Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
34 S3: Love's Romance Pengakuan kedua kalinya


__ADS_3

"Dia Ibuku!, , " Marvel menceritakan siapa perempuan yang kemarin dilihatnya ketika sedang berasa di apartement.


Bunga menelan ludahnya dengan susah payah. Dadanya terasa sesak ketika mendengar Marvel mengatakan Bahwa Laura adalah ibu sambungnya.


Bunga menundukkan kepala sejenak, mencoba mencari ketenangan agar otaknya bisa berfikir jernih.


"Kamu mengenal ibuku?" tanyanya seketika.


"Tidak!, , aku hanya merasa pernah melihatnya tetapi ternyata aku salah orang sepertinya!" Bunga berusaha kuat menahan air matanya. Berfikir keras bgaimana bisa Laura menjadi menjadi ibu sambungnya.


Marvel meraih gelas mncercap kopinya perlahan, setelahnya meletakkan kembali ke tempat semula. Lalu dia berucap dengan lembut.


"Habiskan minumanmu, aku akan mengantarmu pulang"


"Tidak perlu Kak, aku bisa pulang sendiri" Bunga beranjak berdiri dari kursi.


"Bunga!!"


"Permisi Kak!" ucapnya memotong pembicaraan. Bunga menundukkan kepala kemudian pergi meninggalkan Marvel.


Tak ada yang bisa di lakukan olehnya, kecuali membiarkan Bunga pergi sesuai dengan keinginannya.


♡♡♡


Bunga berjalan menyusuri trotoar, melewati pertokoan di setiap sisi raus jalan. Pandangannya terlihat kosong, masih memikirkan ucapan Marvel, tetapi di sisi lain dia juga memikirkan tentang Davien.


Brugh!!!


Pandangannya seketika teralihkan kepada seorang perempuan yang secara tak sengaja menjatuhkan semua barang belanjaannya.


Bunga segera berlari membantunya memunguti belanjaannya yang berserakan.


"Aduuhh ya ampun. Kenapa aku bisa ceroboh seperti ini!!" Aileen menggerutu sembari memunguti jeruk dan yang lainnya.


Dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah Bunga yang sedang membantunya.


"Terima kasih" dia tersenyum ke arahnya.


"Sama sama Tante, lain kali hati hati" ujung bibirnya terangkat, memerkan senyum termanisnya ketika berdiri sembari memberikan kantong belanjaan kepada Luna.


Aileen masih tersenyum, mengamati wajah Bunga. Mengawasi ketika perempuan itu berjalan pergi menjauh.


Tak lama mobil milik Davien berhenti tak jauh darinya, sengaja menjemput perempuan itu untuk mengantarnya pulang.


"Mamah menunggu lama?" Davien meraih kantong dari tangannya, membantu Aileen membawa barang belanjaannya ke dalam mobil.


"Tidak sayang, mamah juga baru saja keluar" Aileen melangkah masuk ke dalam mobil, memakai sabuk pengaman dan kembali berucap kepada Davien dengan penuh perhatian.


"Keiko tidak bersamu?, , dia bilang ingin menemuimu pagi ini?"


Davien menyalakn mesin, mengemudiakan mobilnya dengan perlahan.


"Tadi pagi dia datang"

__ADS_1


"Lalu?" Aileen menyelidiki ekspresi wajahnya. Laki laki itu terlihat seperti sedang tak bersemangat.


"Aku memiliki janji dengan orang lain, maka dari itu aku meninggalkan Keiko di rumah" Davien memandang lurus kedepan. Sama sekali tak pernah mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Aileen menghela nafas panjang mencoba mencari waktu yang tepat untuk membicarakan perihal Keiko kepadanya.


"Beberapa waktu yang lalu Mamah bertemu dengan Tante Koyoko. Dia ingin kamu menikahi Keiko!"


Sssssiiiiiiitttt!!!


Seketika Davien menghentikan laju kendaraannya. Tangannya nampak meremas kuat stir mobil.


"Mamah membahasnya lagi?? benarkah Mamah ingin aku menikahinya??" tanyanya seketika, Davien tertunduk tak berdaya.


Suaranya terdengar rendah, mengartikan bahwa dia benar benar tak suka ketika Aileen membahas perihal itu. Sebelum Koyoko memintanya, Aileen telah terlebih dulu memaksa Davien untuk menikahi Keiko. Namun laki laki itu selalu menolak dan menghindar ketika Aileen membahas soal pernikahan.


Tetapi Aileen sama sekali tak pernah membahas msalah itu lagi ketika Davien menyebut nama Bunga di depannya, Aileen ingin memberikan semua keputusan kepada Putranya. Namun ketika mengingat Koyoko adalah sahabatnya, Aileen tak kuasa menolaknya, tetapi dia tak lantas memaksa Davien agar mau menikah dengan Keiko.


Aileen terdiam, menatap Davien dengan tatapan ragu.


"Mamah, , ,sebenarnya ingin memberikan keputusan itu kepadamu, tetapi Mamah tak bisa menolak Tante Koyoko sayang" Aileen meraih pundaknya, mengusap perlahan memberikan ketenangan.


Davien menghela nafas panjang, mengalihkan pandangannya ke Aileen dengan tatapan malas.


"Sudah ada orang lain mah!" ucapnya dengan tenang namun tegas.


"Bunga??" Aileen mencoba menebaknya.


"Kalau begitu bawa dia menemui Mamah"


"Aku akan membawanya setelah aku pulang dari Indonesia"


"Ada proyek baru di sana??" sahut Aileen. Keningnya berkerut halus. Mempertanyakan maksud dari Davien pulang ke Indonesia.


