
Uhuk! Uhuk-uhuk!
“E, minumlah!” Davien mengambil segelas air, memberikannya kepada Bunga. “Kau baik-baik saja?” tangannya mengusap punggung dengan lembut membantu Bunga agar merasa lebih lega.
“Terima kasih!” Bunga bermaksud mengambil lap yang sempat dia gunakan untuk membersihkan bibir Juliet, tapi Davien menghentikannya.
“Biar aku saja!” Davien menggunakan lap miliknya yang masih bersih, membantu Bunga mengusap bibirnya kemudian.
Sejak tadi Juliet hanya memperhatikan mereka melihat dari perlakuan dan perhatian yang Davien berikan kepada Ibunya membuat Juliet berpikir bahwa ada sesuatu di antara mereka.
Plak!
“Astaga! Di restoran ini ternyata banyak nyamuk juga? Kenapa hanya Juliet yang diserang nyamuk! Apa paman dan Ibu tidak di gigit nyamuk?” Juliet berusaha mengganggu mereka berdua.
“Oh, benarkah? Uhmm... paman tidak melihat nyamuk terbang sejak tadi!” Davien dengan polosnya malah sibuk mencari nyamuk di sekitar. Dia tanpa sadar termasuk oleh omongan Juliet.
Sementara Bunga merona tahu jelas kenapa Juliet melakukan hal itu. “Ibu pikir nyamuknya sudah kenyang karena banyak makan dari tadi!” kedua alisnya terangkat bersamaan. Bunga dan Juliet saling melempar pandang seolah seperti sedang berkomunikasi melewati mata batin.
“Mm, apa yang sedang kalian lakukan?”
“Tidak ada!” sahut Bunga. Cepat-cepat dia dan Juliet mengalihkan pandangan kearah lain seolah memang tidak terjadi apa pun di sana
***
Cuaca tiba-tiba berubah, hujan deras menerjang kota itu. Mereka bertiga sedang dalam perjalanan pulang.
Sudah menjadi kebiasaan setelah perut kenyang maka mata pasti akan terasa berat. Itulah yang sedang dirasakan oleh Juliet. Duduk di kursi belakang sendirian membuatnya merasa menjadi pemilik satu-satunya kursi yang sangat luas untuknya.
Tetapi tak menunggu waktu lama Juliet nyaris terjatuh saat rasa mengantuk mulai menyerang. Berusaha keras membuka mata lebar-lebar sampai bola matanya terlihat putih tetap saja Juliet tak bisa melawan. Rasa mengantuknya jauh lebih besar.
Brugh! Juliet akhirnya menyerah dia terbaring di kursi.
Sesampainya di halaman rumah, mereka tak langsung turun dari mobil tapi tak ada juga satu pun dari mereka yang berbicara. Suasana di kabin mobil terasa sunyi, hanya suara petir yang menggelegar beberapa kali dan gemercik air dari atap mobil yang terdengar. Masing-masing pikiran mereka sedang berusaha mencari topik memecah suasana canggung.
__ADS_1
“Bagaimana aku harus menjawab jika Juliet menanyakan hal itu lagi?” tanya Davien setelah mengingat percakapan mereka di restoran. Usahanya memecah keheningan pun berhasil.
“He?” Bunga justru tidak paham, pikirannya mulai loading.
“Pertanyaan Juliet saat di restoran! Bagaimana aku harus menjawab?”
“Oh... soal itu, aku tidak tahu. Terserah kau saja... jawablah senyamanmu!”
“Baiklah kalau begitu!”
“Ini sudah malam jadi setelah aku dan Juliet turun kau bisa langsung pulang.” Bunga tidak enak hati lagi pula situasi terlalu canggung berdua di dalam mobil dengan Davien.
“Hujan masih lebat... aku tidak mungkin membiarkanmu dan Juliet kehujanan. Aku... juga tidak ada payung untuk mengantarmu ke dalam. Bertahanlah sebentar saja sampai hujan reda.”
“Aku akan mencoba berbicara dengan Juliet terlebih dulu.” Bunga memastikan ke belakang, tapi saat menoleh pandangannya justru menangkap Juliet yang sudah terkapar di kursi. “Juliet? Apa dia tidur?”
“Juliet tidur?” Davien penasaran, dia ikut memastikan dengan menoleh ke belakang. Mereka berdua secara bersamaan memeriksa Juliet yang tertidur di kursi. Tanpa sadar saat menoleh ke belakang mereka harus memosisikan sebagian tubuh tepat berada di sela dua kursi yang mereka duduki.
“Lihatlah... haha, wajahnya sangat menggemaskan! Bagaimana bisa dia tidur pulas dalam posisi seperti itu? Juliet benar-benar lucu saat tidur” Davien tersenyum.
“Benar... aku akan coba membangunkannya!” Bunga mengulurkan tangan mencoba membuat Juliet sadar.
“Jangan!” sahut Davien. Lelaki itu juga mengulurkan tangannya ke belakang menahan Bunga agar tidak membangunkan Juliet. Pandangannya kini teralihkan ke Bunga yang ternyata berada tepat di depan mata.
Perlahan Bunga menarik tangannya kembali, secara tidak langsung dia melepaskan diri dari genggaman Davien. Pipinya merona, Bunga sadar kalau Davien sedang menatap wajahnya. Dia bahkan sangat sadar kalau wajah mereka sangat berdekatan tapi Bunga tak berani menoleh, matanya masih tetap mengarah ke Juliet.
Raut wajahnya semakin terlihat gelisah dan cemas kala secara tiba-tiba entah sengaja atau tidak nafas Davien saat itu menyentuh pipinya. Bunga semakin tak karuan, karena tidak ingin terlihat jelas bahwa dirinya salah tingkah Bunga pun berucap. “Sepertinya aku harus menggendong Juliet ke dalam.”
