
Terlihat kerutan di dahi luna, ekspresi wajahnya nampak tidak percaya setelah mendengar perkataan aryo.
"Serius kamu?" tanyanya.
Aryo langsung memperlihatkan beritanya, dia membuka layar ponselnya dan memberikan kepada luna.
Luna melihat artikel berjudul Runtuhnya perusahaan BS. Huruf BS di ambil dari nama barack dan teman rekan kerjanya, yaitu barack dan satya.
Dia sempat tidak percaya, namun setelah melihat artikel yang sedang di bacanya itu, membuat wajahnya memaku karena merasa syok.
Luna mengalihkan pandangan matanya ke arah aryo yang terus mengawasi luna.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi" gumam luna.
"Perusahaan papahku adalah rivalnya di paris, dia tahu segala seluk beluk yang terjadi di perusahaan barack, bahkan masalah yang tidak di ketahui publik pun dia tahu!" aryo mencoba meyakinkan luna dengan ceritanya.
"Papahku bilang, ayahnya barack menarik semua dana dari perusahaannya, bahkan lebih parahnya lagi, jika barack melepas perusahaannya ke tangan orang lain, itu tidak cukup untuk menutup kerugiannya" kat aryo.
Mendengar cerita aryo, luna pun teringat akan kata kata barack waktu itu.
flash back on
"Jadi kalau sampai perjodohan ini di batalkan tanpa keinginan dari ayahku, maka dia akan mengancurkan perusahaanku yang ada di paris" kata barack.
flash back off
"Tidak mungkin!!!, apa mereka tahu kalau klara ada di apartement barack?" luna terus bergumam sendiri.
Cici dan aryo hanya saling melempar pandang ketika melihat tingkah luna.
Dengan segera luna mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan mencoba menghubungi leo.
"Halo!, leo, apa orang tua barack tahu kalau klara tinggal di apartement milik barack?" luna langsung melontarka sebuah pertanyaan ke pada leo.
Terdengar leo sedang menghela nafasnya dari ujung ponsel luna.
"Iya, kemarin mamahnya sempat datang untuk berkunjung ke tempat barack, tapi waktu itu kebetulan klara yang membuka pintunya" jawab leo.
Luna langsung segera mematikan panggilannya ke leo, dan kembali melihat ke layar ponselnya untuk melakukan panggilan ke luar lagi, namun kali ini dia menlpon barack.
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk" luna berdecak menahan rasa sebelnya, karena panggilannya tidak tersambung ke ponsel barack.
Sekali lagi dia mencoba dan lagi lagi ponsel barack sedang dalam panggilan lain.
Melihat wajah luna yang begitu tegang, aryo pun mencoba menayakan sesuatu yang membuatnya terusik.
"Apa kamu tahu sesuatu tentang, kenapa ayahnya barack tiba tiba menarik semua dananya dari perusahaan barack?" pertanyaan aryo membuat luna semakin menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Pasalnya luna lah yang mengijinkan klara untuk tinggal di tempat barack, kalau saja dia sedikit bisa menahan emosinya waktu itu, mungkin semua ini tidak akan menimpa barack.
Di perusahaan pak bowo, di ruang kerja barack, dia masih duduk sambil terus melihat ke arah layar leptopnya, dia sudah merasakan perasaan yang tidak enak dan mengganjal di dalam hatinya.
Namun dia belum sempat membaca artikel tentang perusahaannya yang ada di paris karena kesibukannya.
dreeet dreetr, , , ponsel barack pun bergetar.
Dia melirik ke arah layar ponselnya.
Terlihat satya sedang memanggil.
Wajah barack sudah mulai merasakan adanya masalah di perusahaannya ketika mengetahui kalau satya yang menelponnya.
"Halo?" barack mengangkat telpon dari satya.
"Kita collapse!!" terdengar suara satya bergetar dari ujung ponselnya.
Kata kata satya menggema di rongga telinganya.
Barack sudah tahu kalau hal semacam ini akan terjadi.
Walau bagaiman pun juga dia tidak menginginkan hal ini.
