
"Kamu tidak perlu melakukan ini sebenarnya, karena bagiku ini terlalu berlebihan!" Bunga berucap bersungguh sungguh karena merasa tak nyaman dengan Davien yang memperlakukanya dengan baik.
Perempuan itu duduk di kursi tinggi, sementara Davien berdiri di sampingnya dengan satu tangan berada di belakang Bunga melindungi perempuan itu agar tak terjatuh.
Davien sengaja membelikan ponsel keluaran terbaru untuk Bunga. Selesai membayar tagihan dia sengaja menyimpan nomornya di ponsel itu dan mengaturnya di panggilan cepat. Memudahkan Bunga ketika perempuan itu ingin menghubunginya.
"Aku meletakkan nomorku di urutan ke dua, kamu bisa menekan lama dan langsung akan terhubung denganku jika kamu membutuhkan bantuan!" Davien memberikan ponsel itu kepada Bunga.
"Aku pasti akan langsung datang untuk menmuimu" tambahnya.
"Davien ini"
"Aku membelikan ini untuk menunjang pekerjaanmu juga. Jika sebaliknya aku membutuhkanmu, kamu harus segera siap menemuiku. Ini perintah seorang atasan kepada bawahannya. Dan kamu tidak bisa menolak!" perintahnya tak terbantahkan.
"Ini terlalu mahal Davien, aku pasti akan mengembalikan uangmu nanti" Bunga menggigit bibir bawahnya menahan gugup.
"Kamu bilang kita berteman bukan?" Davien sejenak berhenti berucap, sengaja memberi ruang waktu kepada Bunga untuk mencerna ucapannya.
"Maka anggap saja ini sebagai hadiah dari seorang sahabat!" Davien menolak Bunga secara halus ketika perempuan itu berusaha mengganti nominal uang yang Davien keluarkan untuk membeli ponsel itu.
"Tapi jika kamu bersikuku ingin mengembalikannya, kamu bisa melakukannya dengan cara lain"
Bunga mengangkat wajahnya menatap Davien. Setelah beberapa saat tertunduk malu karena laki laki itu terus menatapnya.
"Apa?" tanyanya seketika.
"Aku tidak membutuhkan uangmu, aku membutuhkan yang lain" Davien berucap penuh teka teki. Membuat Bunga merasa berdebar saat mendengarnya.
"Apa itu?" tanyanya dengan polos.
Davien tersenyum, menikmati ekspresi kebingungan di wajah Bunga.
"Aku tidak akan memintanya sekarang, tapi suatu saat nanti jika aku membutuhkanmu, kamu harus siap!"
Dadanya semakin bedebar kencang, pipinya merona ketika Davien sengaja berucap untuk membuat Bunga semakin penasaran.
"Kita pulang?" Davien meraih tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kana dan sisi kiri pinggangnya, ketika membantu Bunga turu dari kursi yang posisinya lebih tinggi darinya.
Bunga menggunakan kedua tangannya meraih pundak Davien ketika perlahan laki laki itu melepaskan dirinya, wajah mereka saling berdekatan.
Davien sengaja menoleh mendekatkan wajahnya ke Bunga hingga permukaan kulitnya saling menempel. Membuat Davien ikut berdebar, hingga darahnya terasa berdesir seketika. Sejenak Davien memejamkan mata ketika menghirup aroma wangi rambutnya yang menyeruak ke dalam hidung.
Bunga berusaha mendorong tubuhnya menjauh tetapi tangan Davien masih bertahan dengan kuat di pinggangnya.
"Davien?" ucapnya dengan lirih. Bunga malu jika ada orang di sekitar sampai mrlihat neteka.
"Iya aku akan melepaskanmu" Davien menarik kembali kedua tangannya. Meraih tangan Bunga menggenggamnya erat kemudian berjalan beriringan keluar menujuke mobil. Seolah Davien tak ingin melepaskan Bunga, dia selaku menggenggamnya erat kemana pun mereka pergi.
♡♡♡
Bunga terbaring di atas ranjang menatap ponsel di tangannya. Jarinya mengusap layar mencari nama Davien di daftar kontaknya. Hanya ada nama itu di sana. Bunga tersenyum entah kenapa dia merasa bingung, tetapi senang karena bisa kembali akur dengan Davien.
Jantungnya serasa mau meledak ketika tiba tiba ponselnya bergetar saat mendapat panggilan dari Davien.
__ADS_1
Bunga mengubah posisinya duduk di atas ranjang dengan cepat. Dia menyempatkan memantapkan diri sebelum manjawab panggilannya, bahkan dia sempat berdehem sebelum berucap.
"H, , halo?"
"Kamu sudah tidur?" sahutnya dari seberang sana, suaranya terdengar sangat lembut di telinga Bunga. Serasa bahwa laki laki itu saat ini berada di dekatnya.
"Aku??, ,belum" Bunga menipiskan, menggigit bibir bawahnya menahan malu.
"Ada apa denganku!!, , perasaan kemarin kemarin aku tidak seperti ini ketika berada di dekatnya! kenapa sekarang aku merasa sangat gugup dan berdebar ketika hanya mendengar suaranya saja??"
"Kenapa belum tidur??"
Bunga mengela nafas dengan susah payah, mencoba mengatur detak jantungnya agar kembali normal seperti semula ketika mencari alasan yang tepat. Tetapi sepertinya itu sangat sulit karena Bunga saat ini juga terlihat mengusap dadanya berulang kali.
Bunga menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum kembali berucap.
"Karena saat ini, , , aku sedang menerima panggilan darimu!"
