menolaknya.
Ketika Luna berdiri di depan lobi menunggu mobil menjemputnya, tiba tiba sebuah mobil lain berhenti tepat di depannya.
Adrian keluar dari mobil itu dan melangkah mendekat ke arah Luna.
"Adrian?" Luna terkejut ketika melihat laki laki itu.
"Aku akan mengantarmu pulang" ucap Adrian, laki laki itu telah membukakan pintu untuknya.
Luna ingin menolak namun, dia berfikir lagi. Beberapa kali dia sudah mencoba menghubungi Barack namun Suaminya itu tak kunjung mengangkat telponnya.
Mau tidak mau Luna mengiyakan tawaran dari Adrian.
♡♡♡
"Maaf membuatmu harus menemui tamuku sendirian, karena ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan" Laki laki itu berucap, ujung matanya sesekali melirik ke arah Luna yang duduk di sampingnya.
"E, tidak apa apa itu juga tugasku kan"
Mobil Adrian berhenti tepat di lampu merah. Laki laki itu membuang pandangannya ke arah luar. Tatapan matanya memaku ketika melihat seorang laki laki dan perempuan berjalan masuk ke dalam sebuah hotel di ujung sana.
Keningnya berkerut matanya mengerucut memastikan soksok laki laki itu.
Dan kedua matanya membulat ketika mengetahui bahwa laki laki itu adalah Barack.
Luna memalingkan wajahnya ke arah Adrian, perempuan itu nampak bertanya tanya ketika melihat Adrian yang sedang melamun sembari melihat ke arah luar.
Luna mencoba mengurutkan kemana arah pandangan mata Adrian. Namun saat itu juga Adrian langsung meraih pundak Luna agar perempuan itu tidak melihat ke arah Barack.
"Luna!, , "
Seketika Luna langsung menengok kembali kearah Adrian.
"Ya?"
"Emm, , itu" Adrian nampak gelisah, dia sangat berharap lampunya berubah hijau saat itu.
__ADS_1