
"Kamu??"
Bunga masih terpaku menatap Keiko yang berdiri di tengah pintu. Tak menyangka bahwa perempuan itu akan berada di rumah Davien sebelumnya.
Dia masih terkejut hingga bibirnya terasa kelu susah untuk berucap.
"A, ,aku"
"Masuklah" ucap Keiko memotong pembicaraan, setelah menyelidik ke arah Bunga yang sedang membawa paperbag besar di tangannya.
Bunga sejenak terdiam, mengalihkan pandagannya ke mobil warna putih yang terparkir di halaman sana.
"Jadi tamu itu adala Keiko??"
Bunga kembali mengarahkan pandangannya, menatap Keiko yang sedang mengangkat kedua alisnya ketika menunggunya masuk masuk ke dalam.
Bunga nasih terdiam sesaat, nampak ragu antara ingin memenuhi keinginann perempuan itu atau pergi. Perasaannya sudah mulai tak karuan, tak bisa mengendalikan debaran jantungnya karena masih terkejut nelihat keberadaan Keiko di sana.
"Tapi aku hanya ingin"
"Ayo masuklah!" Keiko terus nemaksanya, dia terlebih dulu melangkah masuk ke dalam menunjukkan jalan kepada Bunga. Membawa perempuan itu ke dapur kemudian.
Bunga akhirnya pun masuk perlahan mengikutinya. Pandangannya menyelidik ke meja di mana ada sepiring makanan dan segelas usu di atasnya. Bunga yakin kalau Keikolah yang telah menyiapkan makanan itu untuk Davien.
Karena dia ingat bahwa Davien tak pernah memasak untuk dirinya sendiri. Ada rasa kekecewaan ketika mengetahui kedekatan antara Davien dan Keiko ternyata nelebihi apa yang dia pikirkan.
Sesaat dadanya terasa panas entah kenapa, tetapi Bunga tak bisa menampiknya bahwa dia merasa tak suka melihat Keiko ada di tempat itu.
"Aku datang kemari karena ingin mengembalikan"
"Duduklah terlebuh dulu!" sahutnya, Keiko berjalan ke arah lain untuk membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol minuman kaleng. Melangkahkan kakinya kembali mendekati Bunga kemudian memberikan minuman itu kepadanya.
"Duduklah, Davien sedang mandi. Sebentar lagi juga selesai"
Semula Bunga ingin mengembalikan jas dan mengajak Davien makan siang sesuai dengan janjinya kemarin. Tetapi karena melihat Keiko berada di sana, Bunga pun mengurungkan niatnya untuk mengajak Davien pergi.
Perempuan itu tersenyum getir. Menyadari bahwa tak sepantasnya dia sebagai bawahan mengajak Davien pergi makan siang. Setelah nelihat betapa dewasanya Keiko dalam berpenampilan mau pun bersikap, Bunga merasa bahwa dirinya semakin jauh dari kata sempurna untuk Davien.
"Bodoh!!, , apa yang sedang kamu pikirkan Bunga!"
Bunga tak menampik bahwa dia merasa sangat senang ketika bisa dekat dengan Davien, tetapi kembali lagi jika mengingat derajatnya yang jauh dari Davien, membuatnya tak bisa menjangkau laki laki itu.
Bunga meraih minuman dari Keiko, meletakkan paperbag di atas sofa, setelahnya dia duduk di sana.
__ADS_1
Keiko nampak menyelidik ke bungkusan yang di bawa oleh Bunga setelah berhasil duduk di sofa tunggal.
"Apa yang kamu bawa"
Bunga yang tengah menegug minumannya pun hampir tersedak setelah Keiko melontarkan pertanyaan hingga air yang mencuat keluar dari mulut mengalir membasahi kaosnya. Kaos putih itu kini ternoda dengan minuman berwarna merah di bagian dadanya.
"Maaf aku tidak bermaksud mengagetkanmu!" Keiko meraih tisu dari atas meja kemudian memberikannya kepada Bunga.
"Tidak apa apa, aku yang kurang hati hati" Bunga meraih tisu dari tangannya, kini tengah sibuk membersihkan kaos yang basah dengan tisu. Sementara otaknya berfikir keras bagaimana dia akan menjawab pertanyaan Keiko, jika dia sebenarnya datang untuk mengantarkan jas yang dipinjamkan oleh Davien, Bunga harus bersiap menjawab pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Keiko selanjutnya. Bunga yakin kalau Keiko pasti akan bertanya kenapa dan mengapa jas milik Davien berada di tangannya.
"Tamu siapa?" Davien yang baru saja keluar dari kamarnya nampak menyelidik ke Bunga yang sedang tertunduk karena sedang membersihkan kaosnya.
Bunga seketika mengangkat kepala, mengalihkan pandangannya ke Davien. Perempuan itu tertegun melihatnya.
Laki laki itu mengenakan kaos senada dengannya, putih bersih terlihat kebesaran hingga memperlihatkan bagian leher yang sering tertutup oleh kemeja ketika sedang berada di tempat kerja.
Rambutnya yang basah berantakan membuat Davien semakin terlihat menawan.
Bunga masih terpana melihatnya, dia seakan terhipnotis hingga tak menyadarinya bahwa Keiko sedari tadi selalu memeperhatikannya.
"Bunga?" Keiko memanggil namanya. Tetapi Bunga tak menyahutnya.
