Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#141 Menahanmu


__ADS_3

Cici keluar dari ruang dokter, wajahnya terlihat murung ketika menemui Suaminya.


Mereka menikah di tahun ke dua setelah perceraian Barack dan Luna.


Dan memutuskan untuk pindah ke Tokyo sesuai dengan keinginan Aryo.


"Apa kata dokter?" Aryo menghampiri Cici yang tengah berjalan menuju ke arahnya.


"Dokter bilang aku terlalu stres, maka dari itu sampai sekarang aku belum bisa memberimu keturunan" Cici menunduk, dia semakin terpuruk ketika mengetahui kebenarannya, bahwa sampai saat ini dia belum bisa hamil.


"Tenang saja, aku juga tidak terlalu buru buru untuk mendapatkan keturunan. Kamu masih memikirkan Luna?" Aryo menarik kepala Cici dan membawa tubuh perempuan itu ke dalam dekapannya.


Luna pun tak pernah memberi kabar kepada Cici semenjak kepergiannya. Kalau Cici tahu keberadaannya saat itu, maka Luna yakin kalau Cici pasti akan memneritahu kepada Barack di mana dia berada.


Cici tidak tahu kalau ketika dia menikah Luna datang ke pesta mereka, namun tentu saja Luna tak menampakkan batang hidungnya. Luna memilih untuk menyaksikan pernikahan sahabatnya itu dari kejauhan.


"Aku dengar dari Helena kalau Barack sudah bertemu dengannya" ucap Aryo merujuk pada Luna.


Mendengar hal itu ekspresi wajah Cici pun langsung berubah.


"Kamu yakin? di mana dia??


"Di Paris" ucapnya dengan ragu, Aryo tahu kalau Cici pasti akan merengek untuk meminta menemui Luna ke Paris.


Cici menatap dengan penuh harap ke pada Aryo.


"Baiklah kita akan ke Paris menemui Luna. Tapi kamu harus janji. Jangan terlalu menyiksa diri karena terus memikirkan Luna. Bukannya ada aku di sini?" Aryo merangkup ke dua pipi Istrinya.


"Iya, , aku minta maaf" Cici pun memeluk Suaminya dengan erat.


♡♡♡


Luna berdiam diri tubuhnya nampak menegang. Perempuan itu sungguh buruk dalam menyembunyikan perasaannya. Kini dia terlihat sangat panik keringat dingin nampak membasahi pelipisnya. Ke dua tangannya menggenggam erat map yang ada di pelukannya.


Sementara Barack masih bersikap santai, dia sedikit menengok ke arah samping untuk memastikan keadaan Luna, apakah perempuan itu baik baik saja.


Tangan Barack bergerak menekan tombol buka di sana, berharap lift akan membuka pintunya atau akan bergerak lagi.


Namun usahanya tak membuahkan hasil.


Barack menggeser tubuhnya ke arah samping, dia menyandarkan pundaknya ke dinding lift dan mengubah arah pandanganya ke arah Luna.


Matanya mengawasi tubuh perempuan yang sedang berdiri di pojokan lift.


Laki laki itu menyandarkan kepalanya, hingga sedikit mendongak, namun matanya masih menatap Luna dengan Lekat, dia menghela nafas seolah melepas beban berat bersama dengan hembusan angin yang keluar dari hidungnya.


Perempuan itu memalingkan wajahnya dan menatap ke arah dinding lift yang ada di sampingnya. Dia memang menghindari tatapan mata Barack namun dia menatap bayangan wajah Barack dari pantulan dinding lift itu.


"Kenapa kita harus bertemu lagi??, , aku takut rasa cinta ini tumbuh dan semakin kuat di dalam hatiku!! tapi dadaku terasa sakit ketika aku tidak bisa melupakan kejadian malam itu begitu saja"


Ujung mata Barack nampak menyelidik ke arah mata Luna, dia baru menyadari bahwa Luna sedang melihat bayangan dirinya yang terpantul di dinding sana.


Bibir Barack pun terangkat, laki laki itu tersenyum kemudian.


Mata Luna bertemu mata Barack di bayangan dinding itu. Luna nampak terkejut ketika melihat bayangan Barack bergerak melangkah mendekat ke arahnya. Seketika Luna menunduk, seolah dia seperti kepergog sedang menguntit laki laki itu.


Luna menunduk menyimpan dalam dalam ekspresi wajahnya dari Barack.


Matanya melirik sepasang kaki Barack yang semakin mendekat ke arahnya.


Jantung Luna semakin berdebar tidak beraturan, pipinya merona seketika.


