Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#89 Kehawatiran


__ADS_3

Barack sedang sibuk dengan pulpen di tangannya untuk menandatangani semua berkas yang sudah menumpuk dan tertata rapih di atas meja kerja ayah mertuanya yang kini menjadi miliknya.


Tok tok tok, , ,


Suara ketukan pintu mengalihkan pandangannya seketika dari lembaran lembaran kertas yang sedang di bacanya.


"Masuk" ucapnya dengan tegas. Melihat sekretaris laki lakinya berdiri di tengah pintu barack menganggukkan kepalanya seolah dia sedang memberi isyarat pada laki laki itu untuk segera mendekat ke mejanya.


"Maaf pak, ini berkas laporan keuangan perusahaan selama satu bulan yang anda minta" ucapnya dengan nada sopan.


Barack menarik punggungnya menyandar pada dinding kursi yang empuk di belakangnya.


"Mm, letakkan aku akan melihatnya nanti" ucap barack sambil menyuruh asistennya meletakkan berkas berkas yang di mintanya di atas meja.


"Kalau begitu saya permisi dulu" asisten laki laki itu meninggalkan ruang kerja barack setelah barack menganggukkan kepalanya.


Barack menyingkirkan berkas laporan yang masih di tangannya dan langsung mengganti dengan laporan keuangan yang baru saja di bawa oleh asistennya.


Tok tok tok, ,


Barack mengalihkan pandangan ke arah pintu sekali lagi setelah mendengar bunyi ketukan pintu.


Keningnya berkerut ketika pintu sudah sedikit terbuka padahal dia belum menyuruh orang itu untuk masuk.


Namun matanya melebar ketika melihat istrinya berdiri di tengah tengah pintu membawa kotak bekal dan menggunakan dress selutut berwarna pink dengan corak bunga tulip putih di bagian bawahnya.


Bahkan terlihat lebih sexi ketika perut luna terlihat sedikit mengembang saat memakainya.


Ada rasa kehawatiran dan kebahagiaan menghiasi wajah barack.


"Tunggu di situ" ucapnya memaku tubuh luna agar tetap berada di tempat sebelum melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.


Barack berdiri dan berjalan ke arah luna menyambut istrinya dengan sebuah kecupan di kening, membungkuk untuk menggendong tubuh luna dan memebawa ke sofa yang berada di ruang kerja.


Luna melingkarkan tangannya ke leher barack dengan senang hati, senyum manis menghiasi bibir mereka.


Bahkan barack menghadiahi sebuah kecupan di bibir luna saat berjalan menuju ke sofa.


"Aku sudah bilang, kalau kamu tidak boleh keluar dari rumah, kenapa seperti anak kecil yang susah di bilangi? memang bandel kamu ya" ucapnya sambil meletakkan tubuh istrinya dengan pelan dan hati hati.


Luna menahan tubuh barack dengan lengannya yang masih menempel erat di leher barack.


Senyumnya terlihat begitu menggoda di mata barack, dia sengaja merayu barack untuk tidak marah dengannya.


"Aku tidak marah denganmu, tapi aku harus memberimu hukuman" ucapnya penuh teka teki.

__ADS_1


Senyum luna semakin melebar, dia tahu apa maksut ucapan barack barusan.


"Mm, , tidak boleh ada hukuman sebelum makan siangmu habis, lagi pula kamu tidak bermaksut untuk melakukannya disini bukan?" ucapnya dengan nada menuntut.


Barack terkekeh mendengar pertanyaan luna.


"Kamu tidak ingat?, , berapa kali kita melakukannya di kantorku yang di paris sana" barack mengingatkan luna akan perbuatan mereka saat berada di ruang kerjanya yang di paris.


Pipi luna merona, dia menggit bibir bawahnya untuk menahan rasa malu.


"Jangan melakukan itu di depanku, sudah berapa kali aku ingatkan, karena aku tidak tahan untuk tidak mencium bibirmu" ucap barack setelah berhasil mengecup dan melumat bibir luna dengan cepat.


Luna menarik tangannya dan meraih lengan barack menuntunnya untuk duduk di sebelahnya.


"Aku akan menyuapimu, sebelum habis aku tidak akan pulang" ucapnya dengan nada mengancam.


"Siapa yang mengijinkanmu pulang?, aku malah akan menyuruh kamu menemaniku di sini sampai nanti kerjaanku selesai" ucapan barack tersirat akan sebuah hasrat yang tak tertahankan.


Luna terkekeh, dia segera mengambil sendok dan menyuapi barack dengan bekal yang Sudah di bawanya.


