Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
96. Cemburu?


__ADS_3

Spoler ~ beberapa bab sebelum end ya kak🙏 nanti di lanjut ke novel baru untuk kisah Juliet 🤗


***


Nafas mereka mulai memburu, suasana kabin berubah memanas. Ciuman semakin dalam kala Davien dikuasai nafsu yang membelenggu jiwanya sampai-sampai dia lupa ada Juliet yang tertidur di kursi belakang.


Ciuman terhenti. “Davien!!” suaranya tertahan di tenggorokan, Bunga nyaris berseru saat merasakan tubuhnya bergerak semakin ke belakang karena dorongan dari Davien.


“Aku merindukanmu!” lelaki itu tampak sangat tersiksa terlihat jelas dari wajahnya yang berubah suram. Guratan kasar dan dalam di sekitar kening serta area mata semakin menambah betapa besarnya rasa kesakitan yang di derita olehnya. “Sampai kapan aku harus menahan semuanya?”


“Apa maksudmu?” dalam keadaan tubuhnya sedikit terdorong ke belakang, terlihat jelas kalau Bunga menahan pegal di bagian tulang ekornya. Terlebih lagi Davien tak memberinya jarak sehingga perempuan itu tidak bisa menegakkan tubuhnya.


Tangan Davien yang sempat bertahan di pipinya mulai bergerak meraih pinggang bagian belakang membantu Bunga sedikit mengurangi rasa pegal. Tetapi hal itu justru membuat Bunga terkejut karena Davien ternyata juga menarik tubuhnya sehingga jarak mereka semakin dekat.


Eh! Refleks kedua tangannya berada di dada Davien menahan agar mereka tetap berada di jarak aman karena ketika mencoba mendorong tubuhnya, Bunga bisa merasakan lelaki itu benar-benar berat seolah memang sengaja tak ingin berjauhan.


“Aku bilang... aku merindukanmu!” ucapnya lembut.


‘Ha? Tapi... bagaimana dengan ucapanmu kemarin malam? Kau bilang... kita tidak bisa bersama lagi! Dan sekarang dengan mudahnya kau mengatakan rindu padaku? Apa yang sebenarnya kau inginkan? Apa kau tidak sadar bahwa kau juga sedang mempermainkan perasaanku?’


“Kenapa denganmu?” Davien merasa ada yang aneh setelah melihat raut wajahnya berubah.


“Tidak apa-apa!” jawabnya singkat, Bunga semakin bingung bagaimana menanggapi sikap Davien. “Maaf Davien aku harus–,” Bunga hendak menghindar tapi Davien terlanjur menahannya.


Tak mau memberi kesempatan kepada Bunga untuk menjauh, Davien lagi-lagi menciumnya. Ciuman yang lebih dalam dari sebelumnya. Sampai Bunga kembali terdorong ke belakang hingga tak bisa bergerak lagi karena terhalang pintu mobil.


Karena ulah Davien menimbulkan sedikit guncangan di mobilnya, sehingga Juliet yang terlelap mulai terganggu.


Mmh! Gumamnya saat berusaha membuka mata perlahan. Juliet hendak memejamkan lagi matanya tapi samar-samar mendengar suara berisik dari kursi depan matanya kembali terbuka, memastikan. Setelah yakin bahwa itu suara ibunya, Juliet pun memutuskan untuk beranjak bangun.


Sembari mengusap matanya, Juliet bergerak mengubah posisinya duduk di kursi. Pandangannya masih berbayang belum sepenuhnya jelas. “Ibu?!” ucapnya lirih.


Nyaris tenggelam dalam pagutan bibir keduanya, mereka secara bersamaan membulatkan mata terkejut. Jantung seakan mau melompat dari dadanya, terutama Davien yang seketika bergerak cepat kembali ke posisi semula sampai tak memperhatikan keadaan hingga tanpa sengaja kepalanya membentur pintu mobil.


Dugh!!


“Au!” rintihnya sembari mengusap kepalanya yang sakit. Tak ingin mengacaukan segalanya Davien mencoba tenang mengatur nafas yang memburu.


