Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#51 Sengaja menggodaku


__ADS_3

 


Setelah selesai kuliah luna dan cici pergi ke swalayan untuk membeli perlengkapan bulanan mereka.


 


Sesekali cici melihat ke arah luna yang terus terusan senyum senyum sendiri sambil memilih kebutuhan pribadinya.


"Yaeelaahh, , jadi benar ya kata orang orang kalau sedang jatuh cinta itu membuat kita menjadi gila" kata cici sambil pura pura memilih barang pribadinya padahal dia sedang menggoda luna.


Terlihat senyuman di wajah luna hilang seketika, setelah mendengar kata kata cici.


"Hey!, , aku masih waras ya, kamu kali yang gila" kata luna kepada cici.


Sambil mendorong kereta belanja yang sudah penuh dengan belanjaan itu cici terus menggoda luna.


"Lah, ,kamu dari tadi di kelas juga senyam senyum terus tahu!" kata cici.


"Anda tidak bisa melihat orang senang ya?" kata luna sambil melotot ke arah cici.


Cici pun tertawa melihat tingkah luna saat itu.


"Ooh iya, kapan kalian tunangan?" tanya cici.


"Akhir minggu ini" jawab luna.


"Lalu, , bagaimana dengan dia, , mmm maksutku klara?" cici merasa agak tidak enak hati waktu mau menanyakan soal klara.


"Hmmm, , aku sudah tidak berhubungan sama dia semenjak malam fashion show kemaren, , dan lagi aku juga belum bertemu dengan leo sampai sekarang" kata luna.


"Atau mungkin sudah pulang ke ausi dia?" kata cici.


"Tidak mungkin lah, dia pasti kasih kabar kalau mau pulang ke sana, dia juga sampai sekarang tidak ada kabar" kata luna sambil mulai melamun saat memikirkan leo.


"Ya sudah lah, pasti ada kerjaan yang tidak bisa di tinggalkan" kata cici.


dreeett, , dreeettt, , ponsel luna berdering.


Diraihnya ponsel luna yang ada di dalam tas ransel yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi.


Terlihat di layar ponsel luna, mamah barack memanggil.


"Mamah???, , halo mah" luna menjawab teleponnya.


"Luna kamu sedang di mana?, ini mamah sedang ada di taman kota masih lihat lihat tempat untuk acara tunangan kamu nanti" terdengar suara bu bowo dari ujung ponsel luna.


"Waduh, luna tidak bisa ke sana sekarang ini mah, luna sedang belanja di swalayan" kata luna sambil terus memilih perlangkapan lain yang sudah tertata rapih di rak.


"Ya sudah tidak apa apa, oh iya, beli perlengkapan buat barack sekalian ya nanti kamu mampir ke apartement barack sekalian antar barang belanjaannya" kata bu bowo.


"Iya mah, nanti luna belanja sekalian buat barack" jawab luna.


"Oke sayang terimakasih ya" kata bu bowo


Luna pun terus mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam tas ranselnya.


"Kenapa?" tanya cici.


"Mau belanja sekalian buat barack" jawab luna sambil memilih barang barang yang mungkin di perlukan di apartement barack.


"Cowok biasanya beli apa yah?" kata luna dengan nada lirih, masa bodo dengan apa yang biasanya di beli oleh laki laki, yang terpenting, dia mencoba mengambil sesuai kebutuhan barack.


"Masak barack doang, aku mau dong lun" kata cici sambil merengek kepada luna.


"Idiiiihh, , tidak usah pakai segala macam bibir di memble memblein begitu kali ci, , dasar" kata luna.


"Benar yah, belanjaanku sekalian di bayarin ni?" kata cici memastikan.


"Iya tayangkuuu, apa si yang tidak buat kamu" kata luna sambil mencubit pipi cici.


Setelah selesai belanja luna terlebih dulu mengantar cici pulang ke rumah tantenya.


Diperjalanan menuju ke rumah tantenya cici, luna menghentikan mobilnya di depan indo***** untuk mengisi E_tol.