"Undangan rekan kerja, mungkin 3 atau 4 hari. Setelah aku pulang nanti aku akan membawa Bunga menemuimu" Davien terdiam, dia hanya berfikir apakah Bunga akan memenuhi keinginannya untuk menemani Aileen nanti.


Perempuan itu tersenyum manis ketika mengetahui bahwa Putranya sudah bisa membuka hati untuk perempuan lain.


♡♡♡


"Bunga??" perempuan itu menghentikan langkahnya ketika mendengar suara seorang perempuan memanggil namanya. Dengan jelas Bunga tahu siapa perempuan itu. Sebelumnya dia sedang menunggu pintu lift terbuka untuk kembali ke apartementnya, tetapi kini dia lebih memilih untuk memutar tubuh menghadap ke arahnya. Pandangannya terarahkan kepada Laura yang berdiri di sana.


"Apa lagi yang kamu inginkan?, , menyingkirlah dari hidupku!, , aku sudah tidak ingin berurusan denganmu!" Bunga berucap lembut, namun tersirat sebuah amarah di dalamnya.


"Aku ingin menawarkan sebuah kebahagiaan untukmu!" ucap Laura, sembari melangkah mendekatinya.


"Aku tidak menginginkan apa pun darimu!" tatapannya semakin menajam.


"Kamu akan hidup bahagia jika mengikuti semua ucapanku!" Laura terus berusaha membujuknya. Dia ingin menggunakan Bunga sebagai batu loncatan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Aku tidak menginginkan kebahagiaan darimu!, , aku bisa mencarinya sendiri!"


"Bunga!!" Laura berucap seolah memberi peringatan kepadanya. Ketika Bunga telah melangkah pergi.

__ADS_1


Bunga seketika memaku langkahnya, kembali menutar tubuhnya menatap jengkel ke Laura.


"Apa lagi yang kamu inginkan!!" ucapnya dengan tenang.


"Menikahkah dengan putraku!!" ucapnya dengan cepat tanpa rasa ragu.


Matanya membulat, wajahnya terpaku ketika mendengar permintaan Laura.


"Sepertinya kamu sudah kehilangan akal sehatmu!!, , apakah harta sudah membuatmu benar benar buta!" Bunga menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Aku bukan orang sepertimu yang mampu melakukan hal apa pun untuk mendapatkan semuanya!"


"Bunga kamu akan"


"Aku tidak butuh bergelimangan harta untuk bahagia!!" rahangnya menguat, tangannya mengepal ketika menikmati rasa panas serta nyeri yang menjalar dari dadanya ke seluruh tubuh.


"Berhenti mengganggu kehidupanku!! cukup dengan memberi kenangan buruk waktu aku masih kecil. Aku mohon, , ,untuk saat ini jangan lagi datang kepadaku!!" Bunga kembali melangkah masuk ke dalam lift ketika pintunya kembali terbuka. Dia masih memperlihatkan wajah garangnya kepada Laura ketika berhasil masuk. Namun ketika pintu tertutup kembali matanya yang semula memerah itu kini terlihat berkaca kaca hingga tanpa sadar air mengalir perlahan dan semakin deras ketika Bunga memejamkan matanya.


Tak bisa di pungkiri bahwa Bunga benar benar marah dengan sikap Laura. Bunga pernah berharap bahwa Laura akan berubah setelah pertemuan pertama mereka, seharusnya pelukan hangan yang dia dapatkan saat itu, tetapi kenyataannya Perempuan yang sudah lama tak dilihatnya itu ternyata masih memiliki sifat yang sama seperti dulu.


♡♡♡


James mengetuk pintu sebelum membukanya dan melangkah masuk ke dalam ruang kerja. Dia membawa handheald computer untuk memberitahukan kepada Davien perihal jadwalnya untuk hari ini.


"Pres Dir" laki laki itu menundukkan kepala membari hormat kepada Davien.


Laki laki yang duduk di kursi itu terlihat menarik tubuhnya kebelakang, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


"Katakan!" perintahnya kepada James.


Laki laki yang berdiri di seberang meja itu dengan faseh mengatakan semua jadwal kegiatan Davien secara terperinci, baik tempat mau pun waktu dia mengucapkan dengan sangat lancar.


"Kamu siapkan semua sebelum kita pergi ke Indonesia!" Davien berucap sembari mendorong kepala kebelakang. Menyandarkannya mencari kenyamanan.


"Baik Pres Dir" James sempat melangkah untuk pergi, tetapi dia menghentikannya ketika mengingat sesuatu informasi yang mungkin penting untuk Davien.


"Pres Dir?" raut wajahnya terlihat ragu ketika ingin berucap.


Davien mengangkat kepalanya menatap James kemudian berucap.


"Apa lagi?"


"Mm, , saya tidak tahu ini penting atau tidak, tetapi saya berharap tak salah jika mengatakan hal ini"


"Katakan!!, jangan bertele tele!" sahutnya cepat dengan nada tegas. Davien tak suka dengan sikap James yang mulai berbelit.


"Beberapa hari lagi, Nona Bunga berulang tahun!" James menundukkan kepala ketika Davien menatapnya lekat.


Davien menarik tubuhnya mendekati meja, menautkan semua jarinya menjadi satu di atasnya.


"Kapan?" ucapnya menghindari tatapan mata James.


James tersenyum tipis ketika Davien meresponnya dengan positif.

__ADS_1


"Hari sebelum kita siangnya pergi ke Indonesia"


__ADS_2