Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#72 Menghindar


__ADS_3

Barack keluar dari bandara dan menaiki sebuah mobil yang sudah di siapkan satya untuknya.


 


Nampak wajahnya sangat terlihat stres, namun dia terus berusaha mereda pikirannya yang campur aduk menjadi satu di benaknya itu.


Mobil yang membawanya berhenti di depan sebuah gedung tinggi yang terpamapang tulisan BS dengan besar di bagian atas depan gedung itu.


Barack melangkahkan kakinya keluar dari mobil dan langsung di kerumuni oleh para pegawainya yang mencoba menghujaninya dengan berbagai pertanyaan, serta curahan isi hati mereka kepada barack.


Barack berusaha dengan sengaja menghiraukan mereka, namun ada satu pertanyaan dari pegawainya yang terus terngiang ngiang di telinganya.


"Bagaimana dengan nasib kami pak?" kata salah satu seorang pegawai yang ikut mengerumuninya.


Barack menghentikan langkahnya dan melihat ke arah orang yang melontarkan pertanyaan itu.


Entah apa yang barack pikirkan, tetapi saat itu matanya terlihat berkaca kaca.


"Aku akan berusaha untuk mengembalikan kondisi perusahaan kita!, , , bagai mana pun juga kalian adalah bagian dari perusahaan ini, jadi aku mohon bantuan kalian, jangan berdiri dan buang buang waktu kalian di sini, , , kembalilah bekerja, dan sisanya, , serahkan padaku!" barack mencoba meyakinkan para pegawainya yang entah dari kapan mereka menunggu kedatangannya.


"Benar, sekarang pak barack sudah ada di sini, kita harus kembali bekerja seperti apa yang dia katakan, , , kita harus bekerja sama membantunya untuk mengembalikan keadaan perusahaan ini" kata salah satu seorang pegawai yang sedang mencoba menyemangati rekan kerja lainnya.


Mereka pun menganggukan kepalanya, dan segera bergegas kembali ke meja mereka masing masing.


Temannya yang bernama satya menyaksikan barack yang sedang menenangkan para pegawainya itu.


Yang sejak dari kemarin dia sendiri sudah mencobanya namun tidak semudah yang di lakukan oleh barack.


Pantas kalau dia memilih barack sebagai CEO perusahaan yang mereka dirikan bersama sama.


Salah satunya karena sifat kepemimpinanya dan cara mengambil keputusan yang selalu di pikirkan secara matang itu.


Dia menyambut kedatangan barack dengan memeluknya dengan erat.


"Bagaimana?, , kamu sudah siap bekerja keras untuk ini?" kata satya.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu" kata barack kepada satya.


Bawasannya di banding satya barack lebih bekerja keras dalam menggapai sesuatu yang sudah di mulainya.


Tidak perduli rintanagn dan hambatan sesusah apapun tapi keyakinannya selalu memberikan jalan keluar di setiap masalahnya.


Mereka berdua berjalan menuju ke ruang rapat yang di hadiri oleh beberapa pemegang saham di perusahaannya.


Wajah barack terlihat sedikit menegang ketika para pemegang saham meminta kembali dana yang sudah mereka kucurkan untuk ikut andil dalam mendirikan perusahaan itu.


"Tapi sesuai perjanjian, , , kalian tidak bisa memintanya kembali lebih dari 50% karena, sudah tertulis di kertas yang ada di depan meja kalian masing masing!!, aku memberikan kopiannya kepada kalian, kalian bisa membacanya" kata barack mempersilakan para pemegang saham untuk membaca kembali aturan perjanjian mereka.


Sambil mengatur nafaanya yang mulai tidak terkontrol karena menahan emosinya.


"Kalau begini, itu jatuhnya kamu menjebak kami dari awal" kata salah satu pemegang saham tertinggi ke 3 setalah barack dan stya.


"Di bagian mananya aku menjebak kalian?" barack menghentikan kata katanya ketika melihat layar ponselnya menyala dan melihat kalau luna sedang memanggil ke nomornya.


Barack pun membalikkan ponselnya agar tidak melihat layarnya yang terus menyala karena luna terus berusaha menghubunginya.


Barack segera melanjutkan rapatnya.