Cici saat itu menunggu luna di dalam mobil sambil menyenderkan kepalanya di kursi namun tanpa sengaja dia melihat bayangan seorang laki laki lewat sepion samping mobil.


Cici masih merasa ragu dengan sosok laki laki yang mirip dengan leo karena bayangan di sepion itu terlalu kecil dilihatnya.


Untuk memastikannya dia membuka kaca pintu mobil dan melihat ke sepion lebih dekat,


Dilihatnya laki laki yang mirip dengan leo itu masuk ke dalam rumah sakit di seberang jalan.


Cici pun keluar untuk memastikan laki laki yang dilihatnya itu adalah leo.


Namun dia sudah terlanjur masuk ke dalam rumah sakit itu.


"Kenapa ci?" kata luna yang habis keluar dari indo***** setelah melihat cici sedang celingukan di luar mobil seperti sedang mencari seseorang.


"Kamu cari siapa?" sambungnya.


"Ee., , tadi sepertinya aku lihat leo, dia masuk ke rumah sakit" kata cici.


"Masak??, , kalau ada apa apa dia pasti sudah kabari aku kan?" kata luna.


"Iya sih, , tapi memang benar leo deh sepertinya tadi" kata cici sambil masuk lagi ke dalam mobil.


"Ya sudah nanti aku coba hubungi dia deh" kata luna sambil menyalakan mobilnya dan beranjak pergi dari tempat itu.


Setelah mengantarkan cici, luna segera pergi ke apartement barack untuk mengantar barang belanjaan.


Luna turun dari mobil dengan membawa beberapa kantong plastik di tanganya dan membawanya naik ke lantai 5 di mana apartement barack berada.


sampainya dia di depan pintu kemudian dia memencet sandi nomornya dan segera masuk ke dalam.


Langkahnya terhenti saat melihat ruangan tv barack begitu berantakan, kaos kaki, celan, bantal, dan beberapa bungkus bekas makanan ringan tergelak di atas meja serta remahan sisa makanan juga masih utuh di atas meja.


"Ini kali ke dua aku melihat apartementnya berantakan seperti ini, masa iya dia yang melakukan semua ini" kata luna sambil berjalan ke arah dapur, pasalnya barack orangnya suka sekali kebersihan.


kemudian dia meletakkan belanjaanya di atas meja dan mengambil ponselnya.


Ingin sekali rasanya dia menelpon barack dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi sampai sampai ruang tv nya bisa berantakan seperti kapal pecah, padahal itu bukan tipe barack.

__ADS_1


Tapi luna mengurungkan niatnya karena takut mengganggu pekernjaannya hanya untuk menanyakan hal sepele itu.


Luna meletakkan ponselnya di atas meja, dan segera membersihkan apartemn barack itu.


Mulai dari mengumpulkan sampah plastik bekas wadah cemilan beserta remahan remahan yang menyebar di mana mana.


Lumayan membutuhkan waktu yang lama untuk membersihkan ruang tv itu.


Belum lagi luna harus menata belanjannya di dapur.


Luna merebahkan badannya di atas sofa untuk membiarkan otot ototnya beristirahat sebentar setelah bekerja keras.


Dilihatnya jam dinding yang ada di atas televisi itu.


Dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore.


"Baru juga selesai, sudah sesore ini?" kata luna, nampak sekali di wajahnya kalau dia benar benar kelelahan.


Barack memarkirkan mobilnya setelah sampai di basment.


Saat berjalan menuju ke arah lift dia melihat mobil luna sudah terparkir tidak jauh dari mobilnya.


Dan terlihat senyum yang sangat tipis di wajah barack saat itu.


Aura di wajahnya terlihat seperti seorang suami yang baru pulang kerja dan di sambut istrinya di rumah.


Luna mengambil bangku berbentuk bulat untuk menyangga tubuhnya saat akan menata barang barang di dapur yang sekiranya tidak terlalu membutuhkan pendingin.


Ditaruhnya kursi itu di dekat wastafel dapur.


Lalu luna menaiki kuri itu sambil membawa beberapa makanan yang akan di tatanya di lemari dapur.


