Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
78. Memastikan


__ADS_3

“Kau menemukannya?” Bunga cemas saat melihat Marvel kembali tanpa membawa putrinya.


“Tidak! Aku sudah keliling makam ini beberapa kali tapi aku tidak menemukan Juliet.”


Bunga semakin cemas biasanya Juliet tidak akan pergi jauh. “Ke mana kita harus mencari?”


“Tenang, Juliet pasti masih ada di sekitar sini. Kita akan cari bersama-sama.” Marvel mengajak Bunga mengendarai mobil sembari mencari keberadaan Juliet.


“Kita sudah melewati jalan ini hampir 4 kali Kak! Di mana anak itu?” Bunga semakin ketakutan.


“Tenang Bunga, apa di sini ada tempat lain yang bisa dikunjungi? Siapa tahu Juliet pergi ke sana?”


“Tidak ada, kak. Tunggu!” Bunga teringat kalau desanya sudah menjadi bangunan perumahan.


“Kenapa?”


“Mungkinkah Juliet pergi ke tempat konstruksi? Karena hanya tempat itu yang belum kita datangi.” Bunga merasa tidak yakin tapi Marvel tetap mencarinya di sana.


“Tidak ada salahnya kita coba, oke!”


Mereka kemudian datang ke tempat konstruksi perumahan. Jarak dari makam ke tempat itu lumayan jauh tak mungkin bagi Juliet sampai di sana.


Selain mencari Juliet, di sana Bunga dikejutkan dengan bangunan rumah tua miliknya. Perlahan Bunga turun dari mobil pandangannya tak pernah lepas dari rumah yang memiliki banyak kenangan di sana.


Dia tidak menyangka kalau rumah itu masih berdiri utuh sementara yang lain terlihat rata dengan tanah. “Ba.bagaimana rumah ini” Bunga tak percaya, kenapa bisa hanya rumah itu yang tidak di robohkan.


“Iya tadi aku sempat melihat seorang anak berdiri di depan rumah itu, tapi kalau tidak salah Tuan Davien mengajaknya karena tempat ini berbahaya untuk anak kecil.”


“Tuan Davien?” Tanya Marvel memastikan.


“Iya, Tuan Davien. Beliau yang bertanggung jawab penuh dengan tempat ini.”


Marvel terdiam mendengar Davien membawa Juliet pergi bersama dengannya. Bagaimana jika Bunga tahu kalau lelaki itu membawa pergi Putrina.


***


Marvel kemudian mengajak Bunga kembali ke kota setelah memberinya pengertian.


Perempuan itu terlihat menunduk meremas tangan gelisah membayangkan saat ini Juliet bersama dengan Davien. “Bagaimana ini, kak? Mereka... Juliet dan Davien.”


“Hari ini sepertinya kau terlalu banyak berpikir Bunga, tenang saja Davien bukan penjahat tidak mungkin dia akan melukai Juliet.”


“Aku tahu! Tapi... “ Bunga sangat gelisah, bagaimana jika Davien tahu Juliet adalah putrinya. ‘Tidak! Davien tidak boleh mengetahui kalau Juliet adalah putrinya!’ memikirkan Juliet pergi bersama dengan Davien saja Bunga sudah dibuat stres apa lagi kalau sampai Davien tahu, dan menginginkan Juliet tinggal bersama dengannya. “Ah! Aku bisa gila!” gumamnya.


***


Davien akhirnya selesai rapat, cepat-cepat dia kembali ke ruang kerjanya karena ingin segera bertemu Juliet.


Setelah membuka pintu pandangannya langsung tertuju ke Juliet yang sedang sibuk dengan pensil dan buku tulisnya.


“Maaf, sudah membuat Juliet menunggu lama. Oh... apa yang sedang kau gambar?” Davien mendekat kemudian duduk di atas karpet bulu tepat di samping Juliet.


Anak itu tampak fokus dengan kegiatannya, setelah selesai baru dia menjawab pertanyaan dari Davien. “Taraaa... Juliet ingin memakai baju seperti ini nanti kalau sudah dewasa! Bagaimana menurut paman?”


Davien lumayan tertegun dengan coretan Juliet yang masih banyak kekurangan, tapi untuk anak seumuran Juliet bisa membuat gambar seperti itu merupakan sesuatu yang luar biasa, Davien bisa melihat kalau Juliet memiliki bakat terpendam yang masih bisa diasah. “Ini desain baju yang sangat luar biasa! Oh, iya bukankah tadi Juliet bilang ingin menjadi model?”


