
Sebuah mobil hitam lekat berhenti di rumah tua milik Bunga yang ada di pedesaan. Laura membuka pintunya dan melangkah turun. Pandangannya menatap sengit ke arah rumah yang sudah tak terawat dengan baik. Perempuan itu terlihat enggan mendekat tetapi hanya itu cara satu satunya untuk bisa menemui Bunga.
Laura menghela nafas panjang sebelum melangkah mendekati rumah itu. Tapi tiba tiba ada seorang Nenek yang sedang berjalan melewatinya, kemudian mendekat.
"Apa kamu sedang mencari Bunga?" ucap Nenek itu ketika melihat Laura seolah sedang mencari seseorang di sana.
"Apa?" Laura malah terlihat kebingungan.
"Bunga!" Nenek itu berucap sekali lagi. Kini matanya menyelidik ke mobil yang ditumpangi oleh Laura.
"Kamu datang dari kota?" tambahnya.
"E, ,iya"
"Tunggu!! kamu bukannya Laura??" Nenek itu sempat menyelidik untuk memastikan, dia mengingat jelas bahwa peremluan di depannya itu adalah anak dari penjual soto. Anak durhaka yang selalu berbuat onar serta selalu menyusahkan Ibunya.
"Ya!!, , aku ingat betul!!, , kamu Laura si anak durhaka itu. Untuk apa kamu datang kembali kemari!!"
"Apa kamu bilang??, , durhaka!, , datang kembali??" Laura tertawa sinis.
"Apa hakmu menghakimiku dengan menyebutku sebagai anak durhaka!!" Laura menghela nafas panjang, mengingat kini sudah menjadi Istri dari seorang pengusaha ternama, Laura seakan mengingatkan diri bahwa dia harus menjaga sikap.
"Aku datang kemari tidak untuk tinggal kembali di tempat kumuh ini!! paham!" ucapnya dengan terus menjaga harga dirinya. Seolah dia seperti perempuan kelas atas.
Perempuan itu menegakkan tubuhnya kemudian memasang wajah sinis.
"Aku datang kemari juga tidak untuk berdebat denganmu! aku datang karena ingin menemui Putriku" ucapnya dengan tenang.
"Putri??, , kamu masih menganggapnya sebagai Putrimu, ,Beruntung dia sudah pergi ke Kota!, , jika kamu bertemu dengannnya. Berhentilah untuk menyakiti putrimu nanti. Tapi aku berharap kamu tidak akan menemukannya di sana"
Rahangnya menguat ketika mendengar ucapan Nenek tua itu. Tangannya mengepal menahan amarah dengan kuat. Laura tak ingin lebih berlama lama di tempat yang sangat menjengkelkan baginya. Tempat yang selalu memberikan kenangan buruk di saat masa kecilnya.
Laura menggelangkan kepala tak percaya bahwa saat ini masih ada orang yang mengingat masa kelamnya.
Dia tak ingin meladeni lagi Nenek tua itu, Laura lebih memilih untuk pergi meninggalkan tempat yang sudahpa memberinya kenangan buruk.
♡♡♡
Ketika mobil Laura pergi meninggalkan tempat itu, sebuah mobil lain dengan warna yang senada datang. Mereka berpapasan di sisi jalan menuju perbatasan antara desa itu dengan jalan menuju ke kota.
Davien menghentikan mobilnya di depan rumah Bunga. Tepat persis di mana Laura sempat menghentikan mobilnya tadi.
__ADS_1
Dia membuka pintunya kemudian melangkah keluar.
Pandangannya menyelidik ke sekitar rumah tua itu. Nenek yang tadi sempat menyapa Laura, kini kembali menyapa Davien yang tengah berdiri di depan pintu rumah.
"Kamu mencari siapa nak?" ucap Nenek.
Davien menoleh melihat ke arah Nenek yang kini sudah berdiri di sampingnya.
"Aku mencari Nenek penjual soto di sini"
"Dia sudah meninggal!"
"Apa?" bibirnya seketika terpaku. Davien terkejut mendengar kabar bahwa Nenek itu telah meninggal.
"Lalu, bukankah dia memiliki seorang Putri?, , apa Nenek tahu di mana dia sekarang?"
"Apa maksudmu Bunga??" ucap Nenek itu kemudian.
"Bunga??"
Keningnya berkerut halus, masih berusaha mencoba mencerna ucapan Nenek itu.
"Itu pasti hanya kebetulan. Nama yang sama kah?? atau??, , tidak Davien!!, , itu pasti hanya suatu kebetulan!"
