
Perjalanan menuju Desa S lumayan memakan waktu yang cukup lama, hampir 3jam lebih Aileen melakukan perjalanan ke sana.
Setelah sampai di desa S. Aileen segera mencari alamat rumah yang sudah di berikan oleh Koyoko sebelumnya.
Pandangan Aileen nampak menyelidik kearah setiap rumah. Semua banguan terlihat sangat mirip, kecil dan sedikit kumuh itulah kesan pertama yang muncul di benak Aileen. Maklum Aileen terlahir dari keluarga yang tergolong sangat kaya. Jadi dia belum pernah melihat tempat tinggal yang seperti saat ini ada di depan matanya.
"Permisi?, , " ucapnya kepada seorang yang sedang duduk depan rumah.
"Iya??"
"Maaf, apa kamu tahu dimana rumah Koyoko?"
"Koyoko??, , yang bekerja di kota?" ucapnya untuk memastikan.
"Iya"
"Itu" dia menunjuk kearah rumah yang tak jauh dari sana. Hanya berjarak 3 rumah dari tempat di mana dia berdiri sekarang.
"Oh, , terima kasih" Aileen menunduk, setelah itu dia berjalan kearah rumah yang sudah di tunjukkan oleh orang itu.
♡♡♡
"Permisi??" serunya.
Tak lama kemudian Koyoko keluar dan menyambut Aileen dengan sebuah pelukan. Perempuan itu menangis tersedu sedu di pelukan Aileen.
"Tenagnkan dirimu Koyoko!, , ada aku di sini" Aileen mengusap lembut punggung sahabatnya, dia berusaha menenangkan Koyoko saat itu.
Tak lama setelah meluapkan emosinya, Koyoko kembali terlihat sedang berusaha menangkan diri. Dia dan Aileen kini terlihat duduk depan teras rumah.
"Berapa lama adikmu mengidap penyakit ini?" Aileen mencoba memulai pembicaraan.
Dengan mata yang masih memerah dan berkaca kaca, Koyoko menjawab pertanyaan Aileen. Bahkan dia terlihat sangat kesusahan saat ingin bernafas karena hidungnya sudah tersumbat cairan dan daging yang membengkak di dalam sana.
"Dia sakit sudah lama. Hanya saja kemarin kemarin tak separah ini. Aku pikir beberapa hari yang lalu sempat sembuh, namun ternyata penyakit itu malah semakin menggerogoti tubuhnya"
"Kanker otak??"
Koyoko mengangguk membenarkan ucapan Aileen, perempuan itu bahkan matanya semakin membengkak. Air matanya pun tak henti hentinya mengalir membasahi pipi.
"Kita akan bawa dia ke Rumah Sakit yang besar" Aileen berucap untuk menenangkan Koyoko.
"Tidak mungkin Aileen, ,aku tidak punya cukup biaya untuk membawanya ke Rumah Sakit besar di kota" perempuan itu seketika mengalihkan pandangannya kearah Aileen.
__ADS_1
"Ada aku, aku yang akan menanggung semua biayanya" Aileen meraih tangan Koyoko untuk memberi semangat kepada sahabatnya itu.
Sementara Koyoko menggelangkan kepalanya, dia tidak yakin dengan dirinya yang akan membebani Aileen nantinya.
"Kamu tidak bisa melakukan ini. Biayanya cukup besar. Aku tidak yakin aku bisa membayarnya nanti!" Koyoko mengusap kasar air matanya.
"Aku tidak meminta dirimu untuk mengembalikan uangnya. Aku juga tidak bermaksud untuk meminjamkan uang itu kepadamu. Tapi, , aku memberikan uang itu kepadamu secara cuma cuma" Perempuan itu berucap dengan sungguh sungguh. Hingga akhirnya malah membuat Koyoko tak percaya.
"Aku tidak bisa menerimanya" Koyoko menepis pelan tangan Ailen.
Aileen beranjak dari tempat duduknya kemudian berdiri di samping tiang salah satu penyangga rumah itu.
"Kalau begitu saat ini juga, persahabatan kita selesai dampai di sini!!"
Koyoko yang terkejut langsung berlari kearah Aileen dan memeluk tubuh perempuan itu dari arah belakang.
"Jangan!!, , hanya kamu sahabat yang akau miliki sampai saat ini. Aku bersedia menjadi pelayanmu untuk membayar semua kebaikanmu ini!"
Aileen memutar tubuhnya menghadap kearah Koyoko.
