
Tubuhnya terpaku dadanya berdebar hingga darahnya seakan memanas dan menjalar ke seluruh bagian tubuh ketika kehangatan mulut Davien menyentuh jarinya yang terluka. Bunga terpana hingga sesaat kehilangan fokus dan terus menatap Davien hingga merona pipinya.
Davien berusaha menghentikan darahnya, kemudian meraih pundak Bunga memaksa, menuntun perempuan itu mendekati wastafel. Davien mengunci Bunga dengan tubuhnya yang berada di belakangnya.
Dengan kedua tangan berada di sisi kanan dan sisi kiri tubuh Bunga, kemudian membantu mencuci jarinya.
Dadanya semakin tak karuan, berdetak tak beraturan. Nafasnya memburu karena merasa sangat gugup. Bunga terpaku merasa sangat malu karena Davien berdiri tepat di belakangnya hingga seperti sedang memeluk dari arah kelakang.
Bunga bisa merasakan nafas panas yang menyapu lehernya karena laki laki itu sedikit membungkuk dan kepalanya tepat berada di sisis kepalanya hingga pipi mereka saling bersentuhan.
Kini Davien menarik sedikit kepanya mundur pandangannya pun terarah kepada leher Bunga yang tertihat jelas. Putih bersih dengan beberapa anak rambut yang bergelayut di sana, Aroma tubuhnya benar benar membuat Davien frustasi.
Davien menarik tubuhnya kebelakang sementara tangannya menarik, melepaskan kuncirnya. Rambut coklat itu tergeraih seketika menutupi bagian leher Bunga kemudian.
Bunga memutar tubuhnya dengan cepat. Tekejut dengan Davien yang tiba tiba melepas ikatan rambutnya.
Matanya menatap penuh tanda tanya.
Davien menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya masih menatap lekat wajah Bunga yang kebingungan.
"Pres Dir??"
"Jangan pernah menguncir rambutmu lagi" Davien berucap dengan tenang, dia tak ingin melihat Bunga menguncir rambutnya hingga membuat bagian lehernya terlihat. Davie melangkah menjauh.
"Bawa semua berkas ke kamarku, dan juga minumannya" dia melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Bunga masih terdiam, dadanya masih berdebar tak karuan. Bingung dengan sikap Davien yang selalu berubah. Baru kemarin dia menyuruh Bunga keluar dari perusahannya, tetapi hari ini sikapnya berubah lagi. Sedikit lebih lembut, walau pun masih terbilang dingin seperti biasanya.
Bunga bergidik mengembalikan pikirannya yang sempat melayang jauh, setelahnya kembali menyiapkan minuman herbal untuk Davien.
♡♡♡
"Jangan terlalu keras dengannya" Marvel tersenyum, tangannya bergerak menepuk pundak Davien.
"Hidupnya sudah terlalu berat, ,Bunga sudah tak memiliki siapa pun yang bisa menjaganya di dunia ini".
Kata kata Marvel selalu terngiang di telinganya, Davien merasa tersentuh ketika mendengar bahwa Bunga sudah tak memiliki siapa pun di sisinya.
Benar tak seharusnya dia menyalahkan Bunga karena memiliki sisi yang hampir sama dengan Essie, terlebih lagi aroma wangi yang tak bisa di tolaknya ketika berdekatan dengan Bunga.
"Itu memang bukan salahnya!"
Davien yang duduk di bibir ranjang menunduk, menggunakan kedua tangan yang bertumpu di paha untuk menyangga kepalanya.
Jari jemarinya meremas rambutnya dengan kuat, berusaha meredakan rasa pening yang hinggap di kepalanya.
Tok tok tok!!!
Davien sedikit menolehkan kepala, ujung matanya melihat bayangan Bunga tengah berjalan ke arahnya.
Bunga melangkah mendekat dengan membawa segelas minuman untuk meredakan tengorokan Davien.
"Pres Dir?, , kamu baik baik saja?" tatapannya menyelidik ke Davien yang kini tertunduk lagi. Sementara tangannya meletakkan minuman itu di atas nakas dan beberapa map di atas ranjang secara bergantian.
"Panggil saja Davien!" laki laki itu terdiam, masih menikmati kepalanya yang terasa semakin berat.