“Hmm! Iya paman!”


“Kalau begitu Juliet harus bekerja keras untuk bisa menjadi apa yang diinginkan!” Davien mengusap rambutnya.


“Iya paman! Nanti kalau sudah besar Juliet ingin menjadi model dan pemain film di D Entertainment!” ucapnya penuh semangat.


Hahahah.... “Mungkin ketika Juliet sudah dewasa, paman sudah sangat tua. Apa Juliet masih mengenali paman?”


“Paman terlalu tampan, jadi kalaupun sudah tua nanti Juliet pasti bisa mengenali paman!”


Hahahah.... mereka tertawa riang saling bertukar cerita. Davien sampai lupa kalau dia masih banyak pekerjaan namun dia seakan tidak peduli karena terlalu asyik menghabiskan waktu bersama Juliet.


“Astaga! Paman lupa karena terlalu asyik... Juliet, maaf bukannya paman bermaksud... uhmm tapi ini sudah sore, apa Juliet tidak ingin pulang? Bagaimana kalau Ibu dan Ayah mencari? Juliet bahkan belum mengirim kabar sejak tadi.” Davien tidak bermaksud mengusirnya, dia sangat senang jika Juliet bisa lebih lama di sana tapi dia tahu kalai itu tidak mungkin.


“Jadi... paman ingin Juliet pergi? Padahal Juliet masih ingin bersama paman” wajahnya terlihat murung.


Davien merasa berat hati, dia tidak bermaksud menyakiti Juliet tapi mau bagaimana lagi. “Juliet? Dengarkan paman, besok setelah pulang sekolah paman janji kita akan bertemu lagi. Paman akan jemput Juliet di sekolah.” Entah Davien bisa menepati janji atau tidak yang terpenting Juliet tidak murung lagi.


“Paman janji??” sahut Juliet seakan dia benar-benar menantikan hari esok.


“Uhm... iya! Paman janji. Di mana Juliet sekolah?”


“Di sini ada alamat sekolah Juliet, paman!” Juliet mengambil tas dan memperlihatkannya kepada Davien.


Di tas milik Juliet yang disediakan sekolah terdapat alamat dan nama murid yang tertera di sana. Semula Davien hanya fokus dengan alamatnya saja, tapi sekilas dia membaca nama panjangnya.


“Juliet Fla... Fladimer? Juliet Fladimer?” matanya langsung tertuju ke Juliet yang sedang membereskan buku beserta alat tulis miliknya.


“Iya, paman itu nama panjang Juliet.”


Davien terdiam teringat kenangan saat bersama dengan Bunga saat berada di bukit bintang. Ketima dia memberikan kalung meteor kepada Bunga dan meminta kepadanya untuk memberikan nama JULIET FLADIMER kepada anak mereka jika dia seorang perempuan. Tapi hubungan mereka tidak berlanjut sampai ke pernikahan, impiannya memiliki putri dengan nama itu pun kandas.

__ADS_1


“Paman kenapa? Paman baik-baik saja? Kenapa paman tiba-tiba terlihat sedih?” Juliet menyentuh kedua pipinya, mengangkat kepala Davien yang tertunduk dengan kedua tangannya. “Mulai sekarang paman tidak boleh murung, ada Juliet di sini, oke!” Juliet tersenyum lebar, Davien yang sempat murung tak bisa menolak untuk tidak membalas senyumnya.


“Terima kasih, hari ini paman banyak tersenyum karena Juliet di sini. Baiklah Juliet bisa tuliskan alamat rumah? Paman akan mengantar Juliet pulang ke rumah.”


“Baik paman!” Juliet mengambil kertas lalu menulis alamat rumahnya.


Dreeettttt Dreeeet


Davien mengambil ponselnya yang bergetar di saku jas. Dia mendapat panggilan dari Marvel, teman lama yang menghilang dan baru terdengar kabarnya. “Halo?”


“Halo Davien? Lama tidak berjumpa” sahut Marvel dari seberang.


“Ya! Bagaimana kabarmu Marvel? Aku dengar kalau kau mengurus bisnis di Amerika beberapa tahun ini?” ucapnya basa-basi, sebenarnya Davien sedikit kesal dengannya karena dia tahu kalau Marvel sengaja tak memberitahu keberadaan Bunga ketika dulu dia meminta info dan kabar darinya.


