
Mereka berdua terus berjalan melewati trotoar.
"Capek nih, kamu tidak bawa mobil ya?" kata luna.
"Aku tadi datang semobil sama orang tuaku" barack pun mencoba memesan taxi online.
"Nelpon siapa kamu?" tanya luna
"Pesan taxi online" jawab barack pendek.
"Lagian orang kaya, banyak mobil di rumah tapi tidak punya sopir yang standbay" kata luna sewot.
"Inikan udah bukan jam kerja, terus gimana sama kamu,sama aja kan??" kata barack sambil terus mencoba memesan taxi.
Sambil mnunggu taxi datang luna terus berdiri di pinggir jalan. Sedangkan barack mendapat telepon dari ayahnya.
"Hallo" kata barack.
"Kalian dimana? bilangnya ke toilet, tadi mamah kamu nyariin kalian tapi kalian tidak ada di sana, ini sebenarnya kalian di mana?" kata pak bowo dari ujung telepon barack.
"Maaf pah tadi luna bilang tiba tiba dia sakit perut makanya aku ajak dia keklinik, kayaknya aku antar dia langsung pulang saja" barack mencoba berbohong.
"Ya sudah kalau begitu, papah sama mamah luna juga khawatir nih, yaudah ayah tutup teleponnya" pak bowo.
"Hahahahah, , ? " luna tertawa mendengar percakapan barack dengan ayahnya.
"Kenapa" tanya barack merasa heran.
"Kamu jago juga dalam berbohong" kata luna menggoda barack.
"Iya, semenjak bertemu kamu aku jadi pintar berbohong" kata barack.
"Jadi maksutmu, aku pembawa pengaruh buruk gitu? hih nyebelin!" kata luna mulai cemberut.
kruuuuueekk, , keeruuuuk perut luna berbunyi.
Luna pun tersenyum malu ke arah barack yang memandangi perutnya.
"Hehe" luna.
"Kamu masih laper?" tanya barack.
"Pakai tanya, lagian tadi pas baru aja makan klara tiba tiba datang, yang pasti makananku belum habis tadi" kata luna mulai sewot.
"Ya sudah kita cari makan" kata barack
Kebetulan saat itu taxinya pun datang.
"Lah, nih taxi gimana?" tanya luna menunjuk ke taxi online.
Barack langsung mengeluarkan uang dari dompet 2 lembaran seratus ribuan dan memberikannya ke supir taxi tersebut.
"Maaf pak kita nggak jadi pake taxinya, ini buat biaya ganti rugi" kata barack sambil memberikan uang itu.
"Owh iya mas, tidak papa, makasih loh ya ini, banyak sekali" kata pak supir dan langsung bergegas pergi.
"Ayo jalan" tanpa sadar barack menggandeng tangan luna dan tangan kanannya masih membawa sepatu hils milik luna.
Luna merasakan aliran darahnya mengalir panas sampai ke ujung kepalanya. Jantungnya berdetak dengan tidak beraturan.
Mereka berdua berjalan menyeberangi jalan raya.
Dia mengikuti barack kemana pun langkah barack berpijak.
Pandangan mata luna selalu ke arah barack yang dengan gagah menuntun dia.
__ADS_1
Tidak lama kemudian.
"Sudah sampai" lalu barack melepas gandengan tangannya.
Luna pun tersadar dari lamunanya saat barack melepas genggaman tangannya.
"Kita makan disini!" kata barack masuk ke dalam kedai makanan pinggir jalan.
"Serius kamu mau makan disini?" tanya luna sembari membuang pandangan ke sekitar sambil meraih tempat duduk.
"Kenapa emang?" tanya barack penasaran.
"Yaaaa tidak papa sih, kalau aku kan sudah terbiasa sama jajanan pinggir jalan, lah kamu? ntar anak mamah sakit perut lagi" kata luna menggoda barack.
"Siapa anak mamah" tanya barack ketus.
"Noh orang yang barusan lewat, pake nanya lagi siapa, heeeh!" kata luna mulai sebel.
Tidak lama kemudian beberapa aneka makanan seperti sate ikan, tempura, cumi dan lain sebagainya tertata rapi di depan meja mereka.
"Wwuuuuaahhhh terlihat lezat sekaliii" kata luna yang terlihat sangat ingin sekali melahap semua itu.
"Awass, liur mu menetes tuh" kata barack menggoda luna.
"Mana?" dengan cepat luna mengusap mulutnya.
"hahahah, , ," barack tertawa terbahak bahak melihat tingkah luna dan terlihat senyum yang sangat manis di wajah barack.
Luna merasa heran seheran herannya, sambil menatap ke arah barack.
"Kenapa?" tanya barack.
"Barusan kamu ketawa loh, aku pikir kamu orangnya tidak bisa tertawa"kata luna terus merasa heran.
Senyum lebar di wajah barack pun dengan sekejap menghilang.
"Iih, ,nyebelin " Tanpa basa basi luna langsung melahap semua aneka sate di depannya.
