Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#137 Lembaran baru


__ADS_3

* Serpihan ingatan tentang masa masa bahagia Luna dan Barack mulai menghampiri mimpi Luna. Walau pun hanya sekejap kebahagiaan yang mereka rasakan, namun perempuan itu tak bisa menolaknya ketika bayangan itu menghantui mimpinya.


Namun dalam beberapa detik kemudian mimpi indah itu berubah menjadi mimpi buruk, kini serpihan masa lalunya yang kelam selalu menghantuinya.


Malam itu di pesta, Luna nampak sangat marah wajahnya tak bisa menyembunyikan seberapa besar rasa kekecewaan yang dia rasakan ketika melihat kalung yang berada di leher Helena sama persis dengan kalung yang Barack berikan padanya.


♡♡♡


"Aku tidak tahu kalau Helena membeli kalung sama denganmu" Barack berusaha menjelaskan kepada Luna kenapa bisa kalungnya sama dengan kalung yang juga di pakai oleh Helena.


"Helena!! ini bukan waktunya untuk bercanda!!" Brack berucap pada perempuan itu, berharap dia akan menjelaskan yang sebenarnya.


♡♡♡


Luna nampak kesal dia ingin sekali pergi dari pesta malam itu, namun Adrian yang baru saja datang langsung bergabung dengan mereka bertiga dan menenangkan Luna.


"Dia memang suka bercanda" ucap Adrian merujuk kepada Helena.


♡♡♡


Luna terlihat lebih tenang ketika sudah mendapat penjelasan dari Helena tentang kalung itu yang sesungguhnya.


"Maafkan aku Luna" ucap Helena.


♡♡♡


Helena mengambil dua buah gelas muniman dari atas nampan yang sudah dipersiapkan oleh pelayan satu untuknya dan satu lagi untuk Barack.


Dari kejauhan Luna nampak sedang menemani Adrian menemui rekan kerjanya yang juga datang kepesta malam itu, dia hanya melirik ke arah Suaminya yang sedang bergurau dengan Helena dan beberapa teman lainnya.


♡♡♡


Hingga di tengah tengah acara Luna tak menemukan keberadaan Barack dan Helena.


Perempuan itu merasa khawatir ketika dia sudah berusaha mencari mereka berdua namun tak menemukanmya di setiap sudut.


Adrian berusaha membantu Luna, dia menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan mereka.


♡♡♡


Di ruang pengawas, Luna dan Adrian nampak sedang fokus melihat ke arah layar yang memperlihatkan rekaman cctv setelah anak buah Adrian terlebih dulu memberitahunya.


♡♡♡


Luna melihat Barack dan Helena pergi ke sebuah kamar. Mereka berdua nampak terlihat mabuk saat itu.


♡♡♡


Adrian menyuruh pegawai untuk membuka pintu kamar itu dengan kartu akses cadangan.


♡♡♡


Mata Luna terbelalak ketika melihat Barack dan Helena berada di dalam satu selimut malam itu.


♡♡♡


Ingatan buruk itu selalu datang dan menganggu tidur Luna selama 8th terakhir.


"Aaaaaaaa!!!" Luna terbangun dari tidurnya. Perempuan itu duduk di atas ranjang. Keningnya basah karena keringat dingin. Nafasnya memburu seakan mimpi itu selalu mengejarnya setiap hari.


Lilis berlari ke arah dalam kamar setelah mendengar jeritan majikannya. Dia adalah asisten maria yang beberapa bulan lalu sudah ikut dengan Luna ketika majikannya itu pindah ke Luar negeri.


"Mbak Luna??" Lilis duduk di tepi ranjang, tangannya bergerak meraih pundak Luna. dia mencoba untuk memberi ketenangan kepada perempuan itu.


"Berikan aku obat itu" ucap Luna, dia meminta obat penenang kepada Lilis.


"Mbak, ,tadi udah minum loh sebelum tidur. Kalau sering sering itu tidak baik mbak"


"Aku membutuhkannya Lis!" ucapnya dengan nada memohon.


"Sampai kapan Mamah akan mengkonsumsi obat itu?" suara anak laki laki tiba tiba terdengar dari arah luar.