Bunga terlihat berdiam diri kebingungan, mendengar Davien berucap seolah dia merasa tak nyaman jika harus memanggil Davien hanya dengan namanya.
"Duduklah" perintahnya, Davien meminta Bunga untuk duduk di sofa tunggal yang terletak di samping ranjang.
__ADS_1
Tangannya bergerak mengambil map dan membukanya satu persatu.
Sementara dirinya sibuk dengan berkas itu, Davien membiarkan Bunga duduk diam dan menunggu Davien menyelesaikan pekerjaannya.
"Merasa dejavu"
Bunga harus menunggu Davien membaca beberapa berkas itu sebelum menandatanganinya. Lumayan lama hingga membuat Bunga jenuh dan malah memandang Davien yang terlihat serius ketika sedang membaca berkasnya.
Laki laki itu tak terlihat elegan, dia lebih terlihat santai namun sangat kharismatik. Dia hanya memakai kaos hitam lengan panjan. Serta rambutnya yang berantakan tak mengurangi sedikit pun ketampanannya.
Dia justru terlihat manis ketimbang hari hari biasa ketika Bunga melihatnya saat sedang berada di kantor. Dingin dan galak.
Davien mengerutkan dahinya ketika merasakan nyeri yang ada di kepalanya kembali mendera. Tangannya bergerak memijat perlahan keningnya sesaat.
"Aku akan istirahat sebentar" Davien meletakkan map itu di atas nakad.
"Kamu bisa menunggunya di luar. Nanti setelah aku merasa baikkan aku akan segera menyelesaikannya!"
Bunga beranjak berdiri, dia terlihat cemas saat melihat Davien semakin pucat.
"Pres Dir, ,e, ,Davien kamu baik baik saja"
"Tunggulah di luar, , aku hanya butuh istirahat sebentar!" Davien memilih untuk merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata memunggungi Bunga, mencoba keras untuk menenangkan pikiran.
Berharap rasa sakit di kepalanya akan menghilang secara lerlahan ketika mencoba untuk beristirahat sebentar.
♡♡♡
Bunga menunggu di luar sembari menonton serial drama di Tv. Beberapa kali dia melirik ke jam dinding untuk memastikan berapa lama lagi dia harus menunggu Davien beristirahat.
Hari sudah semakin sore perutnya juga terasa lapar, bunga beranjak dan pergi ke dapur mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya. Lumayan, ada daging dan sayur di kulkas, bunga akhirnya memasak untuk mengisi perut.
Teringat Davien juga belum makan sejak kedatangannya, Bunga berinisiatif untuk membuatkan bubur agar ketika dia bangun nanti Davien bisa memakannya.
Bunga ingin masuk untuk melihatnya, memastikan keadaannya, tetapi takut jika malah akan mengganggu. Dia kini lebih memilih untuk kembali duduk dan meyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Ungin bersantai sejenak, tetapi karena perutnya yang terasa penuh Bunga kemudian terlelap di sana.
♡♡♡
Waktu menunjukkan pukul 7 malam, Bunga seketika terbangun dengan sendirinya. Rungan itu semuanya masih gelap gulita. Matanya langsung tertuju kepada pintu kamar.
Davien sepertinya masih belum terbangun.
Bunga mulai merasa khawatir, dia beranjak menyalakan lampu kemudian perlahan mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok!!!
Bunga meraih gagang pintu, membuka dan mendorongnya perlahan.
Matanya mencoba menerobos kegelapan untuk menyelidik ke ranjang.
Tangannya bergerak meraih saklar untuk menyalakan lampu.
Matanya langsung mendapati Davien yang masih meringkuk di atas ranjang. Bunga mempercepat langkahnya menghampiri Davien.
"Davien?"
Laki laki itu menggigil kedinginan, keringat dingin membasahi hampir sebagian badannya hingga membuat kaos yang dikenakannya terlihat melekat ke tubuhnya.
Bunga menggerakkan tangannya memeriksa suhu tubuh Davien menggunakan punggung tangannya. Laki laki itu demam tinggi.
__ADS_1
Bunga bergerak cepat mengambil air dan handuk kecil, kemudian duduk di bibir ranjang. Membasahi handuk dengan air, memerasnya lalu meletakkannya di kening Davien.