Barack tidak sabar ingin segera bertemu luna, makanya setelah keluar dari pintu lift dia langsung berlari ke arah pintu apartementnnya dan dia mendapati kalau pintunya tidak tertutup dengan rapat.


Dia meraih gagang puntu yang masih terbuka sedikit itu, dan berjalan ke arah ruang tv, dia merasa heran setelah melihat ruang tv nya berubah menjadi bersih, dia sengaja tidak memanggil nama luna karena ingin mengejutkan dengan kedatangannya.


Barack terus berjalan ke arah dapur namun tubuhnya tiba tiba memaku, setelah melihat kursi berbentuk bulat itu tergeletak begitu saja, terlihat juga pecahan gelas dan noda merah padam yang berceceran di sekitarnya.


Diliriknya kursi yang berada dekat dengan lemari wastafel itu dan pandangannya di alihkan ke pada lemari atas dapur. Pikirnya luna pasti terjatuh saat sedang membuka lemari atas dapur itu.


Pikirannya meracau kemana mana, apa lagi kalau dia tidak menemukan luna di tempat itu.


Dia terus mendekat ke arah dapur, aura wajah barack yang tadinya di penuhi dengan senyum kebahagiaan itu seketika berubah, pikirannya kacau dan di penuhi rasa ketakutan, seluruh badannya bergetar setelah melihat noda berwarna merah padam serta pecahan kaca itu.


Di pikirannya pasti terjadi sesuatu dengan luna.


"Luna???" panggilnya dalam hati.


Barak segera berlari ke arah kamarnya, dan dia mencoba mencari luna di dalam kamar mandi, terlihat wajah barack penuh dengan ke khawatiran setelah tidak menemukan luna di dalam kamar mandi.


Segera dia berlari lagi kembali ke ruang tv, namun tiba tiba dia mendengar suara luna sedang bersin dari arah balkonnya.


"Hatcciiihhh!!!"


Dengan segera barack menghampiri luna yang sedang menjemur bajunya di sana.


"Hattcciihh" luna bersin lagi.


"Barack??" Dia pun melihat barack sudah berdiri di depan luna dengan wajah penuh kelegaan.


Terasa sekali di pelukannya itu kalau barack benar benar takut kehilangan luna. Pelukannya semakin erat membuat luna susah untuk bernafas.


"Barack, , heh, lepas!" kata luna sambil mendorong pelan tubuh barack itu.


"Kamu, tidak apa apa kan?, , mana yang terluka, tangan?, kaki?, " kata barack sambil mengecek bagian tubuh luna.


"Aku tidak apa apa barack, kamu kenapa sih?" tanya luna dengan penuh keheranan melihat sikap barack.


"I, itu tadi, di dapur, darah siapa?" tanya barack.


"Darah??, , saos kali" kata luna.


"Bukan!!, itu warnanya merah padam, pasti darah"kata barack masih dengn penuh kehawatiran.


Luna pun merik tangan barack dan membawanya menuju ke dapur untuk memastikan kalau yang di lantai itu bukan darah.


"Itu saos bukan darah!" kata luna.


"Warnanya saja berbeda dengan saos pada umumnya" jawab barack.


"Ini saos cair barack, lihat dengan teliti, ada biji cabenya juga nih" kata luna.


Diapun mengambil sedikit saos itu dengan jari telunjuknya dan mengarahkannya ke wajah barak, berharap barack mencium baunya.


Namun luna tidak menduganya, barack malah menarik tangan luna dan memasukkan jari luna yang di lumuri saos itu ke dalam mulutnya.


Luna pun merasa kaget dan bermaksut menarik jarinya yang ada di dalam mulut barack, namun barack menahannya dia terus memegang tangan luna dengan erat.


Luna melihat ke arah mata barack yang entah kenapa sorot matanya itu terlihat nakal, dan dia belum pernah melihat barack yang seperti itu.


Mata luna terbelalak saat merasa kegelian di jarinya, dia tahu kalau barack memainkan lidahnya untuk membuat jari luna merasa geli.


Di tariknya jari luna dengan sekuat tenaga.


