
Wajahnya terlihat sangat kelelahan setelah pulang dari kantor. Siang tadi David meluangkan waktunya untuk mengantar Aileen pergi ke Dokter. Setelahnya dia harus kembali ke kantor mengikuti rapat kemudian berbagai pertemuan penting lainnya dengan rekan kerja.
David berjalan masuk ke dalam rumah sembari menggantungkan jas di pertengahan lengan, dia menggerakkan kepalanya untuk merenggangkan otot otot di sebagian leher yang terasa kaku karena lelah bekerja seharian.
"David?" suara Aileen dari arah dapur membuat David mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar.
David menoleh kemudian memutar tubuhnya berjalan ke arah dapur.
Dahinya berkerut ketika mendapati ruang dapur gelap tanpa satu pun penerang lampu yang menyala. Dia meraih saklar kemudian menyalakan lampu agar mempermudahkan dirinya mencari keberadaan Aileen.
Detik di mana dia menyalakan lampu, Aileen bersama dengan Essie keluar membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin yang telah menyala di atasnya.
David sangat terkejut, raut wajahnya memperlihatkan bahwa dirinya tidak menyukai kejutan itu. Terlebih lagi ketika melihat kue di tangannya.
Aileen memang sudah tahu kalau David tidak bisa melihat kue di hari ulang tahunnya. Tetapi Aileen berfikir bahwa David pasti akan bisa melewati ketika sedang bersama dengannya.
"Ai, , apa ini?" David menampakkan wajah seriusnya di depan Aileen. Dia terlihat tidak suka dengan kejutan yang di berikan oleh Istrinya.
"Selamat ulang tahun" Aileen tersenyum, begitu juga dengan Essie yang ada di sampingnya.
David berdiam diri menatap malas ke arah Aileen.
"Maaf!" David menggelengkan kepalanya memutar tubuh kemudian berjalan menuju ke kamar.
"Om David tidak menyukainya??" Essie menyimpulkan sendiri dengan apa yang dia lihat, bahwa sepertinya David memang tidak menyukai kejutannya.
"Om David pasti menyukainya. Essie tunggu di sini sebentar ya. Tante panggilkan Omnya dulu"
Aileen meletakkan kue ke atas meja, sementara Essie duduk menunggu di kursi. Aileen beranjak pergi menuju ke kamar menghampiri Suaminya.
Dia melihat laki laki itu sedang duduk di bibir ranjang, memunggunginya. Membungkuk menggunakan kedua tangan untuk menyangga kepala di atas paha.
David sedang meremas rambutnya kuat, seolah sedang melawan mimpi buruk yang pernah terjadi dengannya.
"Sayang, , " Aileen tunduk menekuk kedua lututnya di hadapan David. Meraih tangannya lalu menggenggamnya erat.
"Kamu pasti bisa melewatinya, ada aku disini" Aileen menatapnya penuh kelembutan.
"David?"
Laki laki itu masih tertunduk, ujung matanya perlahan mengarah ke Aileen.
"Semuanya sudah berlalu, ada aku, Essie dan calon anak kita. Kamu tidak sendirian, kita akan melewatinya bersama sama"
Laki laki itu tersenyum, meraih pipi Aileen dan mengusapnya dengan lembut.
♡♡♡
Aileen telah berhasil membujuk David dan membawanya kembali ke dapur.
Essie berbinar binar ketika melihat David kembali. Ank kecil itu berlari meraih tangan David dan membawanya mendekat ke meja.
"Selamat ulang tahun Om" Essie menarik tangannya, meminta David untuk mendekati meja.
David tersenyum, kemudian membungkuk mendekati Essie. Anak kecil itu memberikan sebuah hadiah kecupan di pipinya yang kemudian di balas oleh David.
"Terima kasih sayang" ucapnya kepada Essie.
Mereka punn merayakan hari ulang tahun David bersama malam itu. Tak ada doa lain yang diinginkan oleh David, hanya ingin Aileen tetap terus berada di sampingnya.
