
"Luna??, ,aku bisa menjelaskan semuanya?" Barack berucap sembari memegangi tengkuknya, sesekali dia menunduk, memejamkan mata lagi untuk menikmati rasa sakit yang menhujam kepalanya.
Luna melangkah mendekat ke ranjang. Dia meremas kuat kemeja Barack yang ada di tangannya.
"Kalian menjijikkan!!" Luna melempar kemeja itu ke arah wajah Barack.
"Apa yang ingin kamu jelaskan?" suara Luna terdengar datar, dia tak meluapkan emosi melalui ucapannya.
Dia seperti sudah kehilangan semangat hidupnya.
Barack ingin beranjak dari ranjang namun Luna menghentikannya. Dia tidak ingin laki laki itu mendekatinya.
"Berhenti!!!, , jangan mendekatiku!"
Barack mengurungkan niatnya. Laki laki itu nampak masih memakai celananya dia hanya bertelanjang dada di sana.
Barack duduk di tepi ranjang, dia menatap penuh harap kepada Istrinya.
"Luna aku mohon! biarkan aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, setelah itu"
"Yang sebenarnya?, , , adalah yang aku lihat saat ini!! aku tidak butuh penjelasan!!" Tatapan mata Luna terlihat kosong, air mulai mengalir kembali dengan sendirinya membasahi pipi.
Luna melangkahkan kakinya keluar dari kamar meninggalkan Barack disana dan diikuti oleh Adrian dari arah belakang.
Barack sengaja tak mengejar Luna. Dia ingin memberi waktu pada perempuan itu agar lebih tenang. Karena baginya percuma menjelaskan tentang kebenaran karena sifat keras kepala membuat Istrinya tak mau mendengarkan penjelasannya.
Tubuh Helena bergerak, dia terbangun. Matanya langsung menatap punggung laki laki yang ada di depannya. Perempuan itu terkejut melihat seorang laki laki sedang duduk di pinggir ranjangnya tanpa mengenakan baju.
"Siapa kamu?" Helana duduk, matanya berusaha menyelidikki laki laki yang tengah menunduk.
Barack sedikit memalingkan wajahnya ke arah samping. Mempermudah perempuan itu unuyk mengetahui dirinya.
"Barack??? apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Helena membuka selimut yang masih melekat di tubuhnya, dia menghela nafas lega karena semua pakaian dalamnya masih membungkus rapih tubuhnya.
"Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa ada di sini denganmu" ke dua tangan Barack menyangga kepalanya dengan paha sebagai tumpuan.
Helena juga merasakan sakit kepala yang hebat, seperti habis di hantam benda keras tepat di kepalanya.
"Apa kamu tidak ingat sesuatu?, , lalu. Bagaimana dengan Luna??"
"Dia sudah melihat semuanya!, , dia pasti berfikir yang macam macam karena melihat kita berdua seperti ini" Barack berucap dengan frustasi.
"Kamu tidak mengejarnya?, , dia pasti sangat marah"
__ADS_1
"Disaat seseornag marah, maka dia tidak akan mendengarkan lenjelasan apa pun saat itu. Aku sengaja membiarkan dia untuk menenangkan pikirannya. Setelah ini aku pasti akan menjelaskan semuanya!"
Benar saja, Luna pasti berfikir yang tidak tidak. Namun jika memang terjadi hal yang tak diinginkan kenapa Helena tak merasakan keanehan di tubuhnya. Perempuan itu yakin kalau mereka tidak melakukan kontak fisik sebelumnya.
Helena mengalihkan pandangannya ke arah tengkuk Barack, dia melihat leher bagian belakang laki laki itu memerah sampai kebiruan.
"Apa kamu baik baik saja??, , kenapa dengan tengkukmu?"
Barack memaku wajahnya, dia teringat ketika ingin keluar dari kamar seseorang telah memukulnya.
"Seingatku semalam ada yang memukulku dari arah belakang!"
"Apa kamu berfikir ada yang ingin mencelakaimu?, , apa kamu punya musuh dalam bisnismu?" Helena mencoba menebak.
"Aku tidak tahu!!" Barack beranjak dari ranjang dan segera memakai kemejanya. Sebelum keluar dari kamar laki laki itu meraih jas yang ada di atas nakas.
