Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#64 Ancaman


__ADS_3

 


Air matanya memang sudah berhenti namun aura kesedihan masih menyelimuti wajah luna. Dia duduk di kursi depan di sebelah barack. Wajahnya masih kelihatan sembab namun tidak separah saat pertama kali dia mengetahui ke adaan klara.


 


 


 


Barack mengemudikan mobilnya dengan pelan, tidak jauh beda dengan luna, wajahnya masih terus terlihat merasa bersalah dengan luna.


Sesekali dia melirik ke arah luna yang terus diam sambil memangku ke dua tangannya.


"Sepertinya dari tadi siang kamu belum makan?" perkataan barack seperti sedang mencoba menawarkan kepada luna untuk mengajaknya makan malam terlebih dulu sebelum dia mengantarkan luna pulang ke rumahnya.


Bagaimana mungkin dia merasa lapar bahkan perasaannya kini membuat perutnya seperti tidak merasakan lapar sama sekali.


"Tapi aku tidak lapar".


Barack tidak menggubris jawaban luna, dia menghentikan mobilnya di depan sebuah warung kecil yang menyediakan berbagai makanan cepat saji.


Dilepasnya sabuk pengaman yang dengan kokoh melingkar di tubuhnya, kemudian mengarahkan posisi duduknya hingga menghadap ke arah luna.


Luna masih diam sambil terus memangku ke dua tangannya.


Barack meraih dan menggenggam tangan luna.


"Bukannya tadi kita sudah sepakat!" ucap barack mencoba mengingatkan luna akan negosiasi tadi siang yang terjadi di antara mereka berdua.


"kamu tidak boleh terus terusan menyalahkan dirimu sendiri, semua ini tidak ada hubungannya denganmu" tambahnya.


Tidak bisa di pungkiri kalau barack menjauh dari klara karena memang adanya keberadaan luna di sampingnya.


Luna mengangguk dengan pelan sambil mengarahkan pandangannya ke arah mata barack.


Dia membuang senyum tipis saat barack terus melihat ke arahnya.


"Kenapa?? ko ngelihatinnya begitu?". Luna merasa barack tidak akan mengalihkan pandangannya, sekalipun luna sudah mencoba menghindarinya.


Barack terus melihat ke arah luna, sengaja terus menatapnya untuk memaksa luna memperlihatkan wajah malunya, karena hampir seharian dia tidak melihat itu di wajah luna. Bisa di bilang barack kangen dan ingin melihat wajah luna ketika sedang tersipu malu.


Luna tidak bisa membendung rasa malunya ketika mata barack tidak pernah lepas dan terus melihat ke arahnya.


Barack melihat luna tersenyum ketika dia sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Coba liha?" barack menahan dagu luna dan mengarahkan wajah luna kembali untuk menghadap ke arahnya, sekali lagi memastikan kalau dia sempat melihat senyum itu di wajahnya.


Namun luna kembali menyimpan senyumnya itu di balik kedua mulutnya yang sedang di tangkupkan itu.


"Kok gitu, barusan aku melihatnya lo" barack berusaha memaksa luna mengembalikan senyumnya yang sengaja di sembunyikan olehnya.


Luna mengangkat ke dua alisnya sambil menggeleng pelan untuk memastikan kepada barack kalau dia tidak sedang tersenyum.


Namun barack kembali menarik dagu luna dan mengarahkannya kembali untuk memaksanya melihat ke arah barack.


Barack mendorong kepalanya dengan cepat untuk mengecup bibir luna.


Luna melebarkan matanya, hidungnya terlihat mengembang seperti sedang menahan senyumnya setelah barack berhasil mencuri ciumannya.


"Aku akan segera kembali" kata barack kepada luna untuk memastikan kalau dia harus tetap berada di dalam mobil sampai barack kembali lagi.


 


Klara berusaha membuka matanya perlahan, walapun masih terasa sulit untuk menerima cahaya lampu yang terus seperti menusuk nusuk di ke dua matanya itu.


 


 


Selang yang di pasang di mulut klara pun sudah di lepas oleh dokter.


 

__ADS_1


Bahkan ruang pemulihannya kini terdengar lebih sunyi karena suara mesin pendeteksi jantung dan alat alat canggih lainnya sudah di tarik kembali.


Leo beranjak dari tempat duduknya ketika melihat klara menggerakkan jari jemarinya.


Raut wajahnya merasa senang ketika melihat klara berusaha dan terus mencoba membuka matanya perlahan.


"Bagaimana ke adaan mu?".


Suara leo menggema di rongga telingga klara.


Sekali lagi klara mencoba untuk membuka mata yang masih terasa sedikit perih itu.


Ketika berhasil membukanya sedikit dilihatnya sesosok laki laki yang berdiri di depanya.


Namun wajahnya itu nampak berbayang di matanya. Pandangan matanya masih terlihat kabur.


"Barack??" klara menebak sosok yang ada di depannya itu. Dia terus berusaha menjernihkan matanya untuk memastikan siapa sebenarnya yang sedang dia lihat.


Namun dia tidak kuasa menahan perih di ke dua bola matanya sehingga dia harus mengurungkan niatnya itu dengan kembali menutup matanya rapat rapat.


Nampak setetes air mengintip dari ujung mata klara ketika dia mencoba memejamkan matanya kembali.


Leo meraih wajah klara sembari mengusap air matanya yang mengintip itu.


"Barack!" klara terus memanggil nama itu bahkan ketika dia sudah memejamkan matanya kembali.


 


Barack menghentikan mobilnya di halaman parkir rumah luna, kemudian mematikan mesin mobilnya.


 


Barack melempar pandangannya ke arah luna yang sedang melepas pengait sabuk pengamannya.


Dia terus berusaha memencet tombol agar pengait itu lepas dengan sendirinya, namum sabuk pengamannya tidak terus menempel dan tidak mau lepas, bahkan sampai luna terlihat sedikit mulai emosi hingga nafasnya mulai terdengar agak kasar di telinga barack.


Terlihat ia menarik paksa sabuk pengaman itu namun usahanya sia sia.


Dengan lembut dia berucap.


"Biar aku yang melakukannya" nadanya terdengar seperti sedang menenangkan luna.


Hanya dengan sekali tekan barack berhasil melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuh luna.


Sambil terus menatap ke arah mata luna yang terlihat terus berusaha menghindarinya.


Barack tahu dengan jelas kalau luna masih menahan emosi yang menggebu gebu di dalam hatinya ketika memikirkan ke adaan klara, namun untuk saat ini barack lebih memilih untuk diam dan tidak membahasnya.


"Tunggu di sini aku akan membukakan pintu untukmu" perintahnya.


Barack keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk luna. Dia meraih tangan luna dan menggenggamnya dengan erat sambil menuntun luna berjalan menuju ke arah pintu masuk rumahnya.


Barack sengaja memperlambat jalannya agar bisa menahan luna lebih lama bersamanya.


Mau bagaimana lagi jarak dari mobil ke pintu masuk rumah luna tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja untuk barjalan sampai ke pintu itu.


 


Saat luna akan membuka pintu, barack masih menahan tangan luna, berharap dia tidak cepat cepat masuk ke dalam rumah.


 


 


Luna pun menyadari hal itu, makanya dia mengalihkan pandangannya ke arah barack.


 


Tatapan mata barack membuat luna menjadi salah tingkah, sesekali dia menundukkan kepalanya hanya untuk menghindari mata barack yang terus melihat ke arahnya.


Barack menuntun tangan luna yang masih di genggamnya itu perlahan menuju ke pipi barack, di gesernya pelan pelan telapak tangan luna yang terasa hangat itu ke ujung mulutnya.


Terlihat beberapa kali barack melayangkan ciumannya ke telapak tangan luna dengan lembut.

__ADS_1


Luna mulai tersenyum karena harus menahan rasa geli ketika barack menghujani ciuman di telapak tangannya beberapa kali.


"Sebenarnya tidak sulit membuatmu tersenyum lagi, yang sulit adalah membuatmu bertahan dan terus berdiri di dekatku seperti sekarang ini" kata kata yang keluar dari mulut barack seperti sedang membaca pikiran luna.


Wajah luna memaku ketika mendengar barack mengatakan hal itu.


"Kenapa bicaramu seperti seolah olah kalau aku akan pergi meninggalkanmu?" luna berucap seperti sedang mengelak perkataan barack.


Senyum barack terlihat seperti penuh dengan arti.


"Kenapa kamu tidak mencoba bertanya ke pada dirimu sendiri?" barack gembalikan pertanyaan luna.


"Ingat, ketika kamu benar benar melakukan hal itu, aku tidak segan segan untuk tidak akan memaafkanmu".


Luna merinding mendengar barack mengatakan hal itu, nada bicaranya lebih ke arah mengancam kepada luna.


Tetapi luna hanya menanggapinya dengan santai.


"Lagi pula siapa yang akan melakukan hal sebodoh itu" luna membuang senyum menantang ke arah barack.


Yang kemudian di balas oleh barack dengan senyum yang lebih menantang lagi.


"Kita lihat, kalau sampai itu terjadi maka aku orang pertama yang akan memberimu pelajaran" kali ini tatapan mata barack terlihat berubah, tidak terlihat galak, namun lebih terlihat ke arah genit. Dia hanya berusaha sedang mengingatkan luna.


Entah apa maksutnya itu, yang terpenting luna berusaha untuk tidak melakukan hal seperti yang di maksut oleh barack.


"Kamu pulanglah, istirahat, , , besok masih harus kembali bekerja kan??" luna dengan cerdik mencoba mengalihkan pembicaraan.


Barack hanya diam, sambil berjalan mendekati mobilnya dia terus membuang senyumnya ke arah luna, namun dia menghentikan langkahnya dan kembali menatap luna dengan lekat.


Luna masih berdiri di depan pintu dengan pandangan matanya yang penuh harap ke pada barack.


Barack kembali berjalan mendekat ke arah luna, dia mendaratkan sebuah ciumann ke arah kening luna yang masih terus memandanginya, karena dia sengaja menunggu barack melakukan hal itu.


"Besok aku akan menjemputmu, , " katanya.


"Tidak perlu, , cici membawa mobilku tadi, , besok biar dia saja yang menjemputku sekalian mengembalikkan mobilnya".


Luna masih terus melihat ke arah barack yang masih berdiri di depannya.


Entah mengapa dia tidak ingin barack cepat cepat pulang dan meninggalkannya malam itu.


Barack mengerti arti tatapan luna saat itu, dia pun meraih wajah luna dan menghujaninya dengan beberapa kecupan lembut di bibir luna.


Barack menarik kepala luna dan mengarahkan wajahnya agar terbenam di telinga luna.


"Apa aku perlu membawamu kembali ke apartement ku?" nafas barack terasa panas di telinganya, membuat bulu kuduknya pun ikut berdiri.


Bisikan barack itu di penuhi aura yang menbuat luna merasakan getaran aneh di tubuhnya.


Dia kembali menarik kepalanya ke arah belakang, di tatapnya mata luna yang wajahnya memaku setelah mendengar dia membisikkan kata kata itu.


Entah apa maksut barack mengajaknya kembali ke apartementnya, yang pasti luna merasa sangat malu saat itu.


Tatapan mata barack terlihat sedikit nakal apa lagi di saat barengi dengan senyumnya yang menggoda ke arah luna.


Luna merasa jantungan, seluruh tubuhnya memanas, akibat dadanya berdetak dengan cepat membuat jantung memompa darahnya mengalir ke seluruh tubuh, mengalir dengan cepat lebih cepat dua kali lipat di bandingkan biasanya.


Wajahnya pun terlihat tersipu malu.


Namun barack malah tersenyum menikmati ekspresi wajah luna yang dirasa sangat menggelitik di hatinya.


Terlihat barack memamerkan senyumnya yang sangat misterius.


Dengan cepat luna mendorong tubung barack sedikit menjauh darinya.


"Ini sudah malam, Kamu harus segera pulang!" sebelum masuk ke dalam rumah, luna melayangkan ciumannya ke salah satu pipi barack.


Dengan cepat dia langsung masuk membuka pintu rumahnya sambil menyembunyikan ekspresi wajahnya di balik pintu, setelah berhasil mencium barack secara tiba tiba.


Terlihat barack hanya tersenyum lebar melihat tingkah laku luna malam itu.


***

__ADS_1


__ADS_2