
****Mohon maaf karena bulan kemarin novel sudah di kontrak, maka author tidak bisa membuat cerita ini langsung End begitu saja. Karena sudah terikat.
Author berusa keras mengolah cerita bagaimana caranya agar novel ini tidak stuck di situ situ saja.
Apa lagi perihal masalah perasaan, hubungan dalam percintaan. Tidak mudah membangun cerita yang bisa dinikmati dengan baik ketika menyangkut masalah percintaan.
Author juga berusaha keras agar alurnya tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lama. Contohnya kecilnya, masak iya baru kemarin menyatakan cinta besoknya udah di terima. la iya kalau sudah saling jatuh cinta sebelumnya.
Tapi kalau salah satu dari mereka belum ada yang bisa menerima keadaan, toh bukannya itu juga membutuhkan waktu.
Author tidak meminta hal yang muluk muluk dari readers. Author hanya minta dukungan, berupa like dan komen yang membangun.
Author sangat senang ketika banyak yang koment marah ketika mendapati dalam salah satu bab itu karakter seseorang bisa membangunkan daya imajinasi kalian berarti Author merasa berhasil telah menciptakan karekter tersebut.
Namun mohon berkomentarlah dengan kalimat yang baik jika kalian tidak suka dengan cerita iniπππ
Author memang tidak bisa membalas koment kalian satu persatu, tetapi setiap satu jam sekali author selalu membuka dan membaca koment kalain.πππ
Jika ada yang berharap dari kalian untuk segera TAMAT maka Author belum bisa mengabulkannya.
Mau cerita panjang seperti sinetron atau rel kereta api bagi Author yang terpenting adalah jalan ceritanya.
Banyak ko novel yang sampai 200 lebih episodenya. Sedangkan ini baru 130.n masih jauh lah.
Intinya perjalanan cinta Barack dan Luna masih sangat panjang. Bagi yang sudah bosan Author tidak memaksa kalian untuk membacanya.
Menulis adalah hobi Author.
πππ
Author sudah menulis ceriat ini di buku tulis sebelumnya itu kurang lebih 17th yang lalu ketika Author duduk di bangku SMP. Dan ceritanya juga sudah Tamat.
Memang ada beberapa part tambahan di sini.
Maka dari itu Author tidak bisa mengubah jalan ceritanya seperti yang kalain inginkan ππππ
Karena setelah ini perjalan cinta Barack dan Luna semakin naik turun seperti roller coaster.
Mohon maaf kalau ada kata kata Author ada yang menyinggung perasaan kalian. Author mohon maaf yang sebesar besarnyaπππππππππ
β‘β‘β‘**
Mengaku??" Luna mengulangi ucapan Suaminya dengan nada bertanya.
Barack meraih kotak berbentuk persegi panjang berwarna biru tua dari dalam saku jasnya.
"Aku ke galeri sengaja membeli ini untukmu" Barack meraih tangan Luna dan memberikan kotak itu di telapak tangan Istrinya.
"Ini hadiah kecil dariku. Anggab saja sebagai permintaan maafku kemarin karena sudah membuatmu khawatir"
Tatapan mata Luna menyelidik ke arah wajah Barack.
"Aku bertemu dengan Helena di sana secara tidak sengaja. Sebenarnya aku ingin memberikan kejutan untukmu malam ini. Tetapi kamu keburu kabur dari rumah setelah melihat foto itu" Barack mengerutkan dahinya. Laki laki itu nampak sedang berfikir keras soal foto yang ada di dalam apartementnya.
"Dari mana kamu mendapat foto itu?" tambahnya.
"Aku menemukannya di depan pintu, kenapa kamu tidak bertanya dengan dengan perempuan yang bernama Helena itu?" nada bicara Luna terdengar menuduh kepada Helena. Dia memang belum sempat bertatap muka dengan perempuan itu namun hanya melihat dari foto yang semalam dilihatnya, itu sudah menggambarkan betapa ketertarikannya seorang Helena kepada Barack. Tidak hanya di foto waktu di galeri pun Luna melihat bahwa Helena bersikap seolah Barack adalah pasangannya. Perempuan itu selalu tersenyum kepada Suaminya bahkan tak enggan untuk meraih dan memeluk lengan Barack waktu itu.
