Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#57 Takut


__ADS_3

 


Ke esokan paginya terlihat luna tengah bersiap siap, dia memakai gaun berwarna putih yang membalut tubuhnya dengan sangat erat sehingga terlihat setiap lekukan tubuh luna begitu memukau setiap mata lelaki yang melihatnya.


 


Dilihatnya wajahnya sendiri di dalam cermin meja rias, nampak sekali kalau wajah luna sangat bahagia hari itu.


Hari dimana setiap wanita pasti akan mendambakan hari yang membahagiakan itu.


Terlihat barack memasuki ruangan dimana luna sedang bersiap siap.


Barack berjalan perlahan mendekat ke arah luna yang sedang duduk di depan cermin.


Luna membalikkan badan dengan penuh senyum di wajahnya.


Namun, sebaliknya dengan barack wajahnya nampak pucat, dan terus terusan seperti merasa bersalah kepada luna.


Luna menyadari hal itu, makanya senyum yang menghiasi wajahnya itu sedikit demi sedikit memudar dan menghilang dari wajah luna.


"Kenapa?" tanya luna kepada barack yang terus saja diam.


"Aku minta maaf, , , aku tidak bisa, meneruskan ini" kata barack dengan wajah penuh rasa bersalah.


Terlihat wajah luna mulai kebingungan, dengan sikap barack yang tiba tiba berubah, sebelumnya tidak ada tanda tanda dia akan membatalkan pernikahan ini, bahkan dia selalu tersenyum bahagia, namun kenapa tiba tiba.


"Kenapa?" tanya luna.


Bola mata luna yang tadinya berwarna putih bersih itu kini berubah dan mulai memerah.


"Maaf, , dia sedang menungguku" kata barack.


"Pergilah" kata luna, dia sangat merasa kecewa sekali dengan sikap barack.


"Kesempatan tidak akan pernah datang dua kali, di saat yang tidak memungkinkan untuk itu. Karena waktu tidak akan pernah terulang, ini semua demi kebaikanmu, lakukan dan ikuti kata hatimu" ucap luna yang sudah terlihat sangat cantik memakai gaun pernikahannya, sembari menahan air mata yang terus memaksa untuk keluar.


Luna pun menatap mata barack dengan penuh harap.


 


Tanpa berfikir panjang barack yang sudah rapih dan terlihat tampan serta macho menggunakan tuxedonya yang berwarna hitam itu membalikkan badannya dan langsung meninggalkan luna di ruang make up sendiri untuk segera menemui klara.


 


Luna membiarkan barack pergi begitu saja.


Namun sebenarnya dia tidak menginginkan hal itu.


Dia hanya ingin membiarkan barack memilih satu, di antara dirinya atau klara, namun barack lebih memilih meninggalkannya dan pergi menemui klara.


Luna tidak sanggub menahan air mata yang dari tadi terus memaksa keluar dari ke dua matanya, membasahi pipi luna sampai berjatuhan ke lantai seperti mutiara yang ter lepas dari benang pengaitnya.


Tubuhnya terasa seperti tidak bertulang, kakinya melemah, tubuhnya terjatuh ke lantai.


 


Bahkan air mata yang terus mengalir tiada hentinya itu tidak cukup menggambarkan betapa sakit hatinya saat itu.


 


Luna tidak sanggub menggerakkan tubuhnya bahkan untuk memanggil nama barack kembali pun suaranya tidak mau keluar dari tenggorokan.


Pandangan matanya mulai kabur karena air yang terus keluar dari matanya, sinar dari arah pintu itu semakin lama bukannya semakin terang namun malah semakin meredup hingga akhirnya menjadi gelap gulita.


Dan tak terlihat apa pun di ruangan itu.


 


Terdengar suara dari kegelapan, suara nafas seseorang yang sedang terengah engah seperti habis lari maraton beratus ratus meter.


 


Dan suara itu berasal dari dirinya.


Luna berusaha membuka kedua matanya namun dia tetap tidak bisa melihat apa apa, hanya kegelapan yang bisa dilihatnya.


Hanya rasa ketakutan yang saat ini membelenggu jiwanya.


Luna pun menjerit.


"Aaaaaaaaaaa" dan akhirnya dia terbangun dari mimpi buruknya.


Barack yang tertidur di sofa pun terbangun setelah mendengar jeritan luna.


Dihampirinya luna yang tengah mengatur nafasnya itu.


 


Terlihat anak rambut di kening luna melekat dan berkilau karena basah terkena keringat dingin.

__ADS_1


 


Barack segera meraih ke dua pipi luna dengan tangannya.