"Ayahmu menarik semua dananya, tanpa tersisa, kita tidak bisa menutup kerugian ini.
Barack hanya diam dan tidak bergeming sedikitpun.
Dia langsung menutup panggilannya itu.
Sejenak dia membenamkan tubuhnya di dinding kursi. Terlihat wajahnya begitu stres, dia lebih memikirkan karyawannya ketimbang perusahaanya yang sedang colapse itu.
dreettt, , dreeett, , ponsel barack bergetar kembali.
Dia menggeser tubuhnya sedikit maju mendekati meja, mengambil ponselnya dan melihat ke arah layar ponsel itu.
Terlihat luna sedang melakukan panggilan ke nomornya.
Ekspresi wajah barack tidak bisa di tebak mengetahui luna sedang menelponnya.
Yang pasti dia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.
Dia tidak mengangkat telepon dari luna, bagaimana pun juga semua ini karena luna, tapi barack lebih mencoba untuk tidak menyalahkannya.
Dia lebih mencoba menahan amarahnya itu sendiri.
Namun dia berusaha untuk tidak menghubungi luna terlebih dahulu, karena takut emosi yang sedang memuncak di dadanya membuat dia berkata kasar kepada wanita yang di cintainya itu.
Takut kejadian seperti saat dia memghaatam tembok di depannya itu terulang lagi.
__ADS_1
Atau bahkan bisa lebih parah dari itu, jika barack tidak bisa mengontrolnya.
Barack melakukan panggilan ke sekretarisnya melalui telepon yang ada di atas mejanya, di mana telepon itu sudah secara otimatis langsung tersambung ke seluruh sudut kantornya.
Terlihat sejenak barack menghela nafas panjang, seperti sedang mengatur nafasnya.
"Siapkan tiket pesawat ke paris untuk hari ini juga!!, carikan penerbangan paling awal".
Barack memejamkan matanya perlahan sampai terlihat kerutan halus di sekitar area matanya.
Terlihat sekali bahwa dia sangat terpuruk memikirkan masalah yang sedang di alaminya saat itu.
Namun saat ini dia lebih memilih untuk menyelamatkan perusahaannya.
Dia tahu, perusahannya itu bukan miliknya seorang tapi juga para pegawainya.
Barack beranjak dari kursi yang sempat membuatnya merasa nyaman itu.
Dia pergi keluar dari ruangan kerjanya menemui sekretarisnya untuk mendapatkan konfirmasi tentang tiket pesawat yang sudah di pesannya.
Bergegas pergi dengan membawa seorang supir untuk mengantarkannya ke bandara.
Di dalam mobil dia sempat mendapat telepon dari luna beberapa kali, namun barack masih mengabaikannya.
Di sisi lain terlihat luna mengendarai mobilnya dengan cepat menuju ke perusahaan pak bowo, untuk menemui barack.
Luna berlari menuju ke arah dalam lobi dan menemui resepsionis.
Terlihat luna masih terengah engah karena berlari, dia berusaha mencoba mengatur nafasnya.
"Barack, , mm maksutku, pak barack apa dia ada di ruangannya?" luna bertanya dengan tergesa gesa seolah olah ingin segera mendapat jawaban dari pegawai yang sedang duduk di meja resepsionis itu.
Pegawai itu langsung melihat ke arah komputer yang ada di depannya untuk melihat jadwal barack selanjutnya.
"Maaf, , tapi di jadwanya pak barack, dia pergi melakukan perjalannanya ke paris".
Sejenak luna terdiam, dari raut wajahnya dia seperti tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya dari pegawai itu.
Dengan nafas yang masih sedikit terengah engah, luna mencoba memastikannya kembali.
"Paris????, , kapan??".
Pegawai itu kembali melihat ke arah komputer lagi.
"Baru saja sekretarisnya mengupdate jadwalnya pak barack".
Luna pun langsung pergi menuju ke arah lift, dan bergegas pergi ke ruang kerja ayahnya barack.
***
__ADS_1
Jangan lupa likenya oke oke😘