Tak berbeda dengan Bunga, setelah merapikan rambutnya dia memasang senyum saat memastikan Juliet yang berada di kursi belakang. “Sayang kau sudah bangun?” sempat ujung matanya melirik ke Davien, dia tahu kalau lelaki itu sedang menikmati rasa sakit di pelipisnya karena terbentur lumayan keras. Tetapi Juliet mengalihkan perhatiannya.


“Apa kita sudah sampai di rumah? Juliet masih mengantuk! Huuuuaaahhh....”


Mereka berdua bisa bernafas lega karena sepertinya Juliet tak melihat apa yang mereka berdua sempat lakukan.


***


Byur! Byur!


Keiko tengah mencuci wajahnya di wastafel, setelah tidur beberapa jam akhirnya dia terbangun. Meskipun masih merasa sedikit pusing tapi untungnya dia sudah bisa berjalan sendiri ke kamar mandi. Saat sedang membasuh wajahnya, Keiko merasa ada yang aneh. Merasa ada yang mengganggu dan mengganjal saat tangannya menyentuh permukaan wajah. Dan jelas saja ketika mencoba memastikan, Keiko terkejut melihat sebuah cincin melingkar di jari manisnya.


Untuk sesaat pikirannya kosong, menatap lekat cincin berwarna emas putih dengan hiasan berlian bermata pink berkilau di jarinya. “Ini?”

__ADS_1


“Kau menyukainya?” sahut Marvel yang ternyata sejak tadi berdiri di pintu. Mengetahui Keiko tak ada di ranjangnya bergegas dia segera memastikan keberadaannya di kamar mandi.


Keiko menoleh cepat lalu menatap wajah Marvel dengan penuh kebingungan. “Marvel?? Ini? Kau... apa cincin ini milikmu? Atau milik siapa? Aduh ssh... semalam aku tidak ingat sama sekali. Bagaimana cincin ini ada di jariku?” Keiko hendak melepas cincinnya, tapi Marvel buru-buru mendekat.


“Apa yang sedang lakukan?” ucapnya sembari meraih tangan Keiko, menghentikan usahanya melepas cincin itu.


“Aku hanya–,”


“Cincin ini memang milikmu!” sahutnya.


“Ha? Milikku? Ta, tapi kenapa aku tidak ingat?” Keiko berusaha mengingat semuanya tapi percuma, tak ada sedikit pun kejadian yang dia ingat.


“Kau tidak perlu bingung.” Marvel mengusap pipinya, kemudian merapikan rambut yang berantakan menutupi wajah Keiko. “Aku yang memberikan cincin ini padamu!” setelah selesai berucap, Marvel lalu mengecup punggung tangannya di mana cincin itu berada.


“A.apa? Ci.cincin ini... tapi bagaimana bisa kau memberikan cincin ini padaku? Lalu kau... dan Bunga, kalian... pertunangan kalian semalam, bagaimana?” Keiko merasa tidak enak hati, usahanya melepaskan tangannya yang di genggam Marvel pun percuma.


Lelaki itu menggenggam tangannya erat. “Tidak Keiko! Aku tidak akan melepaskan tanganmu lagi! Tidak untuk saat ini, esok dan selamanya!”


“Apa maksudmu?” kedua matanya memerah nyaris berkaca, tapi Keiko masih mampu menahan air matanya. Entah kenapa tiba-tiba dia ingin menangis hanya karena mendengar ucapan Marvel.


“Dengarkan aku. Semalam tidak ada pertunangan antara aku dengan Bunga!”


“Kenapa?” sahutnya memotong pembicaraan.


“Karena aku sadar hatinya bukan untukku, dan... sebaliknya begitu juga aku! Meskipun berkali-kali aku berusaha menepis perasaanku, meyakinkan diriku bahwa aku menyukai Bunga... semuanya berujung percuma. Karena kau menyadarkanku... bahwa perasaan yang kumiliki tak pernah berubah sampai saat ini! Keiko... setelah kepergian Essie dan kau mulai berubah menjauh, menjaga jarak dariku... saat itulah aku menyadari bahwa aku mulai terbiasa dengan keberadaanmu. Aku merasa kehilangan dirimu, aku mulai merindukanmu hingga sadar ternyata aku telah jatuh hati padamu.”


