Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#69 Awal kehancuran


__ADS_3

Barack mengendarai mobilnya dengan pelan, wajahnya nampak seperti sedang menahan perasaan yang campur aduk di dalam hatinya.


 


Tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada mamahnya, bagaimana pun juga posisinya serba salah.


Sampai di halaman rumah, barack menghentikan mobilnya.


Bu bowo langsung turun dari mobil barack dan berjalan menuju ke arah pintu masuk rumahnya.


Dari raut wajahnya terlihat sekali kalau dia benar benar menahan emosi yang sangat dalam kepada barack.


Barack pun mengikuti langkah mamahnya dari arah belakang.


"Mah" barack mencoba meredam emosi mamahnya.


Mamahnya tidak menggubris panggilan barack, dia terus berjalan sampai berhasil masuk ke dalam rumahnya.


"Mah, barack mohon mah, jangan seperti ini" dia terus berbicara kepada mamahnya.


"Mamah tidak mau tahu!!!, , kalau sampai ayahmu tahu klara tinggal di apartemenmu" sejenak bu bowo menghela nafas akan rasa ketidak percayaan dirinya atas sikap barack.


"Yaa ampun barack, , mamah tidak habis pikir!!! bagaimana bisa kamu memberinya ijin untuk tinggal di sana!!!" bu bowo berucap dengan menaikkan nada suaranya, sampai sampai suaranya itu menggema di setiap sudut ruangan lantai bawah rumahnya.


"Posisinya sekarang dia se" ucapan barack terputus ketika melihat langkah kaki ayahnya keluar dari ruang kerja.


Tubuhnya memaku, matanya terbelalak melihat ayahnya berdiri sambil melihat ke arahnya dengan tajam.


Bu bowo langsung melempar pandangannya ke arah suaminya itu.


Nampak wajahnya begitu syok melihat suaminya ada di rumah di jam jam yang tidak semestinya, karena waktu itu belum saatnya jam pulang kantor.


"Mm, , ayah, tumben jam segini sudah pulang" kata bu cokro sambil menghampiri suaminya yang masih terus menatap tajam ke arah barack.


Aura wajahnya terlihat sangat menggelap, dia tidak menghiraukan istrinya yang sengaja mengajaknya berbicara untuk mengalihkan perhatiannya.


"Klara tinggal di apartement mu!!!" pertanyaan pak bowo masih terbilang sedikit santai jika di dengar dari nada bicaranya.


Namun melihat arah matanya dia benar benar seperti sedang sengaja di bakar hatinya oleh barack.


"Mmm, , pah kamu belum menjawab" bu cokro mencoba mengalihkan perhatian suaminya lagi, namun dengan sigap pak bowo langsung mengangkat tangannya dan memberika isyarat kepada istrinya menggunakan tangannya untuk tetap diam.


Pak bowo melangkahkan kakinya perlahan berjalan mendekat ke arah barack yang masih terus memaku tubuhnya.


Wajah barack menjadi pusat pasif, dia dipaksa untuk menelan ludahnya.


Entah apa yang akan di lakukan oleh ayahnya kali ini, namun barack sudah mempersiapkan dirinya apa bila, sampai ayahnya turun tangan dan akan menghajarnya habis habisan.


Pak bowo semakin mendekat ke arah barack, tatapan matanya semakin terlihat tajam.


Terlihat dada pak bowo naik turun seperti sedang mengatur nafasnya.


Dia menghentikan langkahnya tepat di depan mata barack.


"Sepertinya, kekerasan tidak akan pernah bisa memberimu pelajaran!" nada bicara ayahnya itu masih terbilang santai, tapi kembali lagi, penekanan di setiap kata kata yang keluar dari mulut ayahnya terdengar lebih mengerikan ketimbang pukulan yang pernah di layangkan ke arahnya.


Pak bowo pergi begitu saja dari hadapan barack, dia tidak menyentuh barack sedikit pun kali ini.


Terlihat barack mengambil nafas dalam dalam ketika pak bowo sudah pergi dari hadapannya.


Bu bowo langsung menghampiri barack yang masih merasa syok.