Nafasnya semakin memburu ketika kini tubuh Barack berada sangat dekat dengannya hingga tercium aroma khas tubuh laki laki itu yang menyeruak ke dalam hidung Luna.


"Kamu!" suara Barack terdengar sangat rendah di telinga Luna.

__ADS_1


"Baik baik saja!" tambahnya.


"He???" Luna mendongak menatap mata Barack. Perempuan itu terpesona dengan ketampanan mantan Suaminya. Dia merasa bahwa laki laki itu semakin tampan bila di pandang dari dekat. Entah karena memang sudah terlalu lama tidak melihatnya dari dekat atau memang karena dia memang sungguh berkarisma hari itu.


Luna tersadar dari lamunanya, seketika dia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Aku, baik baik saja" ucapnya dengan lirih.


Mata Barack memerah, ujung matanya nampak berair. Hidungnya memerah karena menahan perasaannya yang dengan kuat membelenggu tubuhnya. Keinginan untuk memeluk perempuan itu sungguh sangat besar.


"Dia laki laki, atau perempuan?" ucapnya kemudian.


Luna tahu kemana arah pembicaraan Barack, dan benar saja laki laki itu pasti merasa sangat penasaran dengan anaknya. Bahkan sampai sekarang Barack pun tak mengetahui jenis kelaminnya.


Bagi Luna itu adalah hukuman yang pantas dia dapatkan setelah memberikan luka yang teramat padanya.


"Dia baik baik saja, dia tumbuh menjadi anak laki laki yang tampan dan pandai" Luna memalingkan wajahnya dari Barack ketika dirinya juga tak bisa menahan air mata yang mencuat keluar.


"Laki laki??, , bolehkah aku"


"Tidak!" Luna memotong pembicaraan. Dia tahu kalau Barack pasti akan memohon padanya untuk menemui putra mereka.


Barack berdehem untuk menetralkan perasaannya. Dia akhirnya memilih untuk diam, Dia tahu kalau Luna belum bisa memaafkan dirinya dan Barack menyadari hal itu.


Tangannya bergerak meraih pelipis Luna, dia mencoba membantu perempuan itu mengusap keringat di sana. Namun Luna terlebih dulu menjauhkan kepalanya dari laki laki itu.


Tatapan mata Barack terlihat kecewa saat itu. Namun dia sadar kenapa Luna berusaha menjauh darinya.


Katika lift bergerak lagi tubuh Luna tergunjang hingga sepatu hils yang menopang tubuhnya tak bisa terkendali dengan baik. Hilsnya nampak bergerak dengan tidak semestinya hingga membuat perempuan itu hampir jatuh, namun dia berhasil menahan tubuhnya untuk tidak jatuh kelantai karena salah satu tangannya menggenggam map sehingga tangan yang lainnya lagi mencengkeram jas Barack hingga tubuh laki laki itu tertarik semakin mendekat ke arah Luna.


Barack sebenarnya sangat kuat kalau hanya untuk menopang tubuh Luna, namun gerakan tangan Luna ketika menarik dirinya sangatlah cepat. Hingga memebuat Barack tak bisa mengendalikan berat tubuhnya sendiri.


Naasnya saat itu juga pergelangan kaki Luna terkilir.


Barack meraih pinggang Luna untuk menahan tubuh perempaun itu agar tidak terjatuh ke lantai.


"Aku bisa jalan sendiri"


Barack pun menarik tangannya kembali, matanya masih mengawasi gerakan tubuh Luna. Dan sesuai dengan dugaannya, belum genap satu langkah tubuh Luna terjatuh karena merasakan nyeri di bagian kakinya.


Untung Barack berhasil menangkap tubuh perempuan itu. Mata mereka pun nertemu, sempat beberapa detik mereka saling menatap satu sama lain. Bahkan wajah mereka pun sangat berdekatan.


Luna berdehem menetralkan perasaannya.


Akhirnya Barack membungkuk meraih kaki Luna dan memutuskan untuk menggendong perempuan itu


"Aku, aku bisa"


"Kamu yakin kami bisa jalan sendiri!!" Barack berucap dengan tegas, dia memotong pembicaraan.


Luna pun terdiam, ke dua tangannya memeluk dirinya sendiri ketika Barack mendekap tubuhnya dalam gendongan.


Laki laki itu membawa Luna ke dalam ruang kerjanya.


♡♡♡


Barack meletakkan tubuh Luna dengan pelan dan hati hati di atas sofa. Laki laki itu bersujud di depan Luna dan meraih kaki perempuan itu.


"Aku" Luna menarik kembali kakinya yang sudah sempat di pegang oleh Barack.


Mata Barack menatap mata Luna dengan tajam, seolah dia marah karena perempuan itu menolak untuk di sentuh.