Luna dan Lilis mengalihkan pandangan ke arah pintu. Mereka melihat David berdiri di sana.


"Sampai kapan Mamah akan menyakiti diri sendiri seperti ini??" David seakan sedang menceramahi Orang tuannya. Laki laki itu masih berumur 7th namun cara berfikir dan gaya bicaranya seperti orang dewasa.


"David?" Luna merasa tenang ketika melihat Putranya. Hanya dia yang bisa membuat Luna merasa bahagia saat itu.


"Kemarilah" Luna mengukurkan tangan, seolah dia meminta Ank kecil itu untuk memeluknya.


David melangkah masuk ke dalam dan mendekati Luna, dia menyambut uluran tangan Mamahnya.


"Maaf!" Luna memejamkan matanya ketika berhasil memeluk tubuh Putranya.


David mendorong tubuh Luna.


"Berjanjilah untuk tidak mengkonsumsi obat itu lagi, mamah pasti bisa melakukannya" Anak kecil itu berusaha memberi semangat kepada Luna. Dia tahu apa sebenarnya yang selalu mengganggu Mamahnya.


Semenjak David mengerti alat elektronik dia selalu berusaha mencari tahu tentang kehidupan masa lalu kedua orang tuanya. Termasuk hal hal yang membuat Mamahnya bisa terpuruk sampai seperti sekarang.


Luna terdiam, tangannya meraih ujung kepala David dan mengacak rambutnya.


Tangan David menghentikan tangan Luna yang masih bertahan di kepalanya dan menggenggam tangan Luna dengan ke dua tangannya.


"Aku sangat menyayangimu. Jadi hiduplah dalam kebahagiaan untukku!" ucapnya seakan itu seperti sebuah perintah ke pada Luna.


Luna tersenyum, dia merasa ragu ketika ingin menganggukkan kepalanya untuk memenuhi keinginan David.


David menatap mata Luna dengan penuh harap.


"Demi aku mah" ucapnya kemudian.


♡♡♡


Luna berdiri menatap salju yang berjatuahan ke bumi dari balik kaca. Perempuan itu melamun sambil menggenggam ponselnya.


Dia menjadi perempuan yang jarang tersenyum bahkan sama sekali hampir tidak pernah semenjak perpisahannya dengan Barack.


Sampai sekarang di relung hatinya yang terdalam dia masih berharap akan Laki laki itu.


Namun jika mengingat kejadian malam itu, yang membuatnya sakit hati. Seketika perasaan benci kepada mantan Suaminya langsung memenuhi dadanya.


Sampai sekarang Luna belum bisa memaafkan laki laki itu.


Bagaimana tidak, di saat saat yang seharusnya mereka selalu berbagi kebahagiaan, Barack memberi luka di dalam hatinya hingga membuat perempuan yang sedang hamil muda itu tak bisa mengontrol dirinya.


Dan semenjak saat itu juga Luna menghilang dari kehidupan Barack. Bahkan dia sama sekali tidak membiarkan mantan Suaminya melihat David, Putra mereka. Dari sejak lahir hingga sekarang.


Luna meneteskan airmatanya ketika mengingat kejadian itu.


Di sisi lain nampak David sedang duduk di sofa dengan sebuah laptop yang berada di pangkuannya.


Lilis berjalan dari ruang dapur menuju ke ruang keluarga, dia membawa secangkir teh hangat untuk David.


Dia melihat Anak kecil itu seperti sedang membuka situs dan melihat foto seorang laki laki di layar laptopnya.


Lilis mendekatkan kepalanya ke arah layar itu.


Namun David lebih dulu mengetahui gerakan Lilis hingga dengan cepat dia menutup laptopnya.


"Kepo!!, ," ucap David kepada Lilis yang sedang meletakkan cangkir itu di atas meja.


"Yaelah Mas, , teh Lilis cuma pengen mastiin, itu foto cowok ko ganteng banget. Pelit amat sih Mas. Bagi bagi dong kalau punya temen ganteng gitu. Satu aja"


"Kamu mau?, aku punya beberapa teman"

__ADS_1


Lilis merasa antusias ketika mendengar jawaban dari mulut David.


"Tapi seumuranku mau?"


