Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
26 S3: Love Romance Pertemuan kembali


__ADS_3

Davien menegakkan tubuhnya menjauh dari Bunga.


"Bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu untuk menolongku. Membantu melupakannya,? karena hanya kamu yang bisa melakukan itu" Davien melangkah mundur ketika Bunga beranjak duduk di atas ranjang.


laki laki itu menundukkan kepala, menekan perlahan bagian keningnya.


Seolah dia sudah merasa putus asa karena Bunga sudah beberapa kali menolaknya.


Bunga terdiam, tangannya bergerak meraih handuk yang menutupi kepalanya. Menariknya membuat rambut yang masih basah itu berantakan memutupi wajahnya.


"Aku"


"Lupakan!" sahutnya dengan cepat memotong pembicaraan.


"Anggap saja aku tak pernah memintamu untuk menjadi milikku!. Lupakan semuanya!" Davien melangkah dengan frustasi menuju pintu. Dia berjalan keluar dan meninggalkan Bunga yang masih duduk termangu di tepi ranjang.


Bunga mencoba keras mencerna ucapannya, masih menimbang dan memilah bagaimana dia harus mengambil keputusan.


"Dia menyelamatkan hidupku hari ini, bahkan kamu juga sudah berjanji untuk bersikap baik dengannya! lalu apa yang baru saja kamu lakukan bunga??"


Perempuan itu beranjak berdiri. Mempercepat langkahnya mendekati alamari. Segera meraih kaos dengan celana santai untuk berganti baju setelahnya berlari keluar mengejar Davien. Berulang kali Bunga menekan tombol agar pintu lift segera terbuka. Wajahnya semakin menampakkan guratan kegelisahan ketika pintunya tak kunjung terbuka.


Di sisi lain Davien tengah berjalan keluar dari lobi. Membuka pintu kemudian melangkah masuk ke dalam. Mobil yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh penjaga di sana.


♡♡♡


Pintu lift terbuka, Bunga segera berlari menuju ke halaman lobi mengejar Davien. Bunga membuang pandangannya ke sekitar, berharap masih bisa bertemu dengan Davien. Tetapi rernyata laki laki itu telah pergi.


Bunga berusaha mengatur nafasnya yang nemburu karena sempat berlari. Dia terdiam sejenak sebelum kembali masuk ke dalam.


Tak lama sebuah mobil hitam dengan sorot lampu tajam yang menerangi wajahnya berhenti tepat di sana.


Bunga menoleh melihat ke arah mobil itu.


Matanya membulat ketika melihat seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam mobil.


Laura yang beru saja turun pun seketika pandangannya terarah ke Bunga. Tubuhnya terpaku menatap Bunga dengan lekat. Gadis kecil yang dulu ditinggalkannya itu kini sudah tumbuh dewasa. Pandangan mereka nampak menyelidik satu sama lain.


Bagi bunga waktu terasa terhenti sesaat, dadanya seakan berdebar kencang hingga sulit rasanya untuk hanya sekedar bernafas.

__ADS_1


♡♡♡


Laura meletakkan secangkir kopi kembali ke tempat semula setelah mencercapnya sesaat. Dia nampak duduk di seberang meja restoran yang terletak di bagian lantai bawah apartement.


"Aku tidak mengira, kamu kini sudah tumbuh menjadi dewasa" pandangannya tertuju kepada Bunga yang masih terdiam menatap kosong cangkirnya.


Bunga tak bergeming, lumayan lama dia membiarakan pertanyaan Laura tanpa menjawabnya. Perempuan yang sama sekali tak pernah ingin dilihatnya lagi itu kini sedang duduk di hadapnnya, menatap gembira tanpa rasa berdosa.


Bunga kini sedang mengendalikan dadanya yang begemuruh akan sebuah rasa amarah yang berusaha keras mencuat keluar dari dalam dadanya.


"Aku benar benar tersanjung kamu masih bisa mengenaliku!" ucapnya sinis.


"Maaf sudah meninggalkanmu cukup lama" Laura menghela nafas panjang, senyum tipis terlihat mewarnai bibirnya ketika merasa Bunga seolah sedang menyinggung dirinya. Laura tak merasa sakit hati, dia paham betul kenapa Bunga bersikap dingin serta acuh kepada dirinya. Menyadari bahwa dia memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari putrinya.


"Putriku??, , tidak mungkin sampai saat ini dia masih menganggapku sebagai Ibunya. Aku menyadari kesalahanku, aku yakin sampai saat ini dia pasti masih sangat membenciku"


"Apa kamu hidup dengan baik selama ini?" sambungnya


"Kenapa kamu masih tertarik dengan kahidupanku?" Bunga kini berani menatap ke arah matanya. Tatapan benci seolah sedang melihat musuhnya di depan sana dan siap untuk berperang melawannya.


"Bagaiman kehidupanku!!, sesulit apa aku menjalaninya!! aku pikir kamu tak perlu mengetahuinya!" Bunga merasa tak bisa menahannya lagi. Dia tak ingin melihat perempuan itu berada di sekitarnya.