“He?? Tapi–,”


Tangannya bergerak mengusap pipinya yang basah kemudian merangkup pipi Keiko dengan kedua tangannya. “Aku menyukaimu... menikahlah denganku, Keiko!” Marvel terkejut bukan main, setelah sesaat perempuan itu terdiam tak lama kemudian Keiko menangis sejadi-jadinya. “Tu.tunggu! Kenapa kau menangis sampai seperti ini? Apa aku melakukan kesalahan?” Marvel tampak panik.


Dengan wajah polos Keiko menganggukkan kepala. “Hmm!”


“Serius? Kesalahan apa yang telah aku perbuat? Katakan padaku Keiko... beritahu aku, aku sama sekali tidak mengerti di mana kesalahanku!”


Huaaaaaaa!!!! Tangisnya semakin kencang.


“Astaga! Sayang... berhentilah menangis. Aku mohon!”


Mendengar Marvel memanggil dirinya dengan sebutan ‘sayang’ untuk pertama kali, suara tangisnya semakin kencang.


“Oh ayolah!!! Please aku mohon berhenti jangan menangis lagi!” Marvel memberinya sebuah kecupan di kening berharap Keiko akan berhenti menangis tapi lagi-lagi usahanya percuma. Tak mau putus asa Marvel menambah kecupannya di kedua matanya yang basah dan juga kedua pipi. Nol besar sama sekali tidak manjur. Usaha terakhir Marvel pun mencium bibirnya, memang untuk sesaat Keiko berhenti menangis tapi ketika ciuman terhenti maka perempuan itu menangis lagi.


“Kau... i.ingin ta.hu d.di mana kesalah.anmu?” sahutnya terbata karena nafasnya tersengal akibat menangis.


“Ya! Beritahu padaku di mana kesalahanku!”


Meskipun sedikit mereda, Keiko masih bersedih saat berucap sampai ujung bibirnya tertarik ke bawah persis seperti senyum yang terbalik. “Aku... aku kesal... ka.kar.karena kau, sangat jahat padaku!! Ken... kenapa kau melamarku di kamar mandi!! Aku menginginkan tempat romantis! Setelah sekian tahun karena kesalah pahaman akhirnya kau menyatakan perasaanmu! Ta.tapi kenapa harus di sini?!! Menyebalkan!!” Keiko melampiaskan kekesalannya dengan memukuli dada Marvel berkali-kali.


Bukannya menepis lelaki itu justru membiarkan Keiko memuaskan hatinya. Tak lepas dia juga tertawa mendengar protes dari Keiko yang dianggap sangat lucu. “Kau bisa mengatakannya padaku tanpa harus menangis, sayang! Kau membuatku cemas, kemarilah!” Marvel menarik tubuhnya membawa Keiko dalam dekapan, mengusap punggungnya lembut mencoba menenangkan hatinya. “Aku akan menyiapkan semuanya sesuai dengan yang kau inginkan, kau tahu... aku menunggu saat-saat seperti ini sejak dulu. Meskipun sempat menyerah berharap padamu... terima kasih karena kau membuatku sadar bahwa aku menyukaimu dan karena kau juga yang menyadarkanku untuk tidak berhenti menyerah!”


Jujur Keiko malu, tapi rasa bahagianya jauh lebih besar. Pada akhirnya dia membalas pelukan Marvel dan menyandarkan kepala tepat di dadanya. Selah sekian lama akhirnya Keiko mendapatkan tempat ternyaman untuknya bersandar.

__ADS_1


***


Tok! Tok! Tok!


James masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu dengan membawa berkas tipis di tangannya. “Presdir, silakan. Ini data yang Anda minta... mengenai artis cilik yang akan mengikuti casting hari ini.”


“Hanya enam?” ucapnya setelah membuka berkas itu.


“Total semuanya tujuh, termasuk Juliet tapi... Anda belum mengisi formulir milik Juliet!”


“Oke... aku akan mengisinya nanti. Sekarang kau urus berkas ini dan bawa mereka langsung ke ruang audisi setelah mereka datang! Aku akan menjemput Juliet di sekolah!” Davien beranjak berdiri melangkah ke pintu kemudian keluar menuju lift.