♡♡♡


"Aku pulang saja dulu ya, pengen rebahan di rumah" ucap luna dengan manja ke pada barack.


Kandungan luna memang baru memasuki usia 2bulan, perutnya juga belum terlihat besar hanya saja pinggangnya kadang sering terasa pegal. Mungkin karena kehamilan pertamanya ini memberikan efek yang lebih di banding orang lain karena calon bayinya yang kembar atau karena luna tipe orang yang tidak bisa diam tanpa melakukan kegiatan apa pun sehingga sering merasa kelelahan.


"Sebentar lagi ada rapat pemegang saham, kalau aku ijin untuk mengantarmu pulang, nanti tidak enak sama mereka karena sudah menungguku dari tadi" ucapnya sambil memeluk tubuh luna dengan erat.


Seolah tak ingin di lepasnya barang sedetik pun.


"Tapi pinggangku"


"Oke oke, aku akan menyuruh orang untuk memgantarmu pulang" ucapnya memotong pembicaraan dengan penuh rasa kehawatiran yang teramat.


"Tidak barack, aku sedang tidak nyaman berada di dekat laki laki lain selain dirimu" luna memeluk tubuh barack dan membenamkan wajahnya ke dada barack.


Barack merangkup pipi luna dengan ke dua tangannya.


"Kalau begitu bersabarlah sedikit" ucapnya dengan lembut sambil sesekali mengecup bibir luna.


"Tapi aku tidak bisa kalau harus tiduran di atas sofa, tubuhku bisa sakit semua" ucapnya dengan manja.


Barack menghela nafas pelan.


"Baik lah kamu boleh pulang sekarang tapi janji, , , harus hati hati saat mengendarai mobilmu" ucapan barack di penuhi rasa kehawatiran di dalam hatinya.

__ADS_1


"Iya aku janji" luna berusaha menenangkan perasaan barack.


"Cium dulu" barack mengucir bibirnya ke arah luna.


Luna hanya tersenyum dan mengecup bibir barack, namun barack tak kuasa menahan hasratnya untuk tidak melumat bibir luna.


Dia menarik tengkuk luna dan mencium melumat bibirnya dengan lembut.


Memperdalam ciumannya hingga memaksa luna mendorong tubuhnya karena tak bisa bernafas.


Barack melepas ciumannya, dengan nafas yang terengah engah karena dia juga kehabisan oksigen saat mencium luna.


"Maaf, , aku tidak bisa menahannya" ucapnya dengan lembut.


"Aku pulang ya, nanti kalau aku lebih lama disini yang ada kamu tidak jadi rapat nanti" ucap luna dengan senyum menggoda sambil membuka pintu.


Tangan barack tak rela melepas luna ke luar dari kantornya, pandangannya seolah berat untuk tidak melihat ke arahnya.


Ada sesuatu di dalam hatinya yang ingin sekali menahan luna, namun dia tahu keadaan luna memang sedang tidak baik kalau harus berlama lama duduk di sofa.


"Tunggu" ucapnya menghentikan langkah luna yang baru saja akan melangkah keluar dari ruang kerja barack.


"Aku akan mengantarmu sampai depan" tambahnya.


Sepanjang perjalanan menuju lantai dasar barack selalu menggandeng tangan luna dengan erat, seolah tak mau melepas tangan sang istri.


Sampainya di lobi mereka berjalan ke luar dari pintu utama dan menuju ke mobil luna.


Barack membukakan pintu mobil dan mepersilakan istri tercintanya itu untuk masuk ke dalam.


Sebelumnya barack menahan tubuh luna memeluknya dari belakang dan menghadiahi sebuah kecupan di pundak luna.


"Tunggu aku di rumah" bisik barack di telinga luna. Membuat bulu kuduknya merinding seketika.


Luna membalikkan badannya merangkup pipi barack dengan ke dua tangannya dan mengecup bibi barack dengan lembut.


"Aku pulang dulu" ucapnya dengan mulut yang masih menempel di bibir barack.


Barack mengangguk pelan lalu memeluk tubuh istrinya, seperti tak rela membiarkan luna pergi mengendarai mobilnya sendiri.


Dia menyandarkan keningnya di kening luna.


"Hati hati" bisiknya dengan lembut.


Luna masuk ke dalam mobil, sementara barack membantunya menutup pintu.

__ADS_1


Mobil luna bergerak pelan ke luar dari area parkir, mata barack seolah tak mau lepas dari mobil luna sebelum mobilnya menjauh dan menghilang.


♡♡♡


__ADS_2