"Aku pikir kamu sudah mendapatkan apa yang kamu impikan selama ini!" nada bicaranya terdengar sangat menjengkelkan bagi Laura yang mendengarnya


Tetapi Laura terkekeh seakan itu seperti sebuah sanjungan baginya.


Keningnya berkerut tipis, mencoba menahan diri dan tetap bersikap santai ketika Bunga berucap kasar keladanya.


"Bersikaplah sopan Bunga!, , bagaimana pun juga aku adalah Ibumu"


"Ibuku??" Bunga mempertegas ucapannya.


"Selama ini kamu kemana saja!, kenapa baru sekarang mengakui bahwa aku adalah putrimu?" Bunga mengawasi ekspresi wajahnya yang tak terbaca.


"Kenapa baru sekarang kamu mengatakan bahwa kamu adalah Ibuku!" Bunga tetap berusaha berucap dengan nada rendah dan tennag


"Di mana kamu saat aku membutuhkanmu?? di mana kamu saat aku sedang merasa kesepian? di mana kamu saat aku sedang sakit?? di mana kamu saat aku sedang merasa kelaparan!!." Bunga sejenak berhenti berucap, sengaja memberi waktu kepada Laura untuk mencerna ucapannya.


"Di mana kamu ketik akau dihina oleh teman sekokahku karena mereka menganggap aku ini sebagai anak haram!!" dadanya bergerak cepat ketika berucap, Bunga menahan amarah yang membakar habis hatinya. Hampir saja dia berucap dengan nada tinggi jika tak bisa mengendalika diri dengan baik.

__ADS_1


Tetapi mengingat bahwa kini mereka sedang berada di tempat keramaian, Bunga tak ingin mengundang perhatian banyak orang yang sedang menikmati waktu mereka untuk makan malam di sana.


"Kamu pergi meninggalkanku!!. Memberikan tanggung jawab penuh atas diriku kepada Nenek di saat dia sedang dalam keadaan sakit!, kenapa?" Bunga berhenti berucap, memberi waktu kepada Laura untuk memjawab pertanyaannya.


Laura terdiam, masih memikirkan ucapan Bunga yang menusuk langsung ke dalam dadanya. Perempuan itu membisu, matanya memerah ketika menyadari kesalahannya.


"Kenapa??" Bunga kembali melontarkan pertanyaan ketika Laura tak bisa menjawabnya.


"Bukankah itu seharusnya pertanyaan yang sangat mudah bagimu? semudah saat kamu meninggalkanku tanpa alasan!!" matanya terlihat berkaca, ketika sudah tak bisa lagi menahan amarahnya.


"Apakah aku aib bagimu hingga dulu kamu tega meninggaalkannku?? aku ingin hidup tenang" Bunga menghela nafas panjang, berusaha melegakan dadanya yang terasa sesak.


"Jadi aku mohon, bersikaplah seolah kita tak saling mengenal satu sama lain" ucapnya dengan pasti. Bunga tak ingin lagi memiliki hubungan apa pun dengan perempuan itu. Karena hanya dengan nelihat wajahnya, Bunga selalu kembali terbayang akan kehidupan masa lalaunya yang sangat kelam. Di mana dia bertahan hidup di tengah kemiskinan yang nelanda hidupnya. Bersyukur Neneknya memiliki usaha yang pengasilannya tak seberapa, tetapi mampu untuk menghidupinya.


"Bunga aku mohon jangan seperti ini!, jangan menjadi keras kepala!"


"Kamu yang membuatku menjadi keras kepala" sahutnya cepat.


"Kamu pikir aku harus bersikap seperti apa kepada orang yang sudah menelantarkanku!! jangan pernah berharap lebih" Bunga mendorong tubuhnya maju mendekati meja, kemudian berucap dengan nada penuh penekanan. Seolah memberi peringatan kepada Laura bahwa dia tak main main dengan dengan ucapannya.


"Bersikaplah seolah kita tidak saling menenal jika bertemu lagi" Bunga meraih cangkir berisi teh hijau yang di pesan khusus oleh Laura untukya. Menegugnya habis hingga tak tersisa setetes pun, kemudian meletakkan kembali cankirnya dengan sedikit tekanan hinggaa menimbulkan bunyi keras ketika cangkir itu menyentuh permukaan meja.


Prak!!


"Terima kasih atas jamuan hangatnya setelah lama tidak bertemu. Aku harap kamu bisa memenuhi keinginanku. Seharusnya itu tak sulit bagimu karena bertahun tahun kamu sudah melakukannya dengan baik!" Bunga beranjak berdiri, melangkah pergi meninggalkan Laura yang masih terdiam.


Perempuan paruh baya itu memejamkan matanya, mengepalkan tangan dengan kuat. Menikmatk kekalahan yang sebelumnya tak pernah dia bayangkan.


"Benar benar gadis keras kepala" gumamnya sembari mengalihkan pandangannya ke Bunga yang sedang melangkah keluar.


♡♡♡


Rate bintang 5 turun 4,8 😭😭😭 nyeseg.


mohon yang belum vote bintang 5, untuk bantuannya beri kami bintang 5 ya.


gratis nggak keluar poin atau koin.


cukup klik bintang 5 lalu serahkan 🙏🙏

__ADS_1


terima kaaih sebelumnya😍😘😘😘


__ADS_2