Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#158 Sisi lain Adrian


__ADS_3

Barack menatap lekat ke arah laki laki yang duduk di seberang meja. Laki laki berparas tampan, gagah, rambut yang di sisir rapih dan setelan jas berwarna hitam pekat menambah daya tarik tersendiri bagi orang yang melihatnya.


"Kamu mengajakku bertemu karena ingin membahas masalah penting atau ingin mentapku seperti itu?" ucapnya.


Barack terkekeh kemudian. Dia saja sampai terpana dengan laki laki itu.


"Lama tidak bertemu Nathan"


Nathan adalah anak dari kerabat Ayahnya. Dia terlahir dari keluarga yang pas pasan. Umurnya lebih muda 5 tahun dari Barack tetapi laki laki itu sudah menganggabnya seperti adik sendiri. Setelah Lulus dari SMA Baracklah yang membiayai kuliah Nathan. Bahkan semua kebutuhan Nathan di tanggung olehnya. Hingga akhirnya kini dia menjadi agen kepolisian di Paris juga berkat Barack.


Laki laki itu sangat berjasa kepada hidup Nathan.


"Kini kamu semakin bertambah dewasa dan tampan!" Barack berucap untuk menggoda laki laki di depannya.


Nathan hanya tersenyum, dia bukan tipikel laki laki yang suka bertele tele. Mungkin karena itu sudah menjadi gaya hidup saat dia masuk menjadi agen kepolisian.


"Apa yang bisa aku bantu?" ucapnya kemudian sambil meraih secangkir kopi pahit dan menyesapnya perlahan.


Barack mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku jas dan memperlihatkannya ke pada Nathan.


"Kamu tahu orang ini??"


Nathan tak berekspresi apa apa setelah melihat foti itu, Tubuhnya masih duduk dengan tegap di kursinya tanpa bergeser sedikit pun.


Hanya pandangan matanya yang bergerak menyelidik ke arah foto itu.


Perlahan dia mengubah arah panfangan matanya ke pada Barack


"Kamu berurusan dengan laki laki ini?" nathan mencoba menebaknya.


"Sebenarnya itu urusan pribadiku!, , yang aku ingin tahu apakah dia pernah berurusan dengan pihak kepolisian?" Barack berucap dengan nada menuntut.


Nathan berfikir sejenak, dia kembali menatap foto yang masih berada di atas meja.


"Aku tidak bisa memberimu info apa pun tentang laki laki ini!"


Barack tersenyum sinis kemudian.


"Beritahu aku tentang apa pun yang kamu ketahui tentang dia?"


"Ini akan melanggar kode etik Barack!" Nathan berusaha menolak permintaan Barack dengan sopan.


"Anggap saja ini sebuah permohonan dari seorang Kakak!"


Seketika keheningan menyelingkupi mereka berdua.


Nathan terlihat ragu ketika dia menatap mata Barack.


Dia menghela nafas panjang sebelum akhirnya menceritakan apa yang dia ketahui tentang Adrian.


"Ini sudah 9 tahun yang lalu. Kejadiannya dimulai dari warga yang menemukan jasad seorang perempuan hanyut di sungai. Wajahnya hancur, tak bisa dikenali. Setelah pihak kepolisian melakukan autopsi mereka akhirnya mengungkap ke media identitas jasad perempuan itu. Yang tak lain adalah Istri dari Adrian perempuan itu juga tengah hamil. Kandungannya beru berjalan 3 bulan"

__ADS_1


"Aku tahu itu. Aku mendengarnya dari Satya" Barack sejenak memotong pembicaraan.


"Lanjutkan!" ucapnya memberi perintah kepada Nathan.


"Semua bukti yang di temukan di samping mayat itu mengarah kepada Alex!" Nathan menghentikan ucapannya, sengaja memberi waktu kepada Barack untuk mencerna ucapannya.


"Alex??, , siapa dia?" kedua alis Barack menyatu, kerutan halus terlihat di sekitar area matanya.


