Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
89 CEO: Love's Ramance Hanya kamu


__ADS_3

Ius berjalan mondar mandir di depan Enrica dan Essie, laki laki itu terlihat pucat setelah mendengar cerita dari kekasihnya. Bingung apa yang harus dia lakukan saat ini dengan gadis kecil itu.


Antara menyelamatkan karir atau kehidupan orang lain, dua pilihan itu bergelayut di benaknya, terlabih lagi ketika mengingat di satu sisi dia harus menjaga perasaan kekasih, di sisi lainnya dia merasa takut dengan Atasannya.


Ius menggertakkan giginya untuk menahan emosi yang tak terhingga di dalam dada.


"Sayang, ikut denganku sebentar" Ius melirik lalu tersenyum ke Essie, mencoba membuat gadis kecil itu nyaman berada di sana.


Laki laki itu mengajak Enrica masuk ke Dapur, kepalanya sedikit menoleh untuk memastikan bahwa dengan jarak mereka saat itu Essie seharusnya tak mendengar apa yang akan mereka bicarakan.


"Kamu sudah gila!!, , aku tidak mungkin membawa anak kecil itu ke hadapan PresDir"


"Lalu aku harus membawanya kemana?" Enrica menahan suaranya agar tak terdengar oleh Essie.


"Entahlah, , bawa dia ke tempat Ayahnya. Atau ke mana pun asal jangan di sini! PresDir bisa membunuhku Enricaaaa" Ius mengepalkan kedua tangannya, meluapkan seluruh emosi di sana.


"Tapi, kamu tahu kan apa yang aku bilang tadi, Raina takut Essie akan menjadi pelampiasan atas kekecewaannya kepada" ucapan Enrica terputus, ketika dia menyadari Essie sudah tak berada di tempatnya.


"Kamana gadis kecil itu!!" Enrica berlari menuju pintu.


Matanya menyelidik kearah halaman rumah, tetapi dia tak mendapatkannya.


"Ius, , bantu aku mencarinya"


"Astaga!!!, ,kenapa juga harus aku yang mendapatkan masalah ini!" laki laki itu bergegas lari keluar mengejar Enrica.


Mereka berdua berlari mencari Essie hingga sampai ke jalan raya.


Enrica menghela nafas ketika dia terengah engah setelah berlari jauh mencari Essie.


"Kemana bocah itu pergi??, , jalannya cepat sekali"


Enrica melirik ke Ius yang baru saja tiba.


"Ini semua karena kamu!!, , jika saja kamu tidak mengajakku dan meninggalkan Essie sendirian di sana. Dia tidak akan pergi"


Enrica mencoba berjalan menyusuri trotoar, diikuti oleh Ius dari arah belakang.


"Sudahlah sayang jangan menyalahkanku terus, dengan kamu membawa gadis kecil itu saja sudah sangat membuatku stres, , jangan menambahi dengan memarahiku" Ius membuang pandangannya jauh ke depan kearah jalan raya, tak sengaja dia melihat sekilas David sedang bercanda gurau dengan Aileen di dalam mobil.


"PresDir??" gumamnya.


♡♡♡

__ADS_1


"Perhatikan jalanmu, , awas kalau sampai menabrak" Aileen menggerutu karena David selalu menggodanya ketika sedang menyetir.


Aileen terkejut saat melihat anak kecil sedang berjalan menyebrang tanpa mengikuti arahan rambu rambu lalu lintas.


"Daviiid!!" Aileen berteriak menutup mata dengan kedua tangannya.


Jantungnya serasa mau meledak ketika David hampir saja menabrak anak kecil yang melintas. Beruntung David bisa menginjak rem dengan cepat, sehingga mobilnya hanya menyenggol sedikit bagian tubuh anak kecil itu.


Mendengar suara decit rem mobil yang sangat keras hingga mengundang perhatian banyak orang yang berdiri tak jauh dari mereka, Enrica dan Ius segera berlari mendekat.


Matanya membulat ketika melihat mobil Atasannya berhenti di sana, terlebih lagi ketika semakin berjalan mendekat dan melihat Essie tergeletak di jalan raya.


"Essie??" Enrica berteriak, kemudian mendekati Essie.


David yang baru saja turun dari mobil terlihat menyelidik kearah Enrica, dia merasa tidak asing dengan perempuan itu dan benar saja ketika melihat Ius juga berdiri di sana, dia baru ingat bahwa perempuan itu yang dia temui di bioskop.


"PresDir" Ius menundukkan kepala ke David. Wajahnya terlihat pucat ketika bertatapan dengan laki laki itu.


"Kalian mengenal anak kecil ini?" David menatap Ius dengan penuh tanda tanya.


Enrica masih berusaha mencoba membangunkan Essie yang tidak sadarkan diri.


"David, , kita harus bawa dia ke rumah sakit!" Aileen yang telah berada di sisi Essie berucap dengan nada menuntut. Perempuan itu terlihat sangatvkhawatir dengan kondisi Essie.


Laki laki itu hanya menundukkan kepala memenuhi permintaan Aileen.


