Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#133 Foto 2


__ADS_3

Luna menyelidiki foto itu, matanya mengerucut ke arah perempuan yang ada di samping Barack.


"Perempuan ini??"


Luna kembali mengingat ingat wajah perempuan yang dilihatnya bersama dengan Barack siang tadi ketika di toko berlian.


"Wanita yang sama dengan yang tadi siang aku lihat???"


Luna menghela nafas panjang untuk menetralkan perasaannya. Dia sadar dirinya sedang hamil muda maka dari itu dia berusaha untuk selalu berfikir positif.


Bola mata Luna bergerak melihat ke sekitar Barack di foto itu. Dia melihat nama hotel terpampang jelas di atas gedung yang ada di depan matanya.


♡♡♡


Waktu menunjukkan pukul setengah satu malam. Semalam itu Barack baru saja kembali dari kantor.


Dia membiarkan Jas menggantung di lengannya dengan lusuh seolah menggambarkan betapa banyak waktu dan tenaga yang dia buang untuk bekerja hari itu.


Wajahnya nampak terlihat sangat kelelahan, dia berharap bahwa Luna akan menunggunya di sofa depan ruang tv. Tentu saja itu tidak mungkin terjadi karena kemarin dia sudah melarangnya


Barack membuang jasnya begitu saja di atas sofa.


Setelah itu merebahkan tubuhnya sejenak di sofa. Beberapa menit Barack sempat terlelap, kini dia kembali membuka matanya. Laki laki itu bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk di atas sofa.


Dia memalingkan wajahnya, matanya menatap lurus ke arah pintu kamar. Barack merasa aneh, dia sebenarnya berharap Luna akan terbangun dari tidurnya setelah mengetahui Suaminya itu belum masuk ke dalam kamar sampai selarut itu.


Dia berjalan menuju kamar, tangannya bergerak membuka pintu dan betapa terkejutnya dia ketika melihat lampu kamar masih padam.


Barack mencoba menyalakan lampunya, laki laki itu semakin terkejut ketika melihat ke arah ranjang dan tak menemukan Istrinya berada di sana.


Raut wajah Barack menggelap ketika melihat foto dirinya dan seorang perempuan berjejer rapih di atas ranjangnya.


Barack mendekat ke arah foto itu. Tangannya bergerak meraih salah satu foto, matanya memerah seakan dia benar benar dengan keras manahan emosinya. Rahangnya menguat hingga terlihat syaraf halus di pelipisnya.


Barack memunguti semua foto yang ada di atas ranjang kemudian meremasnya dengan kuat.


Barack keluar dari kamar dan membuang foto itu ke tong sampah.


Tangannya meraih ponsel yang ada di saku celana, dia berusaha menghubungi orang tua Luna. Namun laki laki itu mengurungkan niatnya. Jiak benar Luna berada di sana, mungkin orang tuanya tidak akan khawatir ketika Barack menghubunginya. Akan tetapi jika Luna tidak pulang ke sana dan Barack menghubungi kedua orang tua Luna di jam jam seperti sekarang yang ada hanya akan membuat mereka khawatir nantinya.


♡♡♡


Barack menyusuri jalanan di sekitar apartementnya. Sesekali dia melirik kearah jam tangan. Dia mengenyampingkan rasa lelahnya saat itu dan lebih memilih menemukan Luna terlebih dulu.


Laki laki itu menepikan mobilnya, dia berusaha menenangkan diri sejenak untuk menguasai emosi yang melingkupi tubuhnya.


Tangan Barack bergerak meraih ponsel yang ada di kursi samping ketika melihat layarnya menyala.

__ADS_1


Barack menghela nafas panjang ketika mendapat pesan singkat dari Cici.


Laki laki itu langsung mengendarai mobilnya kembali.


♡♡♡


Barack menghentikan mobilnya di depan rumah milik tantenya Cici.


Dia melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya, berusaha keras untuk tetap tenang di dalam mobil. Laki laki itu meraih pengait yang ada di samping kursi dan mendorong dinding kursi ke arah belakang dengan punggungnya.


Ada sedikit kelegaan di hati Barack ketika mengetahui Luna berada di sana.


Dia sengaja tidak keluar dari mobil dan lebih memilih menunggu keesokan paginya untuk menemui Luna.


♡♡♡


Cici masih bermalas malasan di atas ranjang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Dia menarik selimut dan semakin memperdalam tubuhnya di sana.


Dia merasa malu ketika harus bertatap muka dengan Aryo setelah kejadian kemarin di lift.


Ucapan laki laki itu benar benar membuatnya seakan menjadi wanita yang taramat menjengkelkan.


Cici meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Rosa untuk meminta izin hari itu.


"Kamu tidak berangkat Ci?" Luna membuka selimut yang menutupi wajah sahabatnya itu.


"Mmm, , aku ambil cuti untuk menemanimu" Cici berusah menghibur sahabatnya. Padahal dia tahu bahwa dirinya juga merasa sedang tidak baik saat itu.


