Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
38 CEO: Love's Romance Sisi yang berlawanan


__ADS_3

Mereka berdua masih terdiam satu sama lain. Karena kejadian beberapa saat yang lalu membuat David merasa bersalah kepada Aileen. Dia tidak berani untuk memulai pembicaraan karena takut apa yang akan terlontar dari mulutnya akan menyakiti hati Aileen.


Mulai saat itu David selalu berhati hati dalam bertindak, dia takut kalau sikap atau perilakunya akan membuat Aileen marah.


David meraih ponsel untuk menghubungi sekretarisnya, dia meminta sekretaris itu untuk mencari ponsel keluaran terbaru malam itu juga. David tidak mau tahu, entah mau beli di luar kota atau di mana saja yang terpenting besok pagi itu ponsel sudah harus di antar kerumahnya.


"Besok pagi aku mau ponsel itu sudah ada di rumahku!!" David langsung memutus panggilannya.


"Kamu menyuruh sekretarismu membeli ponsel baru di mana tengah malam seperti ini?" Aileen mengerutkan dahinya.


"Aku tidak tahu. Aku yakin besok pagi dia pasti akan mengantar ponsel baru itu!" David melirik kearah ponsel Aileen yang masih berserakan di lantai. Kemudian dia beranjak dari ranjang.


"Kamu mau kemana?" Aileen merasa khawatir ketika David berjalan menjauh.


"Menyelamatkan kartu sim dan kartu memorymu!" David menyimpan kedua kartu itu kemudian. Setelahnya dia kembali berjalan kaerah ranjang.


Aileen menggerakkan kakinya mendekati nakas kemudian mengambil bubur.


Dia merasa takut ketika ingin duduk di bibir ranjang di sebelah laki laki itu. Dia merasa harus waspada karena baginya David bisa saja kembali berbuat nekat seperti tadi.


Sementara David terlihat kesusahan ketika harus memutar setengah tubuhnya untuk mencari kenyamanan ketika saat akan bersandar karena perutnya masih sedikit terasa nyeri.


Aileen pun membantunya, dia kembali meletakkan mangkuk di atas nakas. Lalu membungkuk mengambil bantal dan meletakkannya di belakang punggung David agar laki laki itu merasa nyaman ketika menyandarkan tubuhnya.


Aileen tidak sadar bahwa tubuhnya saat itu benar benar dekat dengan David, hingga membuat laki laki itu bisa mencium aroma tubuhnya yang wangi.


David berdehem untuk menetralkan perasaannya. Seketika itu juga Aileen memalingkan wajangnya kearah wajah David yang ternyata sudah berada tepat di depan matanya.


Mereka saling menatap satu sama lain, karena saking dekatnya nafas Ailen terasa hangat ketika menyapu wajah David.


Pandangan David teralihkan kearah bibir Aileen yang mungil dan berwarna pink itu. Bahkan dalam keadaan sakit pun otaknya tak bisa di kendalikan dengan baik. Aroma tubuh Aileen yang menyeruak kedalam hidungnya seakan menghipnotis laki laki itu hingga tanpa sadar menuntun bola mata David bergerak menurun kearah dada Aileen.


Posisi perempuan itu yang sedang membungkuk di depannya, membuat membuat kemeja yang membalut tubuhnya sedikit turun kebawah hingga David dengan leluasa bisa melihat belahan sekaligus bagian dada Aileen yang menggantung dengan indah di sana.


Dadanya berdegup sangat kencang hingga terdengar sampai ke rongga telinganya. Sekuat tenaga David menahan rasa gejolak di dalam jiwanya yang tiba tiba menggebu meronta ingin mencuat keluar dari dalam tubuhnya. Dia merasa binggung dalam kedaan tak berdaya rasa itu bisa bisanya muncul dan meracau pikirannya.


"Itu! e, , " suara David seketika membuat Aileen tersadar dari lamunannya, yang sesaat sempat terhanyut dalam kedekatannya dengan David.


Aileen langsung berdiri sambil memutupi bagian dadanya ketika sadar bahwa David melihat kearah sana. Pipi mereka pun bersemu kemudian.

__ADS_1


"Boleh aku makan buburnya?" David berucap untuk memecah rasa canggung di antara mereka.


"Ya!" Aileen mengambil mangkuknya dari atas nakas dan memberikannya kepada David.


Tetapi laki laki itu malah diam dan mengalihkan pandangannya kearah lain.


Aileen menyipitkan matanya, dia merasa yakin kalau David pasti melakukannya dengan sengaja.


"Apa dia sedang memintaku untuk menyuapinya??, , sudah jelas aku mengulurkan tanganku untuk memberikan mangkuk ini. Dia malah sengaja memalingkan wajah dan berpura pura tak melihatnya!!"


Aileen menghela nafas panjang kemudian dengan sedikit keraguan dia duduk di bibir ranjang. Saat itu dia mulai menyuapi David dengan perlahan.


"Terima kasih" ucap David setelah mendapat suapan pertamanya.


Ketika itu Aileen berusaha untuk menghindari kontak mata secara langsung dengan David.


"Aku melakukan semua ini karena aku merasa berhutang budi kepadamu, anggap saja aku membayar kembali jasamu saat kemarin kamu merawatku ketika kakiku terluka, jadi aku merasa lega karena sudah tidak punya hutang denganmu"


David menatap wajah Aieen dengan lekat, sementara Aileen beriskap dingin seolah dia tak menyadari bahwa laki laki itu terus memandanginya.


"Aku minta maaf karena perbuatanku tadi, , kamu pasti sangat kecewa dengan sikapku" David berhenti berucap untuk menunggu respon dari Aileen.