"Dia kekasih Felis. Istri dari Adrian"


Barack terpaku mendengar cerita Nathan


"Tunggu!, , Alex adalah kekasih Felis??"


"Iya. Menurut penyelidikan, beberapa hari kemudian pihak kepolisian menetapkan Alex sebagai tersangka. Terlebih lagi dugaan semakin menguat ketika pihak kepolisian menemukan semua bukti yang di temukan di rumah Alex!"


"9 tahun?? dua tahun kemudian Luna bertemu dengannya. Apa dia ingin mendapatkan Luna dengan menyingkirkanku juga??"


Barack menghela nafas panjang, dia menarik tubuhnya kebelakang dan memendam punggungnya di sandaran kursi.


"Apa Tak ada satu pun bukti yang mengarah pada Adrian?" Barack melayangkan pertanyaan yang meracau pikirannya


Nathan hanya menggelengkan kepala.


"Beberapa bulan kemudian pengadilan memutuskan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Alex. Namun selang beberapa hari setelah hakim mengetuk palu. Ada seseorang yang mengirim surat gelap ke pihak kepolisian. Di sana tertulis bahwa pelaku pembunuhan kepada Felis bukanlah Alex, melainkan Adrian. Di sana juga tertulis bahwa dia mempunyai bukti dan akan bersedia menjadi saksi untuk persidangan. Apabila kasus itusi tinjau ulang. Namun semua sudah terlambat. Alex saat itu telah mendapatkan hukumannya"


"Hukuman yang seharusnya tidak dia terima!!" Barack berucap untuk menambahkan.


"Kepolisian akhirnya meninjau kembali kasus itu. Dan semua pihak menutup rapat rapat kasus kematian Felis dari publik. Mereka telah mengaku melakukan kesalahan. Hingga pada akhirnya saat pengadilan membuka kembali kasus Felis, laki laki yang bersedia menjadi saksi itu menghilang. Dia tak pernah datang ke pengadilan"


"Sepandai itukah dia hingga bisa mengelabui kalian??" Barack nampak tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Adrian.


"Dia tidak pandai, dia hanya beruntung. Apa kamu ada masalah dengannya!" Nathan berucap dengan nada berat. Setelah melihat kehawatiran menyelingkupi raut wajah laki laki di depannya.


Tidak ada cara lain selain menyeret Adrian ke pengadilan. Bagi Barack hanya itu satu satunya jalan untuk menyingkirkan Adrian dari kehidupan Luna. Jika tidak, Adrian akan tetap terus mengganggu mereka. Bahkan bisa berujung kepada keselamatan orang orang yang di sayanginya.


"Jika aku bisa menemukan bukti yang kuat, , dan membawa kembali orang yang mengirim surat gelap itu. Bisakah kasus kematian felis di buka lagi?"


"Harus ada bukti dan alasan yang kuat. Maka pihak pengadilan akan melakukan pembatalan penutupan kasus sesuai dengan undang undang yang berlaku"


Mendengar penjelasan dari Nathan Barack seolah mendapat angin segar saat itu.


"Dengar Barack. Jika ingin berurusan dengan orang licik. Maka menjadilah licik seperti orang itu. Tetapi kamu harus tetap tenang seolah kamu tidak pernah mengetahui hal ini. Jangan pernah memperlihatkan ketakutanmu di depan Adrian"


Seketika Barack menatap ke arah Nathan. Dia Lupa bahwa Nathan adalah agen kepolisian, tanpa bercerita pun dia pasti tahu masalah yang sedang di alamai oleh Barack.


"Aku ingin kamu melindungi Luna dan David"


"Serahkan semua padaku!, , kamu bisa tenang. Jangan sampai cerita ini membuatmu malah menjadi membahayakan mereka. Ingat jangan bertindak gegabah!" Nathan berucap untuk menenangkan Barack.


