
Laki laki itu meraih pintu melangkah turun kemudian membukannya. Melihat ke arah Bunga yang sedang berlari mendekat.
Nafasnya terengah engah ketika berhasil mengejar Davien. Bunga berusaha menghela nafas, menetralkan dadanya yang berdetak kencang. Matanya menatap lekat, ingin berucap banyak tetapi bibirnya masih terasa beku.
Davien menghela nafas kasar, mengalihkan pandangannya ke arah lain sesaat sebelum kembali melihat Bunga.
Kemudian melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Waktuku hanya tinggal 5 menit" ucapnya dengan nada memaksa, meminta Bunga untuk sengera mengucapkan apa yang dia inginkan.
"He?? 5 menit?" Bunga mengulangi ucapannya untuk memastikan. Keningnya berkerut halus seolah merasa terganggu dengan ucapanya.
"Kenapa?, , kamu ingin pergi kemana?"
"4 menit dari sekarang!" sahutnya dengan cepat.
"Davien?, , kamu ingin pergi?" Bunga berucap dengan memelas, menatap sedih ke Davien. Kemudian melangkah semakin mendekat.
"Itu bukan urusanmu!! Katakan apa yang ingin kamu katakan!!" Davien mendengus kasar ketika melihat sisa krim kue yang masih menempel di wajahnya.
"Maaf, , aku bisa menjelaskan semuanya. Aku harap kamu tidak salah sangka dengan apa yang kamu lihat tadi" Bunga menuduk menyembunyikan wajahnya karena merasa bersalah.
"Apa kamu berfikir aku merasa salah sangka dengan kejadian tadi?" Davien terkekeh sinis.
"Davien?"
"Aku bukan siapa siapamu!! lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan" sahutnya memotong pembicaraan.
Bunga terdiam mendengar ucapan Davien, dadanya seakan di tusuk pisau dan di cabik cabik dengan kasar. Terasa sangat sakit hingga memanas yang kemudian menjalar keseluruh tubuhnya. Darahnya seakan mendidih, marah karena mengutuk diri sendiri. Merasa jengkel tak bisa menjaga sikap sehingga membuat Davien marah besar.
Davien menggerakkan tangan menggunakan ibu jarinya untuk mengusap bibir Bunga. Membersihkan sisa krim kue yang menempel di sana, setelahnya mengarahkan jarinya ke mulut untuk mencicipi krim yang menempel di ibu jarinya.
"Selamat ulang tahun! semoga kamu menikmati waktu kebersamaan kalian! aku tidak akan mengganggumu lagi"
"Davien?"
"Waktuku sudah habis!" sekali lagi Davien memotong pembicaraan. Tangannya telah berhasil membuka pintu.
"Kembalilah, , Marvel sedang menunggumu! jangan biarkan dia sendirian" Davien berucap dengan tenang, namun di dalam hatinya dia benar benar menahan amarah yang teramat sangat.
Davien melangkah masuk ke dalam mobil, membiarkan Bunga sendiri di luar sana dengan penuh rasa penyesalan.
Bunga hanya bisa diam menikmati perasaan sakit yang sedang hinggap di dadanya. Pandangannya masih tertuju ke mobil milik Davien yang bergerak semakin menjauh.
"Apa ini??, , ,kenapa aku merasa sangat sakit!"
Di saat Davien pergi menjauh Bunga merasa tidak rela. Dia semakin yakin bahwa saat ini Bunga mulai merasa takut kehilangan Davien. Mungkin terlambat tetapi proses perjalanan cintanya tak berakhir sampai di sana.
__ADS_1
Bunga sangat yakin bahwa dia bisa membuat Davien kembali berpaling ke padanya.
♡♡♡
Bunga berjalan masuk kembali ke apartement dengan wajah sedih bercampur gelisah. Masih belum bisa tenang ketika terus memikirkan Davien.
"Bunga" Marvel masih bertahan di sana, sengaja menunggu Bunga untuk kembali.
"Kak?, maaf. Aku ingin sendiri di sini" secara halus Bunga meminta Marvel untuk pergi dari apartementnya. Semula Bungatak menyangka dengan kedatangan Marvel akan membuat keadaan semakin runyam.
"Kamu yakin?"
"Iya Kak!" Bunga menundukkan kepaka menghindari tatapan matanya. Seolah dia benar benar serius dengan ucapannya.
Marvel menganggukkan kepalanya perlahan.
"Baiklah aku akan pergi!"
"Kak!" Bunga memanggil namanya mencoba menghentikan Marvel, sebelum laki laki itu melangkah menuju pintu.
Marvel menoleh, melihat Bunga yang masih berdiri memunggunginya.
"Maaf" Bunga merasa bersalah karena sudah meninta Marvel untuk pergi. Murni ini bukan kesalahannya, tapi semua karena sikap Bunga yang tak bisa menjaga diri dengan baik.