Seketika senyum yang menghiasai mulut Lilis langsung menghilang.


"Yang bener aja Mas! masak iya Lilis pacaran sama anak kecil"


David pun tertawa.


Sementara Luna mulai sadar dari lamunannya ketika mendengar tawa David yang nyaring hingga menggema di rongga telinganya. Dia memalingkan wajahnya ke arah David dan Lilis yang sedang bergurau.


Perempuan itu tersenyum kemudian.


Ujung matanya bergerak ke arah pintu ketika melihat gerakan di sana.


"Sedang membicarakan apa kalian?, , senang sekali kelihatannya" Adrian melangkah masuk dan mendekati David.


Laki laki itu kini merangkul David dan duduk di sebelahnya.


Tangannya mengusap lembut rambut David kemudian.


"Teh Lilis minta di cariin jodoh, tapi mau aku kenalin sama tenku dia nolak"


Adrian pun terkekeh mendengar ucapan David. Namun seketika senyumnya menghilang ketika melihat ke arah Luna yang masih berdiri di sudut raung itu.


Adrian beranjak dan menghampiri Luna.


"Kamu mimpi butuk lagi, ucapnya setelah melihat raut wajah Luna yang tampak berantakan dan murung.


"Mm, , aku tidak bisa mengelaknya. Ingatan buruk itu selalu datang di setiap mimpiku"


Tangan Adrian meraih pundak perempuan itu.


"Percayalah, semuanya akan baik baik saja"


"Tidak. Itu tidak akan terjadi" Luna merasa ingatan tentang dirinya dan Barack tidak akan pernah bisa hilang sampai kapan pun.


"Oke! kita jangan bahas masalah itu. Sekarang apa kamu sudah yakin ingin kembali ke duniamu lagi?"


Sepanjang beberapa tahun ini Luna tidak pernah berinteraksi dengan dunia luar. Hanya dengan menggambar dia bisa melihat dunia.


Dan karena janjinya dengan David agar hidup dengan baik, maka Luna memutuskan untuk kembali ke aktifitasnya yang sudah dia tinggalakan selama bertahun tahun.


"Iya" Luna mengangguk pelan. Tangannya meraih tangan Adrian dan menggenggamnya.


"Terima kasih, selama ini audah menjadi sahabat sekaligus pendengar yang baik untukku!"


Adrian menatap mata Luna, kini laki laki itu tersenyum kepadanya.


"Aku pernah bilang, jika butuh bantuanku, aku akan dengan senang hati membantumu"


Selama Luna terpuruk Adrian selalu berada di sampi Luna, laki laki itu selalu memberi kekuatan kepada dirinya dengan penuh.


"Om!!" teriak David. Membuat Adrian memalingkan wajahnya seketika ke arah Anak itu.


"Bisakah kita makan di luar malam ini?" David sudah menganggap Adrian seperti Om kandungnya. Hubungan mereka terlihat sangat baik.


"Apa pun untukmu . Om akan penuhi"


David terlalu senang mendengar jawaban Adrian hingga membuat Anak kecil itu naik ke atas sofa dan meloncat loncat di sana.


♡♡♡


Bu Bowo membuka pintu apartement Barack, di dalam sana semua ruangan nampak gelap, semua gorden menutupi jendela kaca. Tak memeberikan ruang bagi sinar matahari untuk menerangi ruang itu. Hanya ada beberapa titik lampu yang menyala hingga membuat suasana di dalam apartement meremang.


Bu Bowo melangkah masuk ke dalam, matanya mengawasi setiap ruang yang nampak berantakan. Baju, tas, sepatu dan alat alat lain berserakan di mana mana.


Semenjak perceraiannya dengan Luna Barack terlihat sangat menyedihkan. Terlebih lagi 4th di awal masa masa perpisahan mereka.


Setiap hari hanya selalu menghabiskan waktu di dalam apartement sendirian. Seakan hidupnya sudah tidak berguna setelah Luna menghilang tanpa jejak.


Malam setelah kejadian, Barack berusaha menemui Luna namun perempuan itu sudah terlanjur sakit hati dan tidak mau menemuinya lagi. Hingga detik ini.


