Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
35 CEO: love's Romance Penyesalan


__ADS_3

Brugh !!!


Kenzi yang tengah berjalan keluar dari lobi menabrak seorang perempuan. Hingga perempuan itu jatuh tersungkur di lantai.


Kenzi seketika langsung bergerak menekuk kedua lututnya untuk membantu perempuan itu.


"Maaf, , aku tidak sengaja. Kamu tidak apa apa?" ucapnya sembari mengulurkan tangan kearah peremuan itu.


Iris, perempuan yang di tabrak oleh Kenzi. Dia mengangkat kepalanya melihat kearah laki laki itu.


"Aku baik baik saja!" Iris melirik kearah tangan Kenzi, laki laki itu sedang menggoyang goyangkan tangannya agar Iris menyambut uluran tangannya.


"Aku akan membantumu berdiri ayo!" Kenzi menarik tangan Iris, keduanya berdiri secara bersamaan.


"Apa ada yang terluka?" Kenzi menyelidik kearah tubuh Iris. Memastika apakah ada yang terluka di bagian kakinya.


"Tidak apa apa. Aku baik baik saja!" Iris terlihat tersipu ketika menyadari bahwa laki laki di depannya itu terlihat sangat tampan. Tangan mereka pun masih saling bertautan.


Sejenak mereka sempat saling memandang hingga akhirnya tersenyum karena malu, Iris kemudian menarik tangannya ketika menyadari bahwa laki laki itu masih menggenggama tangannya.


"Terima kasih" Iris menundukkan kepala kaerah Kenzi sebelum pergi, Tetapi ketika Iris bergerak kearah lain untuk melewati Kenzi, laki laki itu juga bergerak dengan arah yang sama dengan gerakan Iris. Hingga wajah mereka berhadap hadapan lagi.


Mereka pun tersipu malu dan saling melempar senyum.


"Kamu boleh duluan" ucap Kenzi kemudian. Dia menggerakkan tubuhnya untuk memberi jalan dan mempersilakan Iris untuk melewatinya terlebih dulu.


Namun baru berjalan beberapa langkah Iris kembali memalingkan wajahnya kearah Kenzi, dia terkejut ketika laki laki itu ternyata juga masih bertahan di sana sambil melihat kearahnya.


Dengan cepat Iris memutar tubuhnya kembali.


"Tunggu!" Kenzi berucap untuk menghentikan perempuan itu.


"Ya?" Dengan menahan rasa malu, Iris membalikkan tubuhnya lagi.


Laki laki itu melangkah mendekati Itis.


"Kenzi" dia kemudian mengulurkan tangannya.


"He??, , e, , Iris" Ucapnya terbata sembari menyambut uluran tangan dari Kenzi.


"Singgah di sini?" ucapan Kenzi merujuk pada hotel yang dia tempati.


"Mm, , tidak. Aku hanya ingin menemui rekan kerja Mamahku"


"Oooohh, , berarti sedang sibuk ya?"


"Iya, , e, , tidak!. E maksudku lumayan"


Kenzi sempat terkekeh ketika mendengar jawaban dari Iris yang berubah ubah.

__ADS_1


"Baiklah, aku harus pergi dulu, lanjutkan urusanmu" Kenzi mengacak acak ujung rambut Iris, setelahnya dia melangkah menuju pintu keluar.


Sementara itu Iris masih berdiri sambil mengusap rambutnya, mengawasi punggung Kenzi yang mulai menghilang di kejauhan kemudian dia tersenyum.


♡♡♡


Tangan David bergerak meraih ujung kerah Aileen, bersamaan dengan itu tangan Aileen berusaha menahan kemejanya tepat di mana David menyentuhnya agar laki laki itu tak bisa membuka bajunya.


Arah pandangan David bergerak menuju ke wajah Aileen. Kemudian menatap tajam kearah sana.


"Singkirkan tanganmu!!" geramnya.


"Aku tidak mau!!, , orang yang harus menyingkirkan tangannya adalah kamu!!" Aileen berucap dengan penekanan di akhir kalimat.


"Hentikan semua ini David!!, , apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku!!" bibir Aileen nampak bergetar. Dia benar benar ketakutan jika David lepas kendali kemudian melakukan hal yang tak diinginkan.


David menggertakkan giginya hingga rahangnya menguat dan terlihat syaraf halus menonjol di pelipisnya.


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum aku memastikan sendiri, bahwa tubuhmu masih bersih dan tak ada tanda di dalam sana!!"


"Tanda apa maksudmu!!" kening Aileen berkerut, dia tidak mengerti dengan ucapan David. Perempuan itu tidak bisa berfikir dengan jernih saat itu.


"Tanda ciuman yang ditinggalkan oleh laki laki bernama Kenzi!!" David berucap dengan lambat agar Aileen bisa mendengarnya dengan jelas.


Aileen mendengus kesal. Dia tidak habis fikir jika David masih terus menuduhnya berhubungan dengan Kenzi.


David terkekeh sinis.


"Kamu pikir aku bodoh!!, , tak ada hubungan normal yang terjalin anatara seorang laki laki dan perempuan. Pasti salah satu diantara mereka memendam perasannya!!"


"Baiklah!!, , jika kamu bersikeras ingin melihatnya!!" Aileen berucap dengan nada menantang. Sorot matanya semakin melemah dan malas ketika menatap David.


