Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#63 Membaik


__ADS_3

Luna menggandeng tangan barack sambil berjalan menuju ke arah ruang ICU, karena kebetulan sampai saat ini klara belum bisa di pindahkan ke ruang kamar inapnya. Karena kondisinya masih membutuhkan pengawasan yang intens.


Barack menghentikan langkahnya di depan pintu sebelum masuk ke dalam ICU.


Dia melihat ke arah luna dan meyakinkan dirinya sendiri sebelum bertemu dengan klara.


Dari arah dalam, leo melihat mereka berdua tengah berdiri di depan pintu kaca ruang ICU.


Dengan masih menggunakan jubah berwarna hijau yang mensterilkan tubuhnya dari berbagai macam jenis kuman, leo berjalan ke arah pintu untuk menemui mereka.


Leo membuka pintu, dia tidak percaya melihat barack telah berdiri di depannya. Ada rasa kelegaan di wajah leo kali ini, melihat barack telah merubah pikirannya.


Leo mempersilakan mereka berdua masuk ke dalam.


Terlihat barack dan luna telah memakai jubah berwaran hijau seperti yang di kenakan oleh leo.


Luna melihat ke arah wajah barack sambil melepas genggaman tangannya seperti sedang memeberinya ijin untuknya segera mendekat ke arah tubuh klara yang masih terbaring itu.


Luna merasa seperti sedang dengan senang hati merelakan laki laki yang di cintainya pergi ke pada wanita lain, namun luna segera sadar bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal seperti itu.


Bagaimana pun juga tak bisa di pungkiri, kalau jauh di dalam lubuk hatinya merasa sakit menerima kenyataan ini.


 


Barack berjalan mendekat ke arah tubuh klara yang terus terbaring di atas ranjang.


 


Melihat selang yang masih terperangkap di dalam mulut klara membuatnya merasa seperti segelintir dari dirinya merasa hancur, bagaimana pun ketika dia meninggalkan klara dia berharap, klara bisa melanjutkan kehidupannya dengan baik.


Namun kenyataannya dia malah melihat klara sekarat seperti sekarang ini.


Terlihat dokter dan seorang perawat masuk ke dalam ruang ICU dan meriksa keadaan klara, sambil membawa beberapa lembar kertas yang di gunakannya untuk menulis perkembangan klara setiap satu jam sekali.


 


Perlahan barack mengangkat tangannya untuk mencoba meraih tangan klara yang masih terpasang alat seperti penjapit di bagian jari telunjuknya.


 


Dia menyentuh bagian punggung tangan klara.


Di dalam ketidak sadarannya, tubuh klara seperti mendapat aliran sengatan listrik dari ujung jarinya yang sempat di sentuh oleh barack itu, menjalar ke seluruh pembuluh darah baik pembuluh darah arteri maupun pembuluh darah venanya, bahkan merambat ke bagain otaknya yang selama ini seperti mati karena tidak mau menerima rangsangan dari organ tubuh lainnya.


Dari pembuluh darah merambat ke bagian sel sel lainnya yang membuat oragan tubuhnya kembali seperti merasakan rangsangan untuk membuatnya kembalai sadar.


"Klara?"barack mencoba memanggil namanya.


Suara barack memenuhi ke dua gendang telinga klara.


Mengusik kerja otaknya yang melemah agar kembali bekerja dengan berusaha keras untuk memaksa kembali bangun dari tidurnya yang panjang.


Leo melihat senyum di wajah perawat itu, seperti sedang membawa angin sejuk baginya.


Dia meraih pundak luna dan merangkul dengan lembut tubuhnya.

__ADS_1


Bibir luna sedikit mengembang saat itu.


Barack masih terus bertahan memegangi jari jari klara itu, di rasanya cukup untuk hari ini, berfikir semoga dengan kedatangannya kali ini bisa membantu pemulihannya.


Namun ketika dia melepas tangannya yang menyentuh tangan klara itu, dengan atau tanpa sadar tangan klara bergerak mengenggam kembali tangan barack.


Wajah barack memaku melihat tangan klara dengan erat menggenggam tangannya.


Leo langsung mendekat ke arah tubuh klara.


Dilihatnya tangan klara yang dengan sendirinya menggenggam tangan barack itu membuatnya tersenyum sangat lebar.


Nampak terlihat senyum dari wajah perawat yang masih setia berdiri di samping ranjang klara sambil melihat ke arah monitor.


"Kondisinya membaik, bahkan ini lebih dari apa yang di harapkan, saya akan memeriksanya kembali ketika kondisinya semakin berangsur angsur membaik maka untuk segera saya akan mengurusnya kembali ke kamar rawat inap"


Barack kembali menatap ke arah wajah klara. Terlihat sedikit gerakan bola matanya yang terbungkus kelopak mata itu.


Nampak klara berusaha sedikit demi sedikit mencoba membuka matanya lerlahan.


"Klara??" barack memanggil namanya kembali.


Namun klara menutup matanya kembali, seperti merasakan kepedihan di matanya karena sudah beberapa hari dia tidak mendapat cahaya di pupil matanya.


Dokter mengeluarkan sebuah senter kecil untuk memeriksa seberapa besar dia dapat menerima rangsangan cahaya di ke dua matanya.


Perawat mempersilakan yang lain untuk leluar dari ruang ICU terlebih dulu.


