Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#28 TERNYATA


__ADS_3

 


Beberapa menit kemudian Luna dan Aryo sampai di depan galeri Klara, Luna segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam, sedangkan Aryo masih harus memarkirkan mobilnya terlebih dulu.


 


Sesampainya di dalam luna langsung di sambut oleh klara.


"Permisi, ," ucap Luna sembari membawa gaunnya.


"Oh, hai, , kamu, ?? Luna ya, aku sudah lihat foto kamu di email , , gimana ? bisa dilihat gaunnya?" Klara terlihat gembira menyambut Luna karena baginya rancangan luna mendapat perhatian paling tinggi dari yang lain.


Luna hanya diam terpaku melihat kecantikan Klara, selama ini dia hanya melihatnya di dalam majalah dan di sosial media.


"ternyata aslinya lebih cantik banget, ya ampuun"


"Maaf, boleh minta foto bareng" hanya kata itu yang terbesit di otaknya.


"Boleh dooonk" Klara menyambar ponsel Luna dan mereka pun selfi bersama.


Di sisi lain Barack sedang menerima panggilan dari asistennya.


"Ya sudah di handel dulu, nanti setelah jam makan siang aku kembali ke kantor" Barack mematikan ponselnya. Dan berjalan menuju ke arah Klara.


Dia tidak melihat keberadaan Luna karena terhalang oleh tubuh Klara.


"Sepertinya aku harus segera kembali ke kantor! kalau kamu bisa menghandel semuanya sendiri, , itu lebih bagus" Barack berucal sambil berjalan mendekati klara.


Luna mencoba mengalihkan pandangan kearah suara itu berasal, kemudian dia tanpa sengaja melihat barack sedang berjalan ke arahnya.


"Kenapa dia disini?, , kemarin juga, , mereka terlihat bersama"


Luna menyelidik ke arah Barack, menatap tajam penuh dengan tanda tanya.


"Luna?" Barack berucap dalam harin


"Kamu harus bantu aku, tapi cukup temani aku saja disini" Klara meraih lengan Barack.


Dada Luna terasa panas melihat adegan itu tepat terjadi di depan matanya.


Sementara rasa bersalah nampak melingkupi raut wajah Barack.


Luna mencoba untuk tetap fokus dan mengatur nafasnya.


Mereka hanya saling melempar pandang.


"Barack???, , " Aryo yang baru saja datang dan melihat Barack telah berdiri di samping Klara.


"Kalian sudah saling kenal?, , kalau gitu perkenalkan aku Klara, pacarnya Barack" Klara mengulurkan tangannya.


Dada Luna seperti di sambar petir di siang bolong, jantungnya serasa akan mau meledak mendengar perkataan Klara.


Luna mencoba terus mengatur nafasnya agar tetap bisa mengontrol emosi, tangannya mengepal dengan kuat.

__ADS_1


Aryo hanya memandang ke arah Luna yang saat itu terlihat kacau pikirannya, dia mencoba menggenggam tangan Luna dengan erat, berharap bisa menenangkannya.


Aryo pun mengulurkan tangannya menyambut tangan klara.


"Pacar???" tanya Aryo memastikan.


"Hmm., sebenarnya dulu waktu jaman kuliah, karena ada sesuatu hal kita jadi berpisah, tapi rencananya kita mau mulai dari awal lagi, ya kan" Klara melempar senyum ke arah Barack sembari terus menggandeng lengannya.


"Jadi, ternyata, , Klara adalah perempuan yang Barack ceritakan waktu itu???"


"Aku Aryo, , ,pacarnya Luna" kata Aryo sambil memandang Luna.


Sementara Luna mematap mata Barack dengan penuh perasaan yang berkecamuk dan campur aduk di hatinya, begitu juga sebaliknya dengan Barack karena tak bisa menjelaskan apa pun saat itu.


Luna membuang pandangnnya ke Aryo.


Laki laki itu hanya diam sambil melihat mata Luna yang mulai memerah, kemudian dia mengngguk pelan seolah olah mengatakan suatu hal yang akan membuat Luna merasa tenang.


"percayalah padaku"


Tak lama Klara mengambil gaun milik Luna dan mencoba memasang gaunnya di patung.


"Wwwuuuuaahhh, , Luna. Gaun kamu indaaah sekali" Klara mendekati gaunnya, dia melihat secara keseluruhan gaun itu.


Menyentuh kainnya, dan seketika dia semakin memandangi bahan kain yang digunakan oleh Luna.


