
Luna masih terus mencoba mengatur nafasnya yang terengah engah karena menahan detak jantungnya yang masih terus berlompat lompat bahkan sesekali sampai terasa nyeri di dadanya itu.
Barack hanya menatap ke arah mata luna dengan lembut, sambil memperlihatkan senyum manisnya.
Di wajah luna terlihat sekali bahwa dia menyimpan banyak pertanyaan untuk barack, namun dia tidak tahu harus mulai dari mana.
"Kenapa melihatku seperti itu?, , masih kurang?" luna tahu kemana sebenarnya arah pertanyaan barack itu, namun dia mencoba mengalihkan pembicaraanya.
"Kenapa semalam kamu bisa mabuk? sudah tidak takut, kalau kejadian yang dulu terulang lagi?" luna memberanikan diri untuk menanyakan hal yang sedikit sensitif itu.
Mulai terlihat kerutan di wajah barack setelah mendengar perkataan luna itu.
"Kamu sebenarnya mau bertanya, atau mau menyumpahi aku?" senyum tipis mulai terlihat di wajah barack.
Luna mencoba menelan ludah dengan perlahan, ketika barack tidak menjawab pertanyaannya tapi malah kembali melempar pertanyaan kepadanya.
"A, , aku kan hanya bertanya, , tidak ada maksut buat nyumpahin kamu kok!". nada suara luna terdengar melemah di bagian akhir kalimat.
Barak menghelas nafasnya dengan perlahan.
"Hari ini, , kamu ada kelas?" bukannya menjawab pertanyaan luna dia malah terus berbalik tanya ke pada luna lagi.
"Ada, , " terlihat dari wajah luna kalau dia seperti menyembunyikan sesuatu.
Barack kembali meraih pinggang luna dan melingkarkan ke dua tangannya di sana, dan mendorong lagi tubuh luna yang sudah mulai menjauh darinya, agar kembali mendekat lagi ke tubuhnya.
"Barack!" kata luna dengan sedikit nada tinggi karena merasa kaget saat barack mendorong tubuhnya agar lebih mendekat ke tubuh barack.
"Hm?" jawab barack dengan menaikkan ke dua alisnya, terlihat dengan jelas dari wajahnya kalau dia sedang menantang luna, seolah olah berkata jangan berani menentangku.
"Kelasmu selesai jam berapa?" barack bertanya lagi.
"Mmm, kurang paham sih, kenapa?" kata luna sambil sesekali membuang pandangannya ke arah lain, karena mencoba menghindari tatapan barack yang entah kenapa terlihat seksi sekali saat menatap ke matanya hingga membuat pipinya merona.
"Bagaimana bisa, kamu tidak tahu jadwal kuliah kamu sendiri?" barack masih terus menatap ke arah mata luna yang terus berusaha menghindarinya.
Luna mencoba meraih leher belakangnya dan mengusapnya dengan pelan karena merasa sedikit merinding dengan tatapan barack saat itu.
"Ya mana aku tahu, jadwal kelas kan kadang sering berubah".
"Ya sudah, kamu siap siap dulu, aku akan siapkan mobil, aku antar kamu ke kampus" kata barack.
"Baju aku kan kotor, , terus aku di suruh pakai apa?" kata luna.
"Pantas saja, kamu memakai koasku ini, kenapa bajumu bisa kotor?" pertanyaan barack itu seolah olah memberitahu luna kalau dia tidak ingat dengan ke jadian semalam.
Terlihat kernyutan di dahi luna setelah mendengar kata kata barack.
"kamu tidak ingat semalam waktu kamu muntah di bajuku?" luna mencoba memastikan ingatan barack.
Terlihat bola mata barack bergerak kesana kemari untuk sejenak mengingat kembali kejadian semalam.
"Hmm" barack menggelengnkan kepalanya.
Melihat barack menggelengkan kepalanya,membuat luna merasa lega, pasalnya dia juga berfikir pastinya barack juga tidak ingat saat melihatnya telanjang semalam.
"Terus kalau waktu aku tel" luna menghentikan perkataannya, karena dia merasa malu harus mengatakan hal itu secara gamblang di depan barack.
Barack mengingat kembali saat semalam luna berdiri di depannya walaupun tidak terlalu jelas, namun kelihatan kalau dia berdiri tidak menggunakan pakaian malam itu.
Terlihat barack menyipitkan matanya menunggu luna meneruskan kalimatnya itu.
"Tel apa?"tanyanya dengan raut wajah yang terlihat sangat penasaran.
Wajah luna memerah seketika.