Bu Bowo meletakkan kantong plastik di atas meja dapur, setelahnya melihat ke arah cahaya yang mencuat keluar dari pintu arah balkon yang menyinari lantai.


Perempuan paruh baya itu berjalan ke arah sana. Dia melihat Barack tengah terdiam duduk sambil memeluk ke dua lututnya. Penampilannya seperti gembel yang tidak pernah di urus sama sekali.


Rambutnya gondrong, jambangnya panjang, raut wajahnya lusuh.


Laki laki itu lupa kapan terakhir kali dia memangkas rambutnya.


Bu Bowo menghela nafas panjang. Dia melangkah mendekat ke arah Barack dan meraih pundak Putranya.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini sayang?" ucap Bu Bowo, bibirnya nampak bergetar melihat kondisi Putranya yang tak kunjung berubah. Masih terus terpuruk.


Barack menatap air laut yang berkilau dari kejuahan, Tatapan matanya terlihat kosong.


"Sampai aku mendengar kabar darinya, sampai aku mendengar bahwa dia baik baik saja!" ucap laki laki itu kemudian.


Jangankan ke dua orang tuannya, Leo sahabat masa kecilnya saja, Luna tak memberi tahu keberadaan dirinya kepada laki laki itu.


"Pergilah ke paris, tenangkan dirimu di sana. Mamah sedih melihatmu seperti ini sepanjang tahun. Kamu bisa menyibukkan dirimu dengan bekerja di sana"


Bu Bowo memalingkan wajahnya ke arah pintu ketika mendengar suara bel. Dia meninggalkan Barack sendiri dan berjalan ke arah pintu masuk.


♡♡♡


"Helena?, , masuklah" ucap Bu Bowo setelah melihat perempuan itu berdiri di depan pintu.


Helena dan Bu Bowo melangkah masuk ke dalam, namun perempuan paruh baya itu memilih untuk pergi setelah Helena datang menemani Putranya.


"Aku akan pergi, tolong jaga dia dan terus beri tahu putraku untuk bangkit dari keterpurukannya" Bu Bowo meraih tangan Helena dan menggenggamnya.


Helena hanya tersenyum dan mengangguk kemudian.


Bu Bowo pergi meninggalakn Helena berdua bersama dengan Barack.


Perempuan itu kini membuka semua gorden dan menyalakan lampu agar apartemnt itu lebih terlihat terang. Setelahnya dia membereskan semua barang barang yang berserakan di lantai.


Helena memalingkan wajahnya ke arah balkon setelah melihat tirai yang menggantung di jendela sana terbang terbawa angin.


Dia melangkah mendekat ke arah pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana.


"Leo bilang dia menghubungimu beberapa kali, tetapi kamu tidak mengangkatnya" ucap Helena.


Sementara Barack hanya melirik ke arah ponselnya yang berada di atas meja.


"Dia bilang dia melihat Luna" ucapan yang keluar dari mulut Helena seketika langsung membuat laki laki itu menoleh dan menatap ke arahnya.


Ekspresi wajah Barack langsung berubah, laki laki itu nampak sangat antusias mendengar nama Luna. Sementara tatapan matanya seakan sedang menanti Helena untuk melanjutkan ucapannya.


"Yaa, dia bilang dia belum yakin kalau itu adalah Luna. Namun dia bisa memastikan dari punggungnya, kalau perempaun yang dia lihat dari arah belakang itu adalah Luna"


Barack beranjak dari kursi, dia menlangkah cepat ke arah Helena.


"Di mana dia?" laki laki itu meraih pundak Helena dan mengguncang tubuh perempuan itu.


"Katakan di mana Leo melihatnya!"


"Iya! iya!, , tapi singkirkan dulu tanganmu. Kamu menyakitiku" Helena berusaha melepas ke dua tangan Barack yang semakin mencengkeram pundaknya dengan kuat, dia tidak sabar ingin segera mendengar kabar tentang Luna.


Barack menarik tangannya kembali.


"Maaf!"

__ADS_1


Helena menghela nafas panjang.


"Leo melihatnya ada di paris, dia melihat perempuan itu bersama dengan, , " Helena menghentikan ucapannya. Perempuan itu nampak tak sanggub mengatakan kelanjutannya.


"Adrian???, , dia bersama Adrian??!!, , katakan!" Barack berucap dengan menaikkan nada bicaranya di akhir kalimat.


"Iya!"


Barack nampak terdiam. Laki laki itu seperti sedang berfikir keras. Langkah apa yang selanjutnya dia akan lakukan untuk menemui Luna. Setelah 8th ini berusaha menghilang dari hidupnya.


"Helena!" Barack memanggil perempaun itu, setelah Helena lebih memilih kembali membersihkan apartement.


"Hmm??" Helena memalingkan wajahnya.


"Apa?" tambahnya.


"Kamu harus menolongku!" ucap Barack kemudian, seolah dia sudah memiliki beberapa rencana untuk bisa mendapatkan Luna kembali.


"Aku pasti akan membantumu!" Helena membuang senyum ke arah Barack.


Setelah mendangar keberadaan Luna, Barack mulai menjaga penampilannya lagi. Dia memangkas rambutnya habis dan membersihkan jambang yang menutupi hampir sebagian wajahnya.


Kini dia semakin terlihat tampan bahkan lebih tampan ketimbang 8th silam. Seakan dia sudah siap untuk bertemu dengan Mantan Istrinya kembali.


Barack memilih untuk menjual apartement, karena dia sudah memutuskan untuk pindah ke Paris. Dia tidak akan pergi meninggalkan kota itu tanpa membawa Luna.


Helena menemani Barack pergi ke paris, bahkan beberapa tahun belakangan dia juga membantu perusahaan Barack yang hampir tak terkendali karena Barack memilih absen dari perusahannya. Akhirnya Helena dan Satya yang mengurus semuanya.


♡♡♡


"Ini hari pertama bagiku, hari pertama Mamah mau mengantarku sekolah sampai ke depan pintu gerbang. Terima kasih karena Mamah sudah mau memenuhi permintaanku!" ucap David. Anak kecil itu terlihat sangat senang ketika Luna kini mau kembali berinteraksi dengan dunia luar.


"Seharusnya Mamah yang berterima kasih denganmu. Maaf karena selama ini Mamah telah mengabaikan keberadaanmu. Hingga tak memperhatikan perasaanmu sama sekali" Luna merangkup pipi Putranya dan menghujani David dengan kecupan.


♡♡♡


Selesai jam pelajaran David memilih untuk pergi ke mini market. Dia berjalan melewati setiap lorong untuk mencari coklat, permen dan makanan ringan yang dia inginkan. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok laki laki yang sangat familiar di matanya dari arah samping.


Tubuhnya memaku, Anak kecil itu nampak sangat senang bahkan bibirnya mengembang ketika melihatnya.


David nampak tak percaya bisa melihatnya.


Laki laki itu adalah Barack. Sosok yang selama ini ingin dilihatnya. David tahu bahwa laki laki yang berdiri di depannya itu adalah Ayah kandungnya. Selama ini dia selalu sembunyi sembunyi ketika melihat foto Ayahnya yang dia dapat dari sebuah situs.


Barack memalingkan wajahnya ketika melihat bayangan anak kecil yang berdiri dari ujung matanya.


Dia tersenyum ke arah David kemudian.


Keningnya berkerut ketika melihat anak kecil itu hanya berdiam diri sambil menatapnya dengan lekat.


"Hey boy! cant i help you??" ucap Barack menawarkan bantuan pada David, dia hanya berfikir bahwa anak kecil itu sedang membutuhkan bantuannya.


Ke dua alis Barack terangkat ketika tak mendapat respon dari David, dia semakin kebingungan.


Laki laki itu melangkah mendekati David. Menekuk salah satu lutut dan menumpunya di atas lantai untuk menopang tubuhnya.


"Are you okay??" Barack berusaha memastikan keadaan david yang sedari tadi masih diam memaku bibirnya.


David berusaha menguasai perasaannya, dia tidak mungkin langsung begitu saja mengatakan bahwa dirinya adalah Putranya.


"Mmm, , aku" David merasa gugub dia sedang mencari sesuatu untuk menjadikan sebuah alasan.


"Bisakah Om menolongku untuk mengambil itu" ujung jari David menunjuk ke arah kotak sereal yang berada jauh di atas.


Barack tersenyum, dia lantas bangkit dan membantu David mengambil sebuah kotak sereal dan memberikannya kepada Anak kecil itu.


"Terima kasih Om"


"Tunggu!" Barack berucap, dia menghentikan langkah David.


Dia baru tersadar kalau Anak kecil itu berbicara dengan bahasa Indonesia.


"Kamu bukan asli orang sini?" ucapnya dengan nada menuntut.


David menelan air liurnya dengan susah payah.


"Iya, sebenarnya aku lahir di Paris. Tetapi ke dua orang tuaku asli orang Indonesia. Om juga kan? Om asli orang Indonesia kan?" ucapnya dengan sangat lancar. Namun dalam hati dia seakan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan rasa gembira sekaligus gugubnya.


Barack hanya tersenyum, kemudian dia mengulurkan tangannya ke arah Anak kecil itu.


"Barack!, , panggil aku Om Barack" kalau kamu mau" ucapnya memperkenalkan diri.


David sangat antusia sekali dia langsung menyambut uluran tangan laki laki itu.


"David, " anak kecil itu tersenyum.


"Ini pertama kalinya Om datang kembali ke Paris setelah hampir 9th terkhir. Dan aku langsung mendapatkan seorang teman"


"Teman?, , " David mengulangi ucapan Barack dengan nada penasaran.


"Hmm, , kamu! mau berteman denganku!"


"Om yakin?" David semakin bersemangat. Dia tidak mengira akan bertemu dengan Ayahnya semudah ini. Seolah bumi dan langit sudah mempermudah pertemuan mereka. Bahkan mereka langsung akrab begitu saja.


"Om akan menraktirmu untuk sekotak sereal itu"


♡♡♡


David melangkah keluar, senyum manis tak pernah hilang dari bibirnya.


Sementara Barack merangkul pundak David sembari berjalan ke arah kursi yang sudah tersedia di depan minimarket itu.


"Duduklah" Barack menyiapkan kursi untuk David.


"Di mana rumahmu?, , Om akan antar kamu pulang"


David seperti tersedak air liurnya sendiri ketika mendengar tawaran dari Barack.


"Ee, , tidak perlu om!, , nanti supir akan menjemputku" David berusaha menolak dengan halus. Bisa berantakan jika David membiarkan Barack mengantarnya pulang saat ini. Dan yang pasti Luna akan melarangnya lagi untuk bertemu denagn laki laki itu.


Barack melirik ke arah jam tangannya.


"Kamu yakin, mau menunggu supirmu sendiri di sini?, maaf karena Om harus segera pergi karena ada urusan" Barack seakan sangat terpaksa meninggalkan Anak kecil itu. Dia seperti memiliki chemistry dengannya.


"Iya, aku sudah terbiasa menunggu sendirian om"


Barack menatap lekat anak itu.


"Bisakah kita bertemu lagi kapan kapan?" ucapnya seakan dia merasa sangat senang ketika berada di dekat Anak kecil itu. Seketika dia merasa lupa bahwa dia datang ke Paris untuk Luna.


"Aku selalu datang ke sini Om untuk membeli permen"


"Permen?" dahi Barack berkerut, ujung matanya melirik ke arah kotak sereal di atas meja.


"Ini juga!!, , hehe. Biasanya aku beli permen dan sereal ini!" David seakan tahu kenapa Barack menatap kotak serealnya.


"Oke!!, , kalau begitu Om tinggal dulu ya" Barack beranjak dari kursi sembari mengacak acak lembut rambut David.


Anak kecil itu begitu terpana melihat sosok laki laki yang selama ini dia idamkan, ingin rasanya David berlari ke arah Barack dan memeluk laki laki itu saat ini. Namun dia berusaha keras menetralkan perasaannya. Dia tidak ingin merusak momen momen yang selama ini sudah dia nantikan.


●●●


Jika ada yang belum mengerti dengan jalan ceritanya di awal paragraf, nanti pasti ada penjelasannya.


Karena itu hanya sepenggal dialog yang datang dari masa lalu Luna.

__ADS_1


__ADS_2