Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#117 Bahagia


__ADS_3

Cici membuka matanya setelah hampir satu jam dia tidak sadarkan diri. Dia melihat Aryo sedang duduk di atas sofa sebelah ranjangnya.


Beberapa kali dia mengerjap ngerjapkan matanya agar penglihatannya kembali fokus.


Dia terlihat kebingungan sementara matanya menyapu setiap sudut ruang itu.


"Rumah sakit??"


Cici berdehem dengan keras untuk menarik perhatian Aryo yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Laki laki yang sedang duduk itu kini perhatiannya beralih ke pada Cici.


Dia menyimpan kembali ponselnya dan bergerak beranjak dari kursi mendekat ke arah ranjang.


"Kamu udah baikkan?" suranya terdengar sangat berat dan lembut.


Dalam sekejap Cici sempat terbuai dengan suaranya. Namun dia langsung kembali memfokuskan dirinya.


"Apa aku di rumah sakit?" Cici nampak masih mengingat ingat kejadian sebelumnya hingga membuat dirinya berakhir di ruangan itu.


"Iya" Aryo duduk di bibir ranjang, tangannya meraih leher Cici untuk memastikan suhu tubuhnya.


"Kamu sudah tidak demam, apa kamu tidak bisa menjaga tubuhmu sendiri?" dia memandang dengan lembut ke arah wajah Cici.


"Pasti karena kemarin hujan hujanankan?


"Itu bukan urusanmu!" Perempuan itu kini terlihat sedang mencari ponselnya di dalam tas yang berada di atas nakas sebelah ranjang.


Dia mencarinya di setiap sela sela dalam tas, namun dia tak menemukannya.


"Kamu mencari ini?" Aryo mengambil ponsel milik Cici yang sudah di simpannya dari tadi. Bahkan saat duduk di atas sofa pun, ponsel yang di lihat oleh Aryo tadi adalah ponsel milik Cici.


Cici berusaha menyambar ponsel miliknya, dari tangan Aryo namun laki laki itu berhasil menyimmpannya terlebih dulu.


"kembalikan" teriaknya.


"Mm, , " ke dua alis Aryo terangkat sambil menggeleng pelan.


"Aku akan menyimpannya. Dan kamu tidak boleh menghubungi siapa pun!" terusnya.


"Maksudmu!" kening perempuan itu berkerut, matanya menajam mengawasi wajah Aryo.


"Aku tidak akan mengijinkan kamu menghubungi siapa pun! karena aku yang akan merawatmu sampai sembuh" laki laki itu berucap dengan lembut, tangannya meraih obat dan segelas air putih yang ada di atas nakas.


"Sekarang kamu harus minum obat!"


Entah kenapa bukannya marah, Cici malah merasa senang saat Aryo bilang akan menjaganya. Seakan ucapannya itu sudah menghangatkan hatinya yang terasa dingin.


Dia mengambil obat dan segelas air itu dari tangan Aryo lalu segera meminumnya.


Aryo tersenyum sambil mengacak acak pelan rambut Cici yang kini pipinya sudah bersemu karena malu.


Dia meraih gelas dari tangan Cici lalu meletakkan kembali ke atas nakas.

__ADS_1


Laki laki itu kini menatap dengan lembut wajah Cici.


"Kenapa kamu menolak ajakanku?" tanyanya seketika.


Kening Cici berkerut, saat dia mendengar pertanyaan dari Aryo.


"Ajakan apa?" ucapnya dengan sangat penasaran.


"Menikah!" ucap laki laki itu tanpa ragu.


Cici langsung memaku bibirnya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Aryo.


Tangan Aryo bergerak meraih tangan Cici, menggenggamnya lalu meletakkan tangan perempuan itu di atas telapak tangannya. Menyatukan jari mereka.


"Menikahlah denganku?" ucapnya dengan penuh harap


♡♡♡


Baju Barack dan Luna masih teronggok di lantai kamar. Mereka berdua masih bermalas malasan sambil menghilangkan rasa letih setelah bergaul di atas ranjang beberapa kali. Kini Laki laki itu tengah memeluk tubuh Luna dengan lengannya yang kokoh. Menghirupi aroma bunga yang berasal dari rambut Istrinya, kemudian berbisik di sana.


"Kamu sudah tidur?" ucapnya dengan lembut.


"Mm" Perempuan itu hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Kamu senang?"


Luna mengangguk, bahkan anggukannya sangat pelan seakan dia marasa malu mendengar petanyaan Suaminya.


"Apa kamu lelah?" ucapnya kemudian.


"Mm," perempuan itu menggelengkan kepalanya lagi.


Lalu Barack medekatkan bibirnya ke telinga Luna, mengecup daun telinggannya kemudian berbisik lagi.


"Mau lagi?"