♡♡♡
Beberapa bulan berlalu kini kandungannya menginjak usia 7 bulan. Perutnya semakin terlihat besar. Berat badannya pun juga bertambah, tetapi bagi David Aileen tetap terlihat sexy di matanya.
Karena hidup di Paris tak semua orang tahu dengan adat di Indonesia tentang acar 7 bulanan. Maka mereka hanya mengundang teman dekat, Klara dan Leo serta keluarga lain yang tinggal di sana untuk datang ke acara 7 bulanan kandungan Aileen.
Luna mengadakan pesta kecil kecilan untuk menjamu tamu, sekalian membahas acara pernikahan Iris dan Kenzi yang akan digelar dua bulan lagi.
Rona kebahagiaan melekat di wajahnya, adanya Aileen dalam kehidupannya membuat laki laki itu merasa semakin sempurna. Aileen selalu membawa hal baik serta mengobati semua luka yang ada di dalam hidupnya karena masa kelam. Tak ada hal lain yang bisa membuat David bahagia selain Aileen, hanya Aileen dan Aileen dalam hatinya.
♡♡♡
Satu minggu setelah pernikahan Iris dan kenzi, Aileen melahirkan.
Mendapatkan seorang Putra mirip Ayahnya membuat David besar kepala.
Seolah apa yang ada pada dirinya turun semua ke Anaknya.
Aileen senang hanya saja dia berharap semoga sifat play boy tidak menurun kepada putranya.
"Terima kasih Ai, , bayi kecil ini sangat mirip denganku" senyum manis menghiasi wajahnya, tawanya pecah saat melihat David kecil tertidur pulas sambil membuka mulutnya lebar lebar ketika menguap. Sangat sangat menggemaskan bayi kecik itu, kedua pipi dan bibirnya memerah. David tak kuasa membendung rasa keinginan untuk selalu mengecupi wajahnya yang kecil mungil.
"Biarkan aku melihatnya Om"
"Boleh sayang, kemarilah" David mengangkat Essie, membantu gadis itu melihat wajah adiknya yang tertidur pulas di samping Aileen.
__ADS_1
"Boleh aku memciumnya?, , "
"Boleh sayang" ucap Aileen.
"Siapa namanya?" Aileen menatap penuh harap kepada Suaminya.
David tersenyum, seakan dia sudah menyiapkan nama yang cocok untuk putranya.
"Davien!"
Aileen mengerutkan dahinya setelah mendengar David menyebutkan nama untuk Putranya.
"Davien??" ucapya mengulangi, untuk memastikan sekali lagi.
"Iya, , David, Aileen"
Aileen terkekeh mendengar ucapan suaminya. Dia pun menyetujui nama Davien sebagai nama Putranya.
♡♡♡
Beberapa tahun kemudian, Davien tumbuh menjadi anak yang ceria. Banyak teman di sekolah yang snagat menyukai dan menyayanginya karena kelembutan serta sikap manis Davien kepada teman temannya. Bahkan banyak teman laki laki yang selalu menempel karena nyaman berteman dengan Davien.
Tetapi tak jarang ada juga yang suka usil, ketika duduk di bangku Sekokah Dasar Davien terkadang mendapat perlakuan buruk dari kaka kelasnya. Mungkin karena mereka sirik dengan Davien yang selalu di kelilingi banyak teman. Di saat merasa kesusahan atau sedih dan benar benar terpuruk Davien selalu menggenggam erat bonek kecil berbentuk matahari di tangannya, boneka yang dia peroleh dari seorang taman yang pernah dia temui sebelumnya di suatu tempat.
