
Di dalam mobil, luna hanya diam saja, bahkan saat leo mengajak dia bercanda luna sama sekali tidak menghiraukannya.
Perasannya selalu dibuat terluka sama barack.
Dia sebenarnya tidak ingin muluk muluk, hanya ingin tahu, bagaimana perasaan barack padanya.
Terlihat wajah luna selalu murung sepanjang perjalanan.
Diam dan selalu melamun.
Leo sesekali melirik ke arah luna, namun dia merasa luna yang ada disampingnya bukan seperti luna yang dia kenal.
"Luna?" leo mencoba mengacau lamunan luna, namun itu tidak berhasil.
Leo menepikan mobilnya, di tatapnya wajah luna yang masih terus diam dan membisu.
"Lun?, , " diraihnya pundak luna oleh leo.
Luna masih tetap saja diam.
"Kamu ingin kita pergi kemana?" Leo terus meracau lamunan luna.
Dan lagi lagi luna masih saja diam.
Leo meraih pipi luna dengan ke dua tangannya, diarahkannya wajah luna ke arah wajah leo yang ada di depannya.
"Hei, , kamu ingin pergi kemana?" tanya leo sambil memandang mata luna yang terlihat kosong tatapannya.
"Aku ingin pulang" suara luna terdengar tidak bersemangat.
"Kenapa kamu jadi seperti ini?, , lun? ayo donk semangat, kembalikan luna ku yang dulu, yang selalu ceria" kata leo sambil terus memandang wajah luna.
"Aku ingin pulang, aku ingin sendiri dulu leo" kata luna sambil membuang arah pandangannya ke luar dari mobil.
"Oke, aku akan mengantarmu pulang" kata leo sambil membelai rambut luna dengan lembut.
Sampainya di rumah, luna langsung pergi ke kamarnya dan membuang tubuhnya ke atas tempat tidur.
Dia membenamkan wajahnya ke bantal yang menopang tubuhnya.
Dia berusaha menutup matanya dan mencoba masuk ke dalam alam mimpinya, namun suara ponselnya mengacau pikirannya saat itu juga.
'Aku ingin engkau selalu, hadir dan temani aku, di setiap langkah'
Luna mencoba meraih tasnya dan merogoh telepon genggamnya yang ada di dalam tas, dengan wajah yang masih terbenam di bantalnya.
Diangkatnya wajah luna untuk melihat layar ponselnya.
Terlihat di layar ponselnya ' klara memanggil'
Melihat kalau klara yang menelepon, dia kembali terlihat lesu.
Luna membiarkan saja panggilan dari klara itu. Dan dia kembali membenamkan wajahnya.
Namun beberapa detik kemudian, ponselnya kembali berdering lagi.
"aaaaaaaarrgghh" luna berteriak sambil mengacak acak rambutnya.
Luna mencoba untuk duduk dan mengambil telepon ganggamnya lagi, dengan berat hati dia menjawab panggilan dari klara.
"Hallo" sura luna terdengar sangat datar.
"Halo luna, kamu sedang tidak sehat? suaramu terdengar sangat pengar?" suara klara terdengar sangat lirih dari ujung telepon milik luna.
"Mm, tidak, aku baik baik saja, aku ingin minta maaf kalau, sepertinya aku hari ini, , aku tidak bisa pergi ke galerimu" kata luna
"Oke tidak apa apa, lagi pula, acaranya kan masih besok malam, pagi atau siangnya kamu bisa ke sini dulu" kata klara.
"Akan aku usahakan" kata luna.
"Oke, aku tutup dulu teleponnya ya" kata klara.
Luna mematikan teleponnya dan melempar begitu saja ke arah lain.
Dia terus melamun kemudian menekuk kakinya dan mendekatkan kedua lututnya dan mendorong lebih dekat lagi ke arah dadanya.
Dia memeluk dengan erat kakinya itu sambil membenamkan wajahnya di antara ke dua lututnya.
Di apartemen barack, dia sedang duduk di sofa ruang tv nya. Pandangannya terlihat kosong.
Di pikirannya selalu teringat ingat saat dia bersama luna, dari pertama kali dia bertemu, sampai saat luna menggangu nya, dan ketika luna merawatnya ketika sedang sakit, tawa luna, tangis luna terlintas terus di benaknya.
