
Bunga bahkan sampai berjinjit untuk memudahkan dirinya ketika sedang mencium Davien.
Sementara lelaki itu hanya diam membiarkan Bunga terus mencium bibirnya, Davien hanya menatap ekspresi wajah Bunga yang tepat berada di depan matanya.
Perempuan itu kini telah menutup mata sambil terus mengecup bibirnya. Dan ketika merasa Bunga ingin menyudahi ciumannya, dengan cepat salah satu tangan Davien meraih tengkuk sementara satu tangannya lagi meraih pinggangnya. Karena Davien tak ingin ciuman itu berakhir begitu saja.
Lelaki itu sempat menekuk kedua kaki sebelum mengangkat tubuh kekasihnya.
Davien masih terus mencumbunya, perlahan dia melangkah menuju pantry yang terhubung langsung dengan pintu belakanh. Davien meletakkan tubuhnya di atas meja yang kebetulan ada di belakang Bunga, memaksa perempuan itu untuk duduk di sana.
Lelaki itu berdiri memposisikan dirinya di sela kedua kaki Bunga yang sengaja dibuka oleh Davien ketika perempuan itu sedang tidak fokus. Seakan merasa tak puas Davien semakin mendorong tubuhnha untuk memperdalam ciuman hingga tubuh perempuan itu sedikit terdorong ke belakang.
Bunga sempat membuka mata saat merasakan lelaki itu semakin ganas. Bunga tak membalas ciumannya lagi kalini dia hanya menikmati apa yang sedang dilakukan oleh Davien.
Lelaki itu kini terlihat sedang menggerakkan kepala ke arah berlawanan sementara bibirnya sibuk menyesap kedua bibir Bunga dengan kuat.
Davien sadar Bunga tengah memperhatikan dirinya, dia kemudian membuka mata perlahan bersamaan dengan ciumannya yang terhenti. "Kenapa?" Davien mengecup bibirnya kemudian menarik kepalanya ke belakang, sedikit menjauh.
Tatapan matanya nampak mengawasi ekspresi wajah Bunga. Perempuan itu merona pipinya merah hingga terasa menghangat.
"Tidak, kenapa kau berhenti?" Bunga tak bermaksud memancing lelaki itu, namun hal yang dirasakan oleh Davien malah sebaliknya.
"Jadi kau menginginkannya lagi?" ujung bibirnya terangkat, senyumnya mengandung arti lain.
Bunga menelan ludahnya dengan susah payah merasa malu dengan ucapannya sendiri, dia tak bermaksud untuk meminta Davien melanjutkan apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Dia hanya penasaran kenapa tiba-tiba Davien berhenti menciumnya.
"Jika kau ingin aku melanjutkannya lagi, apa kau sudah siap menerima konsekuensinya?" Davien berucap penuh dengan teka-teki membuat Bunga sedikit merasa kebingungan.
"Apa maksudmu?" Bunga menarik kedua tangan yang sempat meremas kemeja lengannya.
Davien menggunakan satu tangannya menyentuh bibir Bunga mengusap sisa-sisa basah akibat perbuatannya. Lelaki itu tersenyum sangat lebar hingga matanya terlihat sipit.
"Kenapa? Apa ada yang lucu?" Bunga berucap Lirih.
"Tidak, hanya saja... kenapa setiap kali aku menciummu, bibirmu akan terlihat membesar seperti ini."
Bunga menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang malu. "Kau yang melakukannya, kenapa malah bertanya padaku!"
"Baiklah, aku akan membersihkan tubuhku dulu" Davien menegakkan tubuh, sementara kini kedua tangannya bergerak meraih kancing kemeja kemudian membukanya satu per satu.
Deg!
__ADS_1
Bunga dibuat jantungan, dadanya berdebar sangat kencang ketika melihat Davien telah berhasil membuka dua kancing kemeja bagian atas hingga sedikit menampakan bagian dadanya yang bidang dan keras.