Luna dan leo pun segera keluar dari ruangan itu.


Luna menghentikan langkahnya dan mengalihkan pandangan matanya ke arah tangan barack yang masih di genggam oleh klara itu.


Nampak barack juga melihat ke arah luna yang masih mencoba menunggunya agar ikut keluar dari ruangan itu.


Namun melihat tangannya yang masih di genggam erat oleh klara, luna hanya mengangguk pelan dan membuang senyumnya ke arah barack.


Sikapnya seperti sedang mengisyaratkan kalau dia menyuruh barack untuk tetap menemani klara di ruangan ICU.


Luna melanjutkan langkahnya menuju ke arah pintu pintu keluar dan membiarkan barack terus menemani klara.


 


Leo membawa sebuah minuman kaleng di ke dua tangannya.


 


Dia menghampiri luna yang masih terduduk berdiam diri di bangku tunggu yang ada di depan ruang ICU


Dia menekuk ke dua lututnya di lantai dan membukakan minuman kaleng itu. Menyodorkan minumannya ke arah luna agar memudahkan luna untuk meminum air yang ada di dalam kaleng itu.


Luna melihat ke arah sahabatnya yang bertekuk lutut di depannya, meraih minuman yang sengaja sudah di siapkan untuknya. Dia menegug habis air yang ada di dalam kaleng itu.


"Doyan apa haus?" suara leo mencoba membuat luna sedikit merasa terhibur.


Leo meyimpan rambut luna yang mencoba menutupi matanya ke arah belakang telinga luna.

__ADS_1


"Termikasih" ucapnya.


Luna masih terdiam dan sedikit tersenyum mendengar ucapan leo barusan. Senyum di wajahnya seperti sedang berbicara pada leo 'kalau kamu di posisiku kamu juga pasti akan melakukan hal yang sama'.


"Kenapa aku tidak bisa memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat terhadapmu???, agar aku bisa membawamu pergi dan memberi kebahagiaan kepadamu saat ini lun, , aku tidak bisa melihatmu seperti ini" seperti halnya luna , dia juga sudah menganggap laki laki yang di depannya ini seperti kakanya sendiri, namun dia mengerti maksut baik dari leo.


"Aku baik baik saja" suara serak luna terdengar memberi kesan menenangkan di hati leo.


Namun leo tidak sebodoh itu menelaah setiap kata kata yang keluar dari mulut luna begitu saja.


Ketika seorang perempuan mengatakan kalau dirinya baik baik saja, maka pada saat itulah sebenarnya dia berada di titik terlemah paling bawah.


"Bagaimana caraku membalas kebaikanmu ini?" leo masih terus berusaha membuat luna sedikit merasa terhibur.


Luna melihat ke arah bola mata leo, dilihatnya dengan kesan yang sangat mendalam.


"Hiduplah dengan bahagia" ketika tahu klara tidak membalas perasaan leo terhadapnya, maka luna menginginkan kebahagiaan terus menyelimuti laki laki yang selalu membuatnya bahagia.


"Baruntungnya barack menyadari perasaannya padamu sebelum terlambat, , beruntungnya dia memiliki perempuan yang berjiwa besar sepertimu" leo meraih kepala luna dan melayangkan sebuah ciuman lembut di keningnya layaknya seorang kaka kepada adik.


Luna membuang senyumnya ke arah leo yang terus menghujaninya dengan tatapan penuh kasih sayangnya.


 


Pintu ruang ICU terlihat bergerak, luna melihat kaki barack melangkah keluar dari ruangan itu.


 


Wajah barack terlihat kusut saat keluar dari ruang ICU.


Luna beranjak dari tempat duduknya dan langsung menghampiri barack yang masih berdiri di depan ruang ICU.


Barack meraih ke dua tangan luna dan menggenggamnya dengan erat.


Tangannya terasa dingin namun saat menggenggam tangan luna dia merasakan ke hangatan di tangannya.


"Maaf" barack mengatakannya karena dia merasa bersalah ketika saat di dalam ruangan dia membiarkan klara terus menahnnya untuk tidak keluar dari ruangan itu bersama luna.


"Tidak perlu meminta maaf" luna tersenyum sambil membimbing ke dua tangan barack yang lebar itu menyentuh wajahnya untuk sekedar menghangatkan tangan barack yang masih terasa dingin.


Melihat senyum luna, barack seperti merasa ada sebongkah es yang ada di dalam dadanya itu mencair mengalir ke darah dan seketika seluruh tubuhnya menjadi terasa lebih hangat.


Leo memberikan ruang kepada mereka berdua untuk berbicara, sedangkan dia kembali masuk ke dalam ruang ICU untuk melihat kondisi klara.


Namun tidak lama setelah itu, perawat keluar dan meminta barack untuk kembali masuk ke dalam ruang ICU.


Mata barack di penuhi rasa bersalah ke pada luna, dia tidak ingin kembali ke dalam untuk menemui klara, namun pandangan mata luna seakan akan memintanya untuk memenuhi keinginan klara.


"Demi kesembuhannya" luna terus memohon kepada barack.


Tatapan mata barack tersirat akan rasa ketidak berdayaannya saat itu.


Dengan berat hati barack kembali masuk ke dalam ruang ICU.


Wajah luna nampak memaku, namun baginya ini bukan waktu yang tepat untuk merasa cemburu padanya.

__ADS_1


***


__ADS_2