Barack mengusap wajanya dengan kasar dan merebahkan badanya di atas sofa sambil memakai kedua tangannya sebagai alas untuk menopang kepalanya.
Tidak lama kemudian terdengar bunyi tombol nomor yang ada di pintu masuk apartemen barack berbunyi, seperti ada seseorang yang sedang memencetnya dari luar.
Barack pun terbangun dan beranjak dari sofa menuju ke arah pintu masuk.
Senyum manisnya yang sangat tipis di wajahnya itu terlihat mengiringi langkahnya menuju pintu.
cklek, , barack membuka pintu.
Dan seketika senyumnya menghilang dari wajahnya secara perlahan.
Dilihatnya klara telah berdiri di depan pintunya sambil membuang senyum ke arah barack.
"Hei, , kenapa bengong?" kata klara sambil masuk ke dalam apartement barack.
"Bukannya kamu sedang sibuk menata tempat buat besok malam?" tanya barack sambil berjalan kembali ke ruang tv.
"Makanya aku datang kesini karena ingin mengajakmu melihat gedungnya, sudah siap apa belum, nanti kalau ada kekurangan kan aku bisa minta tolong sama kamu" kata klara sambil meraih lengan barack.
"Mmm, , aku, ," barack mencoba menolak ajakan klara tapi dia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.
"Kamu sudah janji loh waktu itu, kalau kamu akan membantu aku dan sekarang aku menagihnya" kata klara sambil membuang senyum ke arah barack.
__ADS_1
Barack hanya menghela nafas dengan pelan.
"Oh iya, kamu mengganti pasword apartement kamu?" tanya klara kepada barack dengan mengernyutkan dahinya pasalnya saat dia mau masuk dan memencet tombol nomor dengan tanggal lahirnya, namu pintu tidak mau terbuka.
"aku akan ganti baju dulu" kata barack mengalihkan pembicaraan, sambil melepas tangan klara yang memegang lengannya kemudian berjalan menuju ke kamarnya.
Wajah klara terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu saat melihat barack dari arah belakang punggungnya.
Tidak lama kemudian barack keluar dari kamar.
Sorenya , di kamar luna dia masih terlihat rebahan di atas tempat tidur, rambutnya acak acakkan wajahnya sangat terlihat kusut bahkan lebih parah sebelum dia mengenal salon.
drreeeeettt drrreeeett , , ponsel luna bergetar.
Matanya yang sembab itu di bukanya dengan terpaksa. Ingin sekali rasanya luna mengangkat tangannya untuk meraih telepon genggamnya yang masih berdering, tapi apa daya dia tidak kuasa melakukan itu.
Dibiarkan ponselnya terus berdering berharap akan berhenti dengan sendirinya.
Namun yang ada malah terus berdering tanpa henti.
"Berisiiiiiiiik!!!" kata luna sambil bangkit dari tidurnya dan membuang bantal ke lantai.
Di raihnya ponsel luna yang ada di sebelah kaki kanannya.
Terlihat dari layar teleponnya kalau aryo sedang memanggil.
"Hallo?"
"Hadduuuh, , galak banget lun, , nahan kangen ya, karena tidak bertemu denganku selama beberapa hari" suara lirih aryo terdengar dari ujung telepon luna.
"Kenapa?" tanya luna, dengan nada galak.
"Ayolah lun, aku kangen sekali dengan mu, kita nonton yuk, aku sedang menjemput cici nih? kamu siap siap ya sebentar lagi aku akan menjemputmu" kata aryo.
"Ha???" kata luna kaget.
"Sebentar lagi aku jemput kamu, kamu siap siap dulu" kata aryo sambil mematikan ponselnya.
Tubuh luna terasa berat sekali saat dia mencoba menapaki lantai yang sudah berjam jam tidak di injaknya
Dia berjalan ke arah kaca rias yang tidak jauh dari tempat tidur.
Melihat wajahnya sendiri yang berantakan dan rambut yang acak acakan kesana kemari dia pun berteriak.
"aaaaaaaaaaaaa"
Mendengar teriakan luna dari arah kamarnya, bu bowo dan mbak ratmi pun berlari ke arah kamar luna.