Davien semakin dibuat penasaran, dia meraih ponsel dari dalam saku jas kemudian menghubungi James untuk meminta laki laki itu mengirimkan foto Bunga.
"Sebentar Nek aku masih membutuhkan informasi darimu!" tak menunggu lama James mengirim foto Bunga kepadanya. Dan Davien memperlihatkan foto itu kepada Nenek yang masih setia menunggu di sana.
"Apa ini Bunga yang Nenek maksud??"
Nenek tua itu menyipitkan matanya ketika menatap foto yang ada di layar ponsel milik Davien.
"Ya!, , benar. Ini Bunga cucu penjual soto yang aku maksud" ucap Nenek itu menegaskan.
Dadanya berdetak dengan sangat kencang dan tak beraturan, kegelisahan dan kebahagiaan bercampur aduk menjadi satu. Davien menepis kegelisahan yang melanda hatinya, dia tersenyum lebar, seolah mendapatkan angin sejuk ketika mengetahui bahwa gadis kecil yang dulu sempat dia temui ternyata adala Bunga yang saat ini telah mengisi kekosongan hatinya. Itukah kenapa sebabnya mimpi antara Bunga, gadis kecil dan boneka matahari itu selalu berhubungan? Dia menyimpan kembali ponselnya.
"Terima kasih Nek. Maaf tetapi aku harus segera pergi"
Davien mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Untukmu nek!" ucapnya sembari menyodorkan uang itu, sebagai rasa terima kasih karena telah memberi informasi yang sangat membahagiakan baginya.
__ADS_1
"Tidak perku anak muda!, kamu tidak perlu membayarku. Aku senang bisa membantu sesama" perempuan tua itu ternyum.
Davien menatap uang yang ada di tangannya. Kemudian menyimpannya kembali.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih. Maaf aku harus pergi" Davien mempercepat langkahnya kembali menuju mobil.
"Hati hati anak muda" teriak Nenek itu.
Davie seolah sudah tak sabar ingin segera kembali dan bertemu dengan Bunga. Berharap setelah mengetahui bahwa Davien adalah teman kecil yang pernah di temuinya, Bunga akan merubah jalan pikirannya dan mau menerima Davien.
♡♡♡
Mobil Davien terlihat memasuki area halaman lobi. Tetapi tiba tiba mobilnya terhenti di sana ketika dari kejauhan dia melihat Bunga tersenyum lebar sembari masuk ke dalam mobil milik Roland.
Davien terdiam, seketika kebahagiaan yang sempat melingkupi dirinya menghilang. Kini dia menikmati rasa nyeri bercampur sedih yang menjalar di dadanya.
Sesuai keinginan Bunga, Davien pun memilih untuk mengalah dan membiarkan Bunga nemilih jalannya.
Mengingat lagi bahwa ini hari sabtu, maka Bunga bisa bebas pulang tanpa harus menunggu Davien.
Davien merasa sakit ketika melihat senyum manis Bunga yang di tujukan untuk laki laki lain. Laki laki itu hanya diam menyandarkan punggungnya ke sandari kursi, menikmati setiap aliran darah yang terasa memanas akibat pemandangan yang tak menyenangkan di depan matanya.
♡♡♡
Davien bukan type laki laki yang suka minum sampai mabuk, tetapi tak jarang dia minum untuk menghilangkan penatnya. Malam itu dia meminta James untuk menemaninya minum di sebuah club.
Davien hanya ingin seperti orang orang pada umumnya yang menghabiskan waktu di sana ketika sedang merasa terpuruk.
Laki laki itu terlihat duduk di kursi tinggi yang menghadap ke bartender. Memesan segelas minuman dengan kadar alkohol ringan. Mengingat karena dia masih harus menyetir nantinya, Davien harus tetap menjaga kesadarannya.
Tak lama James datang, dia berdiri di tengah pintu sambil menyelidik ke sekirar. Melihat, mencari sosok orang yang sedang menunggunya. Setelah melihat Davien yang sedang tertunduk di depan sana James berjalan mendekatinya.
"Pres Dir?, , anda baik baik saja?" ucapnya sembari duduk di samping Davien.
"Kita sedang tidak bekerja!, , jadi panggil saja aku Davien!" dia menghabiskan sisa minumanya dalam sekali tegug, kemudian meletakkan gelas ke atas meja dengan sedikit tekanan.
Tak!!
James mengerutkan dahinya, menatap Davien dengan penuh kebingungan.
"Pres, , ," James seketika memaku bibirnya, berdehem mencairkan suasana.
__ADS_1
"Davien, , kamu baik baik saja?"