
Setelah menghabiskan sarapannya kemudian Bunga mengganti baju. Dia merasa bingung karena dengan cepat Davien bisa menyiapkan pakaian untuk dirinya padahal lelaki itu tak terlihat keluar dari rumah untuk pergi ke toko.
"Pakai baju ini untuk pergi kerja" Davien meletakkan setelan kemeja dan celana di atas ranjang.
"Kau mendapatkan kemeja ini dari mana?" Bunga berucap sambil menatap ke Davien dan pakaian yang ingin dikenakannya secara bergantian.
Devin terdiam sejenak sambil menatap Bunga. "Itu tidak penting, cepat ganti bajumu, aku akan menunggu di mobil" Davien tak menjawab pertanyaannya, malah berucap meminta Bunga untuk segera berganti baju.
Setelahnya lelaki itu melangkah keluar dari kamar menuju ke garasi.
Bunga sempat terdiam, tak lama kemudian dia meraih setelan baju itu dan memakainya.
***
Mereka berdua berangkat ke kantor bersama namun di tengah jalan perempuan itu meminta kepada Davien untuk menghentikan mobilnya.
"Kau bisa menurunkanku disini?" pandangan Bunga mengarah luar.
Davien tak mengindahkan permintaannya dia masih mengendarai mobil bahkan kini dengan sengaja menambah kecepatan mobilnya.
"Davien! kau tidak mendengar ucapanku?" Bunga kembali berucap.
Lelaki itu tersenyum manis. "Kenapa? Kau tinggal duduk mabis... kalau sudah sampai di tempat kerja kau boleh turun!"
"Aku hanya merasa tidak nyaman jika ada yang tahu aku turun dari mobilmu, apa kata mereka nanti jika ada pegawaimu yang tidak menyukaiku apalagi ketika mereka melihat aku berangkat bekerja bersama denganmu, satu mobil lagi" Bunga mulai gelisah.
"Tenang saja mereka yang tidak menyukaimu... aku akan memecat mereka"Davien berucap dengan santai seolah tak ada beban.
Tetapi berbanding terbalik dengan Bunga, semua yang dilakukan oleh Davien seolah menjadi sebuah beban baginya.
Bunga berusaha untuk tetap tenang dia yakin dia bisa melakukannya. "Apa kau bilang? memecat mereka? Davien kau jangan bercanda!" perempuan itu menoleh menatap Davien dengan kerutan halus di keningnya.
"Aku tidak pernah bercanda dengan ucapanku Bunga, jika ada yang tidak menyukaimu kau tinggal bilang saja padaku maka hari itu juga detik itu juga aku akan memecatnya mereka!"
Bunga terdiam tak membalas atau pun membantah ucapannya, dia merasa akan menjadi malapetaka bagi para pegawai jika menceritakan siapa-siapa saja yang tidak menyukainya di tempat kerja. Banyak yang tidak menyukai Bunga semenjak dia bekerja sebagai OB di perusahaan Davien. Tetapi dia tak pernah mempermasalahkan itu.
__ADS_1
Namun semenjak dia dekat dengan Devien entah kenapa itu malah menjadi seperti sebuah beban yang harus dipikul.
***
Perempuan itu berjalan perlahan menyusuri sebuah lorong menuju ke pantry. "Pagi-pagi sudah melamun!" ucap Loria yang tiba-tiba muncul dari arah belakang hingga membuat Bunga terkejut.
"Kak! kau mengejutkanku! siapa bilang aku melamun?"
"Ayo semangat selesaikan pekerjaanmu!" Loria membawa troli berisi minuman, perempuan itu kemudian berlalu menuju ke ruang rapat.
Bunga terpaku, langkahnya terhenti sementara pandangannya masih tertuju kepada Loria.Tak lama samar-samar dia mendengar percakapan dua orang pegawai perempuan dari arah tangga darurat.
Dia menolehkan ke arah pintu kemudian melangkah perlahan menghampiri sumber suara itu berasal. Kebetulan pintu tidak tertutup dengan rapat, Bunga berdia diri di sana sengaja mencuri dengar percakapan mereka.
2 orang pegawai perempuan itu sedang berbincang mengenai masalah pekerjaan mereka. "Minggu ini adalah minggu terakhir penilaianku, jika aku tidak menyelesaikannya dengan baik aku pasti akan mendapatkan surat penurunan jabatan, bagaimana ini. Aku benar-benar bingung aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan baik aku pusing" ucap seorang pegawai.
"Kau tenang aja, kita bisa meminta tolong orang lain yang ahli di bidang ini."