"Maksudmu?? kamu berfikir bahwa Helena yang mengirim foto ini?" Barack berasumsi sesuai dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Istrinya.
Perempuan itu hanya mengangkat kedua pundaknya.
Barack menghela nafas panjang. Menetralkan perasaannya yang sedikit gusar.
"Bagaimana kalau kita tidak perlu memebahas masalah foto itu lagi. Sekarang kamu buka kotak itu" perintahnya.
Luna masih terlihat murung ketika menatap ke arah kotak yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Kamu tidak mau melihatnya?"
Luna membuka kotak itu dengan perlahan. Matanya terlihat berbinar binar ketika mendapati sebuah kalung dengan liontin kecil seukuran biji jagung yang berbentuk matahari dengan di penuhi berlian di sana.
Ujung bibirnya sedikit terangkat ketika melihat keindahan kalung itu. Luna masih merasa jaim ketika ingin memamerkan senyumnya ke pada Barack.
Tangan Barack bergerak meraih kalung berwarna silver itu.
"Aku akan membantumu memakaikannya"
Luna memutar tubuhnya membelakangi Barack, kedua tangannya meraih rambut yang menutupi leher.
Barack membantu memasangkan kalung itu di leher Istrinya.
"Dua kalung ini tidak boleh lepas dari lehermu. Apa pun itu yang terjadi jangan pernah melepaskannya!" ucap Barack merujuk pada kalung yang baru saja dia berikan untuk Luna serta kalung satu lagi yang pernah dia berikan ketika Luna berulang tahun dulu.
Kemudian Barack mengecup punggung leher Istrinya.
β‘β‘β‘
Terlihat Cici tengah sibuk menyelesaikan laporannya di ruang kerja.
"Ci?" Rosa berseru memanggil namanya dari arah pintu masuk. Perempuan itu masih berdiri di tengah pintu.
Cici mengarahkan pandangannya ke arah Rosa.
"Kenapa?"
"Nanti malam mau ikut makan makan nggak? bos kita mengadakan pesta besar besaran"
"Pesta??, , memangnya kita habis menangin Vendor ya?" Cici merasa penasaran ketika Rosa mengatakan bahwa Aryo akan mengadakan pesta besar besaran.
Rosa menghela nafas, dia berjalan mendekat ke arah meja kerja.
"Nggak ada hubungannya sama Vendor, Pak Aryo akan pindah ke tokyo dan menyerahkan tanggung jawab perusahaan ini kepada pemegang saham tertinggi ke dua setelah Pak Aryo. Jadi nanti malam adalah pesta perpisahan Pak Aryo serta pengangkatan CEO baru. Kamu belum tahu kan, oh iya kemarin kamu tidak berangkat sih"
β‘β‘β‘
Cici berjalan keluar dari ruang kerjanya dengan tatapan kosong. Perempuan itu melamun sepanjang jalan menuju kantin.
Hingga tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang sedang membawa nampan penuh dengan bermacam macam janis makanan.
Praannnggg!!
Seketika suara itu menarik perhatian semua orang yang ada di dalam kantin, tak terkecuali Aryo yang baru saja datang. Laki laki itu berdiri di depan pintu masuk sambil menyaksikan Cici yang tengah sibuk membantu orang tersebut untuk membarsihkan lantai yang berantakan.
Ujung mata Cici bergerak melirik ke arah Aryo yang hanya berdiri sambil menatapnya dengan dingin, bahkan ekspresi wajah laki laki itu sangat terlihat datar.
Cici berharap di dalam hati bahwa laki laki itu akan membantu.
Namun yang terjadi malah sebaliknya. Aryo berjalan bergitu saja melewati Cici, bahkan laki laki itu tak bergeming sedikit pun ketika Cici bersujud di lantai ketika membersihkan sisa sisa makanan yang berserakan di sana.
Perempuan itu menghela nafas panjang, dadanya terasa nyeri hingga membuatnya sulit untuk bernafas.
Sementara ujung matanya melirik ke punggung Aryo. Laki laki itu sedang berdiri membelakanginya sambil berbincang dengan orang lain.
β‘β‘β‘
Para staf kantor sudah berkumpul di sebuah retoran, suasana malam itu sangat ramai dan meriah. Cici sebenarnya tidak ingin ikut merayakan pesta malam itu. Namun Rosa terus memaksanya.