"Berapa kali aku harus bilang padamu??, , kamu tidak perlu mengembalikan uangnya. Kamu bilang aku sahabatmu satu satunya kan???"
Koyoko mengangguk mendengar pertanyaan Aileen.
Koyoko mengangguk lagi kemudian dia memeluk Aileen dengan sangat erat.
♡♡♡
David yang sedang mengikuti rapat di kantornya hari itu terlihat sangat tidak fokus. Pandangannya kosong dan sering malamun.
Bayangan wajah Aileen selalu berbayang di benaknya. Sekali pun David berusaha mengalihkan pikirannya, dia tak sanggub menghapus senyum Aileen yang selalu menganggunya.
"PresDir??" Sekretarisnya bahkan telah memanggil namanya berkali kali. Namun David tak menyadarinya.
"PreDir!!" Suara itu menggema di telinga David bersamaan dengan tepukan di pundaknya oleh sekretaris.
"Ya??" David langsung memalingkan wajahnya kearah samping di mana sekretarisnya berada.
"Rapat sudah selesai, , apa Anda masih akan tetap tinggal di sini?" Setelah mendengar ucapan Sekretarisnya David baru tersadar bahwa ruangan itu kini sudah sepi.
David langsung beranjak dari kursi dan melangkah pergi dari ruangan itu.
♡♡♡
__ADS_1
Menjelang sore hari David keluar dari ruang kerjanya. Dia berjalan menuju pintu tangga darurat. Namun seketika dia memaku langkahnya di depan lift.
Entah apa yang sedang dia pikirkan, tetapi David ingin mencoba melewati lift itu lagi. Setelah beberapa minggu yang lalu dia sempat berani masuk ketempat sempit itu.
Dan untuk memastikan sekali lagi, David memberanikan diri untuk masuk ke dalam lift setelah pintunya terbuka.
Seketika keringat dingin langsung membasahi keningnya. Dia masih terlihat syok dan sedikit ketakutan.
David berusaha menenangkan diri dengan mengambil nafas dalam dalam lalu mengeluarkannya perlahan untuk mengatur nafasnya yang memburu.
"Ini tidak berhasil David!!, , kamu bisa mati berdiri di sini!!"
David berusaha mentralakan pikirannya kemudian memejamkan mata dan mencoba untuk memikirkan Aileen, perempuan yang selama ini selalu memberi ketenangan di dalam dirinya.
Mulai dari tangannya, tubuhnya, wajahnya, matanya, hidungnya bahkan bibir perempuan itu.
Setelah berhasil membuat bayangan Aileen memenuhi pikirannya. Dada David terlihat bergerak naik turun dengan normal. Kini dia bisa mengatur kembali nafasnya dengan teratur.
David membuka kembali kedua matanya perlahan, dia tersenyum tipis ketika rasa ketakutan di dalam dirinya mulai menghilang secara perlahan.
Pandangannya mulai menyelidik di setiap sisi lift, dan senyumnya semakin lebar ketika dia benar benar bisa memastikan dirinya kini sudah tak takut lagi dengan tempat sempit itu.
♡♡♡
Setelah keluar dari lift, dengan semangat dia mempercepat langkahnya menuju tempat parkir.
Dia mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Laki laki itu ingin segera menemui Aileen untuk berbagi kebahagiaan bersama perempaun itu.
David terlihat sangat tidak sabar, dia ingin segera menemui Aileen. Setelah sampai di depan tempat tinggal Aileen. David menghentikan mobilnya. Dia melangkah menuju pintu masuk.
Tok tok tok !!!
Lumayan lama David menunggu Aileen membuka pintunya, namun dia tak mendapat sahutan dari arah dalam.
David melirik kerah jam tangannya, waktu pun sudah semakin sore. Dan seperti dugaannya Aileen belum pulang sat itu.
"Sudah sore! seharusnya dia sudah ada di dalam rumah!!" gumamnya dengan jengkel.
Raut wajah David terlihat tidak tenang. dia mencoba menghubungi Aileen dengan ponselnya.
David semakin terlihat frustasi ketika tak mendapat jawaban dari Aileen. Dia mengusap kasar wajahnya yang gusar.
Beberapa kali David mencoba menghubungi Aileen, namun perempuan itu tak menjawab panggilannya. Bahkan saat ini ponsel perempuan itu malah tak bisa di hibungi hingga membuat David merasa sangat khawatir.
__ADS_1