
"Aku hanya bisa menjanjikan kehidupan kalian akan terjamin sampai tua. Apa lagi yang kalain butuhkan?? hanya duduk di rumah menghabiskan waktu bersama keluarga. Tetapi kalian akan mendapatkan pemasukan setiap bulan. Dan jika suatu hal buruk terjadi pada kalian, maka semua hak kalain akan turun kepada anak cucu. Apa tawaranku kurang menarik??, , bahkan kalian mendapatkan 10% lebih dari yang Adrian berikan kepada kalian" Barack barucap dengan penuh kewibawaannya. Dia sedang berusaha membuat para pemegang saham menjual saham mereka kepada laki laki itu.
Jiga di satukan dari beberapa orang yang ada di sana maka Barack akan mendapatkan 70% saham Dirga. Dan itu artinya dia yang akan mengambil alih posisi Direktur di tempat itu.
Dia akan merebut kurs milik Adrian yang saat ini masih menjad miliknya.
Ruang rapat terdengar sangat ramai. Semua orang yang sedang berbincang mengenai masalah tawaran yang Barack berikan kepada mereka.
Semua orang mengangguk seakan kesepakatan yang di tawarkan Barack sangat menguntungkan bagi mereka.
"Aku akan menyerahkannya padamu!" salah seorang telah menunjukkan jari. Orang tersebut langsung menandatangani beberapa lembar kertas yang ada di atas meja. Sebagai bukti bahwa mereka setuju menjual saham mereka kepada Barack.
"Aku juga akan menyerahkan sahamku padamu" orang kedua yang menyetujui kesepakatan dengan Barack. Di lanjutkan dengan beberapa orang lainnya lagi yang ada di ruang itu.
Hingga semua akhirnya setuju dengan tawaran yang Barack berikan.
Laki laki yang dengan gagah berdiri di depan itu melirik ke arah dua rekan kerjanya yang sedang tersenyum sambil melempar ibu jari mereka ke arah Barack.
Sementara Barack hanya memamerkan senyum manis ke arah mereka.
♡♡♡
Barack berjalan menuju ke arah lobi, dia bersama dua temannya dan beberapa orang yang telah menjual saham mereka pada laki laki itu.
Barack menghentikan langkahya ketika dia bertatap muka dengan Adrian, laki laki itu juga ingin berjalan menuju ke arah lobi. Mereka pun bertemu di sana.
Mata Barack melirik ke arah Luna yang berdiri di samping Adrian. Dia menatap dengan pandangan santai namun penuh arti di dalamnya.
Pandangan mata Luna tertuju kearah perempuan yang ada di belakang Barack. Helena, Luna melirik sengit ke arahnya.
Barack tahu kemana arah pandangan mata Luna, laki laki itu menengok sedikit untuk memastikan bahwa Helena berada di belakangnya. Dia tersenyum sinis kemudian.
"Senang bertemu dengan kalian" ucap Barack, kembali matanya melihat ke arah Adrian dan Luna secara bergantian.
Adrian nampak menyembunyikan rasa amarah yang teramat di dalam dadanya. Laki laki itu benar benar pandai dalam melakukan hal itu. Seolah dia seperti sudah terlatih ketika harus melakukannya.
"Senang bertemu denganmu juga" Pandangan adrian nampak menyelidik ke arah orang orangg yang berdiri di belakang Barack.
"Apa kalian mengadakan rapat penting tanpa mengundangku?" Adrian berusaha memamerkan senyum ke arah mereka.
Jelas dia merasa aneh, karena Adrian saat itu masih menjadi Direktur di sana. Dia pasti selalu terlibat dalam rapat sekecil apa pun di perusahannya. Namun kali ini kenapa mereka tak mengundangnya. Hal itu yang membuat Adrian bertanya tanya.
"Hanya pertemuan kecil. Jadi kamu tidak perlu mengetahuinya" Barack berucap dengan santai, namun dari ucapannya dia sengaja membuat Adrian seolah tak penting untuk hadir dalam rapat tadi.
Rahang Adrian menguat, dia berusaha menetralkan perasaannya, matanya beralih ke arah para pemegang saham yang telah menjual saham mereka kepada Barack, mereka semua memandang sinis ke arah Adrian. Seolah sedang menatap musuh yang selama ini telah membuat mereka tak dapat menikmati hasil jirih payah mereka sendiri dengan baik. Karena Adrian membagi hasil dengan cara tidak adil.
__ADS_1
Laki laki itu merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan mereka.
"Nikmati waktu kalain, tetapi maaf tapi aku harus segera pergi!" Adrian berucap dengan meraih pundak Luna. Dia merangkul perempuan itu di depan Barack.
Luna terlihat tidak nyaman ketika tangan Adrian berada di pundaknya. Teelebih lagi ketika Barack melihat tangan Adrian berada di sana. Namun perempuan itu hanya diam. Tak mungkin baginya memberikan respon buruk kepada Adrian. Karena itu bisa membuat citra buruk di depan para pemegang saham.