"Barack!!!" teriak luna, terlihat ke dua pipi lun sudah memerah padam karena perlakuan barack padanya.


"Kenapa?" tanya barack dengan nada lembut, sambil menahan senyumnya setelah berhasil menggoda luna.


"Geli tahu!" kata luna.


"Geli??, , memang apa yang sudah aku lakukan? sampai kamu merasa geli?" tanya barack lagi sambil terus menahan senyumnya itu.


"Kamu ganti baju dulu sana, aku akan membersihkan tempat ini" kata luna sambil mengambil tisu untuk membarsihkan noda saos di lantai. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


"Tunggu" barack menahan luna agar tetap berdiri di tempatnya.


Di lihatnya dahi luna sedikit membiru, entah kenapa, tapi barack belum ingin tahu kenapa alasan dahinya bisa terluka.


Dia segera melepas jasnya, dan membuka beberapa kancing kemeja untuk sedikit memberi celah agar udara masuk ke dalam tubuhnya.


Barak berjalan ke arah bifet, dan mengambil sebuah kotak p3k.

__ADS_1


Di tariknya tangan luna yang tengah sibuk membersihkan saos dan pecahan kaca yang ada di lantai.


"Eh, kamu mau apa?" tanya luna karena merasa kaget tiba tiba barack menarik tangannya dan membawanya duduk di sofa ruang tv.


Barack hanya dian dan tidak menjawab pertanyaan luna, dia malah sibuk dengan kotak p3k nya itu.


Dia membuka kotak itu dan mengambil sebuah salep.


Dia tahu kalu barack tidak suka di bantah, makanya dia juga diam dan terus membiarkan barack sibuk dengan kotak itu.


Barack menyilakkan rambut luna yang sedikit menutupi keningnya yang luka itu ke belakang telinga.


Perlahan dia mengoles salep pereda nyeri ke bagian yang luka.


Nampak mulut luna terus membisu ketika barack membantu mengobati lukanya.


Karena menahan rasa nyeri ketika barack mengoles salep itu maka kepala luna terus di teriknya perlahan ke arah belakang.


Barack langsung meraih leher belakang luna dan mendekatkan kepala luna ke arah wajahnya.


"Jangan bergerak dulu!" kata barack yang tengah sibuk mengols salep.


Jnatung luna terus berdebar debar, karena melihat mulut barack tepat berada di depan matanya, terlihat sekali bibir barack yang lembut itu seperti sedang melambai lambai ke arah luna.


Luna pun bergidik dengan pelan untuk menyadarkan dirinya sendiri.


"Biasa diam tidak? jangan gerak gerak terus"perintah barack.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya barack.


"Itu, sebenarnya tidak sengaja tadi?" kata luna.


"Lalu, kenapa saosnya bisa berceceran di lantai, dan gelas juga? kenapa bisa pecah" barack menghujani luna dengan pertanyaannya.


flash back on, ,


Luna sedang berdiri di atas kursi bulat itu sambil membawa beberapa makanan untuk di tata di dalam lemari atas dapur.


Setelah selesai menatanya, dia turun dari kursi itu, dan kembali mengambil barang belanjaan yang masih di dalam kantong kresek.


Luna mengambil sebuah saos dari dalam kresek itu, dan segera membukanya karena penasaran dengan rasa saos yang baru itu, dia pun susah payah membuka tutupny.


"Kenapa tidak bisa di buka sih!" kata luna sambil menggebarak gebrakkan pantat botol itu ke telapak tangan satunya.


Dia mencoba membuka lagi tutup botolnya dengan paksa, di tariknya tutup botol itu dengan sekuat tenaga, alhasil tutup botolnya terbuka, namun naasnya saoanya ada yang meloncat ke mata luna.


Matanya terasa perih sekali, makanya luna langsung memejamkan matanya dan meletakkan botol saosnya begitu saja.


Karena matanya tertutup jadi dia tidak bisa melihat saat menaruh botolnya.


pyaaarrr!!! suara botol saos yang pecah, dan saosnya berlarian kesana kemari sebagian juga ada yang loncat ke baju luna.