“Aku baik, aku harap kau pun juga begitu, Davien!”


“Hmm, seperti yang kau dengar!”


“Paman, Juliet sudah selesai” sahutnya setelah selesai menulis alamat rumahnya, saat itu suaranya lantang sampai terdengar ke seberang.


“Sepertinya Juliet terlihat senang bersamamu, terima kasih sudah menjaga Julietku beberapa jam ini, aku sempat hampir kehilangan akal mencarinya. Beruntung pegawai di tempat konstruksi bilang kalau kau membawa Juliet karena tempat itu berbahaya bagi anak-anak” Marvel sengaja berucap untuk membuat Davien penasaran.


“Kau... Juliet, dia putrimu?” Davien terbata, selama ini dari Info yang diberikan oleh James kalau Marvel berada di Amerika bersama dengan Bunga.


“Iya Davien, maaf saat aku menikah aku tidak mengundangmu karena aku yakin kau sangat sibuk.”


Davien masih terkejut memikirkan anak perempuan yang ada di depannya itu adalah putri dari Marvel. “Oh, selamat maaf aku tidak datang tapi sepertinya yang kau bilang itu benar karena waktuku habis untuk bekerja.”


“Jadi... bisakah aku menjemput Juliet sekarang?”


Ucapan Marvel seketika membuat perasaan Davien bergetar aneh, dia merasa kalau Marvel ingin mengambil sesuatu yang sangat berharga darinya. Tapi, lelaki itu ingin menjemput putrinya, bagaimana bisa Davien merasa berat seperti ini.


Perkenalan mereka terjadi belum lama, baru juga beberapa jam yang lalu tapi Juliet seakan sudah melekat di hatinya.


“Davien” sahut Marvel dari seberang ketika tak ada jawaban.


“Oh, ya? Maaf aku tidak terlalu mendengar pertanyaanmu!”


“Aku akan menjemput Juliet, kalian ada di mana?”


***


Davien dan Juliet berada di dalam lift menuju lantai bawah, seperti di awal Juliet selalu menggandeng tangannya. Raut wajahnya datar entah apa yang dia pikirkan.


“Paman baik-baik saja?” Juliet merasa khawatir karena Davien terlihat murung. “Paman?” Juliet menggoyangkan tangannya mengembalikan kesadaran Davien


“Paman sejak menerima telepon jadi lebih sering melamun, apa paman baik-baik saja?”


Davien bertekuk lutut di depannya, kemudian menggenggam kedua tangannya. “Paman baik-baik saja. Tadi yang menghubungi paman itu ayahmu. Dia bilang akan datang ke sini menjemput Juliet. Jadi sepertinya paman tidak bisa mengantar Juliet ke rumah.”


“Ayah?”


“Hmm!” Davien mengangguk.


Juliet seperti sedang berpikir keras ayah siapa yang di maksud. “Ooh... paman Marvel? Ah! Juliet lupa kalau Ibu pernah bilang bahwa paman Marvel akan menjadi Ayah Juliet!”


“Ha?? Paman Marvel akan menjadi ayah untuk Juliet?” Davien dibuat berpikir keras mendengar kalimat itu. Dia semakin penasaran karena saat di telepon Marvel mengatakan kalau dia tak sempat mengundangnya ke pasta pernikahan. “Juliet? Bukankah paman Marvel sudah menikah? Apa dia menikah dengan Ibumu?”


“Haa?? Paman Marvel menikah?? Paman Davien mendengar gosip dari siapa?” lagi-lagi anak itu bersikap seolah sudah dewasa, segala tahu tentang gosip. “Setahu Juliet sejak Ibu belum melahirkan Juliet Paman Marvel selalu di samping Ibu, dan sampai detik ini Juliet belum pernah mendengar Ibu bercerita kalau Paman Marvel sudah menikah” dengan polosnya Juliet bercerita semua tentang apa yang dia tahu.


