Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
13 S3: Love's Romance Merubah sikap


__ADS_3

Pagi itu Bunga tengah siap berangkat kerja. Setelah berhasil menutup dan mengunci pintu, nampak dua orang laki laki berpakaian resmi datang menghampirirnya.


"Permisi" ucap salah seorang kepada Bunga.


"E, , iya?" Bunga terkejut hingga memaku tubuhnya. Pandangannya menyelidik ke arah dua orang yang berdiri di depannya.


"Benar ini dengan Nona Bunga?"


Bunga kebingungan dia masih mencoba memgawasi kedua orang itu.


"Iya itu aku" ucapnya kemudian.


"Kami datang kemari ingin memberikan hadiah undian"


Keningnya berkerut kasar hingga terlihat dalam di sekitar matanya, raut wajahnya semakin terlihat kebingungan mendengar ucapan laki laki itu.


"Undian apa ya?, , aku tidak pernah merasa mengikuti undian?" pikirannya melayang, mengingat kembali kepan dia pernah mengikuti undian berhadiah itu. Matanya membulat ketika mengingat beberapa bulan yang lalu dia pernah mengikuti undian di salah satu majalah. Hanya bermodalkan keberuntungan dan tak pernah berharap akan menang. Tetapi saat ini Bunga mendapatkan hadiah itu.


"Aku ingat, lalu hadiah apa yang aku dapat?"


♡♡♡


Bunga semakin kebingungan ketika kedua orang itu meminta Bunga untuk ikut ke kantor bersama dengan mereka. Matanya menyeledik ke lobi yang sangat luas dan terbilang istimewa.


Lobi sebuah apartement berbintag 5. Bunga menerka nerka apakah dia akan mendapatkan salah satu unit apartement di sana.


Laki laki itu berjalan kesebuah ruangan dan meminta Bunga untuk mengikutinya. Perempuan itu duduk di kursi. Dengan raut wajah penuh tanda tanya Bunga kemudian berucap.


"Kenapa kalian membawaku kemari?"


"Karena Nona mendapatkan salah satu unit apartement di sini sebagai hadiahnya, kami sudah mempersiapkan berkas kepemilikan untuk ditanda tangani" Laki laki itu yang menjabat sebagai Manager di tempat itu mengambil sebuah map dari beberapa tumpukan map yang ada di atas meja. Membukanya kemudian menyodorkannya ke arah Bunga.


Bunga masih belum bisa percaya dengan apa yang sedang terjadi dengannya saat itu. Mendapatkan sebuah apartement berbintang 5 seakan sebuan mimpi yang tak akan pernah terjadi.


"Tapi, , ini bukan sebuah penipuan kan??"


Menager itu terkekeh.


"Nona, , bagaimana mungkin ini sebuah penipuan. Aku sengaja membawamu kemari untuk lebih meyakinkanmu. Ini salah satu apartement ternama di sini, kamu bisa menuntut kami jika kami memang melakukan penipuan"


"Lalu, , adakah pajak yang harus aku bayar?" Bunga merasa khawatir dengan hal itu. Jika memang benar dia harus membayar pajak maka akan lebih baik jika Bunga tak menerimanya. Karena gajinya satu bulan pun tak akan cukup untuk membayar itu.


"Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Semua pajak bahkan biaya yang lain semua di tanggung oleh pihak kami. Nona tinggal menempatinya bahkan kami sudah menyiapkan semua isinya" ucapnya memperjelas.


Bunga hanya bisa diam, masih berusaha meyakinkan diri sendiri apakah itu hanya sebuah mimpi atau bukan.


"Ee, , tapi benarkah aku yang memenangkannya?, sebenarnya aku sendiri juga sudah lupa telah mengikuti undian itu"


"Nona hanya tinggal menerima hadiah undian ini. Kemudian menempatinya, karena kalau tidak justru perusahaan kami akan menuntuk ganti rugi dan melelang apartement ini!" laki laki itu berucap dengan tegas.


Tanpa berfikir panjang Bunga neraih pena lalu menandatanganinya. Siapa yang tidak suka mendapatkan hadiah apartrment dengan kelas bintang 5 seperti ini?. Ketimbang harus membayar denda yang akan memberatkannya nanti.


"Sudah!" Bunga meletakkan kembali penanya.