"Aku akan ke ruang pengawas untuk melihat kejadian yang sebenarnya" Barack melangkah keluar, menentang jasnya dia berjalan menuju ruang pengawas.
♡♡♡
Mata Barack mengawasi layar besar di depannya. Dia melihat rekaman dirinya saat sedang membantu Helena masuk ke dalam kamar, namun setelah itu rekaman selanjutnya langdung memperlihatkan bagian ketika Luna dan Adrian masuk ke dalam kamar itu.
Kedua alis Barack menyatu, ujung matanya mengerucut ke arah layar dengan tajam.
"Seharusna sebelum perempuan dan laki laki ini masuk ke dalam kamar, aku sempat ke luar dari kamar. Dan di sana ada seseorang yang memukulku dari arah belakang. Dan CCTV ini juga seharusnya merekam kejadian itu!"
Sekali lagi petugas itu memutar ulang rekaman dan kini lebih lambat lagi dari sebelumnya. Matanya menyelidik ke arah waktu yang ada di ujung kanan atas. Dia melihat loncatan menit di sana.
"Sepertinya ada yang sudah menghapus rekaman ini sebelumnya" ucap petugas itu dengan sangat yakin.
"Apa maksudmu?"
"Lihatlah, , " dia sekali lagi memutar ulang rekamannya.
"Menit ke 6, setelah anda masuk ke dalam kamar. Menit langsung berubah meloncat ke 45. Itu artinya ada 39 menit rekaman yang sudah di hapus sebelumnya"
Barack mengela nafas panjang, seolah dia sudah kehilangan satu satunya bukti yang akan dia perlihatkan kepada Istrinya.
"Tunggu seharusnya ada salinannya, hotel kita menyimpan salinan rekaman CCTV setiap satu jam sekali" Petugas mencari salinan kopian kepingan CD di tumpukan.
Namun dia tidak menemukan kopian di jam itu.
"Kopian rekaman itu juga menghilang!"
__ADS_1
"Apa ada seseorang yang mencurigakan masuk ke dalam ruang ini?" Barack membantu petugas itu mengingat kejadian sebelumnya.
Petugas itu terlihat sedang mencerna ucapan Barack.
"Tadi sempat ada seseorang yang mengajakku ngobrol di luar, dan dia membicarakan hal yang tidak penting saat itu"
Barack mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto seseorang kepada petugas.
"Ini kah laki laki yang menemuimu?" Barack mengarahkan layar ponselnya ke arah petugas, dia memperlihafkan foto Adrian di sana.
Petugas menggelengkan kepalanya.
"Bukan!, , bukan itu orangnya"
Barack memejamkan matanya, dia yakin ketika seseorang itu mengajak petugas mengobrol, hanya untuk pengalihan ketika salah satu orang lagi masuk ke dalam dan berusaha menghapus rekaman itu.
Laki laki itu keluar dari ruang pengawas, dengan wajah yang terlihat sangat frustasi.
♡♡♡
Barack mengemudikan mobilnya dengan kencang.
Dalam perjalanan, laki laki itu menyempatkan untuk menghubungi Istrinya.
"Sayaaang!!! angkatlah aku mohon!" gumamnya.
Beberapa kali Barack menghubungi Luna, namun perempuan itu tak mengangkat ponselnya.
Dia pun memutuskan untuk kembali menuju apartement.
♡♡♡
Setelah berhasil masuk ke dalam, matanya menyapu setiap sudut ruangan. Langkahnya terhenti ketika melihat pintu kamar terbuka.
Dengan langkah cepat Barack masuk ke dalam kamar.
Tubuhnya memaku ketika melihat pintu almari terbuka, terlebih lagi saat tak menemukan sehelai baju milik Istrinya di sana.
Barack membanting pintu almari dengan keras.
Dia berlari keluar dari apartement. Malajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Barack menghubungi Luna sekali lagi, kini dia meninggalkan pesan suara singkat kepadanya.
__ADS_1
"Luna, , , sayang aku mohon. Jangan seperti ini! kita bisa bicarakan baik baik. Aku, kamu dan Helena kita duduk dan bahas masalah ini bersama. Aku mohon jangan pergi!"
Barack menutup panggilan dan membanting ponselnya ke arah kursi di sebelah.