Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#6 lift


__ADS_3

Siangnya kelas bahasa telah selesai, Luna masih duduk di bangkunya mulai membereskan buku-buku dan memasukkan ke dalam tas, sementara bola matanya melirik ke arah Aryo yang duduk di kursinya. Dia mencoba memberanikan diri untuk menghampiri Aryo saat itu.


Luna hanya diam tersipu malu, sesekali dia menangkupkan bibirnya untuk meredam rasa gugub di depan Aryo.


Ujung mata Aryo menangkap bayangan Luna sedang berajalan ke arahnya, dia pun pura pura tidak melihat.


"Eh cupu, masih belum menyerah? Kau tidak paham dengan ucapan Aryo kemarin?" Sintya, dia salah satu teman perempuan Aryo.


"Kau? Mau apa lagi?! Aku sudah benar-benar muak melihat wajahmu, menjauh dariku!" Aryo menaikkan nada bicaranya. Kemudian beranjak berdiri melangkah sambil menyingkirkan tubuh Luna karena menghalangi jalan.


"Dengarkan aku sekali ini saja" Luna penuh harap, Aryo pun menghentikan langkahnya.


"Dengar ya! Aarrrggghhhh!!!" Aryo mengacak-acak rambutnya karena frustasi merasa jengkel dengan sikap Luna. "Bagaimana lagi aku harus bersikap agar kau mengerti! Aku tidak ingin kau selalu menggangguku!" Aryo mulai putus asa, sesekali dia menghelas nafas panjang untuk melegakan emosi di dadanya.


"Beri aku satu kesempatan" Luna masih terus berharap.


"He??? kesempatan untuk apa" Aryo kebingungan.


"Beri aku satu kesempatan lagi, aku akan berusaha membuatmu menyukaiku, tapi kalau aku tidak bisa melakukannya, maka aku akan mundur... aku akan mencoba melupakanmu dan tidak akan pernah menganggumu lagi" ucapnya berusaha meyakinkan Aryo.


"Kau! sudah kehilangan akal sehatmu!! berkali kali aku menolakmu, tapi kau masih meminta kesempatan sekali lagi? apa yang ada di otakmu?" Aryo mengusap wajahnya dengan gusar.


"Terserah kau mau bilang apa. Tapi pliss... kau bisa pegang janjiku kali ini, aku tidak akan mengganggumu" Luna meyakinkan Aryo yang sejak tadi terus menatapnya penuh amarah.


Aryo sudah kehabisan akal, tidak tau harus bicara apa lagi dengan Luna, karena semua kata buruk bahkan kasar pun telah dia lontarkan kepadanya selama bertahun-tahun, tapi Luna tidak pernah mau menyerah. "Apa aku bisa mempercayai kata-katamu itu?" ucapnya dengan suara berat karena sudah mulai putus asa.


"Bisa! aku jamin seratus persen kau bisa pegang kata -kataku, karena aku yakin kali ini aku pasti bisa membuatmu menyukaiku!" jawabnya penuh semangat.


"Mimpi kau!!" cela Aryo sembari berlalu dan pergi meninggalkan Luna.


Luna meloncat kegirangan, wajahnya terlihat begitu berseri-seri sesaat lupa akan perjodohannya.


Cici yang menyaksikan dari tempat duduknya pun mulai menghampirinya. "Kau terlihat gembira sekali? " ucap sahabatnya dengan sewot.


"Iya doooonng... secara kali ini aku yakin pasti akan memenangkan hati Aryo!"


"Halah... dari dulu itu terus sloganmu! ya ya ya... yang sedang bahagia, sampai lupa dengan masalah tadi pagi!" Cici mengingatkan masalah perjodohan.


"Ciiii!! Kenapa kau harus membahasnya lagi! paling tidak beri aku semangat!" Luna mulai merengek.


"Aku yang melihat sikapmu saja lelah! otakmu itu sudah penuh dengan nama Aryo, Aryo dan Aryo, sepertinya dia sudah mendarah daging di tubuhmu! lalu sekarang aku ingin tanya, bagaimana caramu kali ini membuat dia menyukaimu? Kau mau berdandan berubah jadi cantik?" Cici mulai penasaran.


"Emm... itu jurus pamungkasku. Kalo pakai itu tidak berhasil yaaaa, doakan saja agar aku berhasil kali ini!"


"Kau ingin membuat dia menyukaimu atau menyukai orang lain yang ada di dalam tubuhmu?"


"Ya akulah... kau! ah ya ampun. Dulu saja kau selalu menyuruh agar aku berubah menjadi cantik tapi sekarang kenapa seperti ini?" Luna mulai kehilangan semangatnya.


"Kau itu cantik Lun, luar dan dalam kau sangat cantik. Baik hati lagi, jadi kau tidak perlu berubah cantik seperti perempuan yang ada didekat Aryo. seandainya Aryo mau menerima dirimu apa adanya dan kau merubah penampilanmu menjadi rapih dan lebih cantik... itu adalah bonus untuknya. Tapi kalau dia jatuh cinta denganmu karena perubahan penampilan, itu namanya bukan cinta Lun, itu kompromi!!! Kalau Aryo menyukaimu karena apa yang ada di dalam dirimu, ketika suatu saat nanti kau berubah menjadi lebih buruk pun dia tidak akan meninggalkanmu!" sahabatnya itu terus berusaha meyakinkan Luna.


