Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#123 Rapuh


__ADS_3

Ketika waktu menunjukkan jam makan siang Barack lebih memilih kembali ke apartement karena hatinya selalu diliputi perasaan tidak nyaman.


Dan benar saat sampai di sana, Barack mendapati Istrinya tengah tertidur di ranjang. Hari itu Luna menghabiskan waktunya hampir setengah hari hanya tiduran dan bermalas malasan.


Barack duduk di bibir ranjang dan mengusap rambut Luna yang tengah tertidur sambil memunggunginya.


Sentuhan di kepala membuat Luna terbangun dari tidurnya, perempuan itu membalikkan tubuh dan meraih tangan Barack.


Barack membungkuk mendekati wajah Istrinya.


"Maaf sudah mengganggu tidurmu" bisiknya.


"Mm, aku hanya tiduran. Tumben kamu jam segini pulang?" Luna mengubah posisinya menjadi duduk di atas ranjang. Luna merasa senang saat Suaminya lebih memilih pulang dari pada menghabiskan waktunya di kantor.


"Aku menghawatirkanmu" mata Barack menyapu wajah Luna. Sementara tangannya bergerak merapihkan anak rambut ke belakang telinga Luna.


"Kamu terlihat pucat sekali, kamu belum sarapan?" kening Barack berkerut, seingatnya dari kemarin Luna tidak makan, hanya menghabiskan berbotol botol air mineral.


Luna menggeleng pelan, dia mendorong tubuhnya mendekati Barack lalu memeluk suaminya itu dengan erat.


"Aku tidak lapar, dari kemarin perutku tidak nyaman" Luna berusaha mencari kenyamanan di dada Suaminya itu.


Barack sekejap terdiam, dia merasakan ada sedikit keanehan pada sikap Istrinya.


Setelahnya dia memghela nafas panjang menetralkan perasaan.


Laki laki itu membalas pelukan Luna, ingin rasanya memeluk perempuan itu dengan erat namun dia sadar tubuh Luna sedang rapuh, sehingga Barack hanya menyelimuti tubuh Luna dengan lengannya dan mengecup ujung kepala Istrinya.


"Kamu bisa sakit nanti, aku pesankan bubur ya? atau kita pergi ke Dokter?" Barack berusaha membujuk Luna, setidaknya perempuan itu harus ada asupan gizi yang baik agar tubuhnya tidak lemas.


"Aku tidak ingin bertemu dengan orang lain! aku ingin seperti ini terus denganmu" Luna semakin mengeratkan pelukannya.


Barack tersenyum.


"Oke, tapi kamu harus makan ya, satu atau dua sendok agar perutmu tidak kosong"


Akhirnya Luna memenuhi keinginan Barack. Laki laki itu memesan bubur untuk Istrinya.


"Aku akan membersihkan tubuhmu" Barack beranjak dari ranjang berjalan mendekati nakas lalu meletakkan ponsel dan melepas jam tangannya.


Ujung matanya bergerak menyelidik ke wajah Luna yang terus memandangi dirinya dari tadi. Laki laki itu tersenyum.


"Kenapa?" tanyanya dengan penuh keheranan.


"Kenapa kamu terlihat tampan sekali saat mengenakan kemeja putih itu" ucapnya seketika, membuat Barack terkekeh kemudian.


"Kalau begitu aku akan memakai kemeja berwarna putih terus setiap hati" ucapnya membalas godaan Luna. Perempuan itu terkekeh mendengarnya ucapan Barack.


Barack berjalan ke arah kamar mandi mengambil air hangat dan sebuah handuk kecil.


Setelahnya dia meletakkan cawan berisi air hangat itu di atas nakas, melipat ke dua lengan bajunya dan duduk di bibir ranjang.

__ADS_1


Tangannya langsung bergerak meraih kancing baju Luna hingga membuat perempuan itu terkejut dan meraih tangan Barack. Luna menatap laki laki itu dengan heran.


"Kenapa? aku harus membuka bajumu untuk membersihkan badanmu" Barack mengutarakan maksudnya kenapa dia membuka kancing baju Luna.


Pipi Luna merona, entah kenapa tapi hari itu dia merasa malu saat berada di dekat Suaminya.


"Ee, tapi"


"Kita bersihkan badanmu dulu sambil menunggu makanannya datang, setelah itu kita ke Dokter. Oke?" ucapnya menenangkan Luna.


Perempuan itu hanya mengangguk pelan, dia membiarkan Barack membuka kancing bajunya perlahan.


Sementara Barack mengawasi raut wajah Luna yang terlihat malu dan salah tingkah. Ujung bibirnya terangkat setelah melihat ekapresi Luna.


Barack telah berhasil membuka baju Luna, keningnya berkerut saat melihat Luna berusaha menutupi dadanya dengan kedua tangan seperti sedang memeluk diri sendiri.


"Kenapa di tutupi?, , aku sudah sering melihatnya. Bahkan menyentuh dan menciumnya"


Pipi Luna semakin memerah padam, memang tidak semuanya terbuka. Bagian dadanya masih terbungkus rapih dengan bra berwarna hitam pekat di sana. Namun Luna terlihat sangat malu saat itu.