"Kenapa membahas hubunganku dengan Aryo?? lalu bagaimana dengan dirimu? semalam kamu belum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangga kalian?" Cici berusah menggali informasi dari sahabatnya.


"Aku tidak"


"Jangan katakan kamu tidak apa apa!! wajahmu tidak bisa berbohong saat ini" ucap Cici, dia memotong pembicaraan.


Dengan berat hati Luna menceritakan semua maslah yang sedang di hadapinya.


"Aku tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tanggamu sebenarnya Lun. Tapi melihat dirimu yang sedang tidak berdaya ini membuatku harus memberimu sebuah petuah. Lain kali jangan lari seperti ini, kamu harus bertanya kepada suamimu terlebih dulu dan memberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya, dan hal yang paling tidak ingin kamu dengar adalah alasan dari mulut Suamimu, tetapi kamu harus mendengarkan penjelasannya terlebih dulu baru mengambil sikap"


"Aku takut aku tidak bisa mengontrol emosiku ketika melihatnya Ci. Maka dari itu aku lebih memilih menenangkan pikiranku terlebih dulu. Tunggu!! kamu berucap seolah kamu ahli dalam bidang ini. Sementara sekarang, coba lihat dengan masalah pribadimu sendiri. Kamu juga tidak pecus menghadapi Aryo, makanya kamu lebih memilih lari dan tidak berangkat kerja kan hari ini?" ucap Luna, dia seolah dengan benar menebak isi hati sahabatnya.


Cici hanya terkekeh mendengar ucapan Luna.


Ting tong !!!


Luna melirik ke arah Cici ketika mendengar bunyi bel pagi itu.


"Kamu memberitahu Barack kalau aku berada di sini?" ucap Luna kemudian.

__ADS_1


Firasatnya kuat bahwa yang datang pasti Suaminya.


"Maaf Lun, tapi aku tidak bisa membiarkan Barack menunggu seharian di luar"


Dahi Luna berkerut. Dia beranjak dari ranjang dan berjalan mendekati jendela dia mengintip ke arah luar.


Matanya tertuju pada mobil Barack yang terparkir di luar.


"Apa semalam Barack tidur di dalam mobil?" ujung matanya tertuju kembali kepada Cici.


Perempuan itu mengangguk menjawab pertanyaan Luna.


"Sepertinya si begitu" Cici beranjak dari ranjang dan melangkah ke luar dari kamar.


♡♡♡


"Masuklah" Cici mempersilahkan Barack masuk kedalam setelah membuka pintu.


Barack mengawasi setiap sudut ruangan itu.


"Dia di kamar" Cici tahu apa yang sedang di cari oleh Barack.


"Masuklah"


Barack melangkah cepat masuk ke dalam kamar Cici. Dia melihat Luna tengah berdiri sembari memandang keluar dari balik jendela.


Luna menyadari kedatangan Barack, namun dia tidak bergeming dan lebih memilih berdiam diri.


Ada sedikit keraguan di hati Barack ketika ingin melangkah mendekati Istrinya.


Kedua tangan Barack menelusupi pinggang Luna dan melingkar di sana. Laki laki itu telah berhasil memeluk tubuh Istrinya dari arah belakang.


Mata Luna nampak berkaca kaca, hidungnya memerah karena berusaha menahan tangisnya.


"Aku mohon Luna, jangan menangis. Aku tidak akan meminta maaf karena aku merasa tidak melakukan kesalahan saat ini" Barack berusaha bersikap tenang.


"Bagaimana dengan foto itu?" suara Luna terdengar lirih. Matanya masih menatap ke arah luar.


"Dia helena, aku pergi ke hotel bukan untuk melakukan hal hina dengannya. Aku pergi kesana karena menemui undangan Ayahnya. Bukannya aku sudah pernah cerita denganmu. Kita hanya makan di sana dan membahas masalah pekerjaan. Bukan yang lainnya"


Luna melepas tangan Suaminya. Dia membelikkan tubuh menghadap ke arah Barack kemudian menatap matanya dengan penuh tanya.


"Lalu dengan kemarin siang? aku melihatmu di toko berlian dengan seorang perempuan" Luna menghela nafas panjang, dia berusaha menetralkan perasaannya agar emosi yang menumpuk di dalam hatinya tidak mencuat begitu saja. "Perempuan yang sama dengan yang ada di foto itu. Apa kamu akan bilang itu sebuah kebetulan!" Luna berucap dengan nada penuh penekanan di setiap kata katanya.


Barack tersenyum menanggapi pertanyaan Luna, sejenak dia menunduk sebelum kembali menatap mata Istrinya.


"Itu memang kebetulan. Aku bertemu dengannya di sana ketika" ucapan Barack terputus. Laki laki itu nampak ragu ketika ingin melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Kedua alis Luna terangkat seolah benar benar menunggu jawaban dari mulut Suaminya.


"Baiklah aku akan mengaku"


__ADS_2