Klara mengambil kain yang dia ambil dari apartemen Barack kemudian mencoba membandingkan dengan kain yang sudah menjadi gaun di hadapnnya.


"Ini kain yang aku temukan di apartemen Barack, kain ini sama persisi dengan kain yang kamu gunakan untuk membuat gaunmu Luna, , , kamu???" matanya menyelidik kepada Luna.


"Aku adalah sepupu Barack!" tambahnya.


Barack hanya diam terpaku melihat ke arah mata Luna yang sudah mulai berkaca kaca.


"Jadi kamu menumpang di apartemn Barack untuk membuat gaun ini? pantas aku juga melihat mesin jahit disana, , Barack kamu tidak pernah cerita ya punya sepupu pandai seperti Luna" ucapnya kepada Barack.


Tubuhnya memaku mendengar Luna mengatakan hal itu.


Melihat sikap Barack yang hanya diam saja, ingin rasanya Aryo memukulnya habis habisan saat itu juga, tetapi dia memikitkan memikirkan perasaan Luna.


Pandangan Barack tidak pernah berubah, selalu tertuju ke arah Luna.


"Maaf aku tidak bisa berlama lama disini karena sebentar lagi aku ada jam kuliah, jadi aku pamit dulu" kata Luna. Dia pun segera keluar dari tempat itu dan diikuti Aryo di belakangnya.


"Owh iya Luna, nanti pemberitahuan selanjutnya aku akan email kamu, hati hati di jalan" senyum manis menghiasi wajahnya ketika Klara mengantar kepergian Luna.


Kini matanya beralih melihat ke arah Barack yang sedari tadi hanya diam.


"Kamu kenapa?" tanyanya kemudian.


Barak terdiam, tidak menjawab partanyaan Klara, sesekali dia hanya menghela nafas panjang untuk melegakan dadanya.


"Maaf tapi aku harus pergi" Barack langsung meninggalkan Klara sendiri.

__ADS_1


"Loh? Barack, , " Klara mencoba menahannya.


Di perjalanan di dalam mobil, Luna hanya diam seperti patung tapi air matanya terus mengalir.


"Lun, , , Luna? aku tahu kamu pasti tidak baik baik saja, tapi aku mohon, , pliss Lun kamu jangan diam saja" Aryo menepikan mobilnya.


"Kalau kamu ingin menangis maka menangislah" tambahnya.


Luna mulai menangis perlahan sambil sesunggukan, dia tidak mengira kalau semuanya akan jadi serumit ini.


Dia tidak bisa menahan emosinya, kemudian Luna pun menangis sejadi jadinya di dalam mobil.


Aryo mencoba untuk mendekapnya agar perasaan Luna sedikit membaik, karena saat itu hanya itulah yang bisa Aryo lakukan terhadap Luna.


Beberapa menit kemudian tangisannya mulai mereda, Aryo tetap terus mencoba menenangkan Luna sambil mendekapnya dengan erat.


"Aku akan mengantarmu pulang" Aryo perlahan melepas dekapannya.


"Mm" Luna menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mau pulang" Luna menyeka air matanya.


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Aryo.


"Antarkan aku ke tempat Cici" hanya cicilah bagi Luna tempat ternyaman untuk curhat setelah Mamahnya.


"Iya aku akan mengantarmu kesana, tapi kamu harus berhenti menangisi laki laki seperti dia, Barack tidak pantas untukmu, kamu lihat tadi, dia hanya diam, dia sama sekali tidak memperjuangkanmu".


"Pliss Yo. , aku ingin menenangkan pikiranku".


"Baiklah, , aku minta maaf, karena aku juga menambah masalah, dengan mengaku ngaku sebagai pacarmu" Aryo mulai menjalankan mobilnya kembali.


 


♡♡♡


Di sisi lain Barack melajukan mobilnya dengan kencang. Dia terus berusaha menelpon Luna tetapi ponselnya tak bisa di hubungi.


 


nomor yang anda tuju sesang sibuk,


Dia pun bergegas pergi ke rumah Luna. Saat sampai di sana, dia segera turun dari mobil dan membunyikan bel.


ting tong ting tong, , ,


Mbak Ratmi membukakan pintu.


"Lunanya ada?" Barack tidak sabar, dia menerobos masuk ke arah dalam.


"Mbak Luna belum pulang mas Barack, tadi dia pergi sama mas Aryo kalau tidak salah" kata mbak ratmi.


Barack pun kembali diam dan mencoba menenangkan diri dengan menghela nafas panjang.

__ADS_1


***


__ADS_2