
Suara hujan menghantam dahan dahan adalah sebentuk hiburan dari seseorang yang sepanjang hidupnya dilanda kehilangan.
Tidak beda jauh dengan Cici, baru beberapa hari kemarin dia kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya.
"Munafik kalau aku tidak sedih!, , tetapi aku lebih memilih untuk melanjutkan kehidupanku seperti biasanya, dari pada harus meratapi nasib yang akan membuatku
tambah terpuruk!"
Cici melamun menikmati derasnya air hujan dari halaman lobi tempat dia magang.
Lebih tepatnya di perusahaan Ayahnya Aryo.
Dia magang sebagai sekretaris Aryo selama dia mau itulah yang di janjikan Aryo dulu selepas mereka selesai wisuda, setelahnya entah dia akan lanjut atau akan resain dia masih berfikir dua kali setelah kejadian malam itu.
Sebelumnya hubungannya dengan Aryo sangat baik layaknya Sekretaris kepada Bosnya yang saling bertukar pikiran bahkan selalu diselingi candaan di tempat kerja.
Kembali lagi saat malam yang tidak diinginkan itu terjadi, kini hubungannya dengan Aryo mulai merenggang.
Bukan karena Aryo namun Cicilah yang manjauhinya.
Kebetulan sekretaris yang bekerja di kantor Aryo ada 3 orang termasuk Cici.
Setiap kali Aryo meminta tolong kepada Cici untuk membantunya alih alih karena ingin bertemu dengannya, Cici malah menyuruh sektetaris lain untuk menemui Aryo.
Aryo menyadari kalau Cici menghindar darinya. Setiap kali bertatap muka tanpa sengaja di kantor pun Cici memilih untuk tak menatap ke arah Aryo.
Dan jika sedang rapat dia selalu memalingkan wajahnya untuk tidak bertatap muka secara langsung.
Pundak Cici berlonjak kecil saat mengetahui seseorang telah menutup tubuhnya dengan sebuah jas berwarna abu abu dari arah belakang.
Dia menengok untuk memastikan. Melihat wajah Aryo yang ada di sampingnya dan kontak mata dengannya secara langsung membuat Cici bergidik. Seolah dia mengingat kejadian naas yang menimpa dirinya.
Cici memalingkan wajahnya kembali dan lebih memilih untuk melepaskan jas milik Aryo kemudian mengembalikan kepada pemiliknya.
"Aku tidak butuh ini!" ucapnya ketus.
"Lalu? kamu butuh buku nikah?" Aryo mulai menggodanya, dia selalu berusaha membuat Cici tertawa seperti dulu.
Cici melirik tajam ke arah Aryo dengan sengit. Kepalanya menggeleng heran, memang benar orang seperti dia tidak pernah bisa serius.
"Oke aku minta maaf karena sering bercanda. Tapi aku tidak pernah main main soal rencanaku menikahimu"
"Nikah aja noh sama tembok! gesek gesek terus sampe mampus!!" Cici berlari kecil menerobos hujan untuk masuk ke dalam taxi.
__ADS_1
"Idiiihhh ngomongnya gitu amat! dasar nenek lampir. Sini udah serius juga! masak aku di suruh nikah sama tembok. Ntar kalau anaknya jadi muka tembok gimana??, nggak punya malu dong dia!! iiiiiih!!" Aryo gemas, dia terus berteriak ke arah Cici namun suaranya masih tertelan hujan yang begitu deras sore itu.
♡♡♡
"Kamu bicara apa sih? aku tidak mengerti maksudmu! mengendalikan apa?" Luna berucap dengan nada tenang. Tangannya masih di genggam erat oleh Suaminya yang kini wajahnya semakin memerah.
"Aku harus mandi setelah ini kita akan ke dokter, oke!" ucapnya seolah tersirat bahwa Barack harus segera melepas tangannya.
Barack mengangguk pelan, sambil memperlihatkan senyum tipis di pipinya ke arah Luna.
Luna berjalan menuju ke arah kamarnya, sementara Barack mulai menarik nafas dalam dalam dan memhembuskannya secara cepat dan berulang ulang untuk mengembalikan ritme detak jantungnya agar kembali normal.
Barack mengusap kasar tenkuknya dan meremas rambutnya secara acak, kadang sesekali dia menarik rambutnya untuk mengembalikan kesadaran dirinya.
"Ada apa denganku?"
Barack membungkuk ke dua tangannya bertumpu di atas paha untuk menopang tubuhnya.
Jarinya meremas rambut dengan erat di sebelah kanan dan kiri kepalanya.
Dia memejamkan mata dengan sangat erat hingga nampak guratan kasar di sekitar matanya.
