Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#54 Untuk siapa


__ADS_3

 


Di kantin kampus, terlihat luna tengah sibuk meracik baksonya dengan memasukkan saos, kecap dan sambel secara bergantian.


 


"Busseett daaaah, , itu sambel banyak sekali lun, , hati hati lo, usus buntu nanti!" cici mencoba mengingatkan luna yang sedang menambahkan sambal beberapa sendok ke dalam mangkok baksonya.


"Mana ada, biji cabe bisa buat usus buntu?, , kamu kalau bicara kadang suka seperti emak emak yang lagi marahin anaknya ya!" kata luna sambil terus mengaduk campur baksonya, sambil sesekali mencicipi kuahnya untuk memastikan apakah rasanya sudah pas sesuai seleranya atau belum.


"Yeee, , memang dasar kamu suka ngeyelan ya, orangnya" kata cici sambil menunjuk nunjuk ke arah luna.


"Ih apaan sih ci, , tidak usah sambil nunjuk nunjuk begitu juga kali, malu dilihatin sama yang lain" kata luna sambil menyingkirkan tangan cici.


"Mau dong di suapin" kata aryo sedang menggoda luna yang tiba tiba saja datang dan duduk di seberang meja depan luna.


"Sini aku suapin, buat kamu apa sih yang tidak, , ini sambal buatan mbok darmi, juru masak kantin kita rasanya nyyyoooss!! sekali" kata cici mengambil sesendok sambel dan di arahkannya ke mulut aryo.


"Ci!! kamu jahat banget sih, , mau balas dendam ya, karena kemarin aku sudah meninggalkanmu di gra*****" kata aryo.


"Lagi pula ya!!! kamu yang ngajak minta anterin nyari buku, kamu juga yang lupa kalau kamu mengajakku! kan aneh, pasti sengaja kamu kan ninggal aku di sana?" kata cici dengan menaikkan sedikit nada bicaranya.


"Tunggu tunggu, , ini maksutnya apa ya??? ninggal?? gra*****?? nyari buku?? buku apa?" kata luna merasa kebingungan setelah mendengar aryo dan cici bertengkar.


"Sebenarnya semalam kan aku coba telepon kamu lun, aku mau mengajak kamu sma cici cari buku untuk bahan materi tugas akhir, waktu aku telepon kamu kebetulan yang angkat barack, , pakai marah marah lagi dia, , hadeeh" kata aryo.


"Ya jelas dia marah, kamu telepon dia jam berapa coba? sudah malam kali!" cici menyaut pembicaraan.


Luna pun mengingat saat semalam barack marah marah setelah dia mengangkat telepon dari aryo.


"Terus kenapa cici marah sama kamu?, , terus maksutnya di tinggal apa?" tanya cici kepada aryo.


"Jadi kemarin kan aku sama dia pas sudah sampai gra***** kita cari bukunya tuh berpencar, , ada kali satu jam lebih lah, , nah aku tuh tidak ingat kalau aku kesana mengajak cici, karena aku pikir kamu tidak jadi ikut pastinya ya cici juga tidak ikut kan, begitu, tapi benar deh, serius sumpah, aku tidak ingat kalau cici ikut waktu itu, , tapikan aku kembali lagi buat menjemput kamu" aryo mencoba menjelaskan.


"Iya kembali lagi, setelah aku telepon kamu, baru kamu ingat, dan jemput aku kembali, coba kalau aku tidak telepon kamu!!!" kata cici.


"Oooohh, , kirain di tinggal kenapa" kata luna, sambil terus melahap baksonya.


"Lun?" suara aryo tiba tiba terdengar berat saat itu.


"Hm???, kenapa?" tanya luna sambil mengarahkan pandangannya ke arah aryo yang ada di depannya.


"Serius besok kamu mau tunangan sama dia?" kata aryo, wajahnya seketika berubah menjadi serius.


"Iya, , kenapa?" tanya luna.


"Terus aku bagaimana lun?" kata aryo.


"Pikir saja ndiri" saut cici.


Aryo pun melirik ke arah wajah cici dengan tatapan galak.


"Bagaimana apanya??? ya terserah kamu lah, , kan masih ada cici" kata luna dengan nada menyepelekan.


Cicipun langsung melirik ke arah luna.


"Maksutnya apa coba?? kok masih ada aku???" tanya cici.


Mendengar kata kata luna, aryo dan cici pun saling melempar dengan sengit.


"Seperti tidak ada wanita lain saja" kata aryo menggerutu.


"Hey, , aku dengar lo ya, kamu ngomong apa!!!" kata cici kepada aryo.


"Hati hati kamu yo, , kamu harus belajar dari yang sudah sudah"kata luna.

__ADS_1


Maksutnya adalah jangan menyepelekan wanita yang ada di depanmu siapa tahu nantinya malah balik suka seperti waktu luna mengejar ngejar aryo.


Aryo pun membuang pandangan ke arah lain untuk menghindari tatapan mata cici yang galak ke arahnya.


dreeettt, , dreeett, , ponsel luna bergetar.


Terlihat di layar ponsel luna, barack memanggil.


"Halo?" luna menjawab telepon dari barack dengan wajah penuh kegembiraan.


Aryo pun mengalihkan pandangannnya ke arah luna yang sedang menjawab telepon.


"Aku sudah di depan kampus" terdengar suara barack dari ujung ponsel luna.


"Ha??, , oke aku segera kesana" luna pun segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dan segera pergi menemui barack.


"Aku pergi dulu, tolong bayar baksoku ya ci, , mmmmuah" kata luna sambil mencium pipi cici dan pergi meninggalkannya di kantin dengan aryo.