Marvel tak menjawabnya, dia hanya tersenyum tipis menanggapi permintaan maafnya. Tak lama dia kembali melangkah menuju pintu kemudian keluar dari apartement.
Bunga kembali berdiri melangkah meletakkan kedua barang itu di atas meja. Tangannya neraih kursi kemudian duduk di sana.
Dia mulai merapihkan satu persatu bunga yang rusak. Setelah selesai Bunga meletakkannya ke sisi lain.
Kini pandangannya teralihkan pada sebuah paperbag kecil berwarna biru gelap. Bunga tak langsung membukanya, dia masih mencoba menebak apa yang Davien berikan kepadanya sebagai hadiah ulang tahun. Jika diingat ingat mungkin saat ini adalah hari ulang tahun terburuk baginya.
Karena beberapa tahun terakhir Bunga memang tak selalu merayakannya dengan meriah, hanya dengan sang nenek sebelum dia pergi unuk selamanya.
Tetapi itu sangat cukup membahagiakan bagi Bunga. Perempuan itu mengusap ujung matanya ketika tak terasa air mulai mencuat keluar dari matanya
Perlahan Bunga membuka paperbag, tangannya meraba kebagian dalam. Wajahnya terpaku ketika tangannya mendapati sebuah kotak kecil dari dalam sana.
Bunga sudah menebaknya dengan sangat yakin apa isi di dalam kotak kecil itu. Tak lama dia membukanya dan ketika melihat sebuah cinci berada di dalamnya Bunya memejamkan matanya rapat hingga terlihat kerutan halus di sekitar area matanya.
Bunga segera berlari ke arah kamar. Mengambil ponsel yang ada di atas nakas kemudian menghubungi Davien.
"Nomor yang anda tuju"
Bunga seketika memutuskan panggilannya. Sekali lagi dia mencoba untuk menghubungi Davien. Tetapi hal yang sama terulang lagi nomornya masih tak bida di hubungi.
Benar saja mungkin saat ini Davien sudah ada di Bandara sehingga dia menggunakan mode pesawat untuk ponselnya.
__ADS_1
Merasa jengkel karena tak ada sahutan dari davien, Bunga memilih untuk membuang ponselnya ke atas ranjang. Kini dia duduk di tepi ranjang tangannya mengeluarkan sebuah cincin yang masih tertata rapih di sana.
Kemudian memakainya di jari manis, senyum manis terlihat menghiasi bibirnya ketika cincin itu terlihat cocok dan pas.
Bunga seakan baru sadar bahwa laki laki itu serius dengannya. Dia mendorong tubuhnya kebelakang hingga terbari di atas ranjang.
Senyumnya semakin melebar seakan lupa dengan apa yang baru saja terjadi, kini baginya hal yang terpenting adalah tahu bahwa Davien benar benar serius dengan perasaannya.
Bunga meringkuk di atas ranjang memeluk tubuhnya sendiri, senyumnya semakin lebar hingga memenuhi wajahnya. Kini akhirnya Bunga berani mengakui perasaannya sendiri dan sangat yakin bahwa dia sebenarnya juga menyukai Davien.
♡♡♡
Pagi itu Bunga berangkat dengan penuh rasa bahagia, senyum seakan tak pernah bisa lepas dari bibirnya.
"Pagi Pak satpam" sapanya dengan nada riang ketika memasuki pintu lobi.
Satpam itu menganggukkan kepala ke arah Bunga memberi hormat.
Bunga berlari menuju pantry layaknya anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah mainan sesuai keinginannya.
"Pagi Kak Loriaaaa" ucapnya dengan nada penuh semangat. Bunga mendekatinya memeluk tubuh Loria dari arah belakang.
"Hei hei hei!!, , apa yang sedang kamu lakukan!" Loria berusaha melepaskan diri dari Bunga.
"Aku sedang nemelukmu Kak!."
"Kenapa kamu senang sekali?? habis memenangkan lotre ya!" Loria membalikkan tubuhnya, seketika itu juga Bunga melepaskan pekukannya.
"Lebih dari itu Kak!" Bunga berjalan ke arah lain untuk mengambil cangkir, bersiap siap untuk membuatkan minuman untuk Davien.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" ucapnya ketika Loria melihat Bunga sibuk sendiri.
"Membuatkan minuman untuk Pres Dir. Memang apa lagi!"
"Prs Dir?? bukannya dia pergi ke Indonesia selama beberapa hari?"
Seketika Bunga memaku tangannya di udara ketika ingin mengambil gula.
"Waktuku hanya tinggal 5 menit"
Bunga teringat ucapan Davien kemarin. Dia tak menyangka bahwa Davien benar benar akan pergi.
"Indonesia??, selama beberapa hari??" gumamnya dengan tatapan kosong.
♡♡♡
Mohon maaf jika ada komentar dari kalian yang belum saya like, itu karena saya merasa takut untuk membuka bahkan membacanya 🤭🤭🤭🙏🙏🙏
__ADS_1