"Tunggu!!" gumamnya lirih, sementara matanya terbelalak dengan lebar saat mengingat bahwa obat demamnya telah habis beberapa mnggu yang lalu.
Wajahnya memaku seketika melihat botol obatnya memang berada di sana. Tangannya mengambil botol obat yang sudah kosong itu dari atas kulkas.
Dia mengingat kembali kalau Luna tadi sempat memberinya dua pil obat kepadanya.
Sambil berfikir dia membuka kulkas dan mengambil sebuah botol air mineral untuk melegakan dahaga.
Tenggorkannya benar benar terasa kering dan tubuhnya terasa sangat panas malam itu.
"Kalau yang satu obat pereda nyeri, lalu yang satunya lagi obat apa yang dia berikan kepadaku?"
Barack berjalan ke arah kamar, dia menekuk ke dua lututnya untuk meraih laci yang ada di bawah almari.
Dia menemukan dua botol obat, yang satu pereda nyeri miliknya dan yang satunya lagi botol kaca yang nampak tak asing di matanya.
Bola mata Barack berputar mengingat di mana dia pernah melihat botol obat itu.
"Bangk*!!!, , benar benar brengs** itu bocah!! lihat saja kalau ketemu kamu bakal habis sama aku!!" umpatnya pelan, dia merujuk kepada Aryo setelah mengingat di mana dia pernah melihat botol itu.
Mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka Barack memaku tubuhnya di sana. Tergesa gesa dia mengembalikan botol obat itu ke dalam laci dan menyimpannya kembali.
__ADS_1
"Barack" Luna memanggilnya dengan lembut.
Darah barack berdesir seolah ada yang bergerak di dalam dadanya.
Dia beranjak berdiri dan masih memunggungi Luna
Harum wangi aroma sabun yang berasal dari tubuh Luna membuat dada Barack semakin tidak karuan. Sekuat tenaga dia menghindar dari Luna.
Luna berjalan mendekat ke arahnya, tangannya mulai meraih lengan Barack, namun dia mengurungkan niatnya karena Barack terlihat sangat terkejut saat Luna ingin menyentuh lengannya.
"Kamu kenapa sih?" Luna merasakan ke anehan dengan sikap Barack.
Dia berusaha melihat wajah Barack namum Barack memutar tubuhnya untuk tetap menghindar memunggungi Luna.
"Kamu aneh sekali!! lihat ke arahku dong Barack!" pintanya merengek seperti anak kecil.
Barack sengaja menghindar sari Luna karena dia tahu kalu saat ini Luna hanya memakai handuk yang melingkar di dadanya. Jika dirinya melihat itu secara langsung Barack takut kalau dia tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Aku tidak apa2, cepat pakai bajumu" perintahnya dengan nada lembut ke pada Luna, dia mendesak Luna untuk segera memakai baju.
"Iya aku akan ganti baju, tapi kamu lihat ke sini dong lihat ke arahku, kenapa memunggungiku seperti itu?"
"Aku takut aku tidak kuat Luna!" Barack berucap dengan nada penekanan di akhir kalimatnya.
"Kamu sudah tidak kuat?, , ingin segera pergi ke dokter?"ucapnya membuat Barack makin kalang kabut menghadapi sikap Luna yang begitu polos.
"Polos dan bodoh itu memang sedikit berbeda sih!"
Barack menghela nafas dalam dalam untuk menguasai perasannya yang mulai tidak bisa di kendalikan.
"Aku tidak butuh dokter! aku membutuhkanmu Luna!" suara Barack terdengar parau kali ini sesekali tangannya mengusap wajahnya gusar.
"Iya aku di sini di belakangmu, tapi kamu tidak mau melihatku, lalu aku harus bagaimana?" Luna merasa kebingungan dia dari tadi terus berusaha melihat ke arah Barack namun dia selalu menghindar dan memunggunginya lagi
"Barack!!!" ucapnya dengan nada galak.
Barack memaku tubuhnya setelah mendengar Luna berteriak ke arahnya.
"Aku sudah mengatakannya tadi, aku takut kalau aku tidak bisa mengendalikan diriku!" Barack memejamkan matanya seakan dia berusaha keras menahan rasa kesakitan yang teramat di sana.
"Mengendalikanmu dari apa?, bicara yang jelas Barack!" Luna berucap sambil memakai baju tidurnya yang sangat tipis hingga memeperlihatkan bagian dalamannya.
Yakin, kalau Barack sampai melihatnya dia pasti tidak akan bisa menahannya lagi.
__ADS_1
"Aku menginginkan tubuhmu Luna, sangat teramat menginginkannya hingga aku tidak akan bisa berhenti ketika aku sudah memulainya"