Mengingat nama panjang yang Davien lihat di tas Juliet dan tiba-tiba Marvel muncul mengatakan bahwa dia ayah dari Juliet, dua hal yang tidak mungkin terjadi secara kebetulan itu mengganggu pikirannya. Belum lagi baru saja Juliet mengatakan kalau Marvel belum menikah. ‘Kenapa dia harus berbohong kalau dia ayah dari Juliet? Selama ini Bunga juga ada di Amerika dan dia selalu bersama dengan Marvel... sekarang ada Juliet, Juliet Fladimer nama yang hanya diketahui oleh Bunga dan aku!” Davien semakin berpikir keras mencerna semuanya. Pandangannya kembali menatap wajah Juliet dengan lekat, jika apa yang dia pikirkan saat ini adalah benar mungkin semua karena malam itu, beberapa tahun yang lalu kejadian saat Davien mabuk.


“Juliet berapa umurmu?” Davien masih belum bisa tenang memikirkannya.


“Bukankah tadi Juliet sudah bilang u–,”


“Jangan katakan umurmu 17 tahun!” sahut Davien memotong pembicaraan.


Hihi.... “Uhmmm berapa umur Juliet sekarang ya! Sebentar paman” Juliet mulai berhitung mengingat-ingat tahun lalu adalah ulang tahunnya ke 6. “Hampir 7 tahun paman, karena tahun kemarin Juliet ulang tahun ke 6.”


‘Ya, selama itu pula Bunga menghilang.’ Davien kembali menatap Juliet, untuk lebih meyakinkan lagi dugaannya. “ Juliet, Ibumu bilang paman Marvel selalu menemani sejak dulu?”


“Iya, paman. Dan sebelum pindah ke paris Ibu selalu mengingatkanku satu hal dan selalu sama itu-itu saja yang selalu dia ingatkan.”


“Apa itu?” Davien penasaran.


“Ketika sedang berada di mana pun, kapan pun Juliet harus selalu memanggil paman Marvel dengan sebutan ayah!”


“Tapi... Ibumu dan paman Marvel, mereka menikah?”


“Tidak paman! Ibu selalu bilang mereka hanya bersahabat baik, paman Marvel sudah seperti kakak baginya.”


Davien terpaku menatap wajah Juliet. Jika dugaannya benar berarti anak kecil yang berdiri di depan Davien ini adalah anaknya. ‘Tidak! Jika Bunga hamil karena malam itu, jika tidak?’ Davien mulai ragu. “Juliet? Tentang Ibumu... bolehkah paman bertanya satu hal?”


“Iya paman, tanya saja Juliet pasti jawab.”


“Siapa... nama Ibumu?” tanyanya ragu.

__ADS_1


Juliet langsung menoleh menatap Davien. Melihat parasnya yang tampan Juliet bukannya menjawab malah tersenyum penuh misteri seakan merencanakan sesuatu.


“Juliet?” seru Davien.


“iya, paman? Paman ingin tahu siapa nama Ibu? Bagaimana kalau Juliet kenalkan paman kepada Ibu? Paman mau? Ibu sangat cantik, Juliet yakin paman tidak akan menyesal. Paman mau?”


Davien menghela nafas panjang disertai tawa kecil. Pikirannya sempat tegang namun tiba-tiba anak itu membuatnya tertawa.


Ting! Pintu lift terbuka.


Davien beranjak berdiri menggandeng tangan Juliet membawanya keluar.


“Dari mana kau dapat ide seperti itu, Juliet?”


“Karena aku yakin paman Davien pasti akan menyukai Ibu! Paman belum menikah, kan? Ibu dan paman Marvel belum menikah, jadi paman Davien masih memiliki kesempatan untuk berkenalan dengan Ibu!”


“Kenapa kau ingin sekali mengenalkan paman pada Ibumu? Bukankah ada paman Marvel?” kedua alisnya terangakt.


“Iya benar, tapi paman Davien jauh lebih tampan dan masuk ke dalam kriteria untuk menjadi ayahku!”


“Juliet?” Davien seketika berpikir keras kenapa Juliet ingin sekali mencari sosok ayah. “Memangnya... di mana ayahmu?”


Juliet berhenti melangkah berpikir keras. “Ayah Juliet?”


“Iya, ayah kandung Juliet. Dia yang selalu menemani Ibumu selama ini, di mana dia?”


“Sejak Juliet lahir... hanya paman Marvel yang Juliet tahu. Tidak ada orang lain di samping Ibu.”


Davien terpaku mendengar ucapannya, pikirnya mungkin ayahnya Juliet meninggal atau lari dari tanggung jawab. Melihat Juliet muram Davien merasa tak enak hati, dia merasa bersalah karena tanpa sengaja membahas hal tak seharusnya.