Diarahkan wajah luna untuk menghadap wajahnya.


Namun mata luna terus masih menyapu ruangan kamar itu untuk memastikan kalau dirinya benar benar sudah bisa melihat lagi, dan ruangan itu juga sudah tidak terlihat gelap lagi.


"lun?" barack mencoba menyadarkan luna dengan memanggil namanya.


Namun luna masih belum menangkap suara barack.


"Luna!" barack menggoyang goyangkan ke dua pipi luna.


Akhirnya mata luna melihat ke arah wajah barack yang ada di depannya.


Dengan cepat luna menyapu wajah barack dengan ke dua tangannya, memastikan kalau barack memang benar benar ada di depannya.


Dia langsung memeluk tubuh barack dengan erat.


Terlihat jari jemari luna mencengkeram baju barack dari belakang punggungnya.


Nampak sekali kalau luna takut kehilangan barack.


Barack membalas pelukan luna sambil memebelai dengan lembut kepala luna yang melekat di dadanya.


Dia mencoba menenangkan luna.


"Mimpi buruk?" tanyanya.


Luna yang masih terus memendam kepalanya di dada barack itu hanya mengangguk sedikit.


"Mimpi apa?" tanya barack lagi.


Kali ini luna hanya diam, dia tidak mengangguk atau pun menggelengkan kepalanya.


"Kalau tidak mau cerita juga tidak apa apa, sekarang kamu tidur lagi ya? masih jam 2, , masih ada waktu untuk istirahat sebentar lagi" kata barack sambil melepas pelukannya dan menata bantal kembali untuk luna.


Mata luna tidak pernah lepas dari wajah barack yang ada di depannya.


Dia juga tidak tahu kalau air matanya mengalir dengan sendirinya membasahi ke dua pipinya.


Barack mengusap air mata luna.


Dia tidak memaksa luna untuk bercerita, namun melihat air matanya yang terus mengalir itu, dia tahu kalau mimpinya pasti lebih buruk dari ekspresi wajahnya saat itu.


Luna berharap barack terus ada sampai luna bangun kembali nanti.


Barack kembali menyelimuti tubuh luna. Dan saat akan beranjak dari atas ranjang, luna menahan lengan barack.


Luna tidak mengatakan sepatah kata pun namun barack bisa membaca dari raut wajahnya kalau luna ingin dirinya tetap berada di sisinya.


"Aku hanya ingin mengambil bantal dulu" kata barack.


Luna pun melepas tangannya yang terus menggenggam lengan barack dengan erat.


Barack berjalan ke arah sofa, mengambil bantalnya kembali, membawanya ke atas tempat tidur di sebelah luna.


Mata luna terus terusan menatap ke arah barack, tidak sedetikpun matanya di arahkan ke arah lain


Barack menyadari hal itu, dia mencoba membuang senyumnya ke arah luna.


"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya barack dengan nada lembut sehingga membuat luna terasa sedikit nyaman hatinya.


Barack duduk di bibir tempat tidur sambil menata bantalnya menyender ke dinding yang kemudia dia menyenderkan tubuhnya ke bantal itu.


Dia terus mengusap kepala luna dengan lembut, barack bertanya tanya kenapa luna terus menatapnya seperti itu.


Ingin sekali dia tidur sambil memeluk luna, namun takut luna akan menolak dan dia pun mengurungkan niatnya itu.


 


Namun sebaliknya dengan luna, dia malah langsung mengampiri tubuh barack memeluknya dengan erat dan melekatkan kepalanya bersandar di dada barack.


 


Terlihat senyum tipis di wajah barack saat itu.


Di kecupnya kepala luna dengan lembut.


Wajah luna nampak terlihat sangat nayaman saat itu.


Tidak menunggu lama mata luna pun kembali terpejam.


 


Pagi harinya sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamar melalui kaca jendela yang sudah terbuka gordennya.


 

__ADS_1


Sinar itu menyapu wajah luna sehingga membuat kening luna berkerut.


Sinar embuat luna membuka matanya perlahan.


Kelopak matanya masih terasa berat, gara gara mimpi buruknya semalam membuat tidurnya sedikit terganggu.


Dia berhasil membuka matanya setengah dan membuang pandangannya ke arah samping, namun dia tidak melihat barack ada di sampingnya lagi.


Mata luna langsung terbelalak dengan lebar.


Rasa ngantuknya tiba tiba menghilang begitu saja.


Luna membuang pandangannya ke arah sekitar, beranjak dari tempat tidur menuju ke arah kamar mandi, namun tidak menemukan barack.


Wajahnya terlihat penuh ke hawatiran, dia berlari ke arah pintu dan segera keluar dari kamarnya.