Luna merasa kaget makanya di meloncat ke arah belakang dan menyenggol kursi bulat yang di gunakannya tadi hingga jatuh dan tergeletak di lantai.


Dia segera menyalakan keran wastafel dan mencuci matanya yang terkena saos itu.


Kemudian melepas bajunya dan membersihkan bagian yang terkena saos tadi.


flash back off, ,


"Itu bukan gelas, tapi itu kaca tempat soasnya tadi yang pecah" luna menjelaskan.


Bacak hanya diam mendengar penjelasan luan.


"Kamu khawatir ya?" tanya luna mencoba menggoda barack.


Barack menatap tajam le arah mata luna itu.


"Sepertinya pertanyaanmu itu tidak butuh jawaban!" jawab barack.


"Oh iya, , tadi waktu aku masuk ke sini, kenapa bisa ruang tv jadi berantakan seperti kapak pecah?" kata luna kepada barack.


"Itu ulah rekan kerjaku yang di paris, beberapa minggu kemarin dia sempat memintaku untuk kembali ke sana, karena ada berkas yang harus di tanda tangani langsung, dan tidak bisa di wakili, katanya terlalu lama kalau menungu aku ke sana jadi semalam dia sampai dan datang kemari" barack mencoba menjelaskan


"Lalu sekarang dia dimana?" tanya luna penasaran.


"Aku suruh dia tidur di hotel, masak iya di sini, tambah berantakan nanti" kata barack.


"Dari mana kamu tahu sandi apartementku yang baru?" kata barack, dia baru saja sadar kalau luna bisa masuk tanpa meminta sandi apartement padanya, padahal sudah dari malam kemarin luna bisa masuk.


Terlihat di wajah luna kalau dia sedang menahan senyumnya.


"Ada deeehh" jawab luna.


Selesai mengobati kening luna itu, barack menyenderkan tubuhnya ke dinding sofa yang terasa sangat empuk dan nyaman itu, seolah olah bisa menghilangkan rasa lelah di tubuh dan pikiran barack karena seharian bekerja di kantor.


Dia memejamkan matanya dengan pelan saat itu.


Luna melihat ke arah barack yang sedang tertidur di sofa. Dia mendekati wajah barack perlahan untuk memastikan apakah barack benar benar sudah tidur secepat itu.


Luna mengangkat tubuhnya sedikit, dan menggunakan tangan kannanya untuk menyangga badannya saat mendekati wajah barack.


Satu tangannya lagi meraih dinding sofa untuk menahan tubuhnya dari sisi lain.


Barack pun membuka matanya perlahan dan mendapati wajah luna sudah tepat berada di depan matanya.


Sesekali dia melihat ke arah dada luna yang bisa dilihat dengan bebas karena dia hanya memakai tangtop sehingga memperlihatkan leher dan dadanya yang putih bersih itu.


Sedikit terlihat belahan dadanya saat luna sedikit membungkuk di depan barack.


Luna merasa kaget dan mendorong tubuhnya ke arah belakang untuk menjauh dari barack, sambil menutupi bagian dada dengan kedua tanganya seperti sedang memeluk dirinya sendiri.


"Kenapa tidak memakai kaosku?" tanya barack dengan terus masih bersandar di dinding sofa, namun matanya sekarang tertuju ke arah badan luna. Dilihatnya pundak luna yanh terbuka itu.


"Masih ada ini kok" kata luna sambil melihat ke arah tangtopnya.


"Kamu sengaja ya?" kata barack


"Hê??? sengaja? apanya yang sengaja?" wajah luna terlihat sangat polos saat menenyakan hal itu kepada barack dengan raut wajah kebingungan.


Barack mengarahkan pandangannya ke arah luna yang masih duduk di sampinya itu.

__ADS_1


"Iya!, , sengaja menggodaku?" kata kata barack terdengar penuh arti, matanya terlihat seperti memperlihatkan sesuatu hasrat yang terpendam, dan terus menatap ke arah mata luna dengan lembut.


***


__ADS_2