"Singkirkan tanganmu!, , kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan!" Aileen mencoba memastikan David agar laki laki itu mau melepaskan tangannya.


David kembali tersenyum sinis, kemudian menarik tangannya perlahan sesuai permintaah Aileen. Lalu dia menggunakan kedua tangannya yang terletak di sisi kanan dan sisi kiri untuk mengunci tubuh Aileen.


"Bukalah!, , Aku akan menunggunya dengan senang hati!" Arah pandangan mata David masih tertuju kepada mata Aileen.


Perempuan itu menggerakkan jarinya dengan ragu untuk membuka kancing baju.


Aileen menelan ludahnya dengan susah payah, dia ketakutan setengah mati ketika meraih kancing bagian atas.


Pandangan matanya tak pernah berubah, dia masih menatap tajam kearah wajah David.


Sementara mata David bergerak melirik kearah ujung mata Aileen. Di sana dia melihat Aileen sedang berusaha keras menahan air matanya agar tak mencuat keluar, namun akhirnya air itu lolos juga hingga mengalir ke samping membasahi pelipisnya.


Saat air mata Aileen menetes detik itu juga jantung David berdetak kencang hingga tak karuan. Wajahnya terpaku ketika melihat raut wajah Aileen seperti menahan rasa kesakitan hebat hingga membuat dadanya ikut terasa nyeri dan sesak. Seolah bagian terdalam di hatinya sedang di rogoh hingga habis tak tersisa dan yang tertinggal hanya bekas luka perih di sana.


"Apakah aku melukainya??, , kenapa aku juga merasakan sakit ketika melihat dia menangis karena perbuatanku!!"

__ADS_1


Aileen sempat mengusap air matanya dengan kasar sebelum melanjutkan kembali untuk membuka kancing bajunya yang kedua.


Sedikit lagi kancing kedua akan terbuka, namun seketika David meraih tangan Aileen untuk menghentikannya.


"Cukup!!" Sejenak David memejamkan matanya dalam dalam. Seolah dia tersadar bahwa apa yang di lakukannya telah menyakiti perasaan Aileen.


"Kenapa??, , bukanya kamu ingin melihat bagian dalam tubuhku??" Seakan tak mau mendengarkan ucapan David, Aileen yang sudah tersulut emosi malah semakin berani membuka kancingnya. Hingga kancing ke tiga telah berhasil dia buka.


Tetapi David langsung mengalihkan pandangannya. Dia menarik tubuhnya menjauh dari Aileen kemudian menarik sebuah selimut. David memeluk tubuh Aileen dengan selimut itu, menggunakannya untuk membalut tubuh Aileen.


Mengunci tangan Aileen agar tak bergerak membuka kancing bajunya lagi.


David meyandarkan kepalanya di kening Aileen sejenak. Seakan sedang menyadari kesalahan yang baru saja dia perbuat.


Dia memejamkan matanya kemudian berucap.


"Maaf!!" suaranya terdengar tak berdaya. Sebuah rasa penyesalan yang mungkin sangat terlambat kini sedang di nikmati oleh David.


Aileen terkekeh sinis hingga membuat David membuka matanya dan mengangkat kepalanya menjauh.


"Kamu selalu seperti ini. Selalu meminta maaf setelah menyakitiku!!" saat itu juga air mata Aileen kembali menetes.


David menarik tangannya, mengusap lembut ujung mata Aileen.


Kemudian dia menghela nafas untuk menetralkan perasaannya.


"Aku tidak bisa melihatmu berdekatan dengan laki laki lain" David menatap mata Aileen dengan lekat.


Dengan lembut dia kembali berucap.


"Aku tidak bisa berlama lama terpisah jauh darimu. Dadaku terasa sakit ketika melihat kamu berlari memeluk laki laki itu di Bandara. Aku bahkan tidak rela saat melihatmu tersenyum untuk laki laki lain"


David membenamkan wajahnya di dada Aileen. Dia merasa tak sanggup untuk kembali menatap mata Aileen.


"Katakan padaku Ai, , apa aku sudah gila!!" David tak bisa mengamati perasaannya sendiri. Ini pertama kali baginya merasakan hal yang sedemikian rumit untuk di jabarkan sendiri olehnya.


Aileen masih terdiam memaku bibirnya. Dia masih sedikit merasa syok dengan kejadian sebelumnya. Hampir saja David akan membuat luka yang membekas seumur hidup di hatinya, jika laki laki itu tak bisa mengendalikan diri dengan baik.


David kembali menarik kepalanya dari dada Aileen. Menatap wajah perempuan yang ada di bawahnya dengan lembut. Tatapan yang pastinya sangat sangat berbeda dari beberapa saat sebelumnya.


David yang lembut kini sudah kembali lagi.


"Ai" Bisiknya. Sementara kedua tangannya kini sudah merangkup pipi Aileen.


"Aku tidak bisa kehilanganmu!, , " David mengerutkan dahi seketika, saat dia merasakan nyeri yang hebat di bagian lambungnya.


David menggunakan salah satu tangan untuk meraba bagian perutnya.


Sementara Aileen menggerakkan bola matanya kebawah untuk melihat bagian perut David saat laki laki itu meringis kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2