"Barack" luna terus berteriak memanggil namanya.


Terus berlari keluar, dia tidak tahu harus mencari barack mulai darimana, tempat itu begitu luas.


Pikirannya mulai kacau, wajahnya di liputi rasa ke hawatiran yang sangat mendalam.


Karena mimpi semalam membuatnya tidak bisa berifkir jernih saat itu.


Luna terus berlari hingga nafasnya mulai terengah engah, dadanya terlihat naik turun saat mengatur nafasnya, karena detak jantungnya berdetak dengan tidak beraturan.


Dia benar benar merasa takut kalau barack benar benar menghilang begitu saja.


Luna terus berusaha membuang pandangannya ke arah bibir pantai.


Kerutan di wajahnya mulai terlihat memudar sedikit demi sedikit.


Setelah melihat sesosok laki laki berdiri membelakanginya sambil melihat ke arah laut.


Dia berlari sekuat tenaga menghampiri laki laki itu dan segera langsung memeluk tubuhnya dari arah belakang.


"Ja, , jangan, , , pernah lakukan ini lagi" kata luna terbata bata karena nafasnya terengah engah, sambil terus memeluknya dengan erat.


"Jangan tiba tiba pergi dan menghilang seperti barusan, aku ingin ketika aku membuka mataku, yang kulihat adalah wajahmu, , barack, , jangan pernah menghilang tanpa kabar, jangan pergi dari sisiku" luna terus berbicara mengungkapkan perasannya.


"Luna???" terdengar suara barack dari arah belakangnya sambil memegang ponsel di tangan kanannya.


Luna pun terdiam, sambil melepaskan pelukannya kepada laki laki yang masih berdiri membelakanginya itu.


Dengan perlahan dia memalingkan wajahnya ke arah belakang.


Luna merasa syok ketika melihat barack ada di belakangnya.


Luna pun bertanya tanya lalu siapa laki laki yang barusan di peluknya itu.


Dia mengarahkan pandangnnya perlahan ke arah laki laki yang ada di sampingnya.


Laki laki yang tidak di ketahui namanya itu kemudian membalikkan badannya.


Terlihat kalau dia lebih tua, lebih pendek dari barack, berperut buncit dan rambut kepala yang mulai menipis di bagian depannya.


Wajah luna terlihat sangat malu, dia mencoba membuang semyumnya kearah laki laki itu dengan penuh rasa bersalah.


"M, , maaf" kata luna.


Laki laki itu hanya diam, dan tidak lama setelahnya dia membuang senyum ke arah luna.


Sedangkan luna merasa agak aneh, dengan cepat dia berlari ke arah barack.


Barack hanya diam sambil menahan tawanya melihat ekspresi wajah luna saat itu.


Luna merasa malu saat barack melihat ke arahnya sambil terus tertawa geli.


Dia menundukkan kepalanya karena malu, disilakkannya rambut yang menghalangi pandangannya ke arah belakng telinga.


"Kamu, mencoba selingkuh dari aku, dengan laki laki gendut itu?" kata barack mencoba menggoda luna, barack terus tertawa geli.


"Bukan!!! tadi aku pikir itu adalah kamu, habisnya tadi waktu bangun tidur aku tidak melihatmu berada di sampingku, aku pikir, kamu meninggalkanku dan pergi sendirian" kata luna sambil terus menunduk.


"Aku tadi keluar karena singnalnya tiba tiba hilang, jadi aku berusaha mencari tempat yang lebih bisa menjangkau signalnya, aku tadi mendengar waktu kamu memanggilku saat kekuar dari kamar, namun waktu aku berlari mengahmpirimu, kamu sudah keburu berlari jauh" kata barack.


 


Perlahan barack meraih dagu luna, dan menuntunnya untuk melihat ke arah mata barack.


 


"Bagaimana bisa kamu mengira laki laki gendut itu adalah aku, bahkan dari baunya saja sudah kelihatan bukan?" kata barack menggoda luna.


Entah apa yang dipikirkan luna saat itu sampai sampai dia bisa mengira orang lain adalah barack, memang benar kata barack bahkan dari aroma tubuhnya saja sudah berbeda, namun karena mimpi buruknya semalam, membuatnya tidak bisa berfikir jernih.


Yang pasti saat itu luna benar benar takut kehilangan barack.


"Ya sudah, kita kembali ke kamar, dan segera beres beres ya, tadi mamah telepon katanya kamu harus mencoba gaun buat acara nanti malam" kata barack.

__ADS_1


Luna pun mengangguk dengan pelan.


***


__ADS_2