♡♡♡


"Maaf presdir, saya sudah menyuruh Enrica untuk membawa gadis kecil itu kembali ke Ayah kandungnya, tetapi sepertinya dia menolak" Ius berusaha keras manahan rasa ketakutannya dengan kuat. Laki laki di depannya masih diam membisu tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


Di siai lain, Aileen terlihat duduk di kursi sambil mengawasi Essie yang terbaring di ranjang.


"Sayang, , kamu bisa mendengar suaraku??" Aileen berucap dengan lembut. Mengusap keningnya sembari merapihkan anak rambut. Aileen lalu mengusap pipi Essi mencoba membuat gerakan agar gadis kecil itu memberikan respon, Namun sepertinya Essie masih belum ingin menyadarkan diri sendiri.


Arah pandangannya bergerak perlahan beralih ke tangan Essie yang menggenggam erat sebuah liontin.


Aileen menggerakkan tangannya, perlahan meraih liontin dari tangan Essie. Liontin itu sedari tadi di genggam erat oleh gadis kecil itu, semenjak Aileen melihat Essie tegeletak di jalan.


Aileen membukanya dan melihat foto David dengan seorang perempuan lain di dalam sana.


Matanya membelalak, Aileen mencoba tenang, dia berusaha mengontrol perasaannya ketika rasa nyeri hingga berubah menjadi perih itu menjalar diseluruh dadanya.


Pandangannya teralihkan kearah pintu ketika David membukanya dari arah luar.

__ADS_1


"David??" ucapnya dengan lirih, seketika itu juga mata mereka bertemu dan saling menatap dari kejauhan.


Aileen beranjak berdiri, kemudian berjalan menghampiri David.


Laki laki itu terpaku ketika melihat Aileen berkaca kaca.


"Sayang kenapa??" David menariknya ke dalam dekapan.


Perempan itu membenamkan tubuhnya ke dada David lalu menagis sesunggukan.


"Ssssshhhh, ,Ai" David merangkup kedua pipinya, memaksa perempuan itu mengangkat wajahnya. David merasa khawatir ketika Aileen semakin tidak bisa mengendalikan diri. Perempuan itu menangis hingga kesusahan ketika saat akan bernafas.


David menuntun Aileem berjalan menuju sofa.


"Ai, ," David berucap dengan lembut, sembari mengusap air mata Aileen dangan ibu jarinya.


"Tenangkan dirimu!"


"Apa, dia, , putrimu?" Ailene mencoba berucap dalam tangisnya dia bersusah payah untuk bisa menetralkan perasaannya yang masih bergemuruh, dia ingin marah tetapi setidaknya mendengar penjelasan itu akan membuatnya sedikit merasa tenang. Dia tidak ingin menjadi Aileen yang pernah meninggalkan David seperti dulu.


Alisnya menyatu, ujung matanya mengerucut kearah Aileen.


"Dari mana kamu bisa mengambil kesimpulan bahwa dia putriku??" David berucap dengan tenang.


Aileen dengan sedikit jengkel membuang liontin itu ke dadanya.


David membuka dan melihat foto dirinya dengan Raina ada di dalam sana. Laki laki itu menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum menjelaskan semuanya kepada Aileen.


"Dengarkan aku sayang" David meraih kedua tangan Aileen, membawanya untuk diletakkan di pipi kanan dan pipi kirinya. Kemudian mengecup telapak tangannya secara bergantian.


"Dia bukan putriku, , aku bisa membuktikannya jika kamu menginginkan itu" Aileen merasa sangat lega, seperti berkilo kilo beban yang memuat hatinya terbebani kini tiba tiba terasa nyaman dan tenang walau pun hanya dengan mendengar jawaban itu dari mulut David. Jika dilihat dari raut wajah serta warna rambut, Aileen juga tak menemukan kemiripan gadis kecil itu dengan David.


David mulai menceritakan apa yang sudah dia dengar dari Ius.


"Aku sudah memikirkan semuanya, aku akan membawa Essie ke panti asuhan. Aku akan menyuruh Ius untuk mengurus semuanya. Untuk biayanya nanti biar di tanggung perusahan, kamu tidak keberatan kan jika aku memakai uang perusahaan untuk membantu anak itu?" David mengecut kedua punggung tangannya secara bergantian.


"Apa yang sedang kamu bicarakan?" suara Aileen terdengar sengau karena sisa tangisnya, bahkan hidungnya masih sedikit tersumbat, belum bisa di gunakan untuk bernafas dengan benar.


"Itu perusahaanmu, , kamu bisa melakukan apa pun tanpa persetujuanku"


David menarik lengan Aileen membawa perempuan itu ke dalam dekapannya. Kemudian menghadiahi kecupan di ujung kepala.


"Apa pun yang aku miliki, semuanya telah menjadi milikmu" David mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Aku tidak pernah berhubungan dengan seorang perempuan sampai sejauh itu, , hanya kamu Ai" sejenak David terdiam, menunduk ke bawah untuk melihat ekspresi wajahmya.


"Hanya kamu" David mencoba mencari kenyamanan ketika memeluk Aileen dengan erat.


__ADS_2