Laki laki itu hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


♡♡♡


Helena tengah berjalan melewati kantin, dia memaku langkahnya ketika melihat Luna tengah duduk di salah satu kursi.


Luna sengaja menghabiskan waktu di sana untuk menunggu Barack karena kemarin mereka sempat berjanji akan bertemu membahas masalah fashion show untuk musim semi.


Perempuan itu akhirnya berjalan mendekat ke arah Luna.


"Apa bangku ini kosong?" Helena berucap untuk memohon kepada Luna agar dia bisa duduk di sana.


Luna mengangkat kepalanya. Matanya pun langsung tertuju ke arah Helena. Dia tak bergeming, diam? mungkin itu lebih baik baginya.


Helena tak ambil pusing. Dia langsung duduk di kursi itu. Matanya melihat ke arah Luna yang tengah sibuk membuat desain.


"Aku tidak akan meminta maaf untuk kejadian malam yang sudah berlalu itu!, , karena aku merasa benar! aku merasa aku tidak melakukan apa pun dengan Barack hingga mengharuskan diriku meminta maaf padamu!"


"Aku juga tidak butuh maafmu!" Luna berucap dengan nada sengit. Dia tak mengubah arah pandangan dari selembar kertas di tangannya.


"Apa kamu tidak menyesal telah menceraikan laki laki yang sangat mencintaimu?? bahkan kamu tak mendengarkan penjelasannya terlebih dulu!" Helena terus berucap untuk mengganggu konsentrasi Luna


"Aku bersyukur dengan melihat kalian berdua malam itu. Itu artinya Tuhan menjauhkanku dari orang jahat seperti kalian!!"


Helena tak membantu apa pun untuk mengembalikan kepercayaan Luna kepada Barack. Perempuan itu malah memperkeruh air yang sudah hampir bersih.


Dia masih melihat Luna yang tengah sibuk dengan pensilnya.


"Kamu sepertinya wanita pekerja keras ya?, , bisa dong jika aku menikah nanti, aku ingin kamu yang merancang gaun pernikahanku?"


Luna melirik ke ara helena.


"Aku terlalu sibuk hanya untuk membuat satu gaun. Apa lagi itu gaun pernikahanmu!!" perempuan itu kembali melanjutkan desainnya.


"Bukankah itu ada di kontrak kerjamu!!, kalau kamu akan merancang gaun pernikahanku dengan barack!!" Helena menatap Luna dengan tatapan menjengkelkan.


"Yaaa, , mau gimana lagi, kalian sudah bercerai kemarin Barack pun meminta tolong padaku untuk menikahinya., ,apa kamu keberatan!"


Dada luna seperti di tusuk tusuk pisau ketika mendengar ucapan Helena. Dia terlihat panik saat itu.


"Setelah apa yang dia lakukan selama ini untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, kini dia malah akan menikahi Helena?? apa karena aku terlalu jahat hingga mencampakkannya terlalu lama!! lalu ketika dia berusaha mendekatiku, , untuk apa sebenarnya semua itu!!


Luna memaku tangannya setelah mendengar ucapan Helena. Dia memang tidak tahu isi kontrak kerjanya karena saat itulah Adrian yang menandatanganinya.


"Aku pikir calon suamimu cukup kaya! jadi kalian bisa membayar lebih untuk memilih perancang yang lebih hebat dariku!" Luna beranjak dari kursi.


"Maaf tapi aku masih ada pekerjaan lain" Luna pun pergi meninggalkan Helena.


Sementara Helena terkekeh melihat sikap Luna yang terlihat sangat cemburu saat itu.


♡♡♡


Mohon naaf sebelumnya di bab ini. Karena author tidak memiliki narasumber di bidang hukum. Jadi mungkin ada yang kurang cocok dengan kalian di part Nathan dan Barack.

__ADS_1


Jika ada yang salah mohon bisa memberi tahu author. Langsung akan di review lagi 🙏🙏🙏😘😘😘


__ADS_2