"Tapi ini kesempatan terakhir aku Ci, yang aku butuhkan sekarang adalah–," ucapannya terputus karena ponselnya bergetar.

__ADS_1


D**eert deerrtt**


"Ayahku! Aku ada janji siang ini bertemu dengannya membahas soal perjodohan itu. Bagaimana ini Ci?" Luna mulai cemas.


"Bodo! Kenapa aku jadi ikutan stres memikirkanmu?" Cici menggaruk garuk kepalanya.


♡♡♡


Setelah jam makan siang Luna pergi menemui Ayahnya di kantor dan memilih untuk meninggalkan kelas.


Sampai di sana Luna menghentikan motor antiknya di depan lobi utama.


"Pagi Non LUna" sapa Pak Satpam yang berjaga di pintu masuk, sambil memamerkan senyum manisnya.


"Tangkap, Pak!" Luna melempar kunci motornya ke Pak Satpam tersebut. "Tolong parkir tempat biasa ya pak dekat mobil Ayah!" tambahnya.


"Siap, Nona!" sahut Pak Satpam dengan samangat.


Luna berjalan menuju lift sambil membuka ponselnya membalas pesan dari Cici, mereka membahas tentang mata kuliah yang dilewatinya.


Saat itu sebuah mobil BmW milik Barack berhenti di tempat parkir VIP tepat di sebelah motor milik Luna. Setelah turun dari mobil dia melirik ke arah motor butut milik Luna. "Motornya si gembel, sedang apa dia di sini? kalaupun dia jadi OB... kenapa motornya parkir di tempat VIP?? Bodoh, kenapa juga aku memikirkannya!" Barack langsung berjalan ke arah pintu lobi utama kemudian menuju lift.


kebetulan di depan lift Luna juga sedang menunggu pintunya terbuka.


Ting! Pintu lift terbuka Luna masih sibuk dengan ponselnya melangkah masuk ke dalam lift dan tidak menghiraukan sekitarnya.


Saat pintu lift bergerak menutup tiba-tiba terbuka kembali karena Barack menekan tombol dari luar pintu.


Barack pun sama, dari pertama masuk lift pandangannya selalu fokus ke depan dan tidak pernah berubah. Padahal di dalam lift hanya ada mereka berdua.


konsentrasinya mulai pecah, ujung mata Luna melirik ke arah tombol lift di depannya di mana Barack sedang menekan tombol nomor 30. tombol yang sama yang di pilih oleh Luna sebelumnya untuk menuju ke ruang kerja Ayahnya. "Dia berhenti di lantai 30??? Siapa lelaki ini? Kalau pagawai kantor seharusnya dia tahu kalo ini aku! tapi kenapa dia diam saja dan tidak menyapa?"


Merasa penasaran akhirnya Luna menyimpan ponselnya ke dalam tas. Perlahan dia mengangkat kepalanya bermaksud untuk melihat siapa lelaki yang berdiri di sampingnya.


Setelah berhasil melihat wajahnya dari samping, Luna mengerutkan dahi. Dengan cepat pula dia kembali menundukkan kepalanya lagi. "Tunggu! sepertinya aku... pernah melihat wajah itu. Tapi... di mana aku melihatnya?" Luna merasa tidak asing dengan wajah lelaki di sampingbya. Sekali lagi karena sangat penasaran akhirnya dia kembali melirik. Matanya sedikit membulat saat mengingat di mana dia bertemu dengan lelaki itu. "Astaga! benarkah itu dia?"


Barack masih tetap pada posisi semula, tidak pernah mengalihkan pandangannya dari pintu lift. Meskipun dia sadar perempuan yang ada di sampingnya selalu menatap kearahnya, Barack mencoba bersikap tenang.


"Haruskah aku menyapa? Idih... pertama bertemu dengannya saja dia menyebutku gembel! entah kalimat apa lagi yang akan keluar dari mulutnya kalau sampai aku menyapa dia teelebih dulu! bisa jadi dia bilang kalau aku sok kenal!"


Lampu di tombol lift pun bergerak cepat, sekrang mereka berada di lantai 27, 28...


CLANG!!!


Bunyi mesin lift terdengar sangat keras dan terasa juga sedikit guncangan di dalamnya. Lift berhenti bergerak, lampu meredup kemudian mati dan menyala lagi. Luna mulai panik matanya terbelalak. Dia mendekatkan telinga ke dinding lift di sebelahnya.


"Ah! tidak mungkin, ini tidak... tidak boleh terjadi!! liftnya kenapa berhenti!!!" Luna teriak histeris. Saking paniknya dia tidak bisa tenang dan diam, terus mengoceh sembari menekan tombol di dalam lift berharap lift alan segera terbuka lagi.