"Jika kamu sedang merasa kesusahan, genggamlah ini. Aku pinjamkan ini untukmu. Aku selalu memakainya untuk menemaniku kemana pun aku pergi. Jika kamu sudah cukup merasa bahagia, kamu bisa mengembalikannya kepadaku"
Setelah mendapat boneka kecil itu Davien selalu membawanya kemana pun dia pergi, tak hanya sebagai penenang tetapi boneka itu juga menjadi pembawa kebahagiaan bagi Davien. Setiap kali dia merasa kesusahan dia selalu mengingat boneka itu.
Davien sangat berterima kasih dengan orang yang telah memberinya boneka matahari. Jika suatu saat nanti bertemu lagi, dia akan mengembalikan boneka itu dan berbagi kebahagiaan dengannya.
Itu yang dipikirkan Davien saat dia duduk di bangku Sekolah Dasar.
Tetapi di sisi lain ada Essie yang selalu sayang dengan Davien dan selalu melindungi adiknya. Beruntung sekolahnya dengan sekokah Devien berada di lokasi satu tempat, kala itu Essie sudah duduk di bangku SMP, maka lebih mudah baginya untuk selalu menjaga adik laki lakinya.
Davien sangat mengagumi kakak perempuannya, kelembutan, kebaikan, kedewasaan Essie mampu membuat Davien semakin menyayanginya. Davien tahu jika dia dan Essie bukan saudara kandung, tetapi rasa sayangnya kepada Essie tak perlu di ragukan lagi, begitu juga sebaliknya.
Tahun berganti kini Essie duduk di bangku kelas 3 SMA dia mulai terlihat lebih dewasa dari sebelumnya. Rasa sayang kepada Davien tak pernah berubah, dia malah semakin sayang dan protective terhadap Davien.
Tetapi sangat berbeda dengan Davien, sayangnya kepada Essie semakin membuatnya merasa takut kehilangan kakak perempuannya. Lama kelamaan sayang itu bertambah dan berubah menjadi rasa yang berbeda.
Davien mulai tidak menyukai Essie berdekatan dengan teman laki laki di sekolahnya. Keman pun Essie pergi Davien harus selalu berada di sampingnya. Ternyata sikap protective Essie kepada Davien membuat anak laki laki itu berfikir lebih. Terlebih lagi dia tahu bahwa mereka tidak sedarah.
"Apa marvel juga ikut dalam kelompok belajarmu Kak?" Davien terlihat muram ketika mengetahui Essie akan pergi belajar kelompok untuk membuat tugas bersama teman temannya.
"Iya Davien, , Kakak satu kelompok dengannya" ucap Essie sembari menata buku kemudian memasukkannya ke dalam tas.
"Davien!!, , ada apa denganmu??, , kita memang ada tugas kelompok untuk menyelesaikan tugas bersama. Tenang sayangku, , Kakak hanya milikmu. Bukan milik siapa pun!" Essie berucap untuk menenangkan adik laki lakinya.
"Kamu janji??"
Essie terpaku, akhir akhir ini Essie sudah merasakan perbedaan pada Davien terhadap dirinya. Davien seperti seorang laki laki dewasa yang sedang cemburu dengan pacarnya ketika melihat Essie bersama teman teman sekolahnya.
Tetapi Essie berusaha untuk bersikap tetap tenang dan seperti biasanya.
Essie menggendong tas ranselnya kemudian melangkah keluar dari kamar.
"Maaf Davien, , Kakak harus pergi" belum sempat keluar dari pintu, Essie memaku langkahnya karena tiba tiba merasa pusing hingga terasa sakit hebat di bagian kepalanya.
"Kamu baik baik saja Kak?" Davien beranjak dan menghampiri Essie yang berdiri di tengah tengah pintu.
"Aku baik baik saja, kamu di rumah ya?, , temani Mamah" Essie mengusap pipinya sebelum pergi.
Davien merona, dadanya berdebar kencang. Dia sendiri merasa bingung kenapa bisa merasakan hal itu kepada Essie.
Setiap hari Davien seperti seorang penguntit yang selalu mengikuti kemana pun Essie pergi. Seperti seorang laki laki yang sedang menguntit pacarnya karena takut akan pergi bersama laki laki lain.
