
Luna meringkuk memeluk tubuhnya sendiri dengan ketakutan, matanya terpejam dengan erat hingga nampak guratan kasar di sekitar area mata, mimpi buruk seolah kembali menghantuinya. Tubuhnya pun basah oleh keringat dingin yang dihasilkan dari pergelutannya saat melawan mimpi buruk.
Tubuhnya terus bergerak berusaha menolak mimpi yang menggnggu tidurnya.
Dalam sekejap dia terbangun nafasnya memburu dan terengah engah.
Berusaha menyadarkan diri dengan mengusap wajahnya mengangkat menarik rambutnya kebelakang yang berusaha menutupi wajahnya.
Ingatannya tentang Barack yang meninggalkan dirinya di hari pernikahan terjawab sudah.
Dia memang belum ingat saat hari pernikahannya namun dia yakin kini bahwa yang ada diingatannya saat Barack meninggalkannya di hari pernikahan mereka memang sebuah mimpi.
Matanya menyapu seluruh setiap sudut ruang kamar. Dia mulai gelisah saat tidak melihat Barack ada di dalam kamar bersamanya.
Luna membuang selimut yang menutupi kakinya begitu saja dan bergegas beranjak dari ranjang keluar dari penginapan.
Di luar udara lebih terasa dingin saat malam hari, pikirannya terus fokus untuk mencari Barack hingga dirinya tak sempat berpikir untuk memakai alas kaki.
Luna berlari mengitari seluruh halaman penginapan, namun dia tak melihat keberadaan suaminya.
Sekelibatan ingatan tentang dirinya saat mencari keberadaan barack seperti yang tengah di lakukannya saat ini melintas di benaknya.
Matanya nampak mengerjap ngerjap untuk mengembalikan kesadarnnya.
"Aku seperti sedang dejavu??, , apa sebelumnya aku pernah melakukan ini?"
Luna kembali berjalan cepat menyusuri halaman penginapan dan berlari ke arah pasir yang membentang luas.
Sepi, keadaan disana saat malam hari sangat sepi oleh pengunjung.
Suara deru ombak bertautan dengan angin yang kian menggema di rongga telinganya.
Langkahnya terhenti saat melihat Barack tengah berdiri membelakanginya melihat ke arah laut.
Seolah sedang menatap harapan yang tak pasti malam itu.
Luna berlari ke arah Barack, dan berhenti sambil melihat ke arahnya dengan tatapan menyelidik.
Luna berusaha menetralkan nafasnya yang terengah engah.
Namun rasa keingintahuan tentang kebenaran lebih besar hingga dia tak menghiraukan kalau dirinya tengah kehabisan nafas.
"Benarkah?" nafas Luna masih terengah engah dengan kasar.
Dadanya naik turun dengan cepat seiring dengan detak jantungnya yang memburu.
Barack memutar tubuhnya setelah mendengar suara istrinya dari arah belakang.
"Luna kamu terbangun?" ucapnya khawatir.
"Jawab pertanyaanku?" Luna berusaha menghela nafas panjang untuk mengatur nafasnya kembali normal.
Kening barack berkerut.
"Apa?" tenyanya kebingungan.
"Benarkah, , saat hari pernikahan kita, , kamu tidak pergi meninggalkanku?" Luna berucap dengan nada menuntut ke pada Barack.
Secerca harapan akan kembalinya ingatan luna terlihat jelas di wajahnya, senyumnya mengembang seketika.
"Iya, aku tidak pergi meninggalkanmu" ucapnya menjelaskan.
"Berarti benar, semua itu adalah mimpi?" ucapnya tak percaya.
Barack tersenyum riang.
__ADS_1
"Apa baru saja kamu terbangun karena bermimpi hal yang sama? mimpi dimana aku pergi meningglkanmu di hari pernikahan kita?" ucap Barack untuk memperjelas.
"Mm" Luna mengangguk cepat.
"Mimpi itu benar" ucapnya kemudian.
"Maksutmu?" mata Luna mengerucut ke arah barack.
"Benar, bahwa semua itu adalah mimpi, , , bukan kenyataan!" ucapnya sambil tersenyum lebar ke arah Luna.
Bukan senang, Kini malah nampak guratan kesedihan melekat di wajah Luna.
"Kenapa? kamu tidak suka akan kebenarannya?" Barack nampak murung mengikuti ekspresi wajah Luna.
Luna menggeleng pelan.
"Bukan! bukannya aku tidak suka" sejenak dia berhenti berucap.
"Lalu??" Barack berucap seolah menunggu Luna untuk meneruskan ucapannya.
"Maaf!"
"Untuk?"
"Karena sudah membencimu atas mimpi burukku!"
Barack melangkah mendekat kearah Luna yang tengah menunduk.
Tangannya bergerak menelusupi rambut dan maraih rahang istrinya mengangkat wajahnya untuk menghadap ke arahnya.