Dia memalingkan wajahnya dari Barack.


"Aku takut kamu tergoda" ucapan Luna membuat Barack tertawa seketika.


Memang tidak bisa di pungkiri tubuh Luna selalu membuat dirinya tegang, apa lagi sekarang bagian punggung dan perut Luna yang terekspos seakan membangkitkan gairah di dalan hatinya. Tetapi melihat kondisi tubuh Istrinya, Barack berusaha menahan parasaannya untuk tidak menyentuh Luna.


Barack menghela nafas menetralkan perasaannya.


"Aku tidak akan menyentuh tubuhmu, kondisimu sedang tidak sehat. Jadi biarkan aku yang membantu membersihkan badanmu ya?" ucapnya, Barack mengambil handuk kecil yang sudah di rendan di dalam air hangat dan memerasnya. Barack mengulurkan salah satu tangannya ke arah Luna.


Dengan sedikit keraguan Luna mengulurkan tangannya dan meraih tangan Barack. Membiarkan suaminya itu membersihkan tubuhnya.


Perlahan Barack mengusap setiap jengkal kulit Luna. Tangannya memaku di leher Istrinya sebelum kembali membersihkan bagian dadanya. Barack menelan ludah dengan susah payah dia berusaha menguasai pikiran yang sudah meracau kemana mana.


Laki laki itu berdehem dan bergidik untuk menetralkan perasaannya lagi.


Selesai membantu luna membersihkan tubuhnya, Barack melangkah keluar dari kamar menuju pintu masuk untuk membukakan pintu karena pasanan buburnya telah datang.


♡♡♡


"Aku akan menyuapimu" Barack mulai mnyuapi Istrinya.


Luna terlihat semakin pucat, melihat sendok penuh dengan bubur dan berbagai macam toping di sana.


Lidahnya terasa asin, air liurnya pun seakan memenuhi bagian dalam mulut.


Belum sempat dia melahap bubur itu, dia turun dari ranjang dan berlari ke arah kamar mandi.


"Luna?" Barack meletakkan sendoknya dan mengikuti Luna.


"Kamu baik baik saja?"

__ADS_1


Luna membungkuk, berusaha membuang semua air liur dari dalam mulutnya, sementara tangannya bergerak meraih keran wastafel, memenuhi mulutnya dengan air kemudian membuangnya.


Matanya menatap bayangan wajah dirinya yang terlihat tak berdaya di cermin.


"Aku tidak bisa makan bubur itu"


Barack yang masih berdiri sambil bersandar di gawang pintu pun terlihat diam melamun menatap ke arah Luna.


Kakinya bergerak melangkah mendekati Istrinya, membungkuk meraih kaki Luna dan menggendongnya.


"Kamu istirahatlah, aku akan mandi setelah ini kita ke Dokter ya" ucapnya sambil melangkah keluar dari kamar mandi dan meletakkan Tubuh Luna di atas ranjang dengan pelan dan hati hati.


♡♡♡


Luna duduk di pinggir ranjang dia masih menunggu Barack selesai mandi.


Ujung matanya melirik ke arah jam dinding, dan pandangan matanya memaku di atas almari.


Keningnya berkerut saat tak mendapati kotak hitam di atas almari itu.


Luna semakin penasaran saat Barack berusaha menyimpan kotak itu darinya.


Luna beranjak dari ranjang berjalan ke arah almari, dia mencari keberadaan kotak itu di dalam sana.


Tubuhnya memaku saat melihat kotak itu berada di dalam laci dalam almari.


Tangannya bergerak meraih kotak itu dan membukanya.


Keningnya berkerut saat melihat kertas dengan gambar hitam yang tak bisa di pahami oleh pikirannya.


Luna mengeluarkan kertas dan gambar itu, matanya mengawasi satu persatu setiap kertas di tangannya.


Matanya membulat saat dia mengetahui kertas itu adalah hasil USG dari kehamilannya beberapa bulan yang lalu.


"Aku pernah hamil??"


Mata Luna mulai memerah dan berkaca kaca, dia tidak percaya bahwa dirinya pernah mengandung dua bayi sekaligus di dalam perutnya.


Nafasnya mulai memburu saat berusaha keras mengingat kembali saat dirinya tengah hamil duku.


Kepalanya terasa berat dan sangat sakit saat beberapa serpihan ingatan masa lalunya kembali berbayang di kepalanya.


Kerutan di sekitar matanya semakin dalam, seolah memperlihatkan seberapa besar rasa sakit di kepalanya saat ini.


Detak jantungnya semakin cepat, tubuhnya terasa berat hingga ke dua kakinya tak bisa menahannya dengan baik.


Tubuh Luna terjatuh seketika di atas lantai.


♡♡♡


Aryo meraih tangan Cici setelah perempuan itu keluar dari ruang kerjanya.

__ADS_1


"Ikut aku"


"Aryo! kamu mau membawaku kemana?" Cici merasa penasaran, ketika Aryo langsung membawanya ke dalam mobil tanpa meminta persetujuannya.


__ADS_2