"Bahkan yang kalian dapatkan selama ini sudah berkali kali lipat setiap bulannya jika di akumulasikan, bukan kah di situ tertulis, jika sesuatu terjadi kepada perusahaan, maka pihak ke dua tidak bisa mengambil kembali dananya lebih dari 50% dari jumlah yang sudah di tanamkan untuk perusahaan, namun sebagai gantinya kalian akan mendapatkan dua kali lipat dari jumlah yang sudah seharusnya kalian dapat, dan kalian menandatanganinya itu dengan sadar bukan???" barack kembali meyakinkan mereka.


Cara barack mengikat setiap orang yang bekerja sama dengannya selalu di lakukan dengan perjanjian yang mengikatnya seumur hidup.


Jadi mereka mereka yang ingin bekerja sama dengan barack harus berfikir dua kali.


Karena dia tidak bisa mengambil kembali dana mereka.


Tapi jaminanya mereka akan mendapatkan ke untungan setiap bulannya lebih dari yang perusahaan lain berikan.


Bagaimana pun juga barack berusah untuk menahan mereka agar tidak menarik kembali saham mereka namun sesuai dengan peraturan yang ada.


Akhirnya mereka berunding di dalam ruang rapat itu.


Sedangkan satya memamerkan senyumnya ke arah barack sambil mengacungkan jempolnya dari balik bawah meja.


"Baiklah, kita sepakat, , , kita akan memberimu waktu 1 bulan, untuk mengambalikan keadaan keuangan kita, dan untuk meyakinkan kita kalau perusahaanmu masih layak mendapat sokongan dari kami".

__ADS_1


Barack membenamkan punggungnya ke dinding kursi sambil melipat tangannya.


Terlihat dia menghelas nafas dengan panjang.


Dia hanya berfikir,dalam 1 bulan bisakah dia memulihkan kembali keuangannya yang berjumlah triliyunan itu.


Namun bukan barack jika dia tidak bisa mengatasinya.


"Baik, beri kami waktu satu bulan, aku akan mengembalikan kondisi keuangan kita" kata barack dengan penuh keyakinan.


Sedangkan satya hanya melempar pandangan matanya dengan penuh ke ragaun ke pada barack.


Barack pun membalas tatapan mata satya dengan penuh keyakinan, seperti sedang meyakinkan temannya itu kalau mereka bisa melakukannya bersama.


 


Ruang rapat kembali terasa hening, setelah para pemegang saham meninggalkan kusi mereka masing masing.


 


Terlihat yang tinggal di ruangan itu hanya barack dan satya.


"Kamu yakin?" tanya satya kepada barack yang masih terduduk diam.


"Harus!!" jawabnya dengan pasti.


"Lalu sebenarnya apa yang terjadi sampai sampai, ayahmu tiba tiba menarik semua dananya?".


Mendengar pertanyaan satya barack hanya bisa diam dan tidak menjawabnya.


Dia pun mengalihkan pandangannya ke arah layar ponselnya yang sudah tidak menyala lagi karena luna sepertinya sudah berhenti menelponnya.


"Bisa aku lihat data keuangan kita?" kata barack kepada satya mencoba mengalihkan pembicaraan.


Kemudian satya pun memberikan map hitam berisi beberapa lembar laporan keuangan perusahaan mereka.


"Berapa dana yang di tarik kembali oleh ayahku?" tanya barack.


Satya membantu barack membalikkan setiap lembar dan memperlihatkan jumlah uang yang di tarik oleh ayahnya.


"Ini, , ada laporannya, semua tertulis di sini" kata satya.


"700 triliyun???, , dia tidak menyisakan dananya sedikitpun?" tanyanya ke pada satya.


Satya pun menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Keuntungan kita tahun ini lumayan, , , jadi sedikit membantu menutup keuangan kita, tapi hanya sekitar 15% saja, , sisanya dari mana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam satu bulan?" kata satya.


"Kita pasti bisa mendapatkannya" kata barack dengan penuh keyakinan.


Sejak saat itu barack selalu mengenyampingkan keadaannya sendiri.


Dia selalu bekerja sampai malam, bahkan tidak jarang dia melewatkan jam tidurnya demi terus bekerja keras.


Sesekali kadang terlihat dia hanya tidur di kantornya, itu pun dia juga mencuri curi waktu, bahkan tidurnya tidak lebih dari 2 jam.


Satya sering memperhatikannya dari balik pintu kaca untuk melihat barack.


Dia sering mendapati barack melewatkan jam makan siangnya juga, kalaupun satya memaksa untuk makan pasti sudah melewati jam makan malam.