"Aku benar-benar tidak tahu aku sudah mencoba mempelajarinya tetapi aku saja tidak mengerti" ucap pegawai lainnya.
Seketika Bunga langsung membuka pintu kemudian berucap. "Aku bisa membantumu, kau bisa menyerahkan semua tugas itu kepadaku aku akan menyelesaikannya!" Bunga berucap dengan lantang dia terlihat sangat percaya diri ketika berucap.
Sementara dua orang perempuan yang duduk di anak tangga itu terlihat menolehkan kepala dan menatap Bunga dengan penuh tanda tanya.
***
Terlihat Bunga duduk di ruang kerja pegawai yang tadi sempat mengeluh, dia mencoba membantu mereka untuk menyelesaikan pekerjaan.
2 pegawai yang tadi sempat berbincang-bincang di tangga darurat nampak saling menatap satu sama lain dengan ekspresi wajah tak percaya ketika Bunga yang bekerja sebagai OB mampu menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah selesai" Bunga beranjak berdiri dari kursi.
"Terima kasih, aku nanti pasti akan membayarmu. Kau mau aku traktir makan atau mau belanja? sebagai rasa berterima kasihku ini?".
"Tidak perlu, aku ikhlas membantumu, selagi ilmuku berguna untuk orang lain kenapa tidak!" perempuan itu kemudian melangkah keluar dari ruang kerja.
__ADS_1
Sementara dua pegawai masih tertegun menatap layar komputer dengan mulut menganga, mereka berdua tak percaya bahwa Bunga bisa mengerjakan tugas dengan sempurna.
"Apa-apaan ini, dia bisa menyelesaikannya dengan sempurna" ucap salah satu pegawai.
"Jangan sampai presdir mengetahui kalau yang mengerjakan tugasmu adalah dia, jika sampai tahu kau bisa diturunkan menjadi OB dan perempuan itu akan menduduki posisimu!" sahut pegawai lainnya.
"Kau gila? mana mungkin aku membocorkan rahasia ini, yang terpenting kau juga jaga mulut jangan sampai orang lain tahu!"
***
Bunga bersandar di meja pantry bibirnya mengembang senyum manis mewarnai bibirnya ketika membaca pesan singkat dari Davien.
Lelaki itu meminta Bunga untuk menemaninya makan siang.
Bunga melangkah dengan ragu masuk ke dalam kantin, sebelumnya dia pernah mendapatkan perlakuan buruk dari seorang pegawai di sana. Namun kali ini Bunga mau masuk ke dalam kantin karena Davien yang memintanya.
Pandangan semua orang tertuju kepada Bunga, di dalam kantin hanya dia yang memakai seragam OB membuat Bunga semakin tidak percaya diri.
Langkahnya terlihat ragu namun seketika dari arah belakang Davien meraih tangannya kemudian menggenggamnya erat.
Bunga menoleh kmcepat, Davien twngah tersenyum dengan pandangan lurus kedepan. Berdiri di samping Davien berjalan beriringan membuat semua perempuan yang ada di dalam sana seolah tak rela dengan kedekatan mereka.
"Jangan perdulikan orang lain... ada aku disini. Pikiranmu hanya boleh tertuju padaku, perasaanmu hanya untuk diriku, hatimu hanya ada namaku!" Davien berucap dengan tenang, namun pandangannya masih lurus kedepan.
Bunga hanya bisa diam, benar-benar terpesona dengan keindahan makhluk yang kini masih menggenggam erat tangannya.
Davien menghentikan langkahnya seketika, menoleh kemudian sedikit menundukkan kepalanya. "Hidupmu" sejenak Davien menghentikan ucapannya, kini dia sedang menatap mata Bunga dengan lekat. "Hanya milikku! kau paham!" tambahnya.
Bunga seakan terhipnotis, sepasang mata indah itu masih dengan lembut menatapnya. Dia tak sanggup berucap yang bisa dia lakukan kini hanya menganggukkan kepalanya patuh.
"Tak akan ada yang berani mengganggumu jika mereka melihat apa yang akan aku lakukan kepadamu!" Davien berucap dengan lembut.
"He?"
Lelaki itu meraih pinggangnya kemudian menarik tubuh Bunga agar lebih merapat hingga tak ada jarak di antara mereka "Jangan menolakku!" ucapnya seketika.
__ADS_1
Bunga mengerti apa yang selanjutnya akan di lakukan oleh Davien, kini ekspresi wajahnya nampak begitu sangat tegang.