
"Kamu mau mengajakku kemana?" perempuan itu berucap lagi dengan raut wajah kebingungan.
Aryo hanya tersenyum sambil menyalakan mesin mobil.
Di pertengahan jalan Cici membuang pandangannya ke arah luar, dia semakin penasaran saat mobil Aryo menjauh dari perkotaan, melewati jalan pedesaan dan berbukit, udaranya pun juga mulai terasa dingin.
Dia membuka kaca pintu mobil dan menikmati kesejukan angin yang manyapu wajahnya.
Sesekali Cici mengarahkan pandangannya ke pada Aryo, laki laki yang sedari tadi hanya diam dan tidak mengajaknya berbicara.
"Mm, sebenarnya kita mau kemana?" Cici berusaha memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Nanti kamu juga akan tahu" Aryo membuat perempua itu semakin penasaran.
♡♡♡
Beberapa jam kemudian mobil Aryo berhenti di sebuah vila.
Aryo melangkah turun dan mengitari mobil membukakan pintu untuk Cici.
"Ayo"
Cici nampak ragu saat Aryo mengulurkan tangan ke arahnya.
"Mau apa sebenarnya kita kemari"
"Tidur" laki laki itu tanpa basa basi mengatakan hal yang membuat Cici menjadi salah tingkah.
"Ha??" perempuan itu terkejut hingga pipinya memerah padam.
Aryo terkekeh, dia menarik tangan Cici yang masih terpaku wajahnya.
Kini ujung mata Cici mengerucut mengawasi Aryo.
"Aku mau pulang!"
"Tenang saja aku tidak akan menyentuhmu. Lagi pula aku juga bercanda tadi, tapi tidak tahu nanti" celetuknya, membuat Cici melotot seketika.
Aryo menggenggam tangan Cici. Perempuan itu telah turun dari mobil dan mengikuti langkah kaki Aryo yang telah berjalan lebih dulu darinya.
Aryo membuka pintu vila dan mempersilakan Cici masuk ke dalam terlebih dulu.
Dengan rasa ragu perempuan itu melangkah masuk ke dalam vila.
"Ayo" Aryo membawa Cici masuk lebih dalam ke vila itu. Dia menuntun Cici berjalan ke arah belakang vila dimana pemandangan pegunungan jauh lebih terlihat jelas, ada sebagian yang terselimuti oleh kabut. Namun tak mengurangi keindahan pemandangan saat itu.
Cici nampak takjub dengan pegungan dan kebun teh di depan matanya.
"Kamu menyukainya?"
Perempuan itu mengangguk sementara ujung matanya masih melihat jauh ke pemandangan di depan.
Aryo masuk ke dalam mengambil kudapan dan meletakkannya di atas meja.
Tubuh Cici tersentak kaget saat Aryo tengah memeluk dari arah belakang.
"Ee, , aku"
__ADS_1
Cici berusaha berulah agar Aryo mau melepaskan dirinya.
"Kalau kamu memintaku melepaskanmu maka aku tidak akan pernah memelukmu lagi!" bisik laki laki itu dengan lembut di telinga Cici.
Cici menelan ludah dengan susah payah, Aryo telah berhasil membuat dadanya berdesir dan berdetak dengan cepat.
Perempuan itu nampak sangat gugub dan memilih membiarkan Aryo memeluk tubuhnya.
"Pelayanku sudah menyiapkan kudapan untukmu, makanlah" Ayo melepas pelukannya dan membalikkan tubuh Cici menghadap ke arahnya.
"Aku akan mandi dulu, setelah ini giliranmu" Aryo tersenyum lebar saat melihat mata Cici semakin membuat mendengar ucapnnya.
Aryo berjalan mundur ke arah pintu sambil mengawasi wajah Perempuan yang sedang berusaha keras mencerna ucapannya.
♡♡♡
Raut wajah Cici diselimuti rasa kegelisahan, perempuan itu duduk di bangku taman belakang sambil memainkan jari jemarinya. Sesekali ujung matanya melirik ke arah pintu, dan terus mengawasi ke arah sana. Dadanya merasa was was kalau kalau Aryo keluar dari pintu itu.
Tanyannya bergerak meraih kudapan di depannya, menggigit kecil dan meletakkan kembali sisa kudapannya.
Kakinya bergerak kecil berulang ulang, seolah memperlihatkan seberapa besar rasa gugubnya saat itu.
Cici meraih cangkir berisi coklat panas dan menyesapnya perlahan. Dia tersedak saat ujung matanya melihat Aryo keluar dari pintu dengan memakai handuk kimono berwarna putih.
Perempuan itu meletakkan cangkirnya kembali dan memukul dadanya sendiri, berusaha melegakan tenggorokannya yang tersedak.
Aryo berjalan cepat ke arah Cici, menepuk pelan punggun perempuan itu.
"Ceroboh! kamu tidak bisa minum pelan pelan?" Aryo membersihkan sisa coklat yang ada di bibir Cici dengan Jari jempolnya, kemudian melumat sisa coklat itu.
"Ya Ampuuuuunn!!! ada apa denganku ini"
Pikiran Cici melayang jauh ke angan angannya yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
"Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu, mandilah" ucap Aryo, laki laki itu kini bersandar di bibir meja.