“Baik Presdir.” James mengikuti dari belakang.


Tampak Davien duduk di dalam mobil menunggu Juliet keluar. Saat sibuk membaca pesan dari James, ujung matanya teralihkan ke sebuah mobil taxi yang berhenti tepat di depannya. Davuen melihat Bunga keluar dari mobil itu. Segera tanpa menunggu lama dia melangkah turun kemudian menghampiri perempuan itu.


“Bunga?”


“Davien? Kau... di sini?”


“Aku datang ke sini sengaja menjemput Juliet... kau, kenapa naik taxi?” pandangannya sempat mengarah ke mobil taxi yang baru saja pergi.


“Uhmmm... itu tiba-tiba saja mobilku mogok di jalan. Padahal aku bermaksud membawa Juliet ke kantormu!”


“Owh aku lupa seharusnya aku menghubungimu kalau akan menjemput Juliet... dan lagi, besok-besok kalau kejadian ini terulang... kau bisa menghubungiku. Aku pasti menjemputmu!”


“E, uhmm... iya! Kau, tenang saja tapi aku berharap mobilku tidak akan mogok lagi!”


Davien tersenyum meskipun sadar ucapan Bunga secara halus menolak tawaran darinya.


***


Setelah selesai jam sekolah, Davien membawa Juliet ke tempat kerja begitu juga dengan Bunga. Mereka bertiga datang ke D Entertainment bersama.


“Juliet kau ikutlah masuk terlebih dulu bersama paman, Ibu akan menjawab panggilan sebentar!”


“Baik Ibu!” Juliet menggandeng tangan Davien saat melangkah masuk menuju lobi.


Sementara Bunga sibuk berbicara dengan sekretarisnya melalui ponsel. “Kenapa harus mendadak? Bukankah kau bilang tidak ada rapat setelah ini?” Bunga tidak bisa menemani Juliet ikut casting karena harus kembali ke kantornya. “Baiklah-baiklah aku akan segera datang!” sekarang bagaimana caranya Bunga menjelaskan kepada Juliet agar putrinya tak kecewa karena dia harus pergi. “Tenang! Juliet anak cerdas... pasti dia mau mengerti!”


Bunga segera masuk ke dalam lobi, berencana menemui Davien terlebih dulu. Namun langkahnya terhenti saat melihat Davien dan Juliet sedang bersama seorang perempuan.


Dia tengah berbicara dengan Juliet, terlihat dari senyum putrinya yang tampak ceria seketika Bunga merasakan ada yang hilang, seolah ada sesuatu di dalam hatinya dirampas paksa hingga menyisakan ruang kosong di sana. Apa lagi di tambah adegan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Perempuan itu membalas senyum kepada Davien, tak lama setelahnya dia menyentuh kening di mana luka akibat terbentur mobil semalam berada.


Melihat dari caranya bersikap saat memperlakukan Davien, Bunga yakin kalau mereka memiliki hubungan yang sangat dekat. Jelas sekali terlihat dari bagaimana sikap Davien yang terkesan biasa saat keningnya disentuh belum lagi tak ada perlawanan atau penolakan ketika lengannya dengan leluasa di gandeng oleh perempuan itu. Karena Bunga paham bagaimana sikap Davien terhadap seorang perempuan yang baru saja dia kenal.


Tidak! Hampir tujuh tahun Bunga menghilang itu waktu yang cukup bagi Davien untuk mengenal banyak perempuan. Mengingat dirinya dan Davien yang dulu hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari satu tahun untuk dekat apa lagi perempuan ini. Bisa jadi selama tuju tahun Davien bertemu banyak perempuan lain.


Sialnya lagi Bunga mulai terganggu dengan analisanya sendiri, sadar kalau saat ini dia merasa cemburu, dadanya terasa panas kesal karena suatu hal yang belum pasti.


“Ibu??” seru Juliet melihat ibunya berdiri tak jauh di depan sana.

__ADS_1


Davien yang sedang asyik mengobrol dengan perempuan itu perhatiannya langsung teralihkan ke Bunga.


__ADS_2