"Tunggu!!" Barack menghentikan langkah kaki Adrian dan Luna.
"Kamu harus segera menyelesaikan desainmu! waktumu tinggal lima hari lagi. Samnun akan segera mengadakan fashion show untuk musim semi" ucapnya merujuk krpada Luna.
Luna menghela nafas panjang. Setelahnya dia menganggukkan kepala ke arah Barack.
"Baik"
"Aku akan menunggumu di Samnun besok" tambahnya.
Entah kenapa ucapan barack terdengar lebih ke arah ajakan kencan baginya. Entah dia salah dengar atau ada yang salah dengan hatinya. Luna merasa jantungnya berdegub kencang ketika Barack mengatakannya.
Dia selalu berfikir tentang malam itu, hingga membuatnya merasa takutan terlebih dulu ketika harus membayangkan bahwa mereka hanya akan berdua saja saat berada di Samnun besok.
♡♡♡
Ting tong!!!
Lilis mengawasi layar intercom yang ada di dalam rumahnya.
"Siapa Lis??" Luna yang baru datang dari arah dapur pun seketika mengejutkan Lilis.
"Ee, , itu mbak. Mas, , Mas Barack ada di luar" ucapan Lilis terbata. Dia merasa tidak yakin ketika ingin mengatakan hal itu kepada Luna.
Luna berdiam diri, dia pun menyuruh Lilis masuk ke dapur untuk mengurus David.
Perempuan itu bergerak mendekat ke arah intercom, matanya melihat ke arah sana.
Dia menatap wajah Barack yang sedang menatap ke arah layar. Laki laki itu terlihat memakai jaket tebal namun tubuhnya masih menggigil kedinginan.
Luna menekan tombol hingga pintu rumahnya terbuka secara otomatis.
Barack melangkah masuk, matanya langsung bertatapan dengan Luna di sana.
"Masuklah" Luna berucap dengan ragu. Dia menuntun laki laki itu ke arah ruang keluarga.
Sementara mata Barack menyapu setiap sudut ruangan itu dengan lekat.
"Ayah!!" David berseru dari arah dapur, dia berlari dan meloncat ke badan Barack Kini Anak kecil itu tengah berada di gendongan Ayahnya.
__ADS_1
"Kamu sudah rindu dengan Ayah?" Barack menghujani Putranya dengan kecupan.
"Tentu Ayah, aku sangat meindukanmu!!tidak hanya aku. Tetapi Mamah juga sudah sangat merindukan dirimu"
Seketika Luna terbatuk mendengar ucapan David. Anak kecil itu benar benar berhasil membuat Luna salah tingkah.
Barack melirik ke arah Luna sambil tersenyum, kemudian dia duduk di sofa ruang keluarga.
"Mainan barumu??" Barack berucap setelah melihat mainan yang di pegang David maaih teebungkus dengan rapih.
"Iya!! aku mendapatkannya dari tante Helena. Ketika tadi dia menjemputku di sekolah!"
"Benarkah?"
"Kamu menuruh Helena menjemput Putraku!!" Luna memotong pembicaraan dia terkejut ketika mendengar David menceritakan hal itu.
"Aku meminta tolong padanya, karena saat itu dia berada di dekat sekolah david"
"Kamu menyeret perempuan itu ke sekitar David!!" Luna menatap tajam ke arah Barack.
"Luna??" Barack berucap dengan nada memohon. Baginya ini bukan saatnya untuk membahas hal itu.
Luna pun memilih diam, dia tidak ingin bertengkar di depan Putranya.
"Memangnya kenapa dengan tante Helena?? dia baik ko!" David membela perempuan itu.
Luna memalingkan pandangannya ke arah Barack. Seolah dia tak percaya bahwa David lebih memihak kepada perempuan itu.
Barack menggelengkan kepalanya, dia berusaha memeberi tahu Luna, saati ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah itu.
"Ayah!, ,"
"Hm??"
"Aku tidak ingin ikut Ayah pulang malam ini"
"Bukankah tadi siang kamu meminta Ayah untuk menjemputmu!" Barack berucap dengan penuh kekecewaan.
"Aku ingin malam ini Ayah menginap di sini, tidur bersama di kamarku!, , ya!" David berucap dengan menangkupkan kedua tangannya di depan wajah Barack. Dia seolah sedang memohon agar laki laki itu memenuhi keinginanya.
"Apa??" Barack berucap dengan nada berat. Kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah Luna yang tengah berdiri di ujung ruangan, perempuan itu sedang menyandarkan tuhnya di meja hias sembari memainkan daun telinganya. Seakan dia sedang menyembunyikan rasa gugubnya.
Dia pun mengalihkan pandangan ketika Barack menatap ke arahnya.
"Tapi, ,"
__ADS_1
"Ayolaaah, , Ayah!!. aku hanya ingin tidur bersama kalian" jelas David ingin sekali merasakan tidur bersama ke dua orang tuanya. Karena selama ini dia tidak pernah merasakan itu sebelumnya.
Barack merasa kebingungan ketika harus mengahadapi sikap David saat itu.