Perasaannya semakin berubah, menguat dan takut kehilangan Essie dirasakan oleh Davien. Dia sadar tidak seharusnya memiliki perasaan itu kepada Kakaknya sendiri.
♡♡♡
"Davien??" Aileen memergoki Putranya tengah memandangi foto Essie dengan lekat. Aileen bisa melihat ada sayang yang berbeda di matanya.
Davien terperanjat kaget, kemudian menyimpan foto Essie di dalam lembaran buku pelajaran.
"Mah??"
Aileen menatapnya dengan penuh tanda tanya. Berharap semoga tidak seperti apa yang dipikirkannya.
Davien terlihat salah tingkah, dia beranjak berdiri dari kursi dan berjalan ke rak buku untuk menyimpan buku yang ada di tangannya.
"Sayang??" Aileen berucap dengan lembut, menatap Davien yang tertunduk.
Davien tahu sepertinya Aileen sudah bisa membaca pikirannya dengan baik.
"Maaf Mah" suaranya terdengah sangat rendah, seolah dia merasa sangat menyesal karena telah menghianati Orang tuanya.
__ADS_1
"Davien??, , mamah mohon"
"Aku tidak bisa Mah. Maaf semuanya sudah terlanjur!" Davien pergi meninggalkan Aileen sendiri di kamar.
Perempuan itu hanya berdiam diri, mendengar ucapan Davien dadanya seolah seperti di sambar petir.
Bagaimana mungkin Davien memiliki perasaan kepada Kakakanya sendiri.
♡♡♡
Setelah Aileen tahu tentang perasaan Davien, suasana rumah menjadi dingin. Canda tawa jarang terdengar di ruang keluarga sperti biasanya.
"Kita bisa memberi tahunya perlahan, jika kamu mengijinkannya Ai" David berucap dengan lembut, mencoba memberi ketenangan kepada Istrinya yang terlihat khawatir hampir setiap harinya.
"Tidak bisa sayang, , ini tidak boleh terjadi. Aku sudah menganggap Essie seperti Putri kandungku. Bagaimana bisa Davien"
"Iya aku tahu, , aku juga sudah memikirkannya sejak lama. Dan sekarang apa yang aku khawatirkan semuanya terjadi, , " David menarik kepalanya, membawa perempuan itu ke dalam dekapan.
"Kita bisa memberi pengertian kepadanya secara perlahan" tambahnya.
Aileen ingin menyelesaikan masalah ini sendiri tanpa di ketahui oleh orang luar sekali pun itu adalah Kedua orang tuanya.
♡♡♡
Essie sebenarnya tidak ingin menjaga jarak dari Davien, tetapi jika dia selalu berdekatan dengannya, Essie takut Davien tidak bisa menjaga perasaan kedua ornag tuanya.
Setiap hari Essie selalu menghabiskan waktunya di luar bersama teman teman. sengaja menghindari saat saat sedang berkumpul bersama keluarga di rumah.
Tetapi melihat Davien yang muram dan sedih, membuat Essie semakin merasa bersalah.
Beberapa tahun setelahnya Essie memilih untuk meninggalkan rumah dan tinggal sendiri karena dia melanjutkan sekokah ke jenjang yang lebih tinggi. Essie memilih tempat untuk tinggal yang lebih dekat dengan tempat kuliahnya. Dia jarang pulang, bahkan akhir akhir ini kadang 3 bulan sekali Essie baru kembali ke rumah untuk menengok kedua Orang tuanya.
Sengaja untuk menghindari Davien, dan memberi waktu kepada laki laki itu untuk melupakan perasaannya. Essie percaya bahwa saat itu rasa cinta yang di rasakan Davien seperti cinta monyet pada umunya. Yang akan hilang dengan sendirinya ketika mereka semakin dewasa.
Felix pernah meminta Essie untuk kembali tinggal di rumahnya, tetapi Essie menolak dan memilih untuk tinggal sendiri.