Davien melangkah mendekat kemudian berdiri tepat di depan Bunga. Dan seketika itu juga Bunga beranjak berdiri. Tatapan mata mereka bertemu hingga saling menatap satu sama lain.
"Davien?" ucap Keiko, ketika jarak di antara kaki laki itu dan Bunga semakin dekat.
Davien tak menghiraukannya, dia lebih memilih fokus dengan Bunga.
"Kamu??, , kenapa ada di sini?" ucapnya kemudian.
Bunga tersadar dari lamunannya sesaat. Jantungnya berdebar kencang seakan di hantam oleh palu besar hingga pecah berkeping keping setelah mendengar pertanyaannya. Seolah seperti tak di harapkan kedatangannya saat itu.
"Maaf, ," Bunga menunduk melangkah sedikit mundur menjauh dari Davien. Tetapi dia memaku tubuhnya ketika sudah tak bisa bergerak karena sofa di belakangnya.
"Aku sebenarnya datang untuk mengembalikan jas milikmu!"
"Jas?" Keiko yang mendengarnya langsung berucap. Matanya menyelidik ke arah peperbag yang ada di atas sofa.
"Davien! bagaimana bisa jas milikmu ada di Bunga?" Keiko semakin penasaran.
Davien menoleh menatap Keiko, senyum tipis pun mewarnai bibirnya, seakan sedang merencanakan sesuatu yang sudah di pikirkannya secara matang.
"Tidak apa apa sayang, aku hanya meminjamkannya kemarin" Davien berucap lembut kepada Keiko, setelahnya kembali mengalihkan pandangannya ke Bunga. Mengawasi ekspresi wajah perempuan itu yang terlihat gelisah. Ujung bibirnya terangkat ketika merasa puas dengan apa yang sedang terjadi. Dia melihat kecemburuan di wajah Bunga ketika berucap memanggil sayang kepada Keiko. Itulah yang diinginkan oleh Davien. Ingin mengetahui perasaan Bunga tanpa harus membuat perempuan itu mengakuinya.
__ADS_1
Perempuan itu terdiam sesaat, masih mencoba menemgontrol diri dengan baik.
"Sayang??, , apa mereka bersama.?? laku kenapa selama ini Davien selalu mendekatiku."
Kini dadanya berdebar semakin kencang. Bunga berusaha keras mengendalikan perasaannya dengan nenghela nafas panjang. Setelahnya kembali mengangkat kepala, menghadapkan wajahnya ke Davien. Lalu berusaha keras untuk tersenyum manis.
"Maaf, , sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat!" Bunga menolen melihat ke arah Keiko
"Maaf Keiko, sudah mengganggu waktu kalian berdua, terima kasih atas jamuannya tetapi aku harus segera pergi"
"Bunga tunggu! tinggallah sebentar lagi. Aku membawa banyak makanan, bagaimana kalau kamu bantu aku menghabiskan makanannya?" Keiko mencoba menghentikan perempuan itu. Menahannya untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.
"Maaf Keiko, tetapi kak Marvel sudah menungguku. Aku ada janji makan siang dengannya" Bunga melirik ke arah Davien. Seolah sedang membalas apa yang sudah dia lakukan sebelumnya.
Davien menatapnya tajam, merasa jengkel ketika mendengar Bunga menyebut nama laki laki itu. Awalnya dia hanya ingin membuat Bunga cemburu, tetapi tak disangka kini Davienlah yang sedang terbakar api di dalam dadanya.
Bunga kembali mengalihkan pandangannya ke Keiko.
"Aku benar benar minta maaf karena telah mengganggu kalian" Bunga tersenyum ke arahnya.
"Aku akan pergi, bersenang senanglah kalian!" Bunga tersenyum, menundukkan kepalanya sebelum melangkah keluar.
Di sisi lain Keiko masih mencerna ekspres wajah Bunga yang terlihat aneh, perempuan itu memang tersenyum tetapi guratan kesedihan terligat jelas di wajahnya.
"Kenapa kamu tidak menahannya" Keiko kini berbalik menatap Davien. Ekspresi wajahnya menggelap, sementara pandangannya tak pernah lepas dari Bunga yang perlahan semakin menjauh.
Keiko seolah bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua. Tetapi dia lebih memilih untuk diam.
♡♡♡
Bunga berjalan perlahan melewati trotoar sambil terus melamun. Seharusnya saat ini dia menepati janjinya kepada Davien Tetapi setelah melihat bahkan mendengar apa yang terjadi di antara mereka Bunga mengurungkan niatnya.
"Jika hubungan di antara mereka sedekat itu, lalu untuk apa Davien terus mendekatiku? bahkan dia sempat memintaku untuk menjadi miliknya"
Bunga menghentikan langkahnya tepat di halte, mengepalkan tangannya untuk memukul tepat di bagian dadanya berulang kali.
"Kenapa di bagian sini terasa sangat sakit?" gumamnya, Bunga meremas kaos yang menutupi dadanya dengan kuat. Kemudian menghela nafas panjang berusaha melegakan dadanya
Bunga duduk di kursi yang tersedia di sana, menyandarkan kepalanya ke tiang yang menyangga pelindung atap yang melindunginya dari sinar panas matahari.
Tin tin!!
Tak lama terdengar klakson mobil dari arah kajauhan, seketika menarik perhatian Bunga hingga perempuan itu mengalihkan pandangannya.
__ADS_1