Barack dibuat melongo dengan tingkah luna, gimana tidak dia baru makan satu tusuk saja belum habis, sedangkan luna sudah berganti ke tusuk sate yang ke empat.
Setelah selesai makan luna dan barack keluar dari kedai itu.
"Aduh, , aku jadi pengen langsung tidur nih, karena kekenyangan" kata luna sambil mengusap usap perutnya.
Sedangkan barack hanya menggeleng kepala dengan perasaan heran.
Barack langsung menyetop taxi yang kebetulan lewat.
Saat di buka pintunya ternyata pak supir yang tadi saat taxinya di cansel oleh barack.
Barack dan luna pun segera msuk kedalam mobil.
"Eh, masnya lagi, jodoh memang tidak kemana ya ms, walaupun tadi udah di cansel, dan saya muter muter nganter pelanggan lain, eh ujung ujungnya ketemu sama masnya lagi heheh" kata supir taxinya dengan penuh gembira.
Luna hanya melempar senyum ke arah barack sedangkan barack hanya diam mendengar perkataan supir taxi itu.
Dalam perjalanan pulang, mata luna sudah mulai tak tertahankan, dia benar benar ngantuk dan capek. Dengan segera dia pun tertidur di pundak barack.
Sesaat kemudian sampai di rumah luna. Barack ingin membangunkan luna yang tengah tertidur pulas namun dia tidak tega.
"Tunggu sebentar ya pak, aku antar dia masuk dulu" kata barack Lalu dia menggendong luna di depan dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Owh iya mas" kata pak supir.
Mbak ratmi keluar dan dengan sengaja menunggu di luar pintu karena dia mendengar suara mobil datang.
__ADS_1
"Loh mbak luna kenapa mas?" tanya mbak ratmi khawatir.
"Tidak papa dia hanya tidur, owh ya sepatu luna masih ada di dalam mobil" kata barack sambil menggendong luna masuk kekamarnya.
Sedangkan mb ratmi berjalan ke arah taxi itu dan mengambil sepatu milik luna.
Saat didalam kamar, barack meletakkan tubuh luna di atas tempat tidur dan kemudian melepas sepatu miliknya yang di pakai luna, dan dia pun memakai kembali sepatu itu.
Barack menarik selimut dan mencoba menyelimuti tubuh luna.
Dia mengamati wajah luna yang tengah tertidur pulas, sambil menyilakkan rambut yang menutupi kening luna.
Sesaat dia melihat air mata mengalir dari pojok mata luna.
Dan mata barack mulai terlihat merah ketika sedang memandangi luna entah apa yang sedang dipikirkanya.
Kemudian barack membuang pandangan ke sekitar kamar luna, dia merasakan kehangatan di dalam kamar itu.
Saat akan melangkah keluar barack mendengar suara luna.
"Kamu!" barackpun menghentikan langkahnya dan menengok ke arah luna.
"Jahat!!" luna mengigau.
Barack pun menatap lama ke arah luna, terlihat matanya yang tadinya merah kini mulai terlihat berkaca kaca, dengan segera dia langsung keluar dari kamar luna.
Barack bergegas pergi ke bawah dan kembali naik taxi. Dan segera taxi itu pergi dari rumah luna.
Pagi harinya luna terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya sudah berada di dalam kamarnya. Dia mengambil jas barack yang masih melekat di badannya.
"Mbak luna udah bangun?" tanya mbak ratmi yang baru saja masuk ke kamar luna untuk mengantar segelas air mineral.
"Semalam yang nganter pulang barack bukan mb?" kata luna dengan mata yang masih terasa berat untuk di buka.
"Iya mbak, semalem mas barack menggendong mbak luna sampai kamar" kata mbak ratmi.
Luna hanya berfikir, kenapa barack tidak bangunin dia, tapi malah gendong dia sampai kamar, secara kalau dilihat dari sifatnya yang ada dia bakal bangunin luna secara paksa.
dreet dreet dreet, , , ponsel luna bergetar.
Luna meraih ponselnya yang ada di atas meja dekat tempat tidurnya.
Terlihat di layar luna, Tante bowo memanggil.
"Pagi pagi gini? tumben, , halo tante" kata luna menjawab telepon bu bowo.
"Luna baru bangun ya?"terdengar suara bu bowo dari ujung hp luna.
"He, iya tante, ada apa ya tan, tumben pagi pagi nelpon luna?" tanya luna merasa heran.
"Mmm, , habis ini kerumah tante bisa tidak?" kata bu bowo.
"Mm, ,bisa sih tan, lagian luna juga tidak ada kelas hari sabtu ini, kenapa tan?" tanay luna.
"Ya sudah kamu mandi dulu gih, habis itu langsung ke rumah tanye ya, cepetan tante tunggu oke" kata bu bowo dia langsung mematikan teleponnya.
"Mau ngapain ya?? baru juga masih jam setengah delapan" kata luna merasa heran.
Diapun beranjak dari tempat tidurnya dan segera pergi ke kamar mandi.
***
__ADS_1