“Di luar masih hujan. Tunggulah sejenak di sini sampai hujan reda, lagi pula sepertinya Juliet kelelahan.” Bahkan ketika berucap Davien masih dalam posisi semula. Salah satu tangan berada di setir mobil dan satu lagi bersandar di bahu kursi menghadap ke Bunga yang juga masih bertahan menatap Juliet tidur di kursi belakang.
“Kau tidak keberatan ji–,” ucapnya terhenti, Bunga tanpa sadar justru menoleh ke Davien. Bibirnya seketika terpaku matanya terbelalak melihat wajah Davien yang begitu dekat.
Hujan semakin deras, hanya suara itu yang terdengar di kabin mobil. Mereka masih saling menatap, padahal sudah berusaha sekuat mungkin Bunga mengalihkan pandangannya tapi wajah tampan tepat di depan mata itu mampu membuatnya tak berkedip sesaat.
__ADS_1
Deg! Mendadak jantungnya berdetak cepat disertai rasa hangat yang menjalar di dada.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Davien, tapi bedanya lelaki itu sama sekali tidak terkejut. Justru dengan sengaja dia menunggu perempuan itu membalas tatapan matanya. “Bunga?” ucapnya lembut.
Bulu kuduknya langsung merinding, suara yang dulu sering didengar oleh Bunga ketika mereka sedang berduaan tiba-tiba keluar dari bibirnya. Melihat gerakan matanya menurun, Bunga yakin dan tahu jelas ke mana Davien menatap saat ini. Ya, lelaki itu tengah menatap bibirnya.
Perlahan kepalanya tertunduk menyembunyikan bibirnya yang tengah di tatap lekat oleh Davien. Bukan tatapan biasa tetapi tatapan yang digunakan Davien memperlihatkan jelas bahwa jauh di dalam pikirannya dia tengah membayangkan mencumbu bibirnya dengan buas.
Tangannya yang sempat bertahan di setir mobil perlahan bergerak, meraih wajahnya. Telapak tangannya dipenuhi syaraf otot yang membesar dan kuat, memperlihatkan sisi kelelakiannya yang begitu besar. Melihat syaraf otot yang menonjol di bawah permukaan kulitnya saja mampu membuat perempuan melemah pasrah di bawah cengkeramannya.
Telapak tangannya yang besar menyelusup masuk ke sela rambut menyentuh pipi. Hanya dengan satu tangan Davien mampu membuat wajah mungil itu dalam genggaman. “Bunga?” ucapnya lirih.
Tubuhnya menggeliat ketika tangan itu bergerak meraba perlahan sampai ke bagian tengkuk belakang. Bunga hendak melepaskan diri dengan menjauhkan tangan Davien, tapi lelaki itu begitu kuat meskipun hanya menggunakan sekian persen tenaganya. Bunga bahkan sudah berhasil menggenggam jari-jemari milik Davien yang melingkar di sisi leher, hanya tinggal menariknya saja tapi lelaki itu begitu kuat seolah sengaja agar Bunga tak bisa pergi menjauh.
“Apa yang sedang kau lakukan?” suaranya lemah, kepalanya semakin menunduk sampai-sampai Davien kesulitan melihat wajahnya.
Hujan masih enggan berhenti, terlebih lagi tak ada satu pun lampu di dalam mobil yang menyala membuat suasana gelap karena minim cahaya, memaksa Davien mengangkat kepala Bunga yang sedikit pun wajahnya tak terlihat oleh kedua mata.
Suara hujan deras menyelusup masuk melewati sela-sela mobil. Meskipun begitu Juliet yang tengah tertidur pulas sama sekali tak terganggu. Tetapi Davien harus memelankan suaranya ketika berucap, bisa jadi nanti Juliet justru terbangun karena terganggu dengan suaranya. “Kau pikir apa yang sedang aku lakukan?”
Suaranya seolah sedang berbisik lembut di telinga, padahal Davien hanya memelankan suara dan menurunkan nada bicara. Kini justru karena suaranya yang terdengar berat seolah berbisik seperti sebuah desa han merasuk ke dalam rongga telinga.
Pipinya merona menyadari Davien mulai bergerak mendekat. Tubuhnya mulai lemah dengan sisa tenaga yang dia miliki Bunga berusaha menghindar. Tetapi refleks Davien yang begitu cepat menahan sisi lain dari wajah Bunga menggunakan satu tangannya lagi. Sama seperti tangan satunya menyelusup ke sela rambut dan rahangnya sampai ke bagian tengkuk hingga perempuan itu tak mampu lagi berherak menghindar.
“Davien?” Bunga enggan membalas tatapan matanya.
Kepalanya berhasil mendarat di kening Bunga yang sengaja dipaksa mendongak menghadap kearah wajahnya. “Lihat aku... kenapa kau menghindari tatapanku? Apa aku membuatmu gugup?” bisiknya lembut.
Aroma sisa Coffee yang keluar dari mulutnya tercium bebas saat Davien berucap. Sadar wajahnya begitu dekat Bunga memilih memejamkan mata karena tak sanggup memenuhi permintaan Davien. Bahkan ketika Davien mulai mencium bibirnya dengan lembut tanpa dia sadari nalurinya mengizinkan tubuhnya diambil alih.
Nafas mereka mulai memburu, suasana kabin berubah memanas. Ciuman semakin dalam kala Davien dikuasai nafsu yang membelenggu jiwanya sampai-sampai dia lupa ada Juliet yang tertidur di kursi belakang.
“Ibu?”
__ADS_1