Ingin memberinya obat seperti apa yang biasa Bunga konsumsi ketika sedang demam, tetapi berfikir lagi bahwa Davien adalah seorang yang sangat penting di perusahaannya, Bunga tak berani memberinya obat itu, takut jika nantinya malah akan membuat kondisi Davien semakin memburuk.
Berbeda dengan Bunga yang sudah terbiasa makan bahkan mengkonsumai makanan di pinggir jalan, sehingga dia merasa bahwa tubuhnya akan bisa menerima obat apa pun ketimbang Davien yang selalu pilih pilih makanan.
Kini Bunga lebih memilih untuk mengompres keningnya berharap apa yang dia lakukan bisa meredakan suhu tubuhnya.
Nafasnya terdengar kasar, keningnya berkerut seolah mimpi buruk sedang mengganggu tidurnya saat itu.
"Pres Dir??, , kamu bisa mendengarku?" Bunga mendorong tubuhnya mendekati Davien, berucap lembut agar tidak mengejutkan laki laki itu.
"Pres Dir?" bisiknya lagi.
Laki laki itu membuka matanya perlahan. Matanya berbayang ketika melihat Bunga yang tepat berada di depan matanya.
Tangannya bergerak menarik handuk yang melekat di keningnya.
Davien kemudian beranjak bangun, membuat Bunga menarik tubuhnya ke belakang dan menjauh.
Bunga terkejut, matanya membulat penuh ketika Davien tiba tiba langsung memeluknya. Dadanya berdebar kencang tak beraturan.
"Davien??" tangannya meraih lengan Davien, mencoba memaksa laki laki itu untuk melepaskan pelukannya.
"Jangan pergi!" Davien memendamkan wajahnya di perpotongan leher dan pundah Bunga. Menyerap dalam dalam aroma wangi tubuhnya hingga memenuhi bagian terdalam jiwanya. Aroma wangi itu membuat Davien merasa nyaman.
"Davien??"
Suara Bunga membuat Davien akhirnya tersadar, bahwa perempuan yang berada didekapannya bukanlah perempuan yang dicintainya. Tetapi Bunga membuat Davien merasa lebih tenang.
"Biarkan seperti ini sebentar" suaranya terdengar parau, membuat Bunga merinding ketika nafasnya yang terasa panas menyapu bagian lehernya.
Bunga bisa merasakan suhu badan Davien yang terasa sangat panas karena kedekatan mereka saat ini.
"Jangan pergi!" Davien semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Bunga, menarik perempuan itu agar lebih mendekat ke arahnya.
"Apa dia sedang menangis??"
Bunga mendengar suara isakan kecil dari mulutnya, dia merasa kesusahan ketika menelan ludahnya dengan susah payah, tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menenangkan Davien. Tangannya kini mulai bergerak perlahan meraih punggun Davien, mencoba membalas pelukannya.
"Aku, , tidak akan pergi!" ucapnya mencoba untuk menenangkan.
Mendengar Bunga berucap, Davien seketika menarik kepalanya ke belakang. Tanpa permisi dia lalu mencium bibirnya. Salah satu tangan Davien kini bergerak meraih bagian belakang kepalanya mendorong Bunga ketika perempuan itu mencoba menghindar.
Sementara satu tangannya lagi masih bertahan di pinggang untuk menahan tubuh Bunga agar perempuan itu tak menjauh.
Matanya terbelalak lebar, kedua tangannya meraih pundak Davien mencoba mendorong laki laki itu agar menjauh dan melepaskan ciumannya.
Ciumannya semakin dalam, namun kelembutan bibirnya membuat Bunga semakin tarhanyut hingga perlahan matanya tertutup dan tangan yang semula mencengkeram erat pundak Davien kini terlihat melemah dan pasarah.
♡♡♡
Maaf atas keterlambatannya 🙏🙏🙏
Mohon untuk di maklumi😊
Yang belum VOTE BINTANG lima di tunggu ya😘
Yang belum masuk Grup Chat aku tunggu😊
__ADS_1
Kita bagi bagi poin dan si UNGUUUUUU😘😘😘
Jangan lupa likenya😉😘😘😘