"Mamah tidak tahu kalu ayahmu ada di rumah, , , karena dia telah mendengar semuanya, kamu harus mempersiapkan dirimu dengan segala resikonya, mamah tidak akan meminta maaf untuk hal ini, karena semuanya adalah kesalahanmu!" kata bu bowo kepada barack, namun terlihat dari matanya kalau dia merasa sangat khawatir terhadap barack.


Bagaimana pun juga, dia adalah anak kesayangannya.


 


Di apartement, klara mencoba berjalan ke arah kamar barack, dengan segera dia langsung membereskan barangnya dan bermaksut pergi dari apartement itu.


 


Leo pun mengikuti klara dari arah belakang.


Dia melihat klara tengah membereskan pakainnya.


"Klara, , " leo mencoba menghentikan klara yang sedang menata bajunya kembali ke dalam tasnya.


Namun klara tetap memasukkan baju bajunya ke dalam tasnya.


"Klara!" leo mencoba menarik tas klara yang sudah di penuhi baju klara.


"Kembalikan!" klara memaksa leo untuk mengembalikan tas yang di rebutnya secara paksa dari tangan klara.


Namun leo tidak mengindahkan permintaan klara.


"Aku bilang kembalikan!" klara mencoba merebut tasnya itu.


Sekaki lagi leo tetap dengan erat menggenggam tas milik klara.


Klara merasa tidak bisa menahan emosinya, dia menangis, menekuk ke dua lutunya, membenamkan ke palanya di antara dua lutut sambil memeluk kakinya sendiri.


Dia melepas tangisannya, kali ini sampai terdengar sesunggukan nafasnya.


"Klara, aku mohon jangan seperti ini" leo mencoba meraih tubuh klara, namun dengan cepat klara mendorong tubuh leo.


"Puas kamu?, , bahkan sampai membuatku terlihat tidak berguna di mata mamahnya, semua ini karena kamu diam dan tidak memberi tahuku tentang hubungan mereka!!! kalau sejak awal kalian memberitahuku, semuanya tidak akan menjadi separah ini" kata klara sambil terus menangis.

__ADS_1


"Tenang klara" leo berusaha memeluk tubuh klara namun klara dengan kuat memukuli dada dan lengan leo terus menerus.


"Lakukan sepuasmu, , jika itu bisa membuat kamu merasa lebih baik, aku akan menahannya" kata leo sambil terus mempersilakan klara memukulinya.


Klara masih terus memukuli leo dengan sekuat tenaga, namun bagi leo kekuatan tangan klara tak bisa menimbulkan rasa sakit di setiap pukulannya.


Klara pun menghentikan pukulan tangannya ke tubuh leo, entah karena lelah atau karena merasa sudah tidak bisa menyakiti leo lagi, karena selama ini leo selalu menjadi pelampiasan ketika dia sedang marah.


Mengetahui tangan klara telah melemah, leo langsung memeluk tubuh klara dengan penuh kasih sayang.


"Jika kamu belum puas, maka lakukanlah lagi, aku dengan suka rela akan meminjamkan tubuhku ini untukmu, agar kamu bisa dengan bebas memukul ku lagi, ketika tenagamu sudah kembali terisi" leo mencoba menangkan klara.


Nampak klara masih terus menagis namun mendengar ucapan leo tangisannya menjadi semakin keras.


Entah karena kekecewaannya kepada leo atau karena dia merasa tidak bisa menerima perlakuan baik leo kepadanya.


Dia pun membalas pelukan leo terhadapnya.


Laki laki yang selalu di sakiti olenya namun masih dengan tegap kokoh berdiri di sampingnya.


"Sekarang pikirkan dulu kesehatanmu, , masalah yang lain, biar aku yang akan mengurusnya" leo terus berucap untuk menenangkan klara, bagaimanapun dia berusaha agar wanita yang dicintainya itu berhenti menangis.


Leo merasa kaget, ketika Klara mengangguk pelan mendengarkan perkataannya sambil melepas pelukan leo.


Leo meraih wajah klara dan mengusap air mata yang membanjiri wajahnya itu.


Leo membantu klara membereskan semua perlengkapannya.


"Aku akan mengantarmu ke galeri" kata leo.