“Oke, Juliet bagaimana kalau kau mengatur pertemuan kami?” tentu saja Davien tak menanggapinya dengan serius. Dia hanya tidak ingin Juliet sedih toh lagi pula Juliet pasti akan lupa nantinya.


“Haa!! Paman tidak bohong? Serius? Baiklah Juliet akan mengatur semuanya!” Juliet terlihat girang, sampai melepaskan genggaman tangannya hanya untuk melompat-lompat kesenangan.


“Ah ya ampun! Anak ini benar-benar!” gumamnya. Davien terus tertawa kecil setiap melihat tingkahnya.


“Davien?” seru Marvel yang ternyata sejak tadi menunggu di lobi.


“Marvel?” Davien tampak menyelidik ke sekitar memastikan datang dengan siapa lelaki itu.


“Kau mencari seseorang?” Marvel bisa melihat kalau Davien seperti sedang memastikan sesuatu.


“Tidak!”


“Ayah?” seru Juliet dari kejauhan setelah melihat Marvel.


Kedua lelaki itu menoleh secara bersamaan, melihat kearah Juliet yang sedang berlari mendekati mereka. Entah kenapa Davien berharap besar Juliet akan berlari kearahnya. Tetapi itu tidak mungkin terjadi.


“Kau tampaknya bersenang-senang, Juliet?” sapa Marvel, dia tengah membalas pelukan dari Juliet.


Davien hanya diam menundukkan kepala.


“Iya, Juliet sangat senang, paman Davien sangat baik. Dia juga meminta paman James untuk menyiapkan banyaaaaak sekali makanan untuk Juliet” ucap Juliet dengan gayanya yang lucu.


“Untunglah paman Davien yang membawamu, kalau itu orang jahat bagaimana? Ibumu bisa marah besar nanti. Bukankah sudah janji kalau Juliet tidak akan nakal lagi? Jangan membaut Ibu khawatir, oke?”


“ Umm! Iya Juliet minta maaf” wajahnya murung merasa bersalah karena telah membuat mereka khawatir.


“Terima kasih sudah menjaga putriku!”


“Kau tidak perlu sungkan, Marvel!”


Suasana di antara mereka begitu canggung. Akhirnya Marvel memilih pergi. “Baiklah, kami pergi dulu!”


Davien menganggukkan kepala dan melambaikan tangan membalas Juliet.


“Jangan lupa dengan janjimu paman!” seru Juliet sebelum keluar dari lobi.


Davien hanya tersenyum tanpa mengangguk atau menggelengkan kepala.


***


Davien terlihat duduk di dalam mobil pandangannya mengarah ke luar mengawasi pintu gerbang. Dia berada di sekolah Juliet saat ini.


Lumayan lama menunggu akhirnya ketika semua murid terlihat berhamburan keluar, Davien masih menunggu Juliet. Matanya menyelidik satu persatu wajah murid yang melewati pintu gerbang.


Tak lama akhirnya dia melihat Juliet berdiri di tengah pintu gerbang. Anak itu berdiam diri melihat ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang, Davien sempat berpikir kalau Juliet pasti menunggu dirinya karena terlihat juga raut wajahnya yang murung.


Merasa tidak tega karena sudah berjanji, Davien akhirnya memutuskan untuk menemui Juliet. Baru saja membuka pintu dan ingin melangkah keluar, Davien dikejutkan dengan sosok perempuan yang berjalan memunggungi dirinya, perempuan itu mendekati Juliet.


Penasaran dengan wajahnya yang tak kunjung terlihat Davien akhirnya keluar dari mobil. Tak langsung menemui mereka, Davien bertahan sejenak berdiri di samping mobil. “Perlihatkan wajahmu, perlihatkan wajahmu!” gumamnya.


Deg!!


Kedua matanya membulat ketika menangkap sosok wajah perempuan yang selama bertahun-tahun ini dirindukannya. Tak salah lagi perempuan yang menggandeng tangan Juliet dan membawanya pergi dapat di pastikan bahwa dia adalah Bunga.


“Bunga?!!” Davien meraih tangannya.

__ADS_1


Mendengar suara itu dari arah belakang, langkah kaki Bunga seketika terpaku.


__ADS_2