Mata Cici menyapu setiap sudut ruangan namun dia tidak menemukan keberadaan Aryo di sana.
"Apa Bos kita tidak ikut merayakannya?, , kenapa dia tidak datang?" Cici berucap kepada Rosa dengan nada tinggi, karena suara musik yang menggema di dalam ruangan begitu keras.
"Dia bilang akan datang telat karena masih harus mengurus berkas untuk serah terima jabatan besok"
Cici terdiam, sepertinya hanya dia saja orang yang tidak bisa menikmati acara pesta.
__ADS_1
Sementara semua yang datang sangat gembira, mereka bernyanyi, minum dan memakan semua hidangan yang sudah tersaji di meja.
Kini semua mata tertuju pada Aryo yang baru saja bergabung malam itu.
"Maaf aku datang terlambat, jangan hiraukan diriku. Kalian bersenang senanglah"
"Yyyeeeeaaaaaaaaaa!!" sorak sorai kegembiraan memenehui ruangan, mereka kembali bernyanyi dan berjoget.
Lampu kerlap kerlip semakin menambah suasana malam itu semakin bergairah.
"Kamu tidak minum?" Rosa mengulurkan sebuah gelas berisi alkohol ke arah Cici.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa minum"
"Halah, ayolah ini malam terakhir Bos kita berada di sini"
"Iya benar, nikmati saja pestanya Ci" ucap rekan kerja lainnya.
Sementara Aryo memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Sebentar lagi dia akan pergi ke Tokyo. Dia bilang juga tidak akan balik lagi ke sini. Jadi kita harus nikmati pesta ini Ci!!" Rosa terus berucap sambil memaksa Cici meminum segalas alkohol dari tangannya.
Perempuan itu terpaksa menegug minuman yang sudah memenuhi mulutnya dengan susah payah.
Wajahnya terlihat lucu ketika merasakan minuman yang terasa aneh itu memenuhi tenggorokan, hingga membuat semua orang yang berada di sana tertawa seketika.
Di sisi lain ada rasa senang, gugub, sedih dan jengkel ketika Cici melihat Aryo duduk di kursi yang berseberangan dengannya.
Sesekali Cici melihat ke arahnya, laki laki itu hanya diam dan terus menghindari tatapan matanya.
Cici terus mengawasi Aryo, dia lebih memilih bersenda gurau dengan staf lain yang berada di sebelahnya.
Nafas Cici memburu. Dia benar benar sudah kehinlangan akal malam itu. Dia tidak bisa mengendalikan perasaannya.
Perempuan itu merebut botol anggur dari tangan Rosa seketika.
Menuangkan minuman ke gelas dan menegugnya dengan cepat.
Tidak hanya sekali namun beberapa kali perempuan itu terus menuangkan anggur kedalam gelasnya.
Aksinya mendapat perhatian dari semua orang yang berada di ruang itu tak terkecuali Aryo.
Rekan kerja lainnya malah bersorak dan terus memberi semangat kepada Cici ketika perempuan itu hampir menegug seluruh isi minuman di tangannya.
Rosa nampak khawatir ketika melihat Cici melakukan hal itu.
"Ci, hentikan. Apa kamu sudah gila!. Kamu bilang kamu tidak bisa minum, bagaimana bisa kamu menghabiskan sebotol ini sendirian!" Rosa telah berhasil merebut botol anggur itu dari tangan Cici.
Ekspresi wajah Aryo terlihat datar ketika melihat tingkah Cici. Perempuan itu telah berhasil membuat Aryo melihat ke arahnya.
Cici membuang senyum ke arah Aryo di tengah tengah mabuknya.
Kini tatapan matanya melekat dan tidak pernah beralih dari perempuan yang kini sudah mulai tak bisa mengendalikan diri.
Cici meletakkan kepalanya di atas meja, dia benar benar sudah mabuk berat.
"Ci!, , " Rosa berusaha memastikan keadaan Cici.
Aryo beranjak dari kursi dan berjalan ke arah perempuan itu.
"Aku akan membawanya pulang, kamu urus semuanya" ucap Aryo kepada Rosa.
"Baik pak"
Aryo mengangkat tubuh Cici dan membawanya pergi dari tempat itu.
__ADS_1