Barack tak bergeming dia tidak menghiraukan kalau Luna tidak menyukai hal itu.


Barack tetap menarik kaki Luna dengan sangat hati hati. Dia melepas sepatu milik Luna.

__ADS_1


Dengan lembut tangannya memijat kecil pergelangan kaki perempuan itu.


Luna nampak risih ketika Barack harus menyentuh bagian tubuhnya sekali pun itu adalah kaki.


"Kamu masih memakai sepatu tinggi seperti ini?" Barack berucap dengan lembut ke pada Luna.


"Setiap orang pasti akan belajar untuk lebih baik, bagitu pun dengan diriku. Tidak selamanya aku tidak bisa memakai sepatu berhak tinggi"


Barack memaku tangannya ketika mendengar ucapan Luna, dan kata kata perempuan itu terdengar santai namun menusuk ke dalam dadanya.


Barack mengangkat kepalanya, matanya kembali menatap Luna dengan tajam.


"Namun ada sebagian yang tidak bisa menerima orang lain ketika orang itu sedang belajar untuk menjadi lebih baik, bahkan dia juga tidak memberikan kesempatan kepada orang itu untuk memperbaiki semuanya" pandangan mata Barack masih bertahan menatap Luna.


Luna tahu kemana arah pembicaraan Barack, dia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan memberikan map yang berisi rancangan gaun miliknya ke pada Barack.


"Ini, aku datang kesini karena ingin mengantar rancangan gaunku"


Barack meraih map dari tangan Luna, dia bangkit dari hadapan Luna dan duduk di sofa tunggal. Salah satu kakinya bertumpu di kaki lain seolah dia memperlihatkan kekuasaan dirinya di tempat itu.


Dia menyelidik satu persatu desain gaun milik Luna. Raut wajahnya terlihat datar ketika melihat lembaran di tangannya.


Luna yakin kalau desain itu pasti akan memuaskan Laki laki yang tengah fokus dengan map itu.


Barack meletakkan map itu begitu saja di atas meja. Setelahnya melihat ke arah Luna.


"Aku tidak menyukainya" ucapnya kemudian.


"Ha??" Luna merasa terkejut dengan respon Barack terhadap desainnya.


Dia tidak menyangka kalau laki laki itu akan menolak semua desain yang sudah di buatnya dengan susah payah.


"Ta, tapi, , "


"Aku akan memberimu waktu penuh hari ini untuk memberiku satu desain lagi. Hari ini juga kamu harus memberikannya padaku"


Luna memaku bibirnya bagaimana mungkin dia bisa menyelesaikan dalam waktu yang singkat. Sementara dirinya harus kembali bolak balik kekantor untuk mengambil semua alat miliknya.


"Aku tidak memiliki cukup waktu untuk"


"Aku akan menyuruh Satya membawa semua peralatan baru untukmu!, dan kamu tidak perlu kembali ke kantormu. Selesaikan disini dan hari ini juga. Atau tidak akan ada kerja sama di antara kita" ucapnya seolah bisa membaca pikiran Luna.


"Bagaimana bisa aku menye"


"Aku tidak mau tahu. Kalau perlu sampai malam pun aku akan menunggu desainnya selesai" Barack seakan benar benar ingin menahan perempuan itu untuk tidak segera pergi, dia ingin Luna berada di sana lebih lama lagi.


Luna menghela nafas dengan kasar.


"Ya ampuuun!!! apa apaan dia. Kenapa bisa semua desainku di tolak. Bahkan aku menghabiskan waktu berbulan bulan untuk membuatnya. Aki tidak mengira kalau dia akan bertingkah menjengkelkan seperti ini setelah lama tidak bertemu"


Luna terlihat sangat frustasi ketika menghadapi Barack.


"Tunggulah di sini, nanti Satya akan mengantar peralatannya" Barack melangkah keluar dari ruangan itu dan tersenyum tipis dari balik pintu.


♡♡♡


"Kamu sudah baikkan?" Klara menemui Barack di sela sela waktunya.


Mereka bertemu di sebuah cafe. Setelah tahu Barack datang ke Paris Klara berusaha untuk selalu menemuinya, namun dia tak kunjung ada waktu luang saat itu.


"Seperti yang kamu lihat, , aku senang melihat hubunganmu dengan Leo baik baik saja"


Klara meraih tangan Barack dan menggenggamnya.


"Kalian pasti bisa melewatinya, aku yakin kamu bukan tipe laki laki playboy, dan bisa tidur segampang itu dengan wanita lain" sejenak Klara berhenti berucap untuk menghela nafas.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian??"


__ADS_2