"Tunggu! tunggu! Kenapa kau tidak membuka bajumu di dalam kamar? di sini anginnya dingin kau bisa demam nanti" Bunga mencoba agar lelaki itu pergi dari hadapannya, karena apa yang sedang dia lakukan saat ini membuat Bunga benar-benar sangat malu. Dia pun tahu kalau Davien sengaja melakukannya.
Davien memaku kedua tangannya setelah berhasil membuka kancing yang ketiga, setelahnya dia malah tersenyum manis penuh misteri dibaliknya. "Kenapa? Kenapa aku harus melakukannya di kamar? Toh di sini sama saja. Sama-sama rumahku, kan?" Davien mengangkat kedua alisnya kemudian memamerkan senyum manis dengan tatapan nakal.
Bunga berdehem menetralkan perasaan kemudian memilih untuk turun dari meja. "Kau pergi bersihkan dieimu, sementara aku akan menyiapkan makan malam, kau sudah lapar, kan?"
Bunga kemudian melangkah masuk ke arah dalam meninggalkan Davien yang masih berdiri di tempat semula.
Lelaki itu terlihat tegang ketika Bunga memaku langkahnya tepat di samping pintu kamar yang membuat perempuan itu penasaran.
Ada sedikit guratan kekhawatiran melihat Bunga masih berdiri di sana sambil menatap kearah pintu.
Bunga penasaran dengan kamar yang ada di sampingnya, namun dia tak mau lancang karena dia tahu batasan.
Akhirnya Davien bisa menghela nafas penuh kelegaan setelah melihat Bunga melanjutkan langkahnya.
***
Di saat Davien sedang mandi, Bunga terlihat tengah sibuk menyiapkan makan malam. Dia membuat makanan yang tak terlalu banyak mengandung lemak.
Tak lama setelahnya Davien keluar dari kamar mandi mengenakan handuk kimono berwarna hitam dan handuk kecil dengan warna senada yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Ting tong!!
Terdengar suara bel yang sengaja ditekan dari arah luar. Davien sengaja membiarkannya karena Dia mengira kalau Bunga akan membukakan pintu, namun ketika Davien mendengar suara bel berbunyi lagi, dia memutuskan untuk pergi keluar dari kamar memastikannya.
Pandangannya langsung menyapu setiap sudut pantry yang terletak tak jauh dari kamarnya. Di sana Davien tak melihat keberadaan Bunga. "Bunga? Bunga? Kau di mana?" dia hanya berpikir kalau perempuan itu sedang sibuk memasak.
Tetapi ketika ingin melangkah menuju pantry untuk mencarinya, tiba-tiba suara bel terdengar lagi hingga membuat lelaki itu mengurungkan niatnya.
Davien lebih memilih untuk berjalan menuju pintu dan memeriksa siapa tamu yang datang tengah malam. Ekspresi wajahnya berubah datar, bibirnya membisu seakan tak bisa berucap ketika melihat Keiko dengan keadaan kening masih sedikit terluka berdiri tepat di depannya.
"Ke.keiko?" Davien tak mengira kalau perempuan itu akan datang ke rumahnya malam-malam, karena dia mengira Keiko masih di rumah sakit untuk memulihkan kesehatannya.
"Kenapa dengan ekspresi wajahmu? Kau sepertinya tidak suka aku datang kemari!?" Keiko menerobos masuk melewati Davien, sambil berlalu perempuan itu melangkah masuk.
Ada rasa kekhawatiran jika Keiko dan Bunga bertemu di dalam pantry. Davien menutup pintu setelahnya berjalan perlahan dengan raut wajah kebingungan menuju ke arah dalam.
Pandangannya masih menyapu setiap ruangan dia mencoba untuk mencari Bunga namun dia tak menemukan perempuan itu ada di sana.