"Mm, bukan apa apa, lupakan saja, tapi kamu benar benar tidak ingat kan?" luna mencoba meyakinkan dirinya sandiri dengan bertanya sekali lagi kepada barack.
"Serius, , aku benar benar tidak ingat" jawab barack sambil melepas kedua tangannya yang sedari tadi mesih melingkar di pinggang luna.
"Ya sudah, aku keluar belikan kamu baju dulu, kamu tunggu di sini jangan kemana mana!" perintahnya dengan nada penuh penekanan di bagian akhir kalimat.
__ADS_1
"Tapi mobilmu ada sama cici" kata luna kepada barack yang masih berdiri di depannya.
"Aku bisa jalan, ada swalayan di seberang jalan sini" kata barack sambil berjalan meningglkan luna yang masih duduk di atas meja itu.
Terlihat sekali bahwa barack menahan senyumnya seperti sedang menutupi sesutau dari luna.
Selesai mengikuti kelas, luna langsung pulang tanpa menunggu barack menjemputnya, karena mamahnya barack sudah menelpon luna lebih dulu untuk menyuruhnya datang ke rumah.
ting tong, , luna membunyikan bel rumah bu bowo.
Seperti biasa yang membukakan pintunya adalah seorang art di rumah itu.
"Mbak luna, , sudah di tunggu sama nyonya di belakang" kata art tersebut.
Lunapun berjalan menuju ke arah taman belakang dimana mamahnya dan bu bowo sedang sibuk memilih undangan.
"Mah?" luna memangil mamahnya yang sedang duduk di bangku taman.
"Luna? kesini sayang, , mamah sedang memilihkan undangan buat acara pertunangan nanti" kata mamahnya sembari memilih milih beberapa contoh undangan yang ada di depannya.
Sedangkan bu bowo terus menengok ke arah pintu berharap kalau barack juga datang bersama luna.
Namun yang di harapkan tak kunjung datang.
"Loh, barack dimana luna?" tanya bu bowo kepada luna.
"Masih di kantor mungkin, mah"
"Ooh, , soalnya kemarin sudah bilang sebelum ke sini katanya mau jemput kamu setelah selesai kuliah" kata bu bowo.
Luna pun terdiam mendengar kata kata mamahnya barack itu.
Pasalnya tadi pagi barack juga sudah bilang kalau akan menjemputnya selepas jam kuliah.
"Coba luna telepon dia ya mah" luna meraih ponselnya yang ada di tasnya, sembari berjalan dengan perlahan masuk ke dalam rumah melewati ruang dapur dan langkahnya terhenti di depan tangga yang menghubungkan ke lantai dua.
Luna masih terus mencoba menelfon barack namun masih tidak ada jawaban.
Dia mencoba menghela nafasnya dengan perlahan.
Luna memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Saat itu pandangannya langsung tertuju ke pintu kamar lantai atas.
Dia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga yang ada di depannya itu.
Setelahnya dia menghentikan langkah kakinya di depan pintu kamar yang menarik perhatiannya tadi.
Luna meraih gagang pintu di depannya, dan membuka pintu itu dengan perlahan.
Dia membuang pandangan matanya ke seluruh dalam ruangan kamar itu.
Nampak sebuah foto berukuran besar yang melekat di tempok atas tempat tidur, seakan akan memperlihatkan kepemilikan atas kamar itu.
Foto itu adalah foto barack.
Dia masuk ke dalam kamar itu dengan perlahan, meraih sebuah foto berurukan kecil namun di balut dengan figura yang elegan membuat setiap orang yang masuk ke sana matanya tertarik dengan foto itu.
Dilihatnya foto barack dengan ke dua orang tuannya saat masih berumur sekitar 10 tahunan.
Terlihat senyum manis di wajah barack ketika dia masih kecil.
Barack berjalan masuk ke dalam kamarnya mengendap endap agar luna tidak menyadari kedatangannya.
Dengan perlahan barack mendekati luna yang sedang berdiri sambil memperhatikan foto barack yang berukuran besar itu.
Di tiupnya dengan pelan telinga luna dari arah belakang.
Dan seketika luna terloncat kaget.
"Aaaaaaah!" luna membuang pandangannya ke arah berack yang ada di belakangnya.
"Hhiiihhhh, , geli" kata luna dengan nada ketus karena dia merasa kaget saat barack melakukan hal itu.
"Kenapa sekarang kamu jadi gampang marah marah ya?, , Hm??" kata barack sambil menarik pinggang luna dan mendekap ke pelukannya.