Menyandarkan keningnya di kening luna, berusaha menyerap segala kesedihan di hati luna melalui sentuhan keningnya itu.
Menyentuh hidung luna dengan hidungnya.
Di sana Barack menutup matanya rapat rapat.
Barack kembali membuka matanya menatap lekat ke arah mata Luna yang tepat ada di depan matanya.
Tangan luna bergerak meraih tangan Barack yang merangkup pipi sekaligus rahangnya telapak tangannya yang sangat besar membuat Barack bisa merangkup keduanya dengan bersamaan.
"Maaf" Luna berucap lagi.
Barack tidak marah dia malah mengecup bibir luna.
"Maaf" kembali luna mengucap kata itu lagi
Dan lagi Barack mengecup kembali bibir Luna.
Barack tersenyum seolah tahu kalau Luna sengaja melakukan hal itu.
"Ma"
Barack melumat habis bibir Luna ketika Luna hendak berucap kata maaf lagi.
Barack terus melumat tanpa memberinya ampun. Tangannya bergerak ke belakang meraih tengkuk Luna mendorongnya dengan kuat untuk memperdalam ciumannya.
Satu tangannya lagi meraih pinggang Luna dan mendorong tubuhnya agar merapat ke tubuh Barack.
Tangan Luna bergerak naik melingakar di leher Barack dengan sendirinya tanpa paksaan, sementara mata Barack membuka ketika Luna tengah membalas ciumannya, guratan senyum tipis nampak menghiasai area matanya saat mengetahui hal itu.
Barack kembali menutup matanya untuk terus melanjutkan ciumannya ke pada Luna. Ciuman yang sudah lama di rindukannya.
Ciuman manis dari istri tercintanya.
Angin laut yang berhembus malam hari semakin kencang menerpa tubuh mereka membuat gaun yang di pakai oleh Luna melambai lambai dengan indah.
__ADS_1
Terangnya sinar rembulan seolah menambah keindahan pemandangan malam itu.
♡♡♡
"Kerja???" Barack berucap dengan nada pertanyaan yang lebih mengarah ke tidak percayaan atas keinginan istrinya itu.
"Mm, , bolehkah?" ucap Luna dengan nada menuntut.
Barack menghela nafas, dia ingin menolak keinginan istrinya namun sepertinya dia akan lebih baik kalau bisa berinteraksi dengan dunia luar lagi setelah tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama.
"Ya udah sih" nada bicara Barack terdengar tidak enak di telinga Luna.
Sementara dirinya masih sibuk dengan ponsel di tangannya.
Luna tengah mengawasai ekspresi wajah Barack yang berubah menjadi muram saat itu.
"Kamu marah?" Luna berjalan mendekat ke arahnya.
"Mm" Barack menggeleng kasar.
"Terus kenapa mukanya di tekuk gitu? kalau aku tidak boleh bekerja ya sadah lah, nanti aku bilang sama Cici kalau"
"Ya udah sana, kalau mau kerja ya kerja aja!" barack berucap memotong pembicaraan Luna namun matanya terus sibuk ke arah layar ponselnya.
"Kamu ngambek?" Luna berucap sambil sesekali mencuri pandang ke arah wajah Barack.
"Tidak!!" jawabnya dengan nada galak.
"Terus kenapa jawabnya sewot gitu?" Luna semakin mendekat ke arah Barack.
"Sebel!!!" Barack tidak menghiraukan keberadaan Luna yang kini sudah berdiri di sampingnya.
"Sama?" ucap Luna penasaran.
"Pakai di tanya, ya kamu lah!" Barack berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.
Luna mengikuti langkah Barack dan duduk di sebelahnya.
"Sebel karena aku minta ijin sama kamu kalau aku mau kerja? gitu?" luna menatap ke arah mata barack dan ponselnya secara bergantian.
Luna merasa tak dianggap karena Barack lebih memilih sibuk dengan ponselnya.
Dia tahu kalau Barack sengaja melakukan itu karena jengkel kepada Luna.
"Kemarikan ponselmu!!" Luna menyambar ponsel yang ada di tangan Barack.
Matanya mengawasi raut wajah Barack yang sedari tadi lebih memilih melihat layar ponselnya ketimbang melihat ke arahnya.
Luna kini melihat layar ponsel milik Barack yang sudah berpindah ketangannya.
Dia melihat wajah dirinya di saat sedang tertidur, jempolnya bergerak menggeser layar ponsel Barack.
Ke dua alisnya terangkat tidak percaya melihat isi galery di ponsel Barack penuh dengan fotonya.
"Kamu menguntitku ya?"
"Siapa bilang?" Barack berusaha mengelak.
"Ini!!, , galerymu penuh dengan fotoku saat sedang tertidur"
"Aku kan cuma mengambil fotomu, bukan mengikutimu kemana pun kamu pergi"
"Sama saja!"
Dor dor dor!!!
__ADS_1
Perhatian Barack dan luna teralihkan ke arah pintu yang di gedor dengan keras dari arah luar.