Kali ini Luna tidak menjawab, dia merasa malu bahkan dia sekarang malah menarik selimut dan menutupi wajahnya.


Barack tersenyum geli, dia membuka selimut dan ikut bersembunyi di balik selimut itu. Dia mengunci tubuh Luna dengan ke dua kakinya yang bertumpu di atas ranjang.


"Kenapa?, , kemarin nggak ada acara malu malu seperti ini. Lalu kenapa sekarang wajahmu sampai memerah?"


Luna menutupi wajahnya, berusaha menyembunyikan rasa malu di sana.


"Jangan melihatku seperti itu"


Barack membuka paksa tangan yang menutupi wajah Luna dan langsung melumat, menyesap bibirnya dengan lembut. Tak lama Barack melepas ciumannya, dia memandangi wajah Istrinya yang semakin memerah.


Senyum Barack nampak sangat menggoda saat itu hingga mmembuat Luna salah tingkah dan menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan senyumnya.


Barack kembali mencium bibir Luna bahkan lumatannya semakin dalam, hingga menggigit kecil di sana.


Luna mendorong dada Barack dengan pelan, nafasnya terengah engah karena tak bisa bernafas saat barack menciumnya dengan kasar hingga menarik bibirnya dengan kuat.

__ADS_1


"Aku tidak bisa bernafas!"


Barack tertawa mendengar ucapan Istrinya, kemudian dia menghadiahi kening Luna dengan sebuah kecupan karena sudah membuat hati Barack merasa senang.


"Aku akan memberimu reward saat kamu membuatku merasa senang"


"Kanapa? masak aku akan mendapatkan ciuman darimu setelah aku membuatmu senang. Seharusnya itu memang sudah kewajibanmu bukan, untuk selalu menciumku" pintanya.


"Aku bilangkan itu reward, jadi jika kamu tidak membuatku senang pun aku akan selalu menciummu, , seperti ini" Barack langsung menghujani wajah dan leher Luna dengan kecupan, hingga tak ada sedikit pun bagian yang terlewatkan.


Luna menggeliat dan meronta saat Suaminya mengecup di area yang sensitif seperti telinga dan lehernya.


"Barack! hentikan!" ucapnya sambil menahan tawa karena kegelian.


Namun Barack tak mau melepaskan Luna begitu saja.


♡♡♡


Luna menyiapkan sarapan untuk Barack sebelum laki laki itu berangkat ke kantornya. Perempuan itu menata semua hudangan di atas meja makan dengan rapih.


"Kamu bisa melakukan semuanya sendiri?" ucap Barack yang sedang berjalan menuruni anak tangga sambil membenarkan dasinya.


"Iya" Luna membuang senyum ke arah Suaminya, dia melangkah mendekati Barack dan menaiki anak tangga lalu berhenti di sana. Satu anak tangga lebih tinggi dari anak tangga yang di injak oleh Barack agar mempermudahkan dirinya untuk membantu membenarkan dasi laki laki itu.


"Terima kasih" Barack menghadiahi Istrinya dengan kecupan di bibir. Kemudian dia membungkuk meraih kaki Luna dan menggendonya ke arah meja makan.


Luna merasa sangat senang hingga lupa kalau dia telah kehilangan ingatan manisnya dengan Barack.


Baginya itu sudah tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah dia bisa hidup bersama dengan laki laki yang duduk di sampingnya.


"Terima kasih" perempuan itu mengecup bibir Suaminya.


"Itu reward dariku" tambahnya sambil melempar senyum ke arah Barack.


Laki laki itu tertawa riang setelah mendengar ucapan Istrinya.


"Oh ya, aku lupa memberi tahumu. Sabtu depan Klara dan Leo akan menikah" ucap Luna.


"Mm, , aku tahu, dia kemarin datang ke kantorku" Barack berucap sambil melahap sarapannya.


"Kalau begitu besok kita ke butiq ya" tambahnya.


Sementara Luna hanya menganggukkan kepalanya.


♡♡♡


"Aku setuju semua persyaratanmu, tetapi jika ada acara kantor aku berharap kamu bisa datang menemaniku" Adrian menyetujui semua permintaan Luna. Bahkan saat Luna bilang akan membuat semua desainnya tanpa harus ikut kerja di Paris pun, dia merasa tidak keberatan dengan semua itu.


"Acara kantor?" Luna mengulangi ucapan Adrian dengan nada bertanya.


"Iya maksudku seperti, undangan dari relasi kerja saat aku berada di kota ini" ucapnya untuk memperjelas.


"Ooohh, , iya itu tidak masalah. Kalau begitu terima kasih" Luna berucap dambil memamerkan senyum manisnya. Sementara tangannya mulai menandatangani beberapa lembar kertas yang ada di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2