__ADS_1
"Barack lepas ih, nanti kalau mamah masuk, malu kan" kata luna sambil mendorong pelan pundak barack
Namun barack malah semakin mengeratkan tubuh luna ke dalam pelukannya.
"Semakin kamu banyak bergerak aku akan semakin mengencangkan pelukanku!" kata barack dengan nada sedikit mengancam.
Lunapun mengikuti apa kata barack, dia berhenti memaksa barack melepas pelukannya dengan ke dua tanganya.
"Oke kalau begitu aku akan berhenti mendorongmu, tapi kamu harus lepaskan tanganmu ini, nanti kalu mamah lihat!" kata luna dengan menurunkan nada suaranya.
"Mamah sedang sibuk di bawah, tidak mungkin dia naik ke atas sini" kata barack.
"Aku kesini karena di suruh bantu mamah masak buat makan malam nanti, ayo barack lepas donk" kata luna.
"Oke, tapi ada syaratnya" kata barack dengan pandangan mata yang mulai nakal ke arah luna.
"Ha??? syarat?" tanya luna kebingungan.
"Bukannya tadi aku sudah bilang sama kamu, kalau aku akan jemput kamu di kampus, tapi kata cici kamu sudah pulang duluan"
"E, , kalau soal itu sih, tadi mamah minta aku cepat cepat buat datang ke sini makanya aku tidak menunggu kamu" jawab luna.
"Sebagai permintaan maaf mu, kamu harus cium aku" kata barack.
"Ha??" luna kaget mendengar perintah barack kalau harus menciumnya.
"Lebih cepat kamu cium aku, lebih cepat juga aku lepas kamu, ayo!" kata barack sambil memajukan wajahnya ke arah luna dan mempersilahkannya untuk segera mencium barack.
Luna malah mendoyongkan kepalanya ke arah belakang agar sedikit menjauh dari wajah barack seakan akan mengisyaratkan kata, selain di situ boleh tidak.
Barack pun tahu maksut luna itu, makanya dia segera memalingkan wajahnya dengan maksut boleh kok kalu cium di pipi juga.
Namun saat luna mencium pipi barack, dia malah kembali menyodorkan mulutnya, alhasil luna mencium bibir barack waktu itu.
Terlihat wajah luna yang tersipu malu itu membuat barack tetsenyum lebar.
Barack pun terdiam sambil terus memandang ke arah mata luna dengan lembut.
"Kenapa ngelihatinnya begitu banget, aneh tahu!" kata luna.
"Aneh bagaimana?" tanya barack.
"Ya aneh, ,biasanya kamu ngelihatin aku dengan tatapan matamu yang galak itu, kalau tidak, pasti sadis" memang tidak bisa di pungkiri kalau luna belum terbiasa dengan tatapan mata barack yang lembut namun malah terlihat aneh di hati luna.
Barak pun melepas tangannya yang dari tadi melingkar di pinggang luna.
"Ya sudah sana pergi" kata barack dengan ketus, dan mulai terlihat lagi wajahnya yang ketus itu.
Luna tidak segera pergi malah dia diam sambil terus melihat ekspresi wajah barack yang berubah itu.
"Kamu marah?" tanya luna.
"Sudah sana pergi, katanya mau bantu mamah masak" jawab barack dengan nada jutek lagi.
Barack berjalan ke arah almari untuk mengambil baju ganti.
"Iya aku pergi, tapi kenapa tiba tiba kamu jadi cemberut begitu?" tanya luna.
Barack mengehela nafas dengan pelan setelah mendengar perkataan luna.
"Galak salah, baik salah, sekarang jutek juga salah, terus aku harus bagaimana?" kata barack sambil melepas kancing bajunya satu persatu.
Terlihat luna sedang menahan tawanya setelah mendengar kata kata barack.
"Tapi aku suka kamu yang galak tahu sebenarnya" luna mencoba menggoda barack.
"Ok, karena kamu yang minta, jadi aku akan turuti keinginanmu" kata barack sambil melepas kemejanya dan memperlihatkan dadanya yang bidang itu di depan luna.
"Eh, kamu mau ngapain?, , " kata luna sambil menutupi matanya dengan sebelah tangannya.
"Lagi pula, kamu sudah sering lihat, kenapa sekarang di tutupi?" kata barack.
"Iiiiiih nyebelin!" kata luna sambil berlari ke arah keluar dari kamar barack.
Terlihat senyum barack sperti senyum kuda yang hanya mengembang di sebelah pipinya itu.
__ADS_1
***