"Terima kasih atas kerja samanya. Nona Bunga bisa menempati apartemen mulai hari ini" manager memberikan sebuah kartu akses untuk masuk ke dalam apartementnya.

__ADS_1


"Ee, , terima kasih" Bunga menatap kartu itu lama, sebelum akhirnya dia mengambilnya dan pergi dari tempat itu.


"Pegawai juga akan mengurus barang barang Nona yang ada di rumah itu dan membawanya kemari. Jadi nanti setelas pulang kerja Nona bisa langsung pulang kemari"


"Apa harus sampai sebegitunya?, aku bisa melakukan sendiri untuk hal ini" Bunga semakin bingung. Pelayanan mereka sungguh di luar nalar. Seolah terlalu memaksakan kehendaknya agar Bunga mau dan segera menempati tempat itu.


"Nona jangan khawatir, kami akan selalu melayani semua penghuni apartemen ini dengan baik. jadi jangan sungkan"


♡♡♡


Bunga berjalan masuk melewati lobi menuju pantri. Perempuan itu terlihat melamun, masih belum percaya bahwa hari ini dia mendapatkan apartement itu.


"Sudah datang terlambat dan sekarang kamu malah


melamun?" Loria berseru ketika Bunga berhasil masuk ke dalam pantri.


"Cepat ganti pakaianmu, tadi Pres Dir sempat menanyakan dirimu ketika aku harus mengantarkan minuman untuknya!"


"Kak??" Bunga menoleh melihat Loria yang sedang sibuk mengelap meja.


"Apa?"


Bunga ingin bercerita mengenai masalah pribadanya kepada perempuan itu, terlebih lagi mengenai soal hadiah undian tadi pagi. Tetapi mengingat bahwa hubungan mereka tak terlalu dekat, Bunga akhirnya mengurungkan niatnya.


"Apa??" Loria mengeraskan suaranya.


"Tidak jadi kak!" Bunga pergi ke ruang ganti untuk berganti pakaian.


"Heeeh, , dasar! cepat ganti pakaianmu lalu bersihkan ruangannya"


"Iya!"


Tok tok tok!


Bunga mengetuk pintuk sebelum masuk ke dalam ruangan. Merasa aman dan nyaman ketika Davien tak ada di ruang kerjanya. Dia merasa bisa leluasa membersihkan tempat itu. Bunga berjalan meletakkan semua peralatannya, dia bergerak ke sisi lain untuk membersihkan dari bagian yang mudah di jangkau.


Membersihkan meja dan menata rapir map yang sempat berserakan di sana. Kemudian membersihkan bagian lainnya yang ada di dalam ruangan itu.


Setelahnya Bunga melepas sepatu yang dikenakannya, menyeret, lalu memakai kursi kerja milik Davien sebagai pijakan untuk membersihkan bagian atas rak yang penuh dengan buku buku besar.


Tak lama Davien masuk ke dalam ruang kerjanya. Tubuhnya repaku ketika melihat Bunga berdiri di atas kursinya.


"Aku heran!, , buku sebanyak dan setebal ini apa iya dia membacanya semua??" Bunga menggunakan kemoceng untuk membersihkan debu di sela sela buku.


Davien berjalan mendekat dan perlahan mendekati Bunga. kemudian berdiri tepat di belakang perempuan itu. Mendengarkan ocehan serta umpat yang di tujukan kepadanya.


"Tidak heran kalau dia suka membaca!, , dilihat dari sikapnya yang dingin dan sedikit bicara saja sudah terlihat. Kalu dia sering menghabiskan waktunya untuk menyindiri dengan buku buku besar ini!! sepertinya hanya buku ini yang menjadi temannya??"


"Benarkah?!" ucap davien seketika. Membuat Bunga terkejut dan langsung memutar tubuhnya. Kursi dengan 4 roda di bagian bawahnya itu bergerak ketika Bunga menggerakkan tubuhnya, membuat Bunga tak dapat mengendalikan tubuhnya dengan baik.


Perempuan itu terguncang hingga akhirnya jatuh. Davien yang berada di depannya dengan santai menangkap Bunga. Dia melingkarkan kedua tangannya ke paha dan mendekap perempuan itu.


Bunga yang posisinya jauh lebih tinggi ketika jatuh membuat dia harus memeluk kepala Davien dengan erat setelah laki laki itu menolongnya.