Kadang dia sempat makan di jam 9 malm ke atas.


Satya selalu ingin membantunya, namun barack selalu melarangnya, sepertinya dia ingin sekali menebus kesalahannya itu dengan bekerja keras dan membuktikan kepada ayahnya kalau dia bisa berdiri sendiri kali ini.


Beberapa kali satya menemani barack untuk menemui para investor, namun mereka selalu di tolak.


Dengan alasan yang sama, semua karena perusahaan mereka sedang collapse.


Dan mereka selalu berfikir kalau perusahaan mereka tidak akan bertahan dalam waktu lebih dari 3 bulan.


Namun barack tidak mau putus asa, dia selalu berjuang dengan keras untuk selalu menggunakan setiap kesempatan yang ada.


 


Tidak 2 atau 3 namun puluhan investor sudah menolaknya.

__ADS_1


Di sisi lain, luna tengah sibuk menyelesaikan tugas akhirnya dengan cici.


 


Dan tidak luput aryo pun selalu menemani luna, karena melihat kondisinya yang semakin memburuk.


Apa lagi setiap melihat dia sedang melihat ke arah ponselnya, dia selalu termenung.


Seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak pasti.


"Kita selesaikan tugasnya bersama sama ya" aryo mencoba menghibur luna.


"Mm" luna hanya mengangguk pelan.


Seminggu pun berlalu, luna terus menantikan kabar dari barack, namun dia tidak pernah menerima balasan pesan dari barack.


Luna selalu menanyakan kabar barack, selalu mengirim pesan singkat padanya.


Namun barack hanya membacanya dan tidak membalas pesannya itu.


 


Kuliah luna telah usai, hanya tinggal menunggu tanggal dimana dia akan di wisuda.


 


Selama itu juga cici tidak pernah melihat senyum lagi di wajah luna.


Aryo dan cici selalu menghibur mereka namun, semuanya sia sia saja.


 


Sambil menunggu wisuda, aryo pun mewakili papahnya untuk melakukan perjalanan bisnisnya ke tokyo.


 


Dia ingin sekali mengajak luna untuk sekedar mengajaknya refresing.


Siapa tahu dengan mengajaknya pergi ke negeri orang dia bisa sedikit melupakan tentang masalah yang sedanh di hadapinya.


"Kamu mau ikut denganku?" tanya aryo.


Sejenak luna hanya diam dan meyakinkan dirinya sendiri.


"Aku akan ikut denganmu!".


Aryo sempat tidak percaya ketika mendengar jawaban yang keluar dari mulut luna.


Cici melihat ke arah luna dengan penuh keheranan.


"Kamu yakin?" cici berusaha meyakinkan luna sekali lagi.


Luna menghela nafasnya dengan pelan.


"Aku selalu membawa masalah untuknya ci, bahkan sejak pertama bertemu dengannya.


Aku selalu memberinya masalah, , kali ini barack memberiku waktu untukku berfikir, kesalahan apa yang sudah aku buat untuknya, dia memberiku ruang dan waktu agar aku bisa belajar mengambil keputusan dengan benar".


"Kamu ingin meninggalkannya?" tanya cici kembali.


"Aku tidak meninggalkannya, tapi dia yang menjauhiku".


"Barack tidak mungkin melakukan hal itu terhadap mu lun? dia pasti sedang sibuk dengan perusahaannya yang ada di paris" cici mencoba meyakinkan.


kali ini nada bicara luna terdengar seperti tidak bertenaga.


"Lalu apa kamu membenarkan sikapnya ke padaku?, , bahkan dia tidak memberiku kesempatan untuk meminta maaf padanya, , hampir satu minggu lebih dia tidak mengangkat telponku, tidak membalas pesanku, tidak memberiku kabar, , , katakan ci!!! kalau kamu di posisiku, apa yang akan kamu lakukan?" luna berhenti sejenak untuk menghela nafas.


"Aku lelah ci" tambahnya.


Cici pun memeluk tubuh sahabatnya dengan erat.


"Aku akan mengatur paspor dan tiket untukmu" kata aryo sambil mengambil ponselnya dari saku celananya.


"Apa pun yang kamu lakukan, , aku akan mendukungmu" cici pun membantu luna masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan barang barang yang akan dibawanya.

__ADS_1


*****


Jangan lupa likenya oke oke😘


__ADS_2