"Luna??? kamu kenapa??" kata mamahnya yang baru saja datang ke kamar luna.
"Wajah luna, , kaya orang gilaaaaaa" kata luna sambil memegangi pipinya dengan ke dua tangannya.
"Ya ampuuuu luna, , cuma hanya karena ini kamu teriak?, , heh! mamah pikir kamu kenapa napa" kata mamahnya.
"Mbak luna sedang galau ya, , hihi" mbak ratmi mulai menggoda luna.
"Kata siapa mbak?" jawab luna dengan nada sewot.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, luna, cici dan aryo pun sedang dalam perjalanan menuju bioskop.
"Kenapa wajah kamu di tekuk begitu lun?" tanya cici yang duduk di kursi belakang.
"Tidak kenapa napa"jawab luna.
"Pokoknya hari ini tidak ada yang boleh sedih! " kata aryo mencoba menghibur luna.
"apaan sih kamu yo, memangnya siapa yang sedih?" luna mencoba menepisnya.
"Kamu" kata aryo dan cici bersamaan.
Luna hanya diam saja dan tidak menjawab tidak menggubrisnya.
Suasana gedung untuk acara fashion show besok malam masih terlihat sangat ramai malam itu, apa lagi letaknya yang sangat berdekatan dengan taman di tengah kota.
Orang orang berlalu lalang dengan kesibukan masing masing.
klara masih sibuk menata hiasan dan bunga bunga di sepanjang pintu masuk.
Saat itu terlihat barack sedang membantu klara memindahkan pot bunga.
"Kamu lelah?" tanya klara sambil menyodorkan sebotol minuman kaleng kepada barack.
Barack pun meletakkan pot bunga yang di peganginya, kemudian menerima minuman kaleng dari tangan luna.
"Tarima kasih" kata barack.
klara mengambil tisu di atas meja dan membersihkan keringat yang membasahi kening barack.
Namun barack menghindarinya dengan pelan.
Melihat tingkah laku barack yang tidak memperbolehkan dirinya menbersihkan keningnya pun, wajah klara mulai terlihat bertanya tanya.
"kenapa?, , ".
"Mmm, , aku bisa sendiri" kata barack dengan lembut agar klara tidak merasa tersinggung.
"Oke, , besok kamu pasti datang kan?" kata klara memastikan.
"Em, , akan aku usahakan" kata barack sambil membuang senyum yang sangat tipis ke arah wajahnya.
Di bioskop, luna, cici dan aryo terlihat sangat menikmati film yang sedang mereka tonton. Mereka menonton sambil menikmati popocorn dengan berbagai aneka rasa.
__ADS_1
Setelah filmnya selesai mereka bertiga keluar dari bioskop dan segera menuju keparkiran mobil.
"Mau kemana lagi?, , aku akan menuruti permintaan kalian" kata aryo kepada luna dan cici.
"Ke taman yuk, nongkrong sekali kali" kata cici dengan penuh senyum di wajahnya.
"Pulang saja lah, udah malam" kata luna.
"Halah sekali ini saja lun, , pliiiissss, lagian mumpung aku sudah keluar dari rumah, biasanya kan aku jarang keluar malam, ya ya ya"katan cici memohon kepada luna.
"Sebentar saja ya, jangan lama lama" kata luna sambil masuk ke dalam mobil.
"Yaudah, taman di sebelah mana nih?" tanya aryo.
"Depan gedung serbaguna" teriak cici.
Mobil aryo pun melaju menuju ke tengah kota. Karena jarak dari biskop ke gedung serbaguna di tengah kota tidak terlalu jauh, jadi cuma hanya membutuhkan seperempat jam mereka sampai di tempat itu.
Suasana taman kota malam itu benar benar ramai, luna dan cici sempat di buat terpukau karena tatanan lampu dan air mancur membuat yang membuat taman semakin terlihat lebih indah.
Orang orang berlalu lalang hanya untuk sekedar menghabiskan waktu.
"Sepertinya kita memang tidak salah memilih tempat ya lun, tahu begini setiap malam aku pasti kemari" kata cici merasa gembira.