Davien kini duduk di bangku SMA, anak itu terlihat semkin dewasa dalam pemikiran, penampilan dan juga wajahnya.
Tetapi rasa cintanya kepada Essie tak pernah berubah, malah semakin bertambah dan menguat di dalan hatinya.
Malam itu Essie sengaja pulang, memenuhi permintaan Aileen untuk merayakan ulang tahun Davien.
Aileen dan David merasa yakin bahwa Davien bisa melupakan Essie, Putranya pasti bisa melewati masa itu dengan baik.
Pertemuanya malam itu dengan Devien membuat Essie mulai terguncang perasaannya.
Melihat perubahan drastis pada Davien membuat hatinya bergetar. laki laki itu tumbuh semakin besar, terlihat semakin tampan dan dewasa.
"Essie??" suara Luna menggema di telinganya. Membuat Essie tersadar dari lamunan.
"Iya maaf Mah" Essie melangkah mendekat, kemudian tersenyum lebar sembari memberikan kado untuk Davien. Dia memberi sebuah hiasan yang terbuat dari kaca berbentuk bulat dengan penyangga di bawahnha. Di terdapat air di penuhi salju tiruan, dan ketika hiasan itu di gerakkan, maka akan seperti ada hujan salju yang berjatuhan mengenai boneka kecil seorang perempuan yang sedang menari di tengah tengahnya.
Essie mengibaratkan dirinya sebagai penari kecil itu, dia bisa di lihat tetapi tak bisa menjadi miliknya.
Seperti yang terjadi antara mereka, Davien dan Essie bisa saling melihat dan menatap, tetapi tak bisa saling memiliki.
Essie mulai mengakui bahwa dirinya juga tertarik dengan Davien, hanya jika saja Davien tidak memulainya. Maka Essie mungkin tidak akan memeiliki perasaan itu terhadap Davien.
Dua bulan lamanya mereka berdua menjalin hubungan layaknya seorang kekasih di belakang kedua Orang tuanya.
Saling memberi perhatian, saling menjaga satu sama lain. Tetapi tetap saling menghornati.
Davien selalu menjaga Essie baik dalam hidup atau pun dalam hatinya.
♡♡♡♡♡♡♡And♡♡♡♡♡♡♡
Q&A
* Thor kenapa jarang update? sakit ya?
😘 Nggak Alhamdulillah author sehat
* Thor kenapa udah jarang Up. Males ya??
😘 Nggak author nggak males. Cuma sibuk di Gc. Ketawa haha hihi sama penghuni Gc sambi. Makasih buat kalian yang sekalu membuat aku tertawa ngakak bahagia😘😘😘
♡ bagi yang belum gabung ke Grup Chat author bisa gabung ya😘 di tunggu.
* Thor kenapa jarang up? biasanya sehari kaya minum obat. Akhir akhir ini kenapa semakin sedikit? pusing mikir alur ya?
😘 Iya, , udah bahagia mau digimanain lagi?, , di kasih konflik nggak boleh sama kalian. Author ngikut ajalah. Kalau di lanjutin adegannya mesra mesraan mulu di ranjang. Author stres berat ngebayangin yang nggak nggak😂😂😂. Kalo di terusin tanpa konflik jadinya hambar.
Otak author jalan kalau pas lagi konflik, tapi bumpet pas mereka udah bahagia. wkwkwkwk...
* Kenapa nggak diselingi pemain lain??
__ADS_1
😘 Nggak, mereka kan pemeran pendamping, ya cukup keluar 1 atau 2 bab saja. Nanti kalau cerita pemeran figuran di buat menarik seperti David sama Aileen bisa membuat mereka berdua tersingkir😂😂😂 yang ada nanti pemeran figurannya lebih menarik dari pemeran utama donk. Pemeran figuran mah keluar secukupnya saja.
Ya udah sekarang lanjut ke season tiga ya 😍😍😍😚