"Bagaimana ini? Aduuuuh bagaimana ini!! Ayolah cepat bergerak lagi, aaaarrggghh!! Bafaimana ini?" Luna semakin panik, mengacak-acak rambutnya seperti orang kehilangan akal. Luna pun teringat dengan ponselnya, segera dia mengambil dan menghubungi Ayahnya. "Aarrggh!!! Kenapa di saat genting seperti ini tidak ada sinyal coba!" Luna terus mengumpat, sambil menepuk-nepuk ponselnya ketelapak tangan.


Barack sedari tadi mencoba untuk diam dan tenang namun kini mulai geram karena melihat tingkah Luna yang berisik dan usil. "Kau bisa diam tidak?" ucapnya singkat, padat, jelas dan dingin. Namun tatapan matanya masih terus memandang ke arah pintu lift.

__ADS_1


"He!! Apa kau bilang? Hanya orang bodo yang masih berdiam diri dan tidak berbuat apa pun saat terjebak di dalam lift! Dasar orang aneh!" Luna terus berbicara tanpa titik koma. Dia kembali berulah, berteriak di dalam lift bahkan menggedor-gedor pintu.


Blam blam bla**m**!!


"Siapa di luar sana? Kalian bisa mendengarku tidak? tolong buka pintunya! liftnya berhenti ini!" dia berteriak sambil sesekali menghelas nafas panjang.


"Kau bisa diam tidak!!?" Barack menatap tajam matanya. "Kau teriak sampai uratmu putus pun tidak akan ada yang mendengarmu!" Barack berusaha menahan emosi melihat tingkah Luna.


"Setidaknya aku mau berusaha agar kita bisa keluar dari sini, sedangkan kau! Apa? Dari tadi hanya diam saja! Itu tidak akan membantu apa pun!" ucapnya dengan nada tinggi.


"Kau pikir apa yang kau lakukan akan membantu? Tidak! Diam lebih baik, karena itu bisa menghemat oksigen di dalm lift" Barack mulai menaikkan nada bicaranya, sementara matanya menatap tajam ke arah Luna.


Akhirnya Luna mulai tenang, diam dan menuruti ucapan lelaki yang kini hanya diam tanpa melakukan apa pun.


♡♡♡


Setengah jam berlalu, Luna mulai kelelahan nafasnya pun terasa sesak. Merasakan nafasnya semakin berat di dalam dadanya seperti sedang berebut oksigen dengan Barack. Dia pyn berinisiatif duduk sambil meluruskan kakinya, menetralkan perasaannya yang panik.


Barack mulai merasa panas melonggarkan dasi dan melepas jas. Anak rambut di keningnya yang sempat melambai lambai kini menyatu dengan kulit karena basah terkena keringat.


Merasa lelah Barack mulai bersandar ke lift. Tanpa sadar tubuhnya bergerak turun, duduk di lantai. Kepalanya tertunduk berusaha mengatur nafasnya yang mulai berat.


"Heh! Benar-benar... kau masih saja bisa tenang dan diam?" Dalam keadaan lemas Luna masih terus mengoceh.


Barack tidak menghiraukannya, dia hanya diam lalu kembali menatap tajam menusuk ke arah Luna. Tatapannya lebih seperti sebuah peringatan baginya.


"Ok ok! Aku akan diam... puas??!!" gumamnya.


Satu jam berlalu, di luar para petugas sedang berusaha membuka secara paksa pintu lift.


Sementara kadar oksigen di dalam lift mulai berkurang membuat ruangan berukuran 2×3 meter itu terasa panas, nafas juga mulai semakin berat. Luna semakin merasa lemas kelopak matanya terasa berat, pandangan matanya mulai gelap dan dia sudah mampu menopang tubuhnya yang terasa amat berat.


BRUG !!!


Luna jatuh pingsan. Barack yang melihat kejadian itu hanya diam terpaku menatap ke arah tubuhnya yang sudah tergeletak tak bergerak.


"Gembel ini benar-benar!" dengan penuh keraguan Barack mencoba mendekati perempuan itu. "Hei! bangun! Hei! Jangan pingsan disini! hei!!" ucapnya sambil terus membangunkan Luna.


Tidak lama setelah itu petugas berhasil membuka pintu lift, tanpa berfikir panjang Barack langsung menutupi tubuh Luna dengan jas miliknya. Dia mengangkat tubuh perempuan yang sudah terkulai lemas itu, membawanya keluar dari lift.


"Kalian baik-baik saja?" tanya seoarang petugas.


Barack bergegas membawa Luna keluar. "Tunjukkan di mana ruangan yang kosong!" Barack berucap kepada seorang petugas sambil menggendong tubuh Luna.


"Ikut saya, Tuan!" ucap seorang petugas, menunjukkan jalan kepada Barack menuju sebuah ruangan.


Saat di tengah jalan menuju ruang kosong Luna belum sadar matanya juga masih tertutup rapat. "Apa aku sudah mati? Kenapa ini gelap sekali? Tapi kalau aku mati, yang aku dengar ini detak jantung siapa?"


Pastinya suara detak jantung itu milik Barack.


Sesampainya di ruang kosong Barack meletakkan tubuhnya di atas sofa.

__ADS_1


__ADS_2