__ADS_1
Keiko ternyata membawa bingkisan berisi makanan yang sengaja dia pesan dari restoran untuk Davien. Keiko meletakkan bingkisannya di atas meja, dia sedikit terkejut saat melihat beberapa makanan telah tersaji di meja makan.
Dia sempat berfikir kalau Bunga yang menyiapkan semuanya. Mengingat bahwa Davien sepertinya menaruh hati kepada perempuan itu membuat Keiko berfikir ke arah sana.
Namun Keiko sangat pandai dalam menyembunyikan ekspresi keterkejutannya. Dengan sekejap ekspresi yang sebelumnya terlihat kesal kini dengan cepat berubah tenang. "Jadi, sekarang di rumahmu ada pelayan?" ucapnya dengan tenang.
"Bukan!" Davien tak tahu harus menjawab apa, lelaki itu benar-benar terlihat kebingungan, ingin mengatakan yang sebenarnya tapi dia masih takut akan melukai perasaan Keiko. Sahabat yang selama ini selalu ada disampingnya.
Keiko tak mau ambil pusing dia memilih sibum menyiapkan makanan yang sengaja dia bawa untuk di tata rapi di atas meja lalu menyingkirkan makanan yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Bunga.
Bibirnya terasa kaku seketika tak dapat digerakkan. Davien seakan ingin berucap, melarang Keiko menyingkirkan semua makanan itu tetapi semuanya sudah terlanjur.
Dia hanya menghela nafas kasar lelaki itu tetap berusaha tenang namun dia lebih khawatir karena tidak menemukan Bunga di dalam rumahnya.
"Kemarilah temani aku makan, aku sudah menyiapkan semua ini untukmu sebagai rasa terima kasih karena kau sudah menyelamatkanku kemarin" ucapnya dengan nada gembira.
Keiko benar-benar sangat menggantungkan hidupnya kepada Davien, dia berharap lelaki itu akan berada di sisinya sampai ujung usia.
Davien ragu ketika ingin melangkah namun dengan cepat Keiko menghampiri meraih lengannya kemudian memaksa lelaki itu untuk duduk di sampingnya.
"Kalau kau tidak mau makan aku akan memaksamu! Kalau kau tetap tidak mau... aku akan menyuapimu!" ucapnya dengan nada tegas.
Keiko mengambil sendok bersiap menyuapi Davien, tetapi dia menghindar dengan menggerakkan sedikit kepalanya saat sendok yang sudah berisi penuh makanan itu ada di depannya. "Kalau kau tidak mau disuapi kau makan sendiri bisa, kan?" Keiko meletakkan kembali sendoknya.
Perempuan itu tersenyum saat melihat Davien mulai melahap makanan. Senyumnya semakin lebar hingga nampak kerutan halus di sekitar matanya.
Davien berdehem menetralkan perasaan kemudian dia berucap. "Apa kau baik-baik saja? kepalamu?"
"Seperti yang kau lihat, hanya sedikit menyisakan rasa nyeri di sini" Keiko berucap sambil menyentuh bagian kening yang masih tertutup plester kecil.
"Kau bisa, kan? jangan membuatku khawatir, kalau kau sedang banyak pikiran kau seharusnya tidak menyetir. Kenapa tidak meminta sopir untuk mengantarmu?"
"Iya, aku minta maaf karena sudah membuatmu khawatir. Kau tahu kenapa aku mengalami kecelakaan saat itu?" Keiko menatap Davien dengan satu tangan bertumpu di atas meja menyangga dagu. "Kau tahu apa yang sedang aku pikirkan saat itu?" tambahnya.
"Apa itu?" tanya Davien.
"Karena aku memikirkan hubungan kita" ucap Keiko tanpa rasa ragu.
Davien terpaku dia tak dapat berkata setelah mendengar ucapannya.
Sementara di sisi lain di balik dinding yang menyekat antara pantru dan ruang tv, Bunga ternyata sejak dari tadi sengaja mencuri dengar apa yang sedang mereka berdua bicarakan.
__ADS_1