"Astaga!, , ,aku lupa!" laki laki itu tersenyum, terlihat jelas dari suaranya ketika sedang berucap.
"Baiklah kalau begitu, tidurlah. Aku tidak akan mengganggumu. Ini sudah malam!"
"Hmm"
Bunga masih terdiam dengan ponsel yang melekat di telinganya. Menunggu Davien mengucapkan kata terakhir sebelum dia memutuskan panggilannya.
"Bunga?"
"Ya??"
"Karena, , kamu belum mematikan ponselmu, jadi aku masih bisa mendengar suaramu" Bunga membungkam bibir dengan tangannya, matanya sedikit membulat karena merasa tak percaya dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
Bunga mendengar Davien terkekeh di seberang sana setelah mendengar ucapannya.
"Apa yang lucu? kenapa kamu terawa?"
Davien berdehem mentralkan perasaannya yang sempat lepas kendali karena Bunga.
"Aku tidak tertawa!, , tidurlah ini sudah malam!"
"Lalu, , apa tujuanmu menghubungiku Davien??" Bunga mencoba memancing Davien untuk berucap.
Sempat hening sesaat ketika Bunga melontarkan pertanyaan itu kepadanya.
"Aku hanya ingin memastikan"
"Memastikan apa?" Bunga terus mencercanya dengan pertanyaan, tidak akan puas jika belum mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Lupakan!" Davien seketika memutuskan panggilannya tanpa mengucapkan kata perpisahan.
Bunga menjauhkan ponselnya, tersenyum menatap layar sebelum akhirnya meletakkannya ke atas nakas.
♡♡♡
__ADS_1
Ting tong!!
Nampak Keiko membawa beberapa makanan untuk Davien siang itu. Kebiasaan mereka sejak dulu, jika hari minggu selalu mengabiskan waktu bersama. Entah dengan makan sambil menonton film atau sekedar perhi ke tempat ramai untuk mengisi waktu mereka.
Keiko tersenyum ketika pintu sengaja dibuka dari arah dalam, matanya menyelidik ke Davien yang masih terlihat berantakan karena baru saja bangun dari tidurnya.
"Ya ampun Davien!!, , ini sudah siang! kamu belum mandi?" Keiko berucap sembari melangkah masuk ke arah dalam. Berjalan menuju dapu meletakkan semua barang bawaannya di atas meja.
"Ini hari minggu!!, , hari bebas dan hanya di isi dengan bermalas malasan. Jadi aku tidak perlu tergesa gesa untuk mandi!" Davien membanting tubuhnya ke sofa, tangannya bergerak meraih remot kemudian menyalan tv.
"Kamu belum sarapan kan?" Perempuan itu sibuk mengeluarkan makanan dan menatanya di atas piring.
"Belum, aku juga baru saja bangun!" Davien menoleh ke arah Keiko.
"Jika kamu tidak datang mungkin aku akan bangun nanti malam" tambahnya.
"Aku tahu hari ini jadwalmu kosong! maka dari itu aku sengaja datang karena ingin mengajakmu pergi"
"Kemana?" sahutnya cepat.
"Mamah ingin bertemu denganmu!" Keiko melangkah mendekati Davien dengan membawa makanan dan minuman di tangannya.
"Tumben!, , ,ada apa Tante ingin menemuiku?" Davien melirik Keiko yang kini duduk tepat di sebelahnya.
Dia meletakkan piring dan segelas susu di atas meja.
"Kamu juga akan tahu nanti!" senyumnya mengembang di kedua sisi hingga memenuhi wajahnya.
"Sekarang makanlah, setelah itu pergi mandi. Kamu tidak ada janjikan hari ini??"
Davien memaku wajahnya ketika mengingat bahwa Bunga kemarin sempat berjanji akan megajaknya pergi makan saing. Tetapi Davien berfikir bahwa itu pasti hanya gurauan.
"Tidak!, ,aku tidak ada janji apa pun" ucapnya kemudian.
♡♡♡
Siank itu Bunga mendatangi tempat loundry dan membayar sisa tagihannya, setelah itu keluar dengan membawa kantong berisi jas milik Davien. Dia menghentikan langkahnya tepar di pinggir jalan. Pandangannya menyelidik ke sekitar untuk mencari taxi.
Karena Bunga bermaksud untuk mengembalikan jas itu dan menepati janjinya untuk mengajak Davien pergi makan siang.
Tak lama taxi yang ditumpanginya berhenti di tepi jalan. Stelah membayar tagihan taxi, Bunga segera melangkah turun.
Dia sempat ragu ketika ingin melangkah mendekati rumahnya. Matanya kini teralihkan kepada sebuah mobil berwarna putih yang terparkir di halaman rumah Davien.
"Ada tamu kah?, , aku pikir ini bukan mobil milik Davien?"
Bunga menghela nafas panjang sembari berjalan mendekat, dan lebih memilih untuk tak mrnghiraukanya. Masih ada sisa sisa keraguan yang terlihat jelas di wajahnya ketika ingin menekan bel. Tetapi akhirnya Bunga pun memutuskan untuk menekannya.
Ting tong!!
Bunga menunggu beberapa saat di sana, dan ketika belum ada sahutan dari arah dalam dia kembali menekam tombol belnya. Tetapi tangannya terpaku di udara ketika melihat pintunya terbuka sedikit dari arah dalam.
Ekspresi wajahnya terlihat sedikit syok, dadanya berdebar tak beraturan. Ada sedikit rasa nyeri yang tak bisa dijelaskan ketika melihat Keiko membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
"Kamu?" kening Keiko berkerut ketika melihat Bunga berdiri di luar sana.