"Kok aku tidak di cium lun" kata aryo sambil memegangi pipinya.


"Tuh minta sama cici" kata luna sambil menaikkan nada bicaranya.


Cici pun terpelongo mendengar kata kata luna.


"Idiiih" kata cici.


Cici dan aryo pun saling memalingkan wajah mereka.


Luna segera berlari menuju ke arah pintu gerbang kampus.


Dilihatnya barack tengah berdiri dan bersandar di mobil.


Wajah luna terlihat penuh kegembiraan saat mengetahui barack menjemputnya.


"Baru juga sampai, langsung telepon kamu" kata barack sambil mengusap rambut luna dengan lembut.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.


Di tengah jalan luna merasa ada yang aneh dengan jalanan di sekitarnya, pasalnya jalan itu nampak bukan seperti jalan menuju ke arah rumahnya.


Mulai terlihat kerutan di dahi luna yang masih kebingungan sambil melihat ke arah keluar dari kaca mobil.


"Ini, , kita mau pergi kemana?" tanya luna dengan penuh kebingungan di wajahnya.


Namun barack tidak menjawab, dia hanya melihat ke arah luna sambil memperlihatkan senyum penuh mencurigakan di wajahnya.


"Kok diam?, , kita mau kemana?, , barack?" luna terus saja bertanya kepada barack namun barack tetap saja diam.


"Aku loncat loh, kalau kamu masih saja diam" luna mencoba mengancam barack sambil memegangi gagang pintu mobilnya.


Mendengar ancaman luna, barack langsung menepikan mobilnya.


Barack pun melepas sabuk pengamannya dang mendorong tubuhnya sendiri mendekati luna.


Luna merasa kaget melihat barack mendekatinya, dia pun menarik tubuhnya sendiri sampai terpentok dinding kursi di belakangnya.


Barack langsung membenamkan wajahnya ke bagian leher luna hingga membuatnya merasakan kegelian.


Barack sengaja melakukannya untuk menggelitiki luna.


"Aaaaaaaaaaaa" Luna berteriak sambil berusaha mendorong tubuh barack, barack hanya tersenyum melihat luna menggeliat menahan rasa geli.


" Barack ih, , geli tahu, ," luna maraih kepala barack yang masih terus menempel di lehernya itu.


Bermaksut mencoba untuk mendorong kepala barack agar menjauh dari lehernya.

__ADS_1


Namun kerena menahan rasa geli yang di buat oleh barack tanyannya pun seperti tidak punya tenaga.


Mendengar tawa luna karena mencoba menahan geli, barack semakin semangat menciummi leher luna.


"Sumpah geli, , barack!, , sudah ah, , " luna terus meronta ronta memohon kepada barack untuk berhenti menciummi lehernya.


Barack pun menarik kembali kepalanya dari leher luna.


Terdengar nafas luna terengah engah karena perlakuan barack padanya.


Namun barack malah tersenyum melihat tingkah luna itu.


"Apa!!!, , malah tertawa, geli tahu" kata luna dengan nada galak.


Sambil membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.


Terlihat tawanya mulai menghilang dan kini wajahnya mulai jutek kepada barack.


"lagi pula aku cuma tanya, kita mau kemana?, , bukanya menjawab malah" kata luna mulai sewot.


"Kamu bisa diam tidak?, , atau aku harus membungkam mulut mu?" kata barack sambil melihat ke arah bibir luna.


Dengan sigap luna pun langsung menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


Barack menarik tubuhnya kembali ke kursinya dan memakai sabuk pengamannya lagi.


Kemudian menyalakan mobilnya lagi dan bergegas melanjutkan perjalanannya


Luna pun akhirnya diam dan membiarkan barack menyetir mobilnya tanpa harus menanyakan kemana dia akan membawanya pergi.


Sesekali di arahkannya pandangan luna ke arah barack yang sedang serius menyetir, dan tanpa sengaja dia melihat sebuah paparbag bertuliskan jewelry yang ada di belakang kursi barack.


Pastinya isinya berhubungan dengan perhiasan.


Namun luna sengaja tidak mau menanyakannya kepada barack.


Karena takut kalau ternyata barang itu di persiapkan barack bukan untuknya.


Tapi, luna terus merasa penasaran dengan paperbag itu.


Luna pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada barack.


Dan yang pasti sudah mempersiapkan hatinya saat mendengar jawaban barack nantinya.


"Itu, , apa??" tanya luna sambil melihat ke arah paperbag yang ada di belakan kursi barack.


Barak pun melihat ke arah luna saat dia sedang melihat ke arah kursi belakangnya di mana paperbag itu berada.


Jadi barack tahu apa yang sedang di pertanyakan luna.


Wajahnya menjadi sedikit pucat setelah mendengar pertanyaan luna.


"Oh, , mmm itu, , sebenarnya" terlihat wajah barack seperti menutupi sesuatu.


"Mmm, , kalau tidak mau jawab juga tidak apa apa kok" Namun terlihat sekali di wajah luna kalau dia benar benar kecewa.


Mungkin saja itu memang bukan untuk nya, namun kalau untuk orang lain, pastinya itu untuk klara, atau memang benar kalau barack masih berhubungan dengan klara, tanpa sepengetahuannya.



Luna pun hanya diam dan tidak memaksa barack untuk menjelaskan sebenarnya barang itu untuk siapa.


Sedangkan barack sesekali melirik ke arah luna yang terus diam, terlihat sekali wajahnya benar benar merasa bersalah kepada luna.


***

__ADS_1


__ADS_2