"Yaaa, lumayan" jawab luna dengan nada datar.
"Kalin mau makan apa? aku belikan sebentar?" kata aryo, kebetulan di sekitar taman banyak pedagang menjual aneka makanan ringan.
"Nanti saja, perut aku masih kenyang" kata luna.
"Kenyang? memang kamu makan apa?" tanya aryo.
"Popcoron tadi, sama teh satu gelas" jawab luna.
"Kamu sedang kumat ya? tumben biasanya juga makan sebakul baru kenyang, la ini makan popcorn sama teh satu gelas udah kenyang? tidak salah dengar nih aku?" kata cici.
Luna hanya diam saja tidak menghiraukan kata kata cici.
"Ea krim es krim, enak, segar, nikmat, lima ribu" terdengar suara pedagang es krim di dekat aryo.
"Ya sudah, aku belikan es krim dulu ya, sambil menunggu perut kamu lapar, baru kita cari makan" kata aryo.
"Terserah kamu saja" jawab luna.
Di sisi lain barack berjalan keluar dari ruang gedung serbaguna itu. Dia mengambil ponsel dan melihat ke arah layarnya.
Diusapnya layar telepon genggam itu dan melihat kontak nomor, pandangannya berhenti di nama luna.
Dilihatnya nama luna dengan lama.
Wajahnya terlihat kalau dia merasa ragu saat akan menelponnya.
Namun barack akhirnya menelepon ke nomor luna.
Saat di telepon nomornya memang menyambung, tapi tidak di angkat oleh luna.
Sekali lagi barack mencoba menelepon ke nomor luna.
Di sisi lain tidak jauh dari depan pintu masuk gedung serbaguna luna sedang menunggu aryo yang sedang memesan es krim.
dreeeet dreeeeet, , telepon genggam milik luna bergetar.
Luna melihat ke arah layar ponselnya, terlihat di layarnya kalau barack memanggil.
Luna tidak menghiraukan panggilan dari barack itu, sampai getarannya berhenti, namun tidak lama kemudian ponselnya bergetar lagi.
****dreeet dreeet****, ,
Dilihatnya ke arah layar ponselnya sekali lagi, dan masih tetap terlihat di layarnya barack memanggil.
Disisi lain di depan gedung serbaguna, akhirnya panggilan telepon barack di angkat oleh luna.
", , Hallo" kata barack .
"Iya? ada perlu apa?" terdengar suara luna dari ujung ponsel barack dengan sedikit ketus.
Barack mendengar suara yang tidak asing di telinganya yang berasal dari sekitar luna.
"Kamu di mana? kok berisik sekali?" tanya barack sambil melihat ke arah sekitar.
"Apa harus, kamu juga tahu kalau aku ada di mana???"
"Oke aku, , ingin minta maaf soal tadi siang" kata barack.
"Terus saja begitu, minta maaf di ulangi lagi,minta maaf lagi, kamu pikir aku ini apa? " kata luna.
"Aku" kata kata barack terputus saat mendengar penjual eskrim dari ponselnya yang berasal di sekitar luna.
"Es krim, es krim, enak, segar, nikmat"
Namun dia juga mendengar penjual es krim itu tidak jauh dari tempat dia berdiri.
Barack segera mencari dari mana asal suara penjual es krim itu berada, dia terus berjalan mondar mandir mencari pedagang es krim itu.
Dan pada akhirnya dia menemukan penjual es krim yang suaranya terdengar dari ujung ponselnya ketika menelpon luba. Dia juga melihat luna berada di sekitar area itu.
Senyum barack terlihat lebar saat melihat luna, dia pun segera mematika ponselnya, dan berjalan mendekati luna.
Namun saat dia akan menghampiri luna tiba tiba aryo datang dari arah lain sambil membawa es krim di kedua tangannya dan memberikannya satu kepada luna.
Di situ barack menghentikan langkahnya untuk mendekati luna.
Dan pada saat itu juga, dia melihat senyum yang sangat terlihat manis dari wajah luna.
Barack pun mengurungkan niatnya untuk menemui luna.
***
JANGAN LUPA BINTANG 5 NYA YA, ,
__ADS_1
MMU MMU MMUAACCHH😘