"Jangan banyak bicara!!, , aku malas mendengarnya" ucap Aileen dengan jengkel. Setelah David menghabiskan buburnya, Aileen menyuruh David untuk segera tidur.


"Baru juga aku tersadar. Kamu sudah menyuruhku tidur lagi??, , aku tidak mengantuk!" ucap David dengan malas.


"Terserah!! kamu mau tidur atau tidak yang terpenting saat ini aku benar benar sangat mengantuk!! jangan lupa minum obatmu sebelum tidur!"


"Jangan pergi!" rengekan David terdengar lebih seperti anak kecil yang takut ditinggal sendirian ketika melihat Aileen beranjak berdiri dari ranjang.


Aileen menghentikan langkahnya, kemudian dia melirik kearah David dengan malas.


"Apa maksudmu aku tidak boleh pergi!!"


"Tidurlah di sini, temani aku" pintanya kemudian.


"Kamu sudah tidak waras??, , mana mungkin aku tidur di sini bersamamu!"


"Baiklah, kamu boleh tidur di kamar tamu asalkan jangan pergi dan meninggalkan rumah ini" David bertingkah semakin manja.

__ADS_1


"Aku sudah mengatakannya kepadamu sebelumnya kalau, , aku tidak bisa berlama lama jauh darimu" David berucap dengan lirih, pipinya pun merona karena menahan rasa malu.


Tingkah David membuat Aileen menghela nafas panjang dan semakin merasa jengkel dengannya.


"Kamu akan mendapatkan apa pun yang kamu mau!" secara tak langsung Aileen memenuhi keinginan David untuk tetap tinggal di rumah itu. Lagi pula ini juga sudah sangat larut tak mungkin baginya untuk pulang saat ini juga.


Setelah keluar dari kamar David dan menutup pintunya, Aileen melangkah menuju kedapur. Suasana di sana sudah sangat sepi karena waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, pelayan pun sudah pergi kekamar mereka masing masing untuk beristirahat. Aileen segera mencuci mangkuk bekas buburnya David. Setelahnya dia mematikan lampu dapur dan berjalan memuju kamar tamu.


♡♡♡


Malam itu David terlihat gelisah, dia terlihat mengubah posisi tidurnya berulang ulang kali, tetap saja dia tak bisa memejamkan matanya.


David duduk di bibir ranjang, ketika ujung jari kakinya menyentuh lantai dia semakin sadar bahwa dirinya tak bisa tenang ketika mengetahui Aileen tengah tertidur di kamar tamu.


Laki laki itu menghela nafas panjang sebelum beranjak dari ranjang dan melangkah keluar dari kamarnya.


David melirik kearah pintu kamar tamu yang tak jauh dari kamar miliknya. Dia seperti sedang mayakinkan diri sebelum mengetuk pintu kamar itu untuk menemui Aileen.


Ya, David seperti anak kecil yang tiba tiba tak bisa tidur nyenyak tanpa pelukan dari orang tuanya.


Dia melangkah perlahan menuju kamar tamu, kemudian mamaku langkahnya ketika sampai di depan pintu.


David sempat mengetuk pintunya, namun dia tak mendapat sahutan dari arah dalam. Jelas saja saat itu David memang sengaja mengetuk pintunya dengan sangat pelan bahkan dia sendiri hampir tak mendengar ketuka pintunya. sengaja agar Aileen tak terbangun.


Tangannya bergerak meraih gagang pintu, dengan sangat perlahan dan penuh kehati hatian dia mendotong pintu supaya tak mengeluarkan bunyi yang akan mengganggu tidur Aileen.


Setelah berhasil melangkah masuk ke dalam, David pun menutup pintunya kembali. Dia berjalan perlahan kesisi ranjang mendekati Aileen yang sedang tertidur pulas. Laki laki itu berdiri di seberang ranjang, mengamati, memandangi wajah Aileen kemudian.


David membungkuk menggunakan tangannya untuk menyangga tubuh di atas ranjang ketika ingin mengamati wajah Aileen lebih dekat lagi.


Dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Aileen, dan tanpa sadar David telah menempelkan bibirnya ke bibir Aileen. Darah David langsung berdesir mengisyaratkan akan hasratnya yang tiba tiba muncul begitu saja. Detak jantungnya pun kembali berdetak dengan cepat dan tak beraturan. David langsung menarik tubuhnya menjauh dari Aileen.


Laki laki itu berusaha keras mentralkan perasaannya. Dia bahkan terlihat sangat kesulitan untuk menahan gejolak yang tiba tiba menyelingkupi tubuhnya dengan kuat.


Entah sejak kapan tubuh David terlalu mudah menegang ketika berdekatan dengan Aileen. Dia selalu merasa tersiksa ketika menahan hasratnya. Tetapi dia berusaha untuk mengendalikannya agar tak menyakiti Aileen. Susah baginya ketika hati ingin selalu berdekatan dengan perempuan itu tetapi tubuhnya tak bisa diajak bekerja sama dengan baik.


David kemudian menekuk kedua lututnya lalu duduk di atas lantai. Dia menyandarkan kepalanya di atas kedua tangannya yang bertumpu di ranjang.


Laki laki itu terlihat tersenyum ketika memandangi wajah Aileen dari dekat. Seakan wajah perempuan itu memberi ketenangan sekaligus kesejukan di dalam hatinya.

__ADS_1


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, David akhirnya bisa memejamkan matanya. Dia bisa tidur dengan tenang tanpa merasa takut kalau kalau Aileen akan pergi meninggalkannya.


__ADS_2