Davien bisa merasakan detak jantungnya yang kencang. Terlebih lagi ketika Bunga bernafas, dia bisa merasakan dadanya bergerak cepat.

__ADS_1


Bunga menarik tubuhnya kebelakang menjauh. Perempuan itu masih bertahan di gendongan, entah kapan Davien akan melepaskannya.


Laki laki itu mendongak menatap wajah Bunga.


"Kamu memakai parfumnya??" ucapnya seketika. Karena Davien mencium aroma yang berbeda dari tubuh Bunga.


Ya, waktu Davien kemarin sempat marah karena Bunga tak memakainya. Dia kemudian meminta kembali parfum yang sempat di berikannya kepada Loria. Karena Bunga tak ingin mendapatkan masalah lagi dalam pekerjaannya.


Bunga menggunakan kedua tangannya untuk mnyangga tubuh agar tak terlalu dekat dengan Davien.


"E, , iya. Aku memakainya" pipinya merona. Bunga terlihat gugup ketika Davien terus menatapnya.


"Maaf Pres Dir!, , bisakah kamu menurunkanku terlebih dulu?"


"Kenapa?"


Dadanya semakin tak karuan ketika Davien malah melontarkan pertanyaan. Bunga hanya ingin turun karena takut jika tiba tiba ada yang masuk dan melihat mereka dalam keadaan seperti itu.


"Karena aku takut jika seseorang masuk dan salah sangka dengan"


"Aku tidak peduli!!" Davien memotong pembicaraan.


"Apa maksudnya??, , apa semalam dia salah minum obat??"


Bunga berusaha mencerna ucapannya. Laki laki itu tak bisa ditebak. Mungkin saat ini Davien memang terlihat sangat manis tetapi beberapa menit kemudian dia bisa kembali terlihat kejam.


Davien sudah memikirkan semuanya. Bunga, perasaannya, Davien mengakui bahwa dia memang tak bisa jauh dari perempuan itu.


"Bunga"


"Apa aku tidak salah dengar??, , ,dia menyebut namaku???"


Bibirnya terpaku tak dapat berucap. Hanya bisa menunduk menatap mata Davien dengan lekat.


"Sadar Bunga!!, , ingat ucapan Olive. Davien tak akan pernah bisa melupakan kekasihnya!!, , jangan berfikir yang tidak tidak!!"


"Iya Pres Dir??" jantungnya semakin berdetak cepat tak beraturan.


"Bisakah kita mulai dari awal?" Davien mengingat pertemuannya dengan Bunga saat pertama kali. Mereka bertemu tanpa sengaja dan saling membenci. Davien ingin mengulangi semuanya tanpa ada kesalah pahaman diantara mereka seperti yang terjadi saat itu.


Bunga tak mengerti dengan ucapannya. Dia tak ingin berharap lebih yang nantinya pasti akan membuat hatinya tersakiti.


"Maaf Pres Dir, aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Aku mohon turunkan aku!!" Bunga berucap dengan tegas. Dia tak ingin terlihat lemah lagi ketika berada didekat Davien.


Berbeda dengan Davien, dia sudah memikirkannnya beberapa malam ini. Hingga hampir tak bisa tidur nyenyak karena hanya ada Wajah Bunga di pikirannya.


Davien mencoba mengalahkan ego dan memilih membuang jauh harga dirinya ketika berada di dekat perempuan itu.


Ingin perlahan merubah sikapnya yang selama ini dingin terhadap Bunga. Menjadi lebih lembut. Masa bodoh dengan penilaian orang orang nantinya. Yang terpenting bisa selalu berada dekat dengan Bunga. Karena hanya perempuan itu yang bisa membuatnya nyaman setelah kepergian Essie.


Laki laki itu tersenyum tipis, senyum yang sebelumnya sama sekali tak pernah dilihat oleh Bunga selama ini.


"Aku akan menurunkanmu" ucap Davien kemudian.


Bunga terdiam seolah tahu bahwa ucapan Davien belum sepenuhnya selesai, seperti masib ada kalimat kelanjutannya.

__ADS_1


Dan benar saja, sesuai dengan dugaannya laki laki itu kemudian kembali berucap.


"Tapi dengan satu syarat!"


__ADS_2