Namun klara malah menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin leo membawanya pulang ke sana.


"Lalu, kamu masih ingin tinggal di sini?" leo memastikan kepada klara kenapa dia tidak ingin leo mengantarnya kembali pulang ke galerinya.


Klara masih diam dengan nafasnya yang sesunggukan, dia menggelengkan kepalanya sekali lagi


"Lalu?" leo bertanya kembali kepada klara.


Klara pun langsung memeluk tubuh leo yang masih terduduk di sampingnya.


"Bawa aku pergi kemana pun kamu pergi" klara berucap seperti sedang memeberi leo ijin untuk terus selalu berada di sampingnya, terkesan kalau klara kini sudah menyerahakan seluruh hidupnya untuk leo.


Entah apa yang akan terjadi kepadanya jika selama ini leo tidak ada di sampingnya.


Kebaikan dan perhatian leo selama ini sudah membuat klara merasa sangat bergantung kepadanya.


Ketika leo pergi meninggalkannya, klara tidak tahu nanti bagaimana dia akan melanjutkan kehidupannya.


Wajah leo nampak terlihat sangat bahagia mendengar klara mengatakan hal itu.


 


Paginya klara tengah terbangun dari tidurnya.


 


Dia membuka matanya perlahan dan mendapati tubuh leo berada di sampingnya sambil memeluk tubuhnya dengan erat.


Terlihat senyum tipis di wajah klara saat dia menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah leo dengan jelas.


Leo pun terbangun dan membuang pandangannya ke arah klara yang berada di bawah dagunya itu.


Dia melihat senyum manis di bibir klara.


Baginya ini seperti sebuah mimpi, melihat senyuman manis wanita yang di cintainya ketika bangun tidur, itu membuatnya sangat bahagia.


"Aku ingin bertemu dengan luna" kata klara, dari nadanya dia seperti sedang memohon kepada leo untuk mempertemukan dirinya dengan luna.


"Nanti aku akan mengantarmu menemuinya" ucap leo sambil mengecup kening klara.


Klara pun mengangguk dengan pelan.


Leo terus menatap ke arah wajah klara yang ada di dekapannya dia masih tidak percaya dengan semuanya.


"Kamu lapar?" leo bertanya pada klara.


"Mm, , sedikit" jawab klara sambil tersipu malu karena leo terus melihat ke arahnya, dirasanya penampilannya yang sangat amburadul ketika bangun tidur membuatnya malu ketika leo harus melihatnya.


Dia pun menyembunyiakan wajahnya di dada leo.


Leo manyadari hal itu, namun dia terus melihat ke arah klara yang masih tersipu malu.


"Jangan melihat ke arahku lagi!" perintahnya sambil menarik selimut dan mencoba menutupi wajahnya.


"Kenapa, bahkan ketika bangun tidur pun kamu terlihat sangat cantik" leo mencoba menggodanya.


"Aku lapar" klara berucap dari balik selimut mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Iya aku akan memesan makanan untukmu, tapi biarkan aku melihat wajahmu yang manis itu" kata leo sambil mengambil telepon hotel yang langsung terhubung ke resepsionis.


Kebetulan semenjak kedatangannya ke indonesia dia memang singgah di hotel itu.


Dia pun langsung memesan menu kesukaan klara.


 


Siangnya leo sudah mengatur pertemuan klara dengan luna seperti yang sudah di janjikannya tadi pagi.

__ADS_1


 


Kali ini dia memberikan ruang dan waktu untuk mereka beruda berbicara.


Terlihat klara dan luna sudah duduk di kursi mereka.


Nampak wajah luna setengah bingung karena tiba tiba klara mengajaknya bertemu, kalau pun mau sebenarnya dia bisa saja menyuruh luna datang ke apartement barack, tapi kenapa malah menyuruh luna datang ke restoran.


"Bagaimana keadaanmu? sudah lebih baik kah?" luna mencoba memulai perbincangan untuk mencairkan suasana yang terasa kaku saat itu.


Klara tidak menjawab, dia malah melempar senyum ke arah luna.


Luna pun merasa kebingungan di buatnya.


"Kamu pandai sekali ya menyembunyikan perasaanmu sendiri" kata klara.


"Maksutmu?" luna memcoba bertanya kepada klara, karena dia tidak mengerti dengan maksut klara kali itu.


Klara membuka tas yang ada di pangkuannya, dan mengambil dan mengambil sebuah flash disck.


"Ini punyamu bukan?" ucapnya sambil meletakkan flash disck berwarna putih itu di atas meja dan mendorongnya ke arah luna.


"I, ini?" luna memaku wajahnya, kata katanya terbata, setelah melihat flash disck yang selama ini di cari oleh mamahnya berada di tangan klara.


"Aku menemukannya di bawah meja di ruang TV barack, aku pikir itu punyamu" klara menjawab pertanyaan luna yang belum sempat di ucapkannya dari bibir luna, klara seperti bisa membaca jalan pikiran luna yang terlihat jelas dari wajahnya.


"Kamu"


"Aku sudah melihat isinya" ucap klara memotong pembicaraan.


Luna pun mamaku bibirnya.


"Bagaimana bisa kamu melakukan hal sebodoh ini kepada dirimu sendiri???, , , kamu menyakiti dirimu sendiri lun!" klara sempat menghentikan pembicaraannya, sengaja memberi ruang kepada luna untuk berfikir.


Luna masih saja diam, dia tak bergeming sama sekali.


"Kalian mencoba membohongiku, apa aku terlihat sangat lemah dan menyedihkan di mata kalian?" klara selalu berbicara dengan nada lembut, dia tidak pernah memperlihatkan emosinya di depan luna.


Berharap luna berkata jujur di depannya.


"Aku tidak mungkin merusak hubungan kalian" tambahnya.


Kalimat terakhir yang keluar dari mulut klara, membut luna merasa ada sesuatu yang berdesir di dalam hatinya.


Sepertinya dia memang sudah dengan suka rela melepas barack kepadanya.


Tetapi luna tidak tahu apakah dia harus senang atau sedih ketika mendengar kata kata klara.


♡♡♡


 


Di kampus, luna terlihat melamun saat berjalan kembali menuju ke jadwal kelas selanjutnya.


 


Tatapan matanya terlihat kosong, bahkan ketika cici mencoba memanggil namanya, dia sama sekali tidak menghiraukannya.


"Ini anak kenapa lagi sih, , , lun!!!" cici mencoba menghentikan langkah luna.


Luna pun mengalihkan pandangannya ke arah cici yang sudah berdiri di sampingnya itu.


"Kamu baik baik saja?" cici bertanya kembali untuk memastikan keadaan luna.


"Mmm, , " luna mengangguk dengan pelan, tapi melihat dari wajahnya dia sedang memikirkan sesuatu.


"Ikut aku" kata cici sambil menarik tangan luna dan mangajaknya ke kantin, untuk membicarakan masalah yang sekarang sedang di pikirkan oleh luna.


 


Cici menyodorkan minuman di depan meja luna.


 


"Minum dulu" cici berucap mencoba untuk membuat luna sedikit lebih fokus pikirannya.


"Kamu kenapa lun?" cici bertanya kembali kepada luna.


Belum sempat luna bercerita, aryo tiba tiba datang, terlihat dari wajahnya kalau dia begitu sangat tegang.


"Lun?" aryo mencoba memanggil namanya.


Cici pun membuang pandangannya ke arah aryo yang duduk di samping luna.


"Jangan ganggu deh, pergi sana!" kata cici kepada aryo.


"Kamu diam dulu sebentar!"kata aryo menyuruh cici untuk tidak mengganggu mereka.


Cici pun memalingkan wajahnya sambil menguncir bibirnya itu.


"Lun!, , kamu sudah tahu berita tentang barack?" kalimat yang keluar dari nulut aryo memecah lamunan luna.


Pandangan mata luna langsung berubah ke arahnya dengan cepat. Seperti sedang menyuruh aryo untuk segera menceritakan keseluruhan berita tentang barack yang diketahuinya.


"Kamu sudah tahu, kalau perusahaan barack yang di paris collapse???".


***

__ADS_1


__ADS_2