Mata cici tak pernah beralih dari Aryo yang terlihat sangat berkharisma saat itu.
"Kenapa dia terlihat begitu tampan dengan rambutnya yang basah"
Matanya kini beralih ke arah sebagian dada Aryo yang tak tertutup kimono dengan potongan leher berbentuk v.
"Awas air liurmu menetes" ucap laki laki itu.
Reflek tangan Cici mengusap bagian bibirnya dengan cepat, hingga membuat Aryo tertawa seketika.
"Aryo!!!" Cici sadar bahwa Aryo sedang menggodanya. Perempuan itu kini beranjak dari kursi, memukuli dada Aryo dengan ke dua tangannya.
Laki laki itu masih tertawa sambil menikmati setiap pukulan di tubuhnya.
Kini ke dua tangannya bergerak meraih pinggang Cici dan menariknya, mendekatkan tubuh perempuan itu ke tubuhnya dengan intim.
"Sebenarnya apa tujuanmu mengajakku kemari" Cici berusaha mencairkan suasanya saat beberapa detik yang lalu Aryo telah berhasil membuatnya terpaku dengan kedekatan mereka.
"Kencan, kita akan habiskan waktu bersama" sejenak Aryo berhenti berucap sengaja memberi ruang kepada Cici untuk mencerna ucapannya.
"Hanya kita berdua" terusnya.
__ADS_1
Seketika mata Cici membulat penuh, dia berusaha melepaskan diri dari Aryo.
"Ini sudah hampir malam, bagaimana kalau kita pulang saja"
"Jalan menuju kota sudah di tutup, lagi pula jam jam segini kabut sudah mulai turun hingga mempengaruhi jarak pandang mata. Aku tidak ingin memaksakan diri menyetir menerobos kabut tebal yang akan membahayakan kita nantinya"
Cici menghela nafas panjang. Dia tahu Aryo pasti punya niat buruk dengannya. Tetapai entah kenapa perempuan itu seakan menikmati peelakuan Aryo terhadapnya.
Tangan Aryo meraih anak rambut di kening Cici dan menyimpannya di balik telinga perempuan itu.
Laki laki itu semakin mendekati wajah Cici dan berusaha mencium bibirnya.
Cici menunduk menghindari Aryo.
"Maaf" ucapnya seketika.
"Aku hanya ingin menciummu" nafas aryo terasa hangat saat menyapu wajah Cici.
Ujung matanya melihat ke arah bibir perempuan yang terlihat manis dan sangat menggoda baginya.
"Kamu sudah terlalu banyak mencium bibir perempuan. Bahkan kamu juga tidur dengan mereka, aku selalu membayangkan hal itu saat berada di dekatmu. Kamu tahu dengan jelas. Bahwa kamulah orang pertama bagiku" Cici semakin menunduk dan memejamkan matanya dengan erat.
Kini perempaun itu memeluk dadanya dengan ke dua tangan seakan memberi perisai bagi dirinya dari laki laki yang sedang berdiri di depannya.
"Aku merasa jijik saat membayangkan hal itu" ucapnya lirih.
Aryo menarik kembali tengannya dari pinggang Cici.
"Maaf" laki laki itu berucap dengan nada berat seakan dia benar benar merasa bersalah.
"Aku tidak akan menyentuhmu lagi" Aryo melangkah munduh selangkah menjauh dari Cici.
Perempuan itu menyadarinya. Dia mengangkat kepalanya lagi dan melihat ke arah Aryo, Entah kenapa dadanya terasa sesak dan nyeri saat mendengar ucapan laki laki itu. Matanya pun mengerucut mengawasi wajah Aryo yang terlihat sangat ftustasi.
Aryo berusaha membuang pandangannya ke arah lain, agar tak melihat ke arah Cici. Dia merasa takut kalau dirinya akan membuat perempaun itu merasa tidak nyaman.
"Mandilah, besok pagi setelah kabutnya menghilang aku akan langsung mengantarmu pulang" ucapnya dengan berat hati.
"Ikutlah denganku, aku akan menunjukkan kamarmu"
Aryo telah melangkah lebih dulu untuk menunjukkan jalan menuju kamar kepada Cici.
♡♡♡
Aryo membuka pintu kamar, mempersilakan Cici untuk masuk ke dalam.
"Masuklah, aku akan menyuruh pelayan membuatkan makan malam" ucapnya, laki laki itu masih berusaha keras untuk tidak menatap mata Cici.
"Aku, "
"Tidak lerlu minta maaf!" Aryo memotong pembicaraan.
"Akulah yang seharusnya meminta maaf, , sepertinya yang kamu ucapkan memang benar. Aku sudah beberapa kali tidur dengan perempun lain. Tetapi itu jauh sebelum aku dekat denganmu. Dan kalau memamg kamu merasa jijik berada di dekatku. Aku akan berusaah menjaga jarak denganmu"
"Aryo" ucap Cici dengan nada lirih, berusaha menghentikan langkah kaki Aryo yang kini sedang berjalan ke arah dapur.
Aryo mendengar saat Cici memanggilnya, namun dia memilih untuk tak menghiraukannya.
__ADS_1