Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#71 Kecelakaan


__ADS_3

Di sana, luna menghentikan langkah kakinya ketika mendengar sura klara dari arah dalam ruang kerja ayahnya barack.


"Maaf, tapi ini semua salah saya, semua karena kebodohan saya.


Baik barack maupun luna mereka tidak bersalah, jadi mohon tolong urungkan kembali niat anda, untuk menarik dana dari perusahaan barack" suara klara terdengar sangat bergetar.


Pasalnya dia sangat ketakutan harus menemui ayahnya barack karena insiden beberapa tahun yang lalu saat menimpa anaknya.


Luna masih terus berdiri di depan pintu, wajahnya nampak tidak berdaya.


Semuanya jadi kacau seperti ini, dan itu semua karena dia.


"Aku sudah melakukan keputusan itu, aku juga sudah memikirkannya dengan baik, jadi baik kamu atau luna sekali pun, tidak akan bisa membuatku berubah fikiran" nada bicara pak bowo terdengar penuh dengan penekanan saat itu.


Luna yang mendengar dari balik pintu pun mengurungkan niatnya untuk menemui ayahnya barack.


Terlihat klara keluar dari ruang kerja pak bowo dengan wajah penuh penyesalan.


Dia memaku tubuhnya ketika melihat luna tengah berdiri di depan pintu.


Dengan cepat klara langsung menarik tangan luna dan menjauh dari pintu kerja pak bowo.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya klara dengan nada penuh ke khawatiran.


Pandangan mata luna terlihat kosong, dia tidak bisa memikirkan apa pun saat itu.


Bahkan saat itu untuk bernafas saja sepertinya kesusahan karena mengetahui masalah yang di sebabkan olehnya menyulitkan barack.


"Aku berencana untuk menemuinya" kata luna.


"Aku pikir kamu sudah berdiri lama di depan pintu, pastinya kamu juga sudah mendengar sendiri kan apa yang di katakan oleh ayahnya barack, jadi" sejenak klara berhanti berbicara dan menghela nafasnya.


"Lebih baik untuk sementara kamu jangan temui ayahnya barack, di situasi seperti ini dia pasti sedang sangat emosi, aku tahu dia mungkin tidak akan berbuat kasar padamu, tapi membiarkan dia untuk menenangkan diri itu jauh lebih membantunya" kata klara mencoba menangkan luna yang masih terus terdiam.


"Semua ini salahku, aku yang terlalu ke kanak kanakan saat itu".


"Tidak perlu membahasnya lagi, ,kamu tahu sekarang barack sedang pergi menuju ke paris?".


"Mm, , " luna hanya mengangguk pelan.


"Biarkan dia menyelesaikan masalahnya terlebih dulu, mungkin nanti setelah itu dia akan menemuimu lagi" kata klara sambil meraih pundak luna, seakan dia tahu kalau barack tidak menjawab panggilan dari Luna.


Klara mencoba memberi kekuatan lewat sentuhan tangan di pundak luna saat itu.


Luna mengerti maksut klara, dia pun membuang senyum tipis ke arah klara yang masih terus berharap kepadanya.


"Owh ya, nanti malam aku dan leo akan kembali ke paris" klara meraih tangan luna dan menggenggamnya dengan erat.


"Aku ingin melihatmu, sebelum aku pergi dan terbang ke paris nanti malam" klara menatap lembut ke arah luna berharap kalau luna akan datang sebelum dia pergi naik pesat.


"Mm, akan aku usahakan" kata luna sambil membuang senyum ke arah klara.

__ADS_1


 


♡♡♡


Malamnya luna memenuhi janjinya untuk menemui klara sebelum dia pergi naik pesawat.


 


Terlihat dia berlari ke arah klara dan leo yang sedang sengaja menunggunya.


"Maaf, , , aku tidak terlambat kan?" nafas luna terdengar kasar dan terengah engah karena dia berlari sekencang mungkin agar tidak terlambat menemui mereka.


Leo dan klara terkekeh melihat tingkah luna di depannya itu.


"Tidak, pesawat kita masih lama kok" kata klara.


Leo menatap mata luna dengan lembut. Tatapan matanya tersirat akan sebuah pertanyaan yang mungkin menurutnya, dia sendiri sudah tahu jawabannya.


Bahwa saat ini luna sedang dalam keadaan yang tidak baik baik saja.


Mereka bertiga akhirnya berbincang bincang sambil menunggu panggilan pesawat.


"Ketika aku tidak di sampingmu lagi, kamu harus hidup dengan baik" kata leo penuh harap kepada luna.


"Dan kamu, kapan kapan juga harus ke paris, kalau kamu ke sana mampirlah ke galeriku, kita bisa membahas masalah desain bersama. Siapa tahu kita bisa bekerja sama" kata klara mencoba menyemangati luna.


"Mm" luna mengangguk dengan pelan.


Leo pun melihat ke arah luna, dia berharap luna bisa terus tetap hidup dengan bahagia.


"Kami pergi dulu" kata leo sambil melayangkan ciuman di kening dan memeluk tubuh luna.


Klara merasa senang melihat pemandangan di depan matanya itu.


Luna melihat klara dan leo berjalan ke arah pintu masuk menuju pesawatnya sambil melambaikan tangannya ke arak mereka.


 


Dia bergegas pergi dari bandara dengan mengendarai mobilnya dengan cepat.


 


Malam itu pikirannya campur aduk terbagi bagi antara barack, dan tugas akhirnya yang membuat dia merasa stres.


Sampai sampai dia tidak memperhatikan kalau lampu merah di depannya menyala.


Dia terus saja melajukan mobilnya dengan cepat.


Dan tidak menyadari mobil dari arah lain melaju ke arahnya, untungnya mobil itu tidak melaju dengan cepat sehingga orang tersebut bisa dengan sigap menginjak remnya dengan cepat, sebelum menyenggol mobil luna.


Sementara mobil luna yang melaju dengan cepat, tidak bisa di kendalikan dengan baik.

__ADS_1


Dia pun membanting setirnya ke arah kiri dan menabrak sebuah tiang lampu di pinggir jalan.


BBRRUUUGGHHH!!!, , ,


Mobil yang tadi sempat hampir bertabrakan dengan luna pun terlihat bergerak menepi ke pinggir jalan.


Aryo keluar dari mobil yang hampir menabrak luna itu, dia segera menghampiri mobil luna yang bagian depan mobilnya sudah rusak parah dan mengeluarkan asap.


Luna tertolong oleh sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya itu.


Aryo pun langsung membuka paksa pintu mobil luna.


Dia melihat luna tengah pingsan dengan sedikit luka sobek di kulit dan memar di bagian keningnya.


Dengan segera aryo membawa pergi luna ke sebuah klinik terdekat dari tempat kejadian.


 


Luna terlihat tengah berbaring di ranjang dengan perban kecil menempel di keningnya.


 


Nampak cici dan aryo masih menunggu sambil duduk di dekat luna yang masih memejamkan matanya.


"Kamu ada di lokasi kejadian?" tanya cici kepada aryo.


Aryo hanya mengangguk pelan.


"Dia menerobos lampu merah, mobilnya juga melaju dengan sangat kencang dan mobilku hampir saja menabraknya" kata aryo.


Cici melihat luna berusaha membuka matanya perlahan.


Dia pun segera menghampiri luna yang berusaha merubah posisi tidurnya untuk duduk di atas ranjang.


"Kamu baik baik saja lun?" cici memastikan keadaan luna.


Luna masih terlihat bingung, tatapan matanya masih melihat aneh ke arah ruangan itu.


"Mm, , ini di mana ci?" tanyanya sambil meraba raba bagian keningnya yang tertutup perban itu.


Cici mencoba menjelaskan semuanya tanpa ada satu pun yang di tambah tambahi atau pun di kurangi.


"Kamu sedang mikir apa lun?, , sampai bisa bisanya menerobos lampu merah?" tanya cici.


Luna hanya diam saja mendengar pertanyaan cici barusan.


Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya dia terus mengunci bibirnya itu.


Aryo dan cici hanya saling lempar pandang melihat luna seperti orang yang sedang banyak pikiran